
Setelah sholat subuh tadi Raffan dan orang tuanya pun kembali ke kota meski Raffan masih tak senang hati dan sempat ngotot kembali untuk membawa Deefa bersamanya namun harus pasrah saja kala sang kiyai sudah memberikan ultimatumnya.
Pria tua itu bukan berniat mencampuri apalagi memisahkan pasangan suami istri itu, tapi terkadang berpisah sementara akan menimbulkan kerinduan yang mendalam dan membuat perjumpaan selanjutnya menjadi lebih baik, terlebih lagi keduanya akan saling berintrospeksi diri, memperbaiki hubungan yang berjalan kurang baik sejak awal pernikahan.
Sebenarnya perjodohan bukanlah hal yang salah, banyak orang bukan hanya Raffan dan Deefa saja yang menikah karena di jodohkan tentu nya di masyarakat pernikahan atas dasar perjodohan masih banyak terjadi, dan pernikahan tetap berjalan baik bahkan banyak juga yang langgeng sampai menua bersama.
Percayalah Allah tidak akan memberikan hal yang buruk bagi umatnya yang selalu berprasangka baik terhadapnya, meski terkadang akan ada ujian yang menghampiri.
Siang ini Deefa tengah berada di rumah orang tuanya, rumah masa kecil tempatnya dilahirkan hingga berusia tujuh tahun lalu setelahnya dia ikut Umi dan kiyai Burhan, membuatnya menjadi seperti sekarang bahkan mencarikannya jodoh yang tidak dia kenal meski akhirnya semenjak tadi malam hatinya dipenuhi dengan gelombang-gelombang tak kasat mata yang selalu membuat jantungnya berdebar juga hati yang terus berbunga hingga menimbulkan efek pada bibirnya yang setiap saat melengkung mengumbar senyum walau tidak ada siapapun.
"Biar Emak saja yang jemur Deef," larang wanita yang mengenakan gamis sederhana ketika mendapati anaknya yang sudah bersuami malah sedang menjemur pakaian yang tadi dia cuci namun memang belum sempat dia jemur karena harus menyiapkan makan untuk suaminya yang akan pergi ke sawah.
Ya, Deefa lahir dari kedua orang tua yang sederhana mungkin malah sangat-sangat sederhana yang mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tapi mereka tidak pernah mengeluh sama sekali bahkan lebih sering mensyukuri nikmat yang Allah berikan meski sekecil apapun.
"Nggak apa Mak, mumpung Deefa ada disini," sahut Deefa.
Emaknya pun hanya mengesah berat mengingat memang anaknya itu hanya akan seminggu saja lalu akan kembali lagi ke Jakarta bersama suaminya atau menantu yang sudah di pilihkan oleh kiyai Burhan, orang yang sangat dia percayai segala apapun yang menyangkut Deefa.
Meski ada rasa sesal yang menyeruak karena sejak usia 7 tahun Deefa sudah tak tinggal lagi bersamanya meski sesekali masih sering menginap atau dia yang mendatangi pesantren untuk sekedar menemui anaknya itu.
Sesal karena seolah tidak bertanggung jawab padahal dia sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk merawat anaknya itu.
"Ya sudah nanti setelah itu langsung makan dulu ya, emak sudah masak pecel," katanya.
"Alhamdulillah, ya Allah Deefa kangen pecel buatan emak," sahut Deefa antusias mendengar Ibunya memasak makanan yang dia sukai.
Makanan sederhana yang selalu saja membuatnya tak bisa berhenti menikmati sayuran yang di siram dengan bumbu kacang, selama berada di Jakarta dia sudah coba membuatnya tapi entah kenapa rasanya tidak sama dengan buatan sang ibu.
Rasa bumbunya yang menurut Deefa agak sedikit berbeda, atau mungkin memang karena dia yang sangat merindukan masakan ibunya itu, hingga men sugesti dirinya kalau rasanya beda.
"Di Jakarta kan juga ada pecel Deef, banyak pasti dan kamu juga tentu bisa buat kan sudah Emak ajarkan," kata sang ibu menggeleng kepala mendapati anaknya begitu girang hanya karena mengetahui dia membuat pecel.
"Memang banyak Mak tapi kan rasanya beda, Deefa yang anak Emak saja tidak bisa sama rasanya seperti yang Emak buat," cetus Deefa seraya menjemur baju terakhir lalu membuang air dalam ember dan melenggang masuk.
"Masa beda?" ibunya bingung dengan jawaban sang anak.
"Beneran deh Mak, rasa bumbunya beda sama bumbu yang sering ibu buat," celetuk Deefa.
"Lah kamu bikinnya gimana?"
"Ya kayaknya yang Emak ajarin," ucap wanita yang tengah mencuci tangan sebelum menikmati pecel buatan sang ibu yang sangat dia rindukan.
"Ya kalau yang Emak ajarin kan harusnya sama."
__ADS_1
Deefa mengedikkan bahunya, "entahlah Deefa juga bingung," katanya lalu duduk di bale bambu mengambil sepiring nasi serta pecel.
Wanita itu begitu menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya, mengunyah penuh penghayatan hingga lalu menelannya.
*****
Raffan masuk kuliah setelah satu hari meliburkan diri membuat temannya bertanya-tanya sebab dia yang tidak membalas pesan sama sekali.
"Kemana aja Lo baru masuk?"
Baru saja masuk kelas malah sudah di cecar pertanyaan oleh Rio dan Gumay yang layaknya Upin Ipin selalu saja terlihat bersama.
"Jawa timur, baru sampai kemarin sore," sahut Raffan menduduki bangku di dekat Gumay.
"Perasaan gue Lo ke Jawa timur mulu Raf, urusan apaan sih?" tanya Gumay.
Pertanyaan dari temannya itu membuat Raffan memicingkan mata lalu malah balik bertanya, "Agam nggak ngomong apa-apa sama kalian?" tanyanya.
Dari pertanyaan yang Gumay tanyakan jelas sekali kalau kedua temannya itu belum mengetahui tentang dia yang sudah menikah, artinya Agam tidak atau belum mengatakan apapun pada mereka.
"Ngomong apaan?" Rio menimpali dengan tampang kebingungan seolah tanda tanya mengitari kepalanya.
"Ya nggak tahu," Raffan mengedikkan bahunya.
"Lah Lo nggak jelas!" kesal Gumay dengan ketidak jelasan Raffan.
"Agam kemarin ke bengkel nggak?" Raffan mengalihkan kekesalan temannya dengan menanyakan Agam.
"Dateng lah, Lo tuh ya punya bengkel nggak tanggung jawab banget!" dengus Rio.
"Ya gantian lah, Agam juga kan sering nggak datang," kata Raffan membela diri dari serangan sang teman.
Pembicaraan mereka masih seputar bengkel ketika Agam yang baru saja masuk kelas sedikit memperlambat langkahnya begitu melihat Raffan yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gam," panggilan Gerry akhirnya membuat Raffan serta dua temannya tersadar akan keberadaan Agam yang tengah berdiri melewati pintu.
__ADS_1
Mata Raffan dan Agam pun saling beradu, menatap dengan pandangan yang sulit di mengerti oleh Rio dan Gumay.
"Jangan bilang Lo berdua.." Gumay dengan segala pikirannya malah memikirkan hal menjijikkan ketika memergoki Raffan dan Agam saling memandang.
"Gila Lo!" maki Raffan memutus tatapan lebih dulu lalu menendang betis Gumay.
"Gue masih suka cewek," tambahnya lagi.
Sedangkan Agam dan Gerry menuju bangku mereka yang berada di dua baris di depan ketiga orang temannya.
"Ngomong-ngomong soal cewek gue baru inget," ungkap Rio tidak peduli dengan Gumay yang masih meringis kesakitan akibat tendangan dari Raffan yang cukup keras dan bertenaga.
Sepertinya Raffan menendang dengan sepenuh, mungkin ingin melampiaskan kekesalannya pada Agam mengingat temannya yang berniat melamar istrinya.
"Fara nyariin Lo Raf, udah dua malam datang ke bengkel Mulu, marah-marah nggak jelas," adu Rio.
"Ngapain dia marah-marah?" tanya Raffan lupa pada kelakuannya sendiri yang sudah memberikan harapan tinggi tapi malah menjatuhkannya.
"Lo putusin dia bego!" umpat Gumay geram.
Raffan memejamkan mata seraya membuang napas kasar dan berat, baru ingat dia masih harus bertemu dengan wanita bernama Fara yang dulu dia kejar-kejar tapi harus dia putuskan demi sang istri.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*