Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Usaha Raffan


__ADS_3

"Nanti aku langsung ke bengkel, sayang," kata Raffan saat sedang menikmati sarapan yang dihidangkan oleh istrinya sebelum dia berangkat kuliah.


"Jangan lupa shalat dan pulangnya juga jangan terlalu malam," pesan Deefa seraya menuangkan air di dalam gelas milik suaminya, segelas air putih hangat.


"Insya Allah," jawab Raffan dengan suara yang terdengar jauh lebih baik ketimbang yang tadi malam.


Tadi malam Raffan pun sadar dia sudah berlaku tidak tak baik terhadap istrinya meski hanya dari kata-kata dan nada bicara saja dia tahu apa yang dia lakukan itu pastinya akan melukai perasaan sang istri.


Deefa pun mengangguk lalu bergegas duduk di seberang meja menyendok sedikit nasi dan juga lauknya, benar-benar hanya sedikit karena entah kenapa dia merasa hatinya merasakan sedikit tak enak, ada rasa yang begitu mengusik seperti itu adalah sebuah firasat akan terjadi sesuatu padanya pada dirinya atau mungkin malah pada mereka berdua?


"Kenapa makan mu selalu sedikit?" melihat pada piring yang ada di depan istrinya membuat Raffan bertanya.


"Tidak nafsu makan," sahut Deefa.


"Aku selalu perhatikan setiap kamu makan memang hanya sedikit Deef, apa setiap hari kamu tidak nafsu makan? pantas saja tubuhmu itu kurus," beber Raffan menebak mungkin yang membuat tubuh istrinya kurus adalah porsi makannya yang memang lebih sedikit untuk ukuran wanita dewasa.


"Sejak kecil berat badan Deefa memang susah naik, mau makan banyak ataupun sedikit tetap saja sama," aku Deefa tentang kondisi tubuhnya yang sejak kecil memang terbilang kurus bahkan sampai dewasa sekalipun.


"Kalau Mas Raffan kenapa tubuhnya seperti itu? apa semua pria memiliki.."


Deefa tidak melanjutkan pertanyaannya dia baru sadar dan mendadak sangat malu dengan pertanyaan yang dia ajukan, kenapa bisa-bisanya dia malah membahas tubuh suaminya yang memang luar biasa, bentuknya dan saat di pegang pun terasa sangat keras dan padat membuat Deefa malah jadi memerah atas yang keluar dari mulutnya barusan.


Raffan melirik lalu matanya mengecil, menyelidik lalu sekejap kemudian melemparkan senyuman yang luar bisa rupawan membuat Deefa akan selalu terpukau melihatnya dan kadang merasa cemburu sendiri apabila suaminya menunjukkan senyuman yang rupawan itu kepada wanita di luaran sana.


"Bukankah itu artinya kamu sangat mengagumi bentuk tubuh suami mu ini, sayang?" nada bicara Raffan menjadi terdengar berat dan sarat akan makna tersembunyi yang mungkin hanya akan dipahami oleh dia dan istrinya, hingga wajah Deefa pun makin di buat merah menjadi-jadi karena tutur katanya.


"Emm, sepertinya Mas Raffan sudah harus berangkat sekarang," Deefa mencoba menyelamatkan diri dengan mengingatkan suaminya untuk segera berangkat ke kampus.


"Aku malas kuliah, ingin di rumah saja bersama istriku yang diam-diam sangat kagum dengan tubuhku ini," cakap Raffan yang langsung membuat Deefa kelabakan mendengarnya.


"Mas mau libur kuliah lagi?"

__ADS_1


Raffan mengangguk dengan ulasan senyum yang sarat dengan makna tersembunyi.


Deefa menggeleng sangat cepat tanda dia tidak setuju, "Mas Raffan sudah terlalu sering libur kuliah, bagaimana mau cepat sarjana kalau kuliah saja banyak bolosnya."


Sepertinya Deefa benar-benar tidak setuju dengan keinginan suaminya karena dia tahu saat suaminya libur kuliah dialah yang akan kelelahan nantinya karena harus meladeni semua kemauan suaminya terlebih lagi dari gerakan mata dan senyum yang sang suami tunjukkan menandakan bahwa di dalam benak pria itu sudah ada sebuah rencana yang menguntungkan untuk sang suami tapi malah merepotkan dirinya.


Wanita itu merasa sangat menyesal dengan apa yang tadi dia katakan, seharusnya dia tidak usah berkata hal yang memancing karena dia tahu sendiri bagaimana suaminya itu.


Raffan membuang napas kecewa sebenarnya ingin di rumah tapi istrinya malah melarang, "ya sudah aku berangkat kuliah kalau begitu," kata pria yang akhirnya menurut, toh dia juga ada urusan dengan Agam yang rasanya tidak mungkin dia tunda karena ini menyangkut dia dan Deefa.


Deefa mengangguk antusias mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya, begitu semangat bahkan sampai membantu suaminya untuk membawa tas dan mengantarkan sang suami sampai ke pintu depan.


"Aku berangkat, hati-hati di rumah kalau ada apa-apa langsung telepon aku," pesan Raffan.


Pria itu akan selalu berpesan pada istrinya saat akan keluar rumah, mengingatkan pada sang istri agar berhati-hati dalam melakukan hal apapun.


Tentu saja Deefa senang dengan iringan anggukan kepala terlebih lagi ketika Raffan mengecup puncak kepalanya yang tertutup oleh kerudung.


"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa.


Lalu Raffan berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalamnya, menatap sang istri lalu tersenyum sebelum akhirnya menjalankan kendaraan roda empatnya keluar melewati pagar meninggalkan istrinya di rumah.


Sungguh Raffan sangat berusaha untuk bisa membuat rumah tangganya bersama Deefa bisa berjalan terus dengan baik, berusaha untuk mengendalikannya sesuai dengan harapan meski dia tahu semua yang dia harapkan dan rencanakan mungkin berlawanan dengan kehendak sang maha pemilik semesta.


Pria itu tidak tahu bahwa sang khaliq sudah mempunyai rencana sendiri untuk rumah tangganya dan juga dirinya, sang Khaliq sepertinya ingin menguji sudah sejauh apa perubahan yang terjadi padanya.


Begitu sampai di kampus Raffan langsung mencari Agam, temannya yang semalam dia hubungi dan dia mintai bantuan tentang dokter yang bisa membantunya, semoga saja Agam sudah datang harap Raffan.


"Lihat Agam nggak?" tanya Raffan ketika berpapasan dengan salah satu teman kampusnya.


"Nggak," jawab pemuda yang berjalan bersama dengan dua temannya.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu Raffan pun berlalu meninggalkan ketiga orang itu dengan berlari kecil menaiki tangga, tujuannya saat ini yaitu kelas karena biasanya Agam sudah duduk anteng di dalam kelas meskipun pelajaran baru akan mulai setengah jam kemudian, temannya yang satu itu memang selalu jadi yang paling teladan dibanding yang lain.


Dan benar saja dugaan Raffan, Agam itu memang sudah ada di dalam kelas dengan buku catatan yang terbuka di atas meja, sepertinya tengah mencatat sesuatu.


Raffan segera menghampiri dengan derap langkah yang sangat terburu seolah takut kalau temannya itu akan pergi.


"Gue kerjain tugas dulu," kata Agam saat melihat Raffan mendekat padanya.


Raffan mengangguk lalu mengambil tempat di samping sang teman dan dengan kesabaran menunggu temannya itu menyelesaikan apa yang sedang dia kerjakan.


Deefa di rumah terlihat sibuk merapikan lipatan pakaian yang tadi baru dia setrika, tumpukkan pakaian itu dia bawa menuju kamar.


Langkah kaki Deefa begitu lambat sangat berhati-hati ketika menapaki anak tangga untuk bisa sampai di lantai atas tempat kamarnya berada, wanita itu segera masuk ke dalam kamar menuju lemari pakaian, sebelahnya tangannya bergerak untuk membuka pintu lemari.


Deefa menghela napas ketika mendapati isi lemari milik suaminya, "sepertinya baru kemarin di rapihkan kenapa sekarang sudah berantakan lagi, apa memang seorang pria selalu suka membuat isi lemari berantakan?" gumamnya seraya meletakkan baju yang tadi dia bawa ke atas tempat tidur lalu menurunkan baju yang ada di dalam lemari berniat untuk merapihkan dan menyusunnya lagi dengan baik.


Kening Deefa mengerut kala di tumpukkan baju dia melihat amplop berwarna putih yang tidak pernah dia lihat sebelumnya di tambah dengan logo rumah sakit yang makin memaksa dirinya untuk menarik keluar dua amplop itu.



Wanita itu heran kemarin saat dia merapikan pakaian suaminya tidak menemukan dua amplop itu, "aku tidak melihat ini kemarin," katanya seraya mengulurkan tangan mengambil amplop yang tidak tahu kenapa membuat perasaannya terganggu, ada rasa ingin tahu bercampur cemas yang entah kenapa dengan cepat menguasai dirinya.



"Mungkin ini hasil pemeriksaannya," ucapnya mengendalikan dirinya agar tetap tenang meskipun hatinya malah sangat berlawanan.


Hingga pada akhirnya jari-jemarinya mulai bergerak untuk membuka amplop guna memenuhi rasa yang begitu mendesak, sebagai seorang manusia tentu akan sangat wajar jika memiliki rasa penasaran terlebih lagi diapun mempunyai hak untuk tahu apa isi kalimat dari kertas yang ada di dalam amplop yang dari logonya saja dia sudah bisa menebak bahwa itu adalah laporan dari pemeriksaan yang sebelumnya dia dan Raffan jalani.


Langit sudah mulai kembali gelap dengan tetesan air yang sedikit demi sedikit turun membasahi bumi di tengah hari seperti ini, padahal tadi langit sangat cerah tapi dalam sekejap berubah menjadi gelap seolah menyembunyikan matahari yang biasa menyinari bumi di siang hari.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2