Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Permintaan Atau Desakan?


__ADS_3

"Sudah ada tanda belum?" tanya sang ibu mertua kepada menantunya yang mungkin saja sangat terkejut dengan pertanyaan yang dia lontarkan.


"Maksud ibu? tanda apa?" tanya Deefa memastikan kegundahan hati yang mendadak menyeruak di dalam diri setelah mendengar pertanyaan yang tidak dia duga sebelumnya.


"Hamil, kamu sudah hamil? atau masih rutin datang bulan?" tanyanya dengan jelas.


Menurutnya Raffan dan Deefa sudah enam bulan menikah dan dia merasa wajar kalau mempertanyakan tentang kehamilan menantunya itu mengingat dia sudah sangat ingin menggendong cucu dari anak semata wayangnya.


Putra satu-satunya yang dia harapkan bisa memberikan cucu sebelum dia sangat tua dan meninggal, sungguh dia ingin melihat cucunya dan bermain-main dengan cucu-cucu kecilnya, melihat seperti apa cucunya kelak, apakah seperti Raffan yang nakal atau seperti Deefa? meski kemudian dia berharap kalau cucunya itu jangan sampai seperti Raffan, karena dia tidak ingin Raffan dan Deefa merasakan bagaimana susahnya mendidik Raffan yang nakal keras kepala dan senang membuat ulah, cukuplah mereka saja.


Deefa yang mengerti pun menggeleng kepala lemah, "belum Bu, Deefa minta doanya aja," kata Deefa akhirnya.


Dalam hal yang menyangkut keturunan seperti ini pasti pihak wanita yang akan menjadi sasaran pertanyaan, kenapa belum juga hamil juga, padahal jika mau di telisik rasanya masih sangat wajar dia belum hamil mengingat usia pernikahan yang baru menginjak setengah tahun, tapi apakah orang-orang akan mengerti? jika sudah begini pihak wanita yang akan di pandang sebelah mata dan mungkin di salahkan.


"Belum? padahal setiap hari ibu selalu mendoakan kalian, meminta pada Allah agar memberikan kalian anak bahkan sepupu Raffan yang menikah dua bulan lalu sudah hamil," ujar sang mertua dengan tatapan biasa namun Deefa merasa itu adalah tatapan intimidasi, tidak tahu dia yang terlalu dibawa perasaan saja atau memang mertuanya secara tidak langsung menyalahkan dirinya.


"Belum Bu," hati Deefa terasa sedikit teriris kala mendengar ucapan sang mertua yang tanpa sengaja mulai membandingkan dengan keponakannya yang tinggal di Padang dan baru saja menikah dua bulan lalu.


"Coba deh kamu dan Raffan ke dokter periksa, namanya ikhtiar kan nggak ada salahnya selain doa kan ikhtiar juga harus di lakukan, mencari solusi namanya," ujar sang mertua.


Sebenarnya tanpa perlu diajarkan pun Deefa sudah mengerti selain doa ikhtiar juga di perlukan, hanya saja dia merasa usia pernikahannya dengan Raffan pun belum lama dan mengenai tamu bulanannya itu selalu rutin datang tiap bulan tidak pernah yang namanya ada masalah telat datang bulan sejak dia remaja, lagian dia merasa sifat Raffan juga masih sangat labil, apa pria itu mau kalau mempunya anak di usianya yang baru 19 tahun dan dua bulan lagi baru berusia 20.


"Deefa bicarakan dulu sama Mas Raffan ya Bu, melakukan sesuatu kan harus berbicara juga dengan suami, tidak bisa mengambil keputusan sendiri," tutur Deefa menerangkan meski merasa tak enak hati takut di anggap mengajari padahal sudah tentu mertuanya itu mengerti apa yang dia bicarakan.


Sang mertua menghela napas lalu memaksakan senyuman di kedua bibir yang sejak tadi berbicara.


"Assalamualaikum," terdengar salam dari arah pintu, siapa lagi kalau bukan dua orang pria yang baru pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam," jawab kedua wanita bersamaan seraya menoleh pada arah kedatangan suami-suami mereka.


Sekarang mereka berempat sedang menikmati makan malam yang Raffan merasa agak sedikit aneh, dia melirik Deefa dan ibunya bergantian yang tidak saling berbicara seolah tengah terjadi masalah yang tidak dia ketahui.


Selepas makan malam Raffan masih harus menunggu istrinya dulu yang sedang merapikan bekas makan mereka, begitu selesai diapun langsung mengajak istrinya untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada dia ingin berbicara dengan sang istri menanyakan apa yang terjadi saat dia tak ada, sungguh dia merasa aneh sebab biasanya istri dan ibunya itu akan berbicara tapi saat makan tadi bahkan pada saat dia pulang dari sholat Maghrib dia sudah melihat ada yang sedikit aneh dengan kedua wanita itu.



Begitu sampai di dalam kamar dia langsung menutup lalu mengunci pintu dengan Deefa yang melenggang menuju kamar mandi untuk mencuci kaki serta kedua tangannya.



"Aku mau ngomong Deef, harusnya tidak usah cuci kaki segala," protes Raffan yang selalu saja tak sabar.



"Iya tunggu," ucap Deefa dari dalam kamar mandi yang pintunya sengaja dia tutup.



Wanita itu berdiri di depan wastafel dengan wajah yang basah akibat menangis, cermin di depannya memperlihatkan kesedihan yang dia rasa, sungguh dia merasa hatinya sedikit bergetar mengingat apa yang mertuanya katakan tadi.



Bukan tidak terima hanya saja sebagai wanita sangat wajar kalau dia tersinggung dengan ucapan sang mertua, membandingkan dia dengan sepupu sang suami yang belum lama menikah tapi sekarang sudah hamil, mengingat itu air matanya pun kembali menetes membasahi kedua pipi dengan menyisakan genangan di kedua pelupuk matanya.



"Deefa," panggil Raffan yang semakin kencang membuat Deefa buru-buru membasahi wajah dengan air yang mengalir dari keran.



"Iya Mas," suaranya yang sedikit bergetar tentu di sadari oleh sang suami yang gegas menuju kamar mandi.

__ADS_1



"Kamu nangis?" tanya Raffan yang sudah membuka pintu dan menatap istrinya sarat pertanyaan.



Deefa menggeleng lalu mematikan keran air dan mengelap tangan yang basah lantas keluar dari kamar mandi melewati suaminya.



"Jangan bohong Deef, meski kita baru enam bulan nikah tapi sedikit banyak aku bisa tahu saat kamu sedang nangis atau tidak, suami bodoh saja yang tidak sadar istrinya menangis padahal dari suara dan mata kamu yang merah terlihat dengan sangat jelas," cecar Raffan mengikuti wanita yang melangkah menuju tempat tidur, wanita itu mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur dengan wajah yang menunduk serta kedua tangan yang saling meremas.



"Kenapa?" Raffan berjongkok di depan Deefa melihat wajah istrinya yang masih saja diam merapatkan bibir.



"Kenapaa!?" Raffan kembali bertanya seraya mengambil tangan sang istri memisahkannya lalu dia pegang bersamaan.



Deefa masih saja diam, dia masih menimbang apakah mengatakan pada sang suami yang tadi mertuanya bicarakan, pertanyaan tentang hamil yang lebih terkesan seperti desakan agar dia segera hamil, jika dia berbicara dia takut Raffan malah akan marah pada Ibunya karena menuntut mereka tentang sesuatu yang mereka juga tidak tahu kapan Allah akan memberikannya.



"Hei!" Raffan makin menggenggam tangan Deefa menuntut wanita itu segera bersuara menjawab pertanyaan darinya.



"Aku tanya sama Ibu aja kalau gitu," cetus Raffan yang sepertinya pangkal kesabarannya mulai terkikis.




Deefa memegang tangan Raffan begitu erat ketika suaminya sudah beranjak berdiri dengan kepala yang menggeleng mengisyaratkan untuk tidak bertanya dengan sang Ibu.



"Kamu ditanya nggak mau jawab, ya aku tanya ibu lah," papar pria yang masih memakai kain sarung tapi baju Koko yang tadi dia pakai sudah berganti dengan kaos berwarna hitam.



"Kalian kan dari tadi berdua aja di rumah," sambung Raffan lagi dengan tangan yang dibiarkan menggantung sebab istrinya tak juga mau melepaskannya.



"Aku ngomong tapi kamu jangan marah sama Ibu ya." Deefa mulai bersuara meminta sang suami untuk menuruti permintaannya.



"Kalau lihat kamu sampai nangis kayak tadi sepertinya aku akan marah sama Ibu," cetus Raffan dengan tatapan mata yang dingin kepada wanita yang bola matanya kembali memerah, terlihat jelas kalau wanita itu akan kembali menangis.



Raffan menghela napas panjang lalu mengambil tempat di samping sang istri, memegang kedua bahu istrinya agar mereka berhadapan dan saling menatap.



"Ya udah aku nggak akan marah sama Ibu," kata Raffan akhirnya mengalah ketimbang harus membuat istrinya tidak nyaman dan merasa bersalah nantinya jika sampai dia bertengkar dengan sang Ibu.

__ADS_1



Deefa merasa lega mendengar perkataan sang suami, jujur dia bukan tipe wanita yang senang melihat orang lain bertengkar apalagi pertengkaran antara ibu dan anak, dia seorang menantu yang tidak pernah ingin menjauhkan anak dengan ibunya sebab bagi anak laki-laki meski sudah menikah pun surganya akan tetap berada pada ibunya.



Deefa sejenak terdiam untuk menormalkan perasaan hatinya dan agar dia tidak menangis di depan pria yang dulu bahkan tidak menerimanya sebagai istri, tapi sekarang Masya Allah Deefa sangat bersyukur karena bukan hanya menerima tapi Raffan juga sudah mengakui tentang perasaannya membuat dia tidak lagi harus meragukan hati suaminya itu.



"Ibu hanya bertanya apakah aku sudah hamil atau belum," tutur Deefa.



Raffan memicingkan kedua matanya, "cuma itu? tapi kenapa kamu sampai nangis?" tanya Raffan tak percaya, sedikit banyak dia mengenal bagaimana sifat Deefa, bukankah wanita itu tidak gampang menangis? bahkan saat Raisya datang ke rumah dan mengaku sebagai kekasihnya saja istrinya itu bertanya dengan baik meski ekspresi wajahnya menunjukkan kecemasan, tapi tetap saja tidak marah-marah kepadanya atau bahkan menuduhnya macam-macam, tapi kenapa hanya dengan pertanyaan Ibu wanita itu malah menangis.



Deefa mengangguk masih belum menceritakan semuanya.



"Aku nggak percaya, kalau kamu masih nggak mau ngomong juga aku beneran bakal tanya sama Ibu!" ancam Raffan dengan tatapan galaknya.



Jika sudah seperti itu Deefa tidak lagi bisa mengelak, mau tidak mau dia harus ceritakan apa yang sempat dikatakan oleh mertuanya.



Raffan mendengarkan saat istrinya tengah bercerita tapi raut wajahnya menunjukkan dia marah saat ini, terlihat dari rahangnya yang mengetat dan juga tangannya yang terkepal.



"Jangan marah sama Ibu, orang tua manapun pasti menginginkan anaknya cepat memberi cucu dan itu wajar," terang Deefa berusaha meredam kemarahan suaminya.



"Tapi tidak dengan cara membanding-bandingkan, kalau Asanah lebih dulu hamil itu sudah ketentuan Allah, ibu ini aneh kadang-kadang," papar Raffan tak suka bahkan sangat tidak suka ketika mengetahui istrinya di bandingkan dengan sepupunya yang bernama Asanah.



Deefa terdiam tidak lagi bisa berkata hanya kedua tangannya tetap memegangi tangan suaminya agar tidak keluar dan menemui sang Ibu.



"Kita pulang aja deh, nggak usah nginep," ucap Raffan kemudian yang merasakan bagaimana perasaan sang istri saat ini, tentu tidak akan nyaman setelah semua yang dibicarakan oleh ibunya.



Deefa menggeleng, "besok pagi saja tidak enak kalau kita tiba-tiba pulang nanti ibu akan merasa aku menjauhkan kamu dengannya, selama ini kan Ibu sangat ingin kita menginap," jelas Deefa.



"Ya sudah terserah kamu," kata Raffan yang malah jadi kesal dengan istrinya, dia itu hanya ingin yang terbaik untuk istrinya tapi sang istri malah menolak.



Raffan berjalan ke dalam kamar mandi, dia ingin mencuci wajahnya siapa tahu dengan begitu kesalnya akan berkurang sukur-sukur menghilang.


********

__ADS_1


__ADS_2