Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Kebohongan Lagi


__ADS_3

Di dalam rumahnya yang hanya sendirian saja Raffan hanya mampu duduk diam tanpa bergerak, benar-benar diam dengan isi kepalanya yang memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi tentang rumah tangganya dengan Deefa apabila dia membeberkan fakta tentang istrinya yang mengidap penyakit pada rahimnya.


Sungguh saat begini dia rasanya membutuhkan seseorang untuk menenangkan segala kekalutan yang tengah dia rasakan, pikirannya terlalu lelah sejak pulang dari rumah sakit tadi ditambah ibunya yang langsung menghubungi guna menanyakan hasil pemeriksaan.


Apakah ibunya itu memang tidak ingin membiarkan anaknya itu tenang dalam menjalani rumah tangga dengan wanita yang bahkan ibunya itulah yang memilihkan untuknya, lalu kenapa sekarang malah memberikan tuntutan yang akhirnya membuat Deefa tertekan.


Ah tidak, jika sudah seperti ini bukan hanya Deefa lagi yang tertekan tapi juga dirinya, Raffan Alawi jadi ikut tertekan memikirkan keadaan istrinya nanti setelah dia memberitahukan hasil pemeriksaan mereka, dan masih harus ditambah oleh ibunya.


Lalu apa yang harus Raffan lakukan sekarang? sebagai suami dan istrinya tidak berbuat salah apapun tentu dia akan membela istrinya mati-matian, tapi bagaimana dengan Deefa sendiri? apa wanita itu mau menerima apa yang sudah ditetapkan untuk mereka? apa istrinya itu tidak akan mengambil keputusan menyakitkan untuk mereka?


"Astaghfirullahaladzim," Raffan mengusap wajah.


Hal ini tidak akan menjadi akhir dari perjalanan rumah tangga mereka yang bahkan belum genap satu tahun kan?


Sungguh Raffan tidak mau hal itu sampai terjadi tapi sebagai manusia yang punya perasaan tentu dia akan memikirkan seperti ini, memikirkan hal menakutkan yang mulai saat ini mungkin akan membayangi dirinya, menghembuskan angin ketakutan menyusup ke dalam jiwa dan raganya.


Pria itu baru bergerak manakala melihat benda yang ada di atas meja kembali menyala dan bersuara, nada dering yang mengusik indera pendengarannya langsung membuatnya.


Itu istrinya, itu adalah telepon dari istrinya yang langsung membuat jantungnya berdebar dan pikirannya yang mendadak khawatir, pria itupun lantas berharap semoga istrinya tidak menanyakan tentang hasil pemeriksaan yang sebenarnya Raffan anggap itu adalah mimpi dan saat dia bangun esok pagi hasil pemeriksaan itu tidak pernah ada.


"Assalamualaikum, Mas."


Suara Deefa terdengar begitu merdu yang mendamaikan hatinya yang gelisah, Raffan pun menghembuskan napas tenang lalu menjawab salam yang istrinya ucapkan, "wa'alaikumsalam, sayang, bagaimana keadaan kamu di sana, baik-baik saja kan? aku kangen sama kamu," ujar Raffan mengutarakan kerinduan padahal rasanya baru tadi pagi dia itu berpisah dengan sang istri, rapi baru beberapa jam malah sudah sangat merindukan istrinya itu.


"Baik Mas, Deefa baik, kan belum ada satu hari Mas, kenapa sudah kangen," ucap Deefa seraya tersenyum malu ditengah matanya yang sebenarnya masih menampakkan kesedihan akibat kepergian Ayahnya yang sudah kembali kepada sang penciptanya.


"Yang namanya kangen kan nggak bisa diatur kapan datangnya Deef, mau baru satu menit pisah kalau hatinya kangen ya kangen aja, nggak mesti harus berpisah lama dulu baru kangen," papar Raffan dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa saat ini dia memang sedang merindukan istrinya itu.


Wanita yang jauh di sana pada kenyataannya memang sudah sepenuhnya menjadi penguasa di dalam jiwa dan raganya, tidak lagi menampik perasaan yang padahal dulu sama sekali tidak ada.


"Ya sudah sabar ya Mas, cepat atau lambat Deefa juga akan balik ke Jakarta kok," kata Deefa berusaha menenangkan suaminya, memberinya kesabaran agar mau menunggu dirinya.


Bukankah sebagai istri dia itu memang akan kembali pada suaminya, tinggal bersama dan mengabdikan diri pada sang suami sebab itu memang kewajibannya semenjak Raffan dengan lancarnya mengucapkan ijab kabul yang menjadikan mereka halal, hanya saja untuk saat ini Deefa masih ingin bersama ibunya lebih tepatnya ingin menemani wanita itu dulu sampai ibunya itu benar-benar terbiasa karena sebenarnya Deefa sangat ingin mengajak ibunya tinggal bersamanya di Jakarta bahkan tadi pagi sebelum Raffan berangkat ke Jakarta dia sudah membicarakan kemungkinan ini dan Raffan malah dengan senang hati mau menerima ibunya tinggal bersama hitung-hitung untuk menemani mereka, tapi ternyata ibunya itu menolak dengan alasan yang tidak ingin membuat rumah peninggalan almarhum Ayahnya itu kosong dan tak terurus membuat Deefa pun tidak bisa memaksakan kehendaknya itu, takut nanti ibunya malah tidak betah karena memikirkan rumahnya.

__ADS_1


"Iya aku sabar, palingan kalau malam aja aku nggak bakalan bisa tidur."


"Kenapa begitu?"


"Ya kan biasanya ada kamu," sahut Raffan.


"Kalau tidak bisa tidur Mas bisa mengaji, biar pikirannya jadi tenang," saran Deefa kepada suaminya yang memang sudah mulai membaca Alquran meski masih jarang-jarang.


"Iya sayang," kata Raffan dengan suara yang terdengar berat karena memang ada hal yang memberatkan pikirannya.



"Mas," panggil Deefa pada sang suami yang tidak dia tahu kalau pria itu sedang berusaha untuk bersikap tenang, menekan kegelisahannya agar jangan sampai disadari olehnya.



"Kenapa? kamu mau aku jemput?" tanya Raffan bertanya hal yang setidaknya bisa membantunya menenangkan diri.




"Iya aku tahu hanya bercanda saja untuk menghilangkan rasa sepi karena tidak bisa melihat wajah kamu," aku pria yang sampai sekarangpun masih juga belum makan, perutnya itu masih kosong dia benar-benar sangat tidak berselera untuk makan.



"Kamu mau ngomong apa?" tanya Raffan kemudian.



"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan kita? Mas sudah ambil kan?"


__ADS_1


Pertanyaan Deefa dalam sekejap langsung berhasil membuat Raffan terdiam, diapun sedikit menyesal kenapa harus bertanya apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu.


Raffan mengurut kening lalu berpindah ke pangkal hidungnya yang mancung dengan tarikan napas yang berat dan menjadi sangat cepat.


Dia harus menjawab apa sekarang? istrinya itu jauh sedang tidak bersamanya kalau dia katakan sekarang sungguh membuatnya takut, Raffan takut Deefa akan menjadi histeris dan Raffan tentu tidak akan bisa menenangkan wanita itu.



Sebab biar bagaimanapun Deefa juga hanya manusia biasa yang tentu saja sama dengan manusia lainnya yang akan menjadi syok dan terpukul bila mengetahui apa yang terjadi.



"Mas," Deefa kembali memanggil suaminya yang belum juga memberikan jawaban untuk pertanyaan yang dia berikan.



"Belom sayang, aku belum sempat ambil soalnya tadi langsung ke kampus udah bolos tiga hari lebih kan." akhirnya Raffan memilih untuk berbohong.



Berbohong pada istrinya karena tidak mau saat Deefa bersedih dia tidak ada, sebagai suami bukankah dia harus berada disisi istrinya dan memberikan kekuatan pada wanita yang berhati lembut itu.



"Begitu ya."



"Maafkan aku sayang," batin Raffan kala mendengar suara sang istri yang terdengar tidak bersemangat, merasa sangat bersalah pada wanita yang dia cintai itu karena akhirnya dia malah membohonginya.



\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2