Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Raffan Yang Bermasalah


__ADS_3

"Belum Raffan ambil."


"Kenapa belum diambil juga?" sang Ibu menatap pada putranya yang duduk di berdampingan dengan sang suami.


Sekarang ini mereka sedang duduk bersama setelah menuntaskan makan malam, berbincang apa saja sampai akhirnya pertanyaan tentang hasil pemeriksaan meluncur dengan lancar dari mulut Ibunya, Raffan sudah bisa menebak kalau akhirnya perihal itu akan ditanyakan, karena dia sudah tahu Ibunya meminta dia datang kan memang untuk menanyakan hal itu.


Raffan menghela napas panjang, dia tahu dengan jelas saat dia memberikan satu jawaban untuk pertanyaan pertama berikutnya akan kembali muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya dan dia harus siap untuk jawaban yang harus dia berikan.


"Tiga hari lebih Raffan tidak masuk kuliah, jadi Raffan sangat sibuk di kampus, menyalin semua catatan," jawab Raffan memberi alasan yang masuk akal agar Ayah terutama ibunya itu percaya.


Saat ini andai nya dia menjawab dengan jujur apa yang terjadi dia tidak perlu khawatir dengan Ayahnya, yang dia khawatirkan adalah apa yang akan dilakukan oleh Ibunya itu ketika tahu kalau menantunya tidak bisa memberikannya cucu, memintanya untuk menceraikan Deefa? atau mungkin menyuruhnya untuk menikah lagi?


Sungguh, seumur hidupnya Raffan tidak pernah terpikir akan sampai menikah lagi, dan dia berharap Ibunya tidak akan pernah memintanya melakukan itu hanya untuk mendapatkan keturunan, toh dia berpikir masih bisa mempunyai anak dengan cara adopsi, di panti asuhan banyak sekali anak-anak yang terlantar dan mereka bisa memberikan kasih sayang serta kebahagiaan pada salah satu diantara anak-anak itu nantinya.


"Kalau begitu biar Ibu saja yang ambil hasil pemeriksaannya besok."


Ucapan wanita di depannya itu bagaikan sambaran petir di siang hari bolong membuat jantung Raffan terhenyak dengan wajah yang menegang.


"Sudah lah Bu, jangan melakukan apapun biarkan saja Raffan yang mengambilnya nanti toh Ibu ataupun Raffan yang ambil kan hasilnya tetap saja sama," sang Ayah mencoba memberikan pendapatnya.

__ADS_1


Kenyataannya kan memang seperti itu, siapapun yang mengambil hasilnya tetap tidak akan berubah.


"Bukan itu maksudnya, Ayah," sang istri mencoba membela diri karena perkataan suaminya terdengar memojokkan dirinya, "Ibu hanya ingin segera mengetahui hasilnya, kalau sudah tahu kan kita bisa melakukan.."


"Melakukan apa Bu?" Raffan menyela omongan ibunya hingga wanita itu menatap heran, "Ibu mau melakukan apa kalau sudah tahu hasil pemeriksaan?" Raffan mengulang kembali pertanyaan dengan tatapan yang berubah menjadi tajam, dia mendadak tidak suka pada setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibunya itu, dan sekarang pikirannya jadi benar-benar makin curiga dan sangat yakin kalau ibunya akan melakukan tindakan yang membuat Deefa makin sakit hati dan terluka nantinya.


Ustad Imran terlihat menggelengkan kepala memberi peringatan pada istrinya untuk tidak menjawab pertanyaan dari Raffan, tapi istrinya itu menjadi sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan dirinya terlihat dari bibir sang istri yang mulai bergerak mengabaikan peringatan darinya.


"Seandainya Deefa yang bermasalah setidaknya kita tahu lebih awal, kita bisa melakukan yang terbaik untukmu Raffan, mencarikan solusi," tutur wanita yang sejak tadi sudah mendapat tatapan tajam dari dua pasang mata pria di depannya.


Ustad Imran menghela napas sangat berat mendengar pernyataan istrinya yang luar biasa tidak bisa dia percaya, istrinya sekarang ini bertindak menjadi seorang mertua yang egois dan keras terhadap menantunya.


Sudut bibir Raffan berkedut mendengar suara sekaligus perkataan yang ibunya lontarkan, tidak percaya bahwa wanita yang sangat dia sayangi dan hormati itu menjadi seperti ini, mencari solusi? maksudnya apa? dan dengar sendiri perkataan yang ibunya tuturkan seperti sudah tahu bahwa hasil pemeriksaan menyatakan Deefa yang bermasalah.


Sorot mata Raffan yang tadinya sangat tajam kini berubah menjadi nanar, sedih! dia sangat sedih dan rasanya ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin, dia belum mengatakan apapun tentang hasil pemeriksaan tapi pernyataan Ibunya sudah mengarah pada hal yang tidak dia inginkan.


"Sudah berhenti! kalian ini apa-apaan kenapa malah jadi berdebat! dan kamu Hayati, seharusnya sebagai seorang ibu sekaligus seorang wanita kamu bisa lebih mengerti dan berbicara yang menenangkan jangan malah jadi seperti orang yang tidak mengerti dan memahami perasaan orang lain apalagi perasaan anakmu sendiri!" Ustad Imran berkata tegas terhadap istrinya, wanita yang sejak tadi tidak mau mengerti peringatan yang sudah dia berikan, malah seperti tanpa rem terus saja berbicara.


"Ibu ini cukup mengerti dan pengalaman seperti apa rasanya seorang wanita yang sudah menikah tapi belum juga memiliki anak, belum bisa memberikan anak pada suaminya, jelas memikirkan perasaan keluarga terutama keluarga suami, ibu tidak ingin Raffan seperti kita, lama sekali baru memiliki anak dan hanya bisa memiliki satu anak saja," ucap wanita yang makin tidak terima manakala suaminya memojokkan dirinya, menyalahkan semua perkataannya.

__ADS_1


"Tapi apa keluarga Ayah menekan Ibu, memberi tekanan pada Ibu untuk segera punya anak?" ustad Imran memberikan sorot mata yang luar biasa tajam memberikan pertanyaan pada sang istri, pada kenyataannya dulu orang tuanya tidak pernah memberi tekanan dan ikut campur pada urusan mereka, tidak mencampuri ketika bertahun-tahun lamanya Istrinya itu tak kunjung hamil, lalu kenapa sekarang istrinya itu malah bersikap sebaliknya?


Diamnya sang istri membuat ustad Imran kembali berbicara, "tidak kan? orang tua Ayah tidak pernah menuntut kapan kita harus memiliki anak, kapan mereka akan mempunyai cucu!" ustad Imran menarik napas berat seraya menahan emosi terlihat dari wajahnya yang sudah memerah.


Ketiga orang itu menjadi diam membuat suasana yang tadinya panas menjadi sangat hening tapi aura panas tetap saja terasa dan mendominasi karena helaan demi helaan napas yang terdengar dari ketiga orang itu.


Sampai akhirnya keheningan itu kembali diisi oleh suara milik satu-satunya wanita di ruangan dan rumah itu, "apa Ibu salah? Ibu hanya ingin mereka tidak terlalu lama seperti kita, makanya ibu melakukan ini," papar sang wanita yang wajahnya menjadi lebih tegang setelah mendengar suara suaminya tadi.


"Tidak harus memberi tekanan terus-menerus seperti itu Bu, kalau ibu begitu terus yang ada Deefa dan Raffan malah jadi stres, kalau sudah stres apa tidak makin mengganggu hormon Deefa nantinya, jangan terlalu keras dengan keinginan kamu lah Bu, kita ini hanya manusia yang diciptakan, semua yang terjadi pasti bergantung pada kehendak sang pencipta yaitu Allah, seharusnya ibu paham akan itu," ustad Imran menekan setiap perkataannya, mencoba memberi pengertian pada wanita yang bertahun-tahun menjadi istrinya wanita yang akhir-akhir ini sifatnya menjadi sangat berbeda hanya karena keinginannya untuk memiliki cucu, bukankah itu sangat keterlaluan.


"Ibu ini lebih tahu perasaan wanita Yah, dan tahu apa yang harus ibu lakukan untuk anak ibu!"


Raffan menjadi pusing mendengar orang tuanya yang malah berdebat, ibunya yang tidak mau mengalah dan terus membantah sedangkan Ayahnya yang sudah kehabisan kata-kata karena perkataannya terus saja di tentang oleh ibunya.


Pikirannya benar-benar menjadi sangat kalut rumit semua perasaan jadi campur aduk di dalam hatinya membuat dia meremas kepalanya kala pusing mendadak menyerang otak kepalanya.



"Raffan yang bermasalah."

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*


__ADS_2