
Raffan menatap pada wanita yang baru saja kembali mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang mengisyaratkan kecurigaan sungguh tidak pernah Raffan pikirkan, dia tahu istrinya cerdas tapi dia juga tahu istrinya itu orang yang sangat mudah percaya pada perkataan siapapun selalu berpikiran positif terhadap orang lain juga terhadap dirinya.
Tapi malam ini muncul pertanyaan yang pastinya membuat jantung Raffan itu seolah berhenti mendadak, pertanyaan yang istrinya tentu tidak tahu jawabannya andai dia tetap memilih untuk merahasiakan dan bertahan dengan kebohongan yang sudah dia ucapkan.
"Mas tidak sedang menyembunyikan apapun dari Deefa kan? baik hal yang sepele ataupun tidak?" bibir pink alami milik istrinya pun bergerak membicarakan yang sama tentang sembunyi dan menyembunyikan.
"Memangnya apa yang harus aku sembunyikan?"
Deefa bisa merasakan nada suara milik suaminya mulai sedikit terdengar tidak enak, tidak seperti yang biasa, kali ini tampak gurat tidak suka mendapat pertanyaan darinya.
Deefa mengulas senyum mencoba untuk mencairkan suasana yang sepertinya akan menegang kalau dia tidak berusaha untuk membuat keadaan kembali nyaman karena pertanyaan yang dia ajukan.
"Deefa hanya bertanya.."
"Tidak ada, aku tidak menyembunyikan apapun darimu, oke? puas tidak dengan jawaban yang aku berikan?" raut wajah Raffan tetap tidak berubah melainkan malah semakin tidak enak untuk dilihat, sepertinya usaha Deefa untuk mencairkan suasana tidak berhasil.
Hingga akhirnya Deefa mengatupkan bibir, senyum yang tadi dia terbitkan pun dengan cepat memudar tanpa jejak diiringi dengan gerakan kepalanya yang naik turun mengangguk memberi jawaban tanda dia mengerti dan tidak ingin membahas apa-apa lagi jika tanggapan suaminya malah begini.
Jangan salahkan Deefa, tapi salahkan saja nalurinya sebagai seorang istri dan wanita yang akan merasa tidak nyaman dan terganggu apabila ada sesuatu yang mengusik hatinya sekalipun dia tidak tahu apa sesuatu itu.
Raffan menghela napas panjang dan sangat berat, sebenarnya ada rasa bersalah yang dalam sekejap mengitari pikiran dan hatinya kala memberikan jawaban yang terdengar begitu ketus pada istrinya tapi dia tidak bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu hingga akhirnya dia mengeluarkan pernyataan yang mungkin sedikit menyakiti perasaan istrinya, dia tidak bisa menyalahkan istrinya karena sebagai seorang suami tentu dia sudah paham ada saatnya seorang istri akan menaruh curiga terhadap suaminya.
"Deefa tidur duluan kalau gitu, kalau sudah selesai Mas langsung tidur," kata Deefa lantas beranjak tapi sebelumnya dia menggeser sofa kembali pada temannya dan setiap gerakan yang dia lakukan tak luput dari perhatian suaminya.
Tampak jelas Raffan merasa bersalah andai ada pilihan yang tidak perlu melukai hati istrinya tentu dia akan memilih pilihan itu, dia itu bukanlah seorang suami yang bisa santai dan tenang saja ketika melakukan kebohongan dengan sengaja, jiwa-jiwanya seakan ingin berontak dan menyalahkan dirinya, menuding dirinya karena sudah membuat istrinya bersedih.
Raffan mengangguk tanpa suara namun netra nya bergerak mengikuti kemana istrinya itu melangkah bagi berhenti ketika sang istri masuk ke dalam kamar mandi mungkin ingin mencuci muka atau sebagainya sebelum beranjak ke tempat tidur.
Kembali fokus pada layar laptop sekaligus tugas kuliahnya tentu dia sudah tidak akan bisa tentang pemeriksaan yang Deefa katakan jelas mengusiknya membuat konsentrasi pun malah sudah melenceng sangat jauh hingga akhirnya dia mematikan laptop lalu menutupnya, beranjak dari duduknya yang tak sengaja menatap pada sang istri yang mungkin sudah tertidur.
Raffan melangkah menuju tempat tidur berdiri di tempat istrinya berbaring menunduk dengan kedua tangannya menaikkan selimut guna menutupi tubuh sang istri tapi setelah memakaikan selimut dia tidak segera pergi masih tetap membungkuk menatap dalam wajah yang begitu damai dengan hembusan napas yang teratur.
Menatap sekian menit sampai kemudian mendekatkan wajah pada istrinya dan memberikan kecupan selamat tidur bagi wanita tercintanya itu.
"Maafkan kalau aku membuat kamu kecewa aku terpaksa melakukan ini, yakin sama aku kalau kita akan bisa melewati semua dengan baik dan bahagia," bisik Raffan benar-benar sangat pelan hingga mungkin hanya dirinya saja yang akan mendengar.
Puas memandang dan memberi kecupan, pria itupun gegas keluar dari kamar dengan membawa handphonenya, menuruni anak tangga untuk mencapai lantai dasar dan memasuki ruang di sebelah ruang tamu, ruangan yang dulu adalah tempat Ayahnya membaca meski ada ruangan baca di lantai atas tapi Ayahnya lebih senang membaca di ruangan yang di bawah.
Sekarang ini dia harus mencari dokter yang mungkin bisa membantunya, yah mungkin sedikit bekerja sama agar Deefa tetap tidak tahu mengenai kondisi yang sebenarnya, semoga saja dia bisa menemukan dokter yang mengerti dengan permasalahannya dan mau memaklumi meski sebenarnya ini mungkin berhubungan dengan kode etik.
Raffan pun mulai menghubungi temannya. bertanya barangkali temannya mengetahui atau mungkin mengenal Dokter yang seperti inginnya, tentunya yang benar-benar bisa membantu.
__ADS_1
Dan teman pertama yang dia hubungi adalah Agam tentu karena saat ini Agam lah yang paling mengerti dirinya apalagi mengingat Agam pun sudah tahu mengenai permasalahan yang tengah dia alami, dia yakin Agam akan mau membantunya dan dirinya sungguh sangat percaya dengan salah satu temannya itu.
"Assalamualaikum," suara Agam langsung menyapa pendengaran Raffan mendahuluinya mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Raffan seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa ruangan yang lampunya sengaja tidak dia nyalakan, membuat ruangan menjadi gelap mungkin untuk menggambarkan suasana hatinya yang memang sudah sangat gelap setelah mengetahui kondisi istrinya melalui hasil pemeriksaan.
"Gam."
Panggilan Raffan yang bernada rendah itu sudah menyiratkan perasaan yang tidak tenang tengah menerpa, dan itu bisa langsung dirasakan oleh Agam.
Agam yang sedang menatap layar laptop memeriksa tugas-tugas kuliahnya pun mengerutkan kening lalu menjauhkan kursi dari meja belajarnya.
"Lo kenapa Raf?" tanya Agam bernada ramah dan penuh perhatian terhadap sang teman.
"Lo bisa bantu gue?" bertanya lebih dulu sebelum mengutarakan apa yang dia ingin sampaikan.
"Selama gue bisa bantu akan gue bantu, walaupun gue nggak bisa bantu tentu akan ada bantuan dari Allah yang senantiasa mengetahui setiap permasalahan dari umatnya yang beriman dan yakin pada pertolongannya," ucap Agam secara tidak langsung memotivasi seorang Raffan Alawi agar tidak menyerah meskipun dia mungkin tidak bisa memberikan bantuan yang temannya itu harapkan, tapi dalam hati Agam sungguh sangat ingin membantu temannya yang sedang dalam kesusahan.
"Gue butuh dokter yang bisa membantu gue tanpa harus memberitahu Deefa tentang yang sebenarnya terjadi, dokter yang mau bekerja sama dengan gue, meski gue tahu itu menyalahi kode etik kedokteran tapi gue nggak tahu harus melakukan apa selain tetap menyembunyikan semuanya dari Deefa," aku Raffan dengan matanya yang menerawang di dalam kegelapan ruangan.
Agam menghela napas panjang lalu berbicara, "gue nggak tahu Raf, tapi nanti gue coba tanya sama Mbak Dinar, setahu gue dia dulu lahiran sama dokter yang orangnya asik semoga aja Mbak Dinar masih simpan nomornya, biar bisa langsung kita temuin aja nanti," ucap Agam membuat Raffan bernapas lega.
"Gue tunggu Gam, terimakasih karena selalu jadi teman yang mengerti dan selalu ada saat gue butuh padahal kadang sikap gue tidak baik terhadap Lo." Raffan merasa menyesal karena selama ini selalu salah sangka terhadap temannya itu, apalagi saat tahu Agam menyukai Deefa, sungguh Raffan merasa sangat bersalah saat mengingat itu.
"Itu namanya maling Gam!" sentak Raffan tapi kemudian tertawa mendengar candaan dari temannya.
"Apalah itu namanya Raf," sahut Agam seraya menutup buku catatan.
"Sekarang Deefa ngapain?"
Mata Raffan membulat lalu mendelik, "istri gue Gam, gue banyak-banyak terimakasih kalau perlu gue traktir seumur hidup atas bantuan Lo tapi gue mohon jangan tanyain istri gue kalau nggak mau gue hantam bolak-balik!" ancam Raffan.
Agam tertawa kencang, dia sudah tahu kalau Raffan ini pasti tidak serius mengatakan hal tadi, jelas ancaman itu tidak akan pernah terbukti karena diapun tidak akan menanyakan Deefa lagi, tadi itu dia hanya ingin memancing jiwa cemburu Raffan saja, dan ternyata temannya itu langsung mencerocos panjang lebar membuat telinganya berdengung.
"Oke-oke Raf, sekarang gue mau tidur dan Lo juga harus tidur."
Raffan mengangguk, "jangan lupa tanya sama Mbak Dinar," Raffan mengingatkan agar Agam tidak lupa.
"Pasti, besok kita bicarakan lagi di kampus," kata Agam.
"Gue tunggu, assalamu'alaikum," ucap Raffan mengakhiri pembicaraan dengan temannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," sahut Agam dan handphone pun tidak lagi menampilkan nama Raffan.
Selesai menelepon Raffan masih tetap berdiam diri di dalam kegelapan, merenungi dirinya dan juga mengingat kembali setiap tutur katanya yang kadang tidak pernah di pikir dulu sebelum berkata.
Dan sekarang dia sedang merenungi kesalahannya, tentang apa yang pernah dia katakan sebelumnya sungguh dia menyesal bahkan saat bertemu Kinara hari ini.
Deefa menggeliat dalam tidurnya meraba tempat di sampingnya yang masih kosong, itu artinya sang suami belum tidur.
"Apa masih belum selesai?" batin Deefa seraya bergerak untuk duduk melihat tempat suaminya berada tadi tapi yang dia dapati hanyalah kursi yang kosong dan laptop yang sudah tidak menyala.
"Mas Raffan kemana?" tanyanya seorang diri seraya melihat pada jam kecil di atas meja untuk mengetahui ini sudah jam berapa.
"Sudah jam 1 malam tapi Mas Raffan pergi kemana?" katanya lalu mengikat rambut panjangnya dan menyibak selimut kemudian menjejakkan kedua kakinya di lantai.
Dia tentu akan keluar kamar untuk mencari suaminya yang entah sedang berada dimana sekarang ini, bukannya tidur tapi malah menghilang dari kamar.
Langkahnya sedikit lambat ketika menuruni anak tangga, sebenarnya matanya masih sangat berat untuk di buka tapi mengetahui suaminya tidak ada di kamar membuat dia memaksakan kedua matanya untuk terbuka.
"Mas," panggilnya menuju dapur, dia mengira mungkin suaminya haus dan tengah mengambil minum atau mungkin tengah lapar dan sedang membuat makanan, tapi begitu sampai di dapur apa yang dia pikirkan ternyata salah, ruangan itu tampak gelap menandakan tidak ada siapapun di dalamnya, hingga akhirnya dia beralih keluar dari dapur dan ketika melihat pintu ruangan di sebelah ruang tamu.
Deefa melebarkan pintu yang tadi terbuka sedikit dan melihat ke dalam ruangan yang gelap itu mencari-cari sosok yang menghilang dari kamar saat dia tidur.
"Kenapa malah tidur disini?" gumam Deefa saat dalam kegelapan matanya melihat suaminya yang bersandar di sofa dan dengan bantuan cahaya dari luar ruangan dia bisa melihat kedua mata suaminya terpejam melihat tidak ada respon yang ditunjukkan oleh suaminya ketika dia membuka pintu bisa dipastikan bahwa suaminya itu memang tertidur.
Wanita itu berjalan mendekat ke arah suaminya berada, menatap wajah milik suaminya dengan tatapan yang penuh cinta.
Dia ingin membangunkan suaminya tapi malah tidak tega ketika melihat suaminya sudah sangat pulas meski tidur dalam posisi duduk sekalipun membuat dia tidak tega untuk membangunkan.
"Kamu terlihat sangat lelah Mas, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? tidak maukah berbicara pada istrimu sendiri?" gumam Deefa melihat kerutan di kening suaminya.
Di saat sedang tidur seperti ini saja kening Raffan berkerut seperti orang yang sedang berpikir, memikirkan permasalahan yang jelas Deefa tidak tahu dan tidak boleh tahu.
Deefa pun duduk di samping suaminya lalu mengarahkan kepala sang suami ke pundaknya membiarkannya bersandar dengan tangannya yang mengelus rambut hitam milik suaminya.
__ADS_1
\*\*\*\*