Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Gue Aduin!


__ADS_3

Tadi malam sepertinya Raffan kesulitan untuk tidur, sungguh dia terjaga sampai jam 5 pagi dan baru bisa memejamkan mata setelah dia sholat subuh, sepertinya susah tidur cukup baik bagi Raffan karena akhirnya dia tidak akan kesiangan lagi untuk menjalankan ibadah yang satu itu.


Tapi setelahnya kepalanya pusing karena harus kembali bangun pada pukul setengah 7 karena hari ini dia masih harus masuk kuliah dengan mata pelajaran dari dosen yang terkenal sangat amat killer dan juga tidak akan memberikan toleransi pada mahasiswa yang tak masuk pada mata kuliah yang dia ajarkan.


Mulutnya senantiasa menguap saat beranjak ke kamar mandi dengan kondisi rambut yang acak-acakan.


"Si Deefa nih benar-benar ngeselin ya, orang tuh kalau laki marah samperin gitu ini cuek aja," sungut Raffan.


Kakinya yang baru saja hendak menginjak lantai kamar mandi terhenti membuatnya mengambang di atas lantai memikirkan perkataannya sendiri tentang dia yang marah.


"Marah?" tanyanya dengan kerutan di dahi yang berlipat-lipat dalam sekejap rasa ngantuk yang sejak tadi masih mendera seolah sirna begitu saja bergantikan dengan pertanyaan untuk dirinya sendiri, tentang kata marah yang tadi dia sematkan akibat kejadian semalam.


Raffan menggeram dengan gemas mengacak rambutnya sendiri, jelas tidak mungkin dia marah hanya karena mendengar Agam tengah mendekati Deefa, hanya saja dia sebagai seorang suami merasa tidak dianggap terlebih lagi kala bibir mungil istrinya semalam terus menjawab perkataannya mengungkit apa yang sempat terucap olehnya.


Sepertinya saat ini Raffan sedang ada di fase tidak mengenali dirinya sendiri, bahkan sangat sulit mengartikan marah yang dia rasakan dia seperti orang yang tidak pernah berpacaran saja, padahal dari SMP pun dia sudah menjadi buah bibir teman-teman wanitanya yang menaruh hati padanya.


Yah karena memang tidak dipungkiri dia memiliki wajah yang cukup mumpuni untuk membuat semua gadis bangga jika bisa berdekatan apalagi memiliki hubungan spesial, sampai akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada Kakak kelasnya dan berpacaran meski hanya sebentar, namanya juga cinta monyet.


Disini bisa dilihat bahwa sebenarnya Raffan pun sejak dulu menyukai gadis yang lebih dewasa darinya, lalu kenapa saat menikah dengan Deefa yang lebih dewasa dia nampak sangat tak terima bahkan tidak mau untuk mengakui pernikahannya itu.


Merasa tidak bisa menemukan jawaban atas keanehan dirinya itu, Raffan pun lantas melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda.

__ADS_1


Pria itu sudah berada di kamar mandi membasahi tubuhnya yang mendadak langsung menjadi sangat segar, rasa ngantuk dalam sekejap musnah dengan cepat hanya menyisakan matanya sedikit memerah.


Selesai berpakaian Raffan pun meraih tas hitamnya dan berjalan keluar kamar menuju lantai bawah, seperti biasa sudah tercium bau masakan siapa lagi yang membuatnya jika bukan istrinya sebab mereka memang tidak memakai jasa ART.


"Mulai hari ini Lo nggak usah ngajar lagi."


Suara Raffan mengagetkan Deefa yang tengah membelakanginya, wanita itu sedang mencuci wajan kotor yang tadi dia gunakan untuk memasak.


"Hah?" Deefa membalikkan wajahnya melihat pria yang sudah duduk di meja makan.


"Hah hoh hah hoh, gue bilang nggak usah ngajar lagi!" ulang Raffan geram dengan tingkah Deefa yang tidak peka.


"Iya aku dengar, tapi alasannya apa?" Deefa membilas tangannya dan mengambil tempat di seberang sang suami.


Jelas pasti ada alasan hingga meminta Deefa untuk tidak lagi mengajar, hanya saja pria itu memang sedikit gengsi saja mengakui kalau dia tak suka istrinya berdekatan dengan temannya.


Agam, sejak dulu temannya yang satu itu memang memiliki pesona yang tidak kalah dengannya meski dulu dia tidak masalah tapi sekarang tak tahu kenapa dia malah jadi ketar-ketir sendiri.


"Deefa kan ngajar di TPA itu atas tawaran Ayah, Deefa sudah setuju tidak mungkin sekarang Deefa seenaknya saja berhenti, Deefa juga harus bertanggung jawab sama pilihan Deefa," ujar Deefa.


"Tanggung jawab Lo itu nurutin perkataan suami dan juga ngurus suami, pokoknya gue nggak mau tahu mulai hari ini Lo nggak usah ngajar lagi, titik!"

__ADS_1


Raffan berkata tegas dengan tatapan yang tajam, pria itu bersungguh-sungguh kala mengatakan keinginannya agar Deefa tidak lagi mengajar di TPA milik Agam.


"Deefa bicarakan dulu dengan Ayah," kata Deefa akhirnya mencoba mencari solusi dengan bertanya pada sang mertua.


"Lo minta pendapat Ayah bakal gue aduin kelakuan Lo yang sering pulang diantar sama Agam, lihat aja dia bakal marah sama Lo karena berani berduaan dengan lawan jenis," ancam Raffan dengan senyum yang mengejek.


Deefa menatap tak percaya pada pria di depannya yang bisa-bisanya memberikan ancaman seperti itu, ancaman yang bahkan tidak dia lakukan.


Apa katanya tadi? sering pulang di antar Agam? sedangkan Agam mengantarnya hanya dua kali! lalu hanya berdua saja dengan lawan jenis? astaga! apakah Kinara dianggap patung?


"Hanya dua kali dan itupun kami tidak berdua, ada Kinara yang akan selalu ikut menemani!" suara Deefa menjadi sedikit tinggi sebab tidak terima dengan tuduhan konyol dari Raffan, kenapa mulut pria itu menjadi sangat lemes.


Raffan mencebikkan bibirnya acuh dan tak peduli sebab dia akan melakukan apapun agar wanita di depannya ini tidak lagi bertemu dengan Agam.


Dasar Agam sialan! makinya dalam hati sambil menyendok nasi yang belum juga Deefa sendokan untuknya, dengan gerakan kasar dia mengembalikan centong nasi lalu beralih pada menyendok rendang yang memang dia sukai.


Mentang-mentang berdarah Padang begitu melihat rendang dia menjadi kalap mengambil potongan daging tak hanya satu.


"Mas." Deefa memanggil lembut mencoba menetralkan emosi yang sejak tadi melingkari mereka.


"Gue lagi makan, jangan berisik, lagian Lo bujuk kayak apapun juga gue nggak bakal berubah pikiran, sekali gue bilang berhenti ya berhenti!"

__ADS_1


Ketegasan Raffan membuat Deefa menghela napas panjang lalu mulutnya tak lagi berani berkata hanya untuk sekedar membela diri.


*****


__ADS_2