Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jemput Istri


__ADS_3

Ini adalah hari yang sudah sangat Deefa nantikan, entah kenapa tadi malam dia sama sekali tidak bisa tidur, sampai menjelang subuh pun matanya masih tetap segar dan mengantuk sedikitpun.


Wanita itu gelisah, sungguh sangat gelisah karena hari ini akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan suaminya, tadi pagi-pagi sekali suaminya juga sudah mengabarkan padanya kalau sudah dalam perjalanan.


Raffan berangkat pagi-pagi sekali untuk menjemput istrinya? sepertinya pria itu juga sudah tidak sabar untuk menjemput wanita yang mulai mengusik tidurnya seminggu ini.


Raffan sama halnya dengan Deefa, kesulitan tidur pada hari terakhir ini hingga memutuskan langsung berangkat pagi, semoga saja kantuknya tidak datang karena harus mengendarai mobil seorang diri.


"Umi lihat sejak tadi kamu gelisah sekali Deef," ucap Umi Salamah yang dari tadi memperhatikan apa yang Deefa lakukan.


Wanita yang sejak kecil dia asuh itu tak bisa diam, mondar-mandir di ruang tengah sejak selesai sholat subuh, bahkan saat membantunya membuat sarapan pun Deefa seperti tidak konsentrasi pada apa yang sedang dia lakukan hingga tak sengaja tangannya teriris pisau yang dia gunakan untuk mengupas kentang.


"Deefa lagi dag-dig-dug Umi, suaminya kan hari ini jemput dia," Salimah yang sejak tadi tersenyum melihat kelakuan Deefa menjawab dengan alis yang di naik turunkan menggoda.


"Ah iya, pantas saja wajah Deefa berseri-seri sekali hari ini," goda sang Umi membuat Deefa menunduk dengan semburat merah muda yang mendadak menghiasi kedua pipinya.


"Iya Umi, tapi kayaknya semalam Abah bilang buat minta Deefa tinggal satu bulan lagi deh Umi," ledek Salimah yang langsung membuat Deefa mengangkat wajahnya dan raut wajah yang tadi malu-malu malah berubah sendu.


Sedangkan Umi dan Salimah malah tertawa dengan sikap Deefa.


"Bercanda Deef, hehe," ujar Salimah kemudian tak tahan dengan wajah sedih yang Deefa tunjukkan.


"Nggak lucu ih," Rajuk Deefa mencubit pelan lengan Salimah yang malah tertawa makin keras karenanya.


"Salimaah," tegur sang Umi mengingatkan sang anak untuk tidak tertawa berlebihan seperti itu.


"Maaf Umi," kata Salimah sadar akan sikapnya yang berlebihan.


"Sudah jangan menggoda Deefa terus, lihat wajahnya sudah seperti strawberry merah menyala," ujar Umi seraya melepas senyum kala Deefa makin tersipu karenanya.

__ADS_1


Uminya itu memang tak salah, Deefa sendiri pun bisa merasakan betapa kulit wajahnya sedikit memanas akibat godaan yang terus Salimah lontarkan untuknya, sungguh dia sangat malu sekali.


Dalam perjalanan Raffan terlihat berulang kali menguap, kantuk datang disaat yang tidak tepat.


Perjalanannya masih sangat panjang tapi kantuknya malah sudah datang menyerang, salahnya sendiri kenapa tidak malah tidak tidur padahal tahu hari ini dia akan menjemput istrinya, ah mungkin rasa rindu yang menyiksa seolah tidak membiarkannya untuk tidur tadi malam.


Mata Raffan terlihat mengerjap mencoba memperjelas penglihatannya yang mulai terganggu sebab kantuk yang rasanya tidak dapat dia tahan lagi.


"Gue ngantuuukkk!" serunya seraya memukul setir mobil.


*****


Ini sudah jam 19:40 malam tapi Raffan belum juga tiba, padahal pria itu berangkat pagi-pagi sekali seharusnya sudah sampai saat menjelang magrib tadi tapi kenapa sudah lewat lebih dari satu jam tapi mobil pria itu tidak juga terlihat.


"Umi, kenapa Mas Raffan belum juga sampai," kata Deefa mulai mencemaskan suaminya.


"Coba kamu hubungi mana tahu terjebak macet," saran Umi Salamah seraya mengelus punggung wanita yang dia tahu sangat khawatir.


Tapi yang dia dapatkan hanyalah gelisah yang makin menjadi, handphone suaminya tidak aktif bahkan ketika dia sudah mencobanya berkali-kali.


"Tidak aktif Umi," katanya pada Umi yang menatap penuh tanya.


"Coba hubungi Ayah atau Ibu mertuamu," pinta Umi lagi, tidak dipungkiri kalau saat ini dirinya pun merasa cemas bahkan sampai *******-***** kedua tangannya.


Deefa pun mengangguk.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam Deef, bagaimana Raffan sudah sampai kan?" sang mertua langsung bertanya bahkan membuat Deefa malah makin bersedih mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


"Mas Raffan belum sampai Bu, Deefa sudah coba hubungi tapi nomor Mas Raffan tidak aktif," terang Deefa dengan mata yang mulai berair.


"Hah? belum sampai?" Mertuanya tampak sangat terkejut dengan perkataannya.


Bagaimana dia tidak terkejut, anaknya itu pergi dari lagi sekali dan seharusnya sudah sampai dari satu jam yang lalu tapi kemudian menantunya malah mengabari kalau anaknya itu malah belum sampai.


Jantung wanita itupun langsung berdebar cepat, segala pemikiran pun mulai terlintas di kepalanya.


"Yah, Ayah!" memanggil suaminya yang kebetulan baru pulang dari masjid.


"Kenapa?" tanya sang suami mendekat.


"Raffan belum sampai di pesantren."


Deefa bisa mendengar suara mertuanya yang begitu panik hingga diapun tak tahan lagi untuk mengeluarkan air mata, dia menangis lalu mengakhiri sambungan telepon begitu saja.


"Umi," memeluk sang Umi yang gegas memberikan ketenangan.


"Berdoalah Deefa, minta pada Allah karena saat ini hanya Allah lah yang bisa menjaga suamimu dari segala hal yang tidak diinginkan," nasihat sang Umi.


"Deefa takut Umi," katanya tanpa mengurangi debut air yang turun dari kedua matanya.


"Umi mengerti, tapi saat ini hanya itu yang kita bisa," kata Umi lagi.


Sungguh Deefa saat ini Deefa sangat takut, takut pada suatu hal buruk tentang suaminya, bukan bersuudzhon pada Allah tapi sebagai manusia dia pun tidak akan luput dari pemikiran itu.


Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terlebih lagi suaminya itu tadi pagi sebelum berangkat pun mengatakan padanya kalau semalaman tidak tidur, mengendarai kendaraan dalam keadaan mengantuk sungguh sangat berbahaya, terlebih lagi waktu tempuh yang sangat lama.


"Ya Allah tolong lindungi Mas Raffan."

__ADS_1


***********


*******


__ADS_2