Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Drama Raffan


__ADS_3

Sekitar pukul dua siang Raffan sangat tergesa menuruni tangga kampus setelah menyelesaikan mata kuliah, begitu tergesa sampai tidak mendengar ada suara yang memanggilnya dari arah belakang.


"Raffan kenapa? apa ada urusan?" Fara berucap lirih saat merasa Raffan mengabaikannya.


Status mereka memang belum jelas, tapi Raffan yang terus-menerus mendekati dirinya sudah menjadikan sebuah harapan akan hubungan yang lebih dari sekedar teman, tapi sayangnya sampai saat inipun pria itu belum juga mau menyatakan cinta untuk mengubah hubungan pertemanan mereka menjadi berpacaran, desas-desus tentang Raffan yang menyukai dirinya sudah sering kali dia dengar terutama dari teman-temannya Raffan, tapi kenapa sampai saat ini pria itu seakan menggantung perasaannya.


Raffan bergerak ke parkiran menuju mobilnya berada, dari kejauhan matanya sudah melihat kendaraan yang berjejer rapi dengan kendaraan lainnya.


"Raf."


Panggilan dari temannya sontak saja membuat langkah Raffan tertahan, pria itu menoleh dengan mulutnya yang menggerutu tak jelas.


Gumay, yang memanggilnya adalah salah satu ciptaan Tuhan yang sama ribetnya dengan dirinya, pria bermulut bagaikan seluncuran karena akan selalu lancar tanpa sendat jika sudah mengoceh.


Sangat bawel! entah kenapa Raffan bisa memiliki teman semacam Gumay ini.


"Apaan?!" bertanya sambil mengeluarkan dengusan tak senang serta memberikan lirikan mata karena terganggu.


Dia yang sedang buru-buru malah di tarik paksa oleh temannya itu menuju lapangan basket.


"Gue ada urusan."


Raffan mencoba berkelit karena tahu temannya itu ingin mengajaknya bermain basket.


"Bentar doang, udah lama kita nggak basket otot gue tegang ini," sahut Gumay enggan membiarkan targetnya pergi malah semakin mengeratkan tarikannya hingga membuat Raffan terseret mengikuti langkah panjangnya.


Dengan berat hati Raffan mengikuti sang teman yang sudah begitu bersemangat.


"Rio mana?" tanya Raffan kemudian, entahlah akhir-akhir ini rasanya dia sangat malas untuk menanyakan Agam, sebab ada rasa kesal yang dia tidak mengerti mendadak muncul di dalam hatinya untuk temannya yang satu itu.


Gumay tak menjawab karena pria itu memang tidak mendengar, Gumay sedang mengambil bola lalu membawanya ke tengah lapangan dengan tiang basket yang sudah menunggu di tepian sana dengan cara mendribblenya.


Kesal karena tak mendapat jawaban Raffan pun merebut bola dari Gumay lalu berlarii cepat dan melompat untuk memasukkannya ke dalam ring bulat yang bertengger di tiang atas.


Gumay bersiul karena temannya itu memang tidak perlu di ragukan lagi, selain jago balapan basket pun tak jadi masalah bagi seorang Raffan Alawi karena sedari SMP ekskulnya adalah basket.


Prok!


Prok!


Tepukan dari pinggir lapangan membuat Raffan menoleh, dua orang temannya tengah memasuki lapangan, Rio dan Agam.


Raffan berdecak lalu melempar bola yang baru saja dia ambil ke arah Gumay yang kaget hingga bola itu mendarat mulus di kepalanya.

__ADS_1


"Sialan Raffan!" seru Gumay memaki kala merasakan kepala yang langsung berdenyut.


Bayangkan saja bola basket mendarat keras di kepalanya sudah dapat dipastikan jika Raffan menggunakan tenaga saat melempar benda bulat itu.


Hahaha.


Agam dan Rio tertawa bersamaan, Agam masih bersikap biasa karena dia memang belum mengetahui apapun saat ini, berbeda dengan Raffan yang menatapnya sinis seolah tengah berhadapan dengan musuh.


Raffan melempar tas yang sedari tadi masih berada di punggungnya hingga tas itu mendarat di tepian lapangan sebelah kirinya.


Sepertinya keempat mahasiswa itu sudah akan memulai permainan basket mereka dengan saling berpasangan, Rio dengan Gumay dan Raffan dengan Agam.


Raffan ingin protes kenapa dia harus dengan Agam tapi dia urungkan memilih mengikuti saja apa yang sudah Rio tentukan, temannya itu memang senang sekali mengatur.


Sekitar lapangan itu tampak tidak banyak mahasiswa karena sepertinya pusat kegiatan ada di dalam gedung kampus.


Bola mulai memantul-mantul di atas lapangan berpindah dari satu orang ke orang yang lainnya, bola itu sukses menjadi rebutan menampakkan permainan yang begitu seru meski hanya ada empat orang saja dalam permainan itu.


Bruk!


Raffan dengan kasarnya menabrak Agam membuatnya sampai jatuh terduduk namun masih tetap mengulas senyum karena menganggap Raffan tidak sengaja.


Terjadi saling rebut merebut antar tim, akan terlihat wajar tapi yang tak biasa dan terkesan aneh adalah ketika satu tim malah saling berebut bola dan itu tengah di lakukan oleh Raffan.


Rio dan Gumay terbengong melihat Raffan merebut bola dari tangan Agam.


"Lah? tuh bocah matanya rabun?" tanya Gumay heran dengan tingkah Raffan.


Sedangkan Rio menggaruk tengkuknya yang sudah berkeringat sembari saling tatap dengan Agam yang juga tak mengerti, sedang Raffan malah asik berlari melompat guna memasukkan bola.


"Lo kenapa?" tanya Agam pada Raffan yang mengambil bola setelah masuk ke dalam ring.


"Kenapa apanya?" balik bertanya namun dari nadanya terkesan tidak seperti Raffan yang biasa.


Ada sedikit intonasi yang terdengar ketus di telinga Agam, membuat Agam bertanya-tanya kenapa dengan temannya itu.


Ada ketegangan dari wajah Raffan yang membuat Rio dan Gumay segera menghampiri kedua temannya itu.


"Nih aneh nih," celetuk Gumay berdiri di samping Agam.


Raffan melirik temannya itu dengan sudut bibir yang berkedut.


"Kayaknya Lo lagi ada masalah Raf," tebak Rio yang membaca raut wajah Raffan memang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Tadi saat dia dan Agam datang kedua mata Raffan terus saja melihat ke arah Agam tidak dengan tatapan biasanya tapi lebih dari itu, seperti orang yang melihat musuh, mungkin?


Raffan mengedikkan bahunya lalu kembali memainkan bola di tangannya.


"Kalau ada masalah lebih baik cerita, kita ini teman siapa tahu kita bisa bantu," sambar Agam bijak seraya menepuk bahu Raffan.


Agam memang tidak memiliki feeling yang bagus sepertinya.


"Nggak ada!" elan Raffan menyingkirkan tangan Agam.


Agam mengangguk lalu sedikit memamerkan senyumnya, "kalau ada apa-apa cerita aja, kita siap bantu, ya nggak." Agam melihat pada kedua temannya yang kompak mengangguk.


Raffan tidak memberikan tanggapan apapun pria itu malah semakin kencang memantul-mantulkan bola.


"Dasar anaknya ustad Imran!" dengus Gumay melihat tingkah Raffan.


Agam melirik jam di tangannya.



"Kayaknya gue pulang duluan," kata Agam ketika melihat jarum jam sudah menunjuk pukul setengah tiga lewat, itu artinya mereka sudah lebih dari setengah jam bermain basket tak jelas ini.



"Mau ngajar?" tanya Rio.


Agam pun mengangguk semangat.


"Perasaan Lo ngajar seminggu dua kali dah, kok ini jadi tiap hari?" celetuk Gumay.



"Jangan bilang Lo lagi giat-giatnya deketin sepupunya si raja drama," tebak Rio menunjuk Raffan dengan dagunya.



Ucapan Rio membuat Raffan melempar bola kencang hingga menimbulkan suara.



"Gue cabut!" kata Raffan seraya mengambil tasnya lalu melenggang pergi tidak membiarkan temannya bersuara.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2