
Gumay yang memang sedang berada di bengkel bersama dengan Agam dan juga Gerry malah dikejutkan dengan kedatangan Raisya yang dengan percaya dirinya menghampirinya hanya sendirian saja.
"Nih cewek emang nggak punya teman ya? perasaan ngelenggang sendirian Mulu," Gumay dengan nyinyirnya menyambut kedatangan Raisya yang memang tanpa ada angin apapun tiba-tiba saja datang ke bengkel padahal mereka juga tidak mengundang wanita angkuh itu.
"Nggak mungkin kan dia mau benerin mobilnya disini?" Gerry menimpali pertanyaan Gumay dengan pertanyaan juga, jadilah mereka malah saling tanya tak jelas tanpa ada yang menjawab sebab Agam terlalu sibuk untuk menjawab pertanyaan kedua temannya itu.
"Cabut Tuntutan Lo sama Marco!" suara Raisya yang mencoba mendominasi dan menantang langsung berbicara mengatakan apa yang dia inginkan.
Gumay menjengkit lalu tersenyum meremehkan wanita yang jelas-jelas adalah musuh dari wanita yang sekarang menjadi kekasihnya itu tengah memberikan perintah.
Iya, apa yang tadi dikatakan oleh Raisya memang terkesan sebuah perintah ketimbang permintaan di tunjang dengan wajah arogan dengan dagu yang terangkat, bukankah itu sudah sangat membuat Gumay dan Gerry menjadi muak melihat sang wanita yang memang cantik namun memiliki attitude yang sangat buruk bahkan luar biasa buruk membuat dia kadang dijauhi oleh penghuni kampus yang lebih menjaga jarak dengannya agar tidak berurusan dengan manusia seperti dia itu.
Seorang Raisya apabila disenggol tanpa sengaja saja mulutnya sudah luar biasa mencaci maki apalagi jika disenggol dengan sengaja, habis sudah harga diri kalian dihina olehnya.
"Lah sepupu Lo udah gebukin gue enak banget datang-datang nyuruh gue buat cabut tuntutan sampai kiamat juga nggak bakal gue cabut!" ujar Gumay dengan gayanya yang terbiasa tengil.
"Nih lihat muka gue jadi nggak estetik lagi gara-gara perbuatan si Marco." Gumay menunjukkan bekas jahitan di ujung alisnya akibat Marco yang memukulnya dengan kayu, untunglah dia tidak sampai gegar otak atau hilang ingatan mungkin.
"Ya itu urusan Lo berdua," papar Raisya tak acuh.
"Ya kalau gitu urusan gue juga kalau gue nggak mau cabut tuntutan gue terus biarin si cunguk Marco bebas, enak aja habis berbuat nggak mau tanggung jawab jadi laki itu harus gentle jangan cuma omongannya doang yang digedein giliran mendekam di penjara udah ribet minta keluar sampai nyuruh sepupunya, laki-laki macam apaan itu!" Gumay berdecih lalu meninggalkan si wanita yang telinganya merah mendengar setiap kalimat sindiran yang Gumay utarakan untuk menyerang Marco.
Sebenarnya kalau Raisya ini tidak membutuhkan bantuan dari Kakak sepupunya itu dia jelas tidak peduli mau berapa lama Marco di penjara toh memang bukan urusan dia, tapi mengingat segala apa yang dia inginkan sekarang membutuhkan Marco mau tak mau dia mendatangi Gumay, berharap Gumay mau mencabut tuntutan tapi nyatanya malah zonk.
"Sebaiknya Lo pulang Sya," Agam yang memang tidak pernah ingin ikut campur pada urusan temannya itu pun bersuara, meminta wanita yang wajahnya sudah memerah menahan marah itu untuk pergi ketimbang nantinya malah akan jadi beradu mulut dengan Gumay kan tidak lucu jadinya.
Sebenarnya Raisya ini masih ingin ngoceh panjang lebar agar Gumay mau menuruti permintaannya, tapi Agam yang memang dia segani pun sudah angkat bicara hingga dia mau tidak mau harus segera pergi dari tempat itu.
Kaki Raisya menghentak saat akan melangkah mengisyaratkan bahwa dia sangat kesal pada pria yang bernama Gumay, salah satu dari temannya Raffan yang sifat dan sikapnya memang sangat menyebalkan.
"Jangan pernah datang lagi kesini!" teriak Gumay kalah Raisya sudah berada di dekat mobil dan hendak membuka pintu.
Raisya bukannya segera masuk ke dalam mobil dan pergi malah dengan gaya ngeselin nya mengacungkan jari tengah pada Gumay.
"Sialan!" Gumay yang memang emosinya mudah sekali tersulut sudah akan mengejar Raisya yang jadi kelabakan ketika melihat Gumay berlari ke arahnya, dia langsung masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu.
"Cewek gila!" maki Gumay dengan suara yang tak kalah kencang dengan suara mesin motor besar milik Rio yang baru saja datang.
__ADS_1
"Cewek pun masih mau dia ajak ribut," Gerry geleng-geleng kepala melihat tingkah sang teman yang tadi berlarian mengejar Raisya yang sudah kabur dengan mobilnya.
"Kenapa Lo?" tanya Rio seraya membuka helm yang dia pakai melihat dada temannya yang naik turun lalu wajah yang terlihat kesal.
"Ada Mak lampir Dateng tanpa di undang!" rutuk Gumay lalu melenggang pergi meninggalkan Rio yang tak mengerti siapa Mak lampir yang temannya itu maksud seraya turun dari motor lalu menurunkan standar dua agar motor besarnya itu terparkir dengan baik.
Di tengah jalan Raisya merasakan mobilnya yang mulai terasa sangat tidak enak dikendarai, tersendat tak jelas di jalanan yang memang tampak sepi dari kendaraan lainnya.
"Sialan, nih mobil kenapa lagi!" omel Raisya kesal dengan mobil yang berjalan sangat lambat.
Wanita itu terus mengusahakan agar mobil tetap melaju tapi lama-kelamaan suara mesin mobil itu malah makin terdengar pelan dan kemudian tidak lagi ada suara.
"****! malah mati!" memukul stir mobil melimpahkan kekesalannya karena berada dalam kondisi seperti ini.
"Jangan bilang kalau gue lagi kualat sama si Gumay sialan," ujarnya ingat apa yang tadi dia lakukan terhadap Gumay.
Raisya menjadi sangat bingung, dia tentu tidak tahu apa-apa tentang kendaraan karena selama ini dia hanya mengerti menggunakannya saja sedangkan yang rutin membawa mobil ke bengkel adalah sopir keluarganya, lalu sekarang dia malah di hadapkan dengan masalah seperti ini? jelas dia bingung.
Turun dari mobil dan membuka kap depan pun dia tidak tahu harus memeriksa bagian yang mana, alhasil dia hanya melihat serentetan kabel serta mesin yang ada di dalam situ.
Kemudian berjalan mengambil tas dan mengeluarkan handphone miliknya, tapi wanita itu malah kembali terbengong dengan wajah tak jelas.
"Selama ini kan yang ke bengkel Pak Parta, gue mana pernah ke bengkel apalagi sampai nyimpan nomor montir bengkel," berdecak lalu menggelengkan kepalanya jika sudah begini mau tidak mau dia harus menghubungi sopirnya untuk mendatangkan montir, memangnya dia mau diam saja di jalanan yang sepi begini?
Raisya menghubungi sang sopir lalu menyatakan tujuannya seraya memberikan alamat dimana dia berada sekarang.
"Langsung suruh datang Pak, nggak pakai alasan!" tekan wanita itu dengan nada suara yang selalu ingin didengarkan oleh siapapun orangnya.
Raffan yang memang akan ke bengkel tak sengaja melihat wanita yang sangat menyebalkan untuknya, meski masih berada di jarak yang lumayan jauh tapi dia sudah bisa mengenali Raisya.
Wanita itu sedang mondar-mandir di samping mobil, Raffan sebenarnya ingin mengabaikan bersikap tidak peduli tapi nalurinya sebagai seorang manusia sedikit tidak tega hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri wanita itu barangkali saja ada yang bisa dia bantu.
"Raffan!" Raisya malah berseru kegirangan melihat kedatangan mobil pria yang sudah sangat dia kenali pemiliknya.
"Kayaknya kita memang jodoh deh," cerocos Raisya kala mobil Raffan berhenti dan dia menurunkan kaca mobil.
"Ngapain Lo?" tanya Raffan tidak menggubris Raisya yang menunjukkan wajah sumringah dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
"Mobil aku tiba-tiba mati, aku nggak ngerti kan untungnya kamu datang."
Menghampiri sang pria yang tidak keluar dari mobil, hanya menyembulkan kepalanya saja dan melihat mobil yang kapnya terbuka.
"Lo udah panggil orang bengkel kan?" tanya Raffan datar.
Raisya mengangguk, "udah bentar lagi katanya sampai."
"Ya udah gue langsung jalan kalau gitu," Raffan sudah akan menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Lah kamu tinggalin aku sendiri? ini jalanan sepi banget loh," cetus Raisya memberitahukan Raffan, padahal sebenarnya dia tidak perlu memberitahu karena Raffan sudah sangat hafal dengan jalanan yang sangat sering dia lalui saat akan pergi ke bengkel.
"Tadi kata Lo orang bengkel bentar lagi sampai, ya berarti kan nantinya juga Lo ada temennya," papar Raffan, "tadinya gue mau bantuin elo, tapi berhubung Lo udah hubungin orang bengkel ya udah nggak jadi, tuh orang bengkelnya Dateng," kata Raffan menggerakkan dagunya pada dua orang pria yang baru saja menghentikan motor di depan mobil yang tak bernyawa.
Raisya melihat pada orang yang dikatakan oleh Raffan, "Raffan!" berteriak saat mobil Raffan sudah menjauh darinya.
"Sialan, kenapa gue pakai bilang kalau udah hubungin orang bengkel, padahal tadi gue bisa manfaatin buat berduaan sama Raffan," sungut Raisya melangkah menuju pada mobilnya yang sedang diperiksa oleh kedua pria yang memakai seragam montir.
"Kalian kenapa mesti datang cepat sih?! nggak bisa gitu datangnya nanti-nanti aja!" malah mengomel pada dua orang yang tidak tahu apa-apa membuat keduanya saling pandang tak mengerti menghentikan gerakan tangan yang sedang memegang perkakas untuk mulai memperbaiki mobil.
Raisya menendang ban mobil menyalurkan kekesalannya lalu mulutnya tak berhenti mengumpat dongkol.
\*\*\*\*
__ADS_1