
"Hasil pemeriksaan bagaimana?"
Raut wajah Raffan sontak menjadi sangat tegang mendengar pertanyaan yang diajukan oleh istrinya.
Dia yang sudah begitu senang ketika wanita yang dia rindukan sudah ada di depan mata bahkan dalam rangkulan tangannya dalam sekejap membuat mood yang sudah bagus dan begitu high pun anjlok ke permukaan kala istrinya mempertanyakan hal yang sangat tidak ingin dia dengar.
Mempertanyakan hasil pemeriksaan yang bahkan mati-matian ingin dia sembunyikan kalau perlu pun ingin dia lupakan rasanya tidak ingin ada yang namanya hasil pemeriksaan dalam hidupnya kalau akhirnya malah akan membuat dia dan Deefa hidup dalam ketidaksenangan.
Rasanya ingin sekali mendoktrin istrinya agar tidak lagi memikirkan tentang keturunan tidak lagi memusingkan apa perkataan orang lain dan juga keluarga mereka karena toh yang menjalani rumah tangga adalah mereka, mau bahagia atau tidak merekalah yang menentukan dan juga merasakan.
"Kamu baru datang dan kita baru bertemu, bisa tidak membahas masalah itu saat kita sudah benar-benar puas melepas kerinduan? atau kalau perlu tidak usah lagi membahas tentang hasil pemeriksaan!" kata Raffan.
Deefa dapat menangkap sikap tegas yang rasanya baru kali ini Raffan tunjukkan, tegas yang benar-benar tegas dan tidak ingin di bantah layaknya perintah dari sang raja atau penguasa.
"Tapi kan Deefa ingin tahu hasilnya," tutur Deefa dengan suara yang lemah terdengar amat samar kala Deefa mengatakannya pun dengan gerakan bibir yang tidak begitu nampak, seakan dia memang takut untuk bersuara tapi rasa ingin tahunya itu mendominasi sehingga dia mau tak mau tetap mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan ketimbang harus menyimpan dan malah jadi penasaran nantinya.
Perkataan Deefa lagi-lagi mengusik ketenangan dan kebahagiaan yang tengah Raffan rasakan, membuatnya menghela napas dan terdengar sangat berat seolah ada benda yang menghimpit dadanya dari berbagai sisi.
"Sudah malam sebaiknya kamu tidur sana, istirahat habis menempuh perjalan jauh badan kamu juga pasti sangat lelah," malah meminta istrinya untuk tidur saja dan melupakan keinginannya memilih untuk tidak jadi melepaskan rindu yang sudah terlalu besar, dia ingin memendam saja rasa rindunya terhadap sang istri yang sudah menjungkirbalikkan perasaannya.
Deefa melongo tak percaya, suaminya tadi begitu bersemangat tapi tiba saat dia bertanya tentang hasil pemeriksaan semangat itu seolah melebur entah kemana dan berganti dengan raut wajah yang tidak lagi menampilkan kebahagiaan berubah menjadi murung dan sedikit tegang.
Memangnya kenapa kalau dia bertanya? apakah itu salah? toh mereka melakukan pemeriksaan bukankah memang ingin mengetahui kesehatan mereka masing-masing, untuk mengetahui apakah salah satu diantara mereka ada masalah tapi kenapa sekarang tanggapan suaminya malah begini.
"Tapi Deefa masih ingin bicara banyak dengan Mas Raffan," suara Deefa menjadi berubah dari yang sebelumnya begitu ceria dan sarat akan kerinduan sekarang menjadi sangat lirih menyiratkan sebuah perasaan yang bertolak belakang dengan yang tadi.
"Besok saja kita bicara, aku sudah ngantuk," ujar pria yang beranjak meninggalkan sang istri.
"Tapi Deefa mau bicara sekarang, ada hal penting yang harus Deefa ketahui langsung dari kamu Mas," terang Deefa.
Raffan menghela napas panjang dengan langkah yang tertahan.
"Kalau soal hasil pemeriksaan aku tidak akan memberi jawaban," tekan Raffan sarat akan pemberitahuan agar istrinya tidak lagi mengajukan tentang hasil pemeriksaan mereka.
Deefa menggeleng pasrah, saat ini mungkin memang bukan waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan apapun disaat dia baru saja bertemu dengan suaminya, tapi sebagai seorang wanita dia harus bertanya kepada suaminya ketimbang terus menerka-nerka yang nantinya malah hanya akan membuat dirinya resah tak menentu.
"Boleh bicara sambil duduk?" takut-takut Deefa bertanya, rasanya baru kali ini dia berada dalam situasi yang begitu tegang, suaminya yang biasa bersikap konyol seperti anak kecil sekarang tengah mempertunjukkan sisi lainnya, sisi tegas layaknya seorang pemimpin dalam rumah tangga membuat Deefa juga menciut tak berkutik.
Raffan mengangguk lalu berjalan menuju sofa ruang tamu dengan Deefa yang mengikuti di belakangnya.
"Aku tidak akan makan kamu Deefa," katanya sadar kalau istrinya tengah memasang sikap takut terhadapnya.
Deefa memainkan jari-jemarinya mendengar suara sang suami yang jauh berbeda dari yang biasanya, baru beberapa hari tidak bertemu tapi Deefa merasa bukan berhadapan dengan pria yang sudah menikahinya setengah tahun yang lalu, ini baru beberapa hari bagaimana jika sampai satu bulan dia tinggal di kampung, jelas dia akan menganggap bahwa Raffan ini bukanlah suaminya.
Perlahan Deefa menjatuhkan tubuh bawahnya di bangku yang berhadapan dengan sang suami malah membuat tatapan suaminya menyorot tak percaya.
"Kita bukan mahram?" bertanya dengan nada yang sedikit gemas dengan tingkah istrinya.
"Deefa baru sampai tapi Mas Raffan sudah marah-marah," tutur Deefa menatap kedua netra sang suami yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
"Itu karena kamu bertanya hal yang tidak tepat, baru pulang baru sampai malah sudah membahas hal lain, kenapa tidak menanyakan apakah suamimu ini rindu atau tidak," beber Raffan makin mendominasi dengan setiap lontaran kata tentang ungkapan isi hatinya.
"Kalau begitu tidak jadi, Deefa tidur saja," kata Deefa beranjak dari duduk.
"Adeefa Ranaya!" seru Raffan memanggil lalu menahan tangan sang istri yang hendak meninggalkannya.
"Katanya tadi ada yang mau dibicarakan lalu kenapa sekarang malah mau tidur," berkata tidak mengerti.
"Pembicaraan yang ingin Deefa bicarakan bukan tentang rindu jadi sebaiknya tidak usah diteruskan saja," sahut Deefa menunduk menatap lantai yang menjadi tempatnya berpijak.
Raffan memejamkan kedua mata lalu membukanya kembali, "oke aku minta maaf, tentang kerinduan sudah tidak usah di bahas lagi, kamu mau membicarakan atau menanyakan apapun ayo tanyakan aku akan mendengar dan juga menjawab kalau memang aku punya jawaban," cakap Raffan mengalah.
Benar apa yang tadi dikatakan oleh istrinya, diapun merasa dirinya memang gampang sekali tersulut apalagi jika sudah menyangkut masalah keturunan, masalah yang sekarang menjadi sangat pelik baginya mengingat istrinya itulah yang bermasalah pada kesuburannya.
Pria itu kembali menarik tangan sang istri untuk duduk di sofa dan kali ini tidak dia biarkan istrinya itu berjarak dengannya, bahkan tangan Raffan memeluk bahunya dengan sangat kuat seolah tidak boleh bergerak sedikitpun.
"Tadi Deefa bertemu dengan Raisya."
Pengakuan Deefa pun dianggap biasa dan tidak memiliki arti apa-apa bagi Raffan, karena dia sudah menjelaskan pada istrinya itu tentang dia dan Raisya yang memang sama sekali tidak memiliki hubungan, menurutnya itu sudah sangat jelas dan cukup apalagi Deefa pun tentu percaya dengannya.
"Lalu kenapa? kita sama-sama hidup di dunia tentu kalau Allah berkehendak kita akan bertemu dengan siapapun, bukan?" Raffan masih dengan sikap tenangnya.
"Deefa tahu itu, tapi disini yang ingin Deefa bicarakan bukan tentang pertemuan dengannya tapi tentang apa yang dia katakan pada Deefa."
"Memangnya dia bilang apa sama kamu?" usut Raffan mulai terusik.
"Dia bilang kalau selama Deefa di kampung Mas Raffan selalu menghubunginya setiap malam dan kemarin malam Mas tidur sama dia."
Baru saja Deefa menyelesaikan perkataannya Raffan malah terbatuk-batuk tersedak ludahnya sendiri tak percaya dengan perkataan ngelantur tak masuk akal yang baru saja dia dengar.
"Deefa ambilkan minum dulu." wanita yang memakai baju tidur terusan itupun gegas berlari kecil ke arah dapur untuk mengambil segelas air agar meredakan batuk suaminya.
"Minum Mas," katanya menyerahkan gelas berisi air putih meminta suaminya segera meminumnya.
Raffan menenggak habis air yang diberikan oleh istrinya lalu meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja.
"Mas Raffan tidak apa-apa?"
"Pertanyaan macam apa yang kamu tanyakan barusan Deefa?"
Deefa mengerut keningnya, "ada yang salah dengan pertanyaan Deefa?" dengan polosnya bertanya.
__ADS_1
"Dengan kamu bertanya itu artinya kamu percaya dengan pengakuan gila Raisya yang jelas aku tidak akan pernah melakukan dosa seperti itu, aku memang berandalan dan memang nakal kamu juga tahu itu, tapi aku masih pilih-pilih dalam melakukan kenakalan tidak mungkin sampai tidur dengan wanita lain, itu sangat fatal dan tidak akan aku melakukan perbuatan bejat itu, kalau mau nakal yang begituan kenapa tidak dari dulu saja saat masih belum menikah, kenapa harus sudah menikah dan saat aku sudah punya tempat pelampiasan yang sah, aneh dan ngaco pertanyaan kamu barusan!" tutur Raffan seraya menarik tangan istrinya untuk kembali duduk.
"Deefa hanya memastikan."
"Memastikan atau memang kamu tidak percaya pada suamimu sendiri?" menyela omongan istrinya yang sekarang mengatupkan bibirnya.
Sekarang setiap pernyataan Raffan jadi terdengar begitu menuntut membuat Deefa tak lagi bisa menjawab.
"Sudah ada kamu, wanita yang sah untuk aku tiduri sangat tidak mungkin aku meniduri wanita lain," jelas Raffan dengan tangannya yang merapikan rambut istrinya yang tergerai, menyelipkannya di balik telinga lalu tangannya malah bergerak jahil menuju leher sang istri membuat wanita di depannya bergidik merasakan efek tersengat.
"Mas."
"Kali ini kamu jangan bicara lagi, pergunakan bibirmu untuk yang lainnya saja," cetus Raffan.
Deefa tercenung bingung, pergunakan bibirnya untuk yang lain? suaminya itu sedang membicarakan apa?
Di tengah rasa bingung yang mendera Deefa pun mendapati wajah suaminya yang makin mendekat, dekat lagi dan lagi sampai sekarang hembusan napas mereka saling beradu, menerpa wajah satu sama lain, lalu menjadi semakin dekat dan tak berjarak sampai akhirnya Deefa memejamkan kedua matanya kala merasakan sentuhan di bibirnya.
Pasangan suami istri itupun mulai mencurahkan kerinduan yang sejak tadi tertahan bahkan hampir saja tidak bisa mencurahkan rindu itu.
Satu menit sudah berlalu ketika akhirnya Raffan melepaskan bagian tubuh istrinya yang sejak tadi terus menanyakan hal yang tidak ingin dia dengar, menatapnya lalu tersenyum ketika benda itu menjadi lebih tebal dari sebelumnya dan juga basah.
"Aku kangen kamu, jadi biarkan malam ini aku menguasai dirimu sampai pagi kalau perlu sampai aku merasa lelah."
Setelah mengatakan itu Raffan pun mengangkat tubuh sang istri, menggendongnya dan pergi meninggalkan ruang tamu lalu membawa istrinya itu menuju kamar mereka.
Deefa bahkan merangkul leher suaminya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang suami bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya yang mungkin sudah sangat merah, wanita itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sangat tahu kebutuhan apa yang sekarang sangat mendesak dan ingin disalurkan oleh suami tercintanya itu, suami berondong dan juga berandalannya.
Dalam situasi seperti ini Deefa sudah tidak akan melakukan apapun, dia tahu kewajibannya sebagai seorang istri tidak akan mungkin menolak apalagi melarang suaminya meminta hak padanya terkecuali dia dalam keadaan datang bulan.
__ADS_1
\*\*\*\*