
"Raffan masih di tahan?"
Baru saja tiba di kampus Fara langsung menghampiri Gumay yang sedang berada di pinggiran tangga tak jauh dari toilet.
"Lo lihat dia ada disini nggak?" seperti biasa Gumay akan memberikan jawaban yang cukup ketus seakan ingin menunjukkan bahwa dia sangat tidak menyukai wanita bernama lengkap Faranisa Drajat itu.
Tidak tahu kenapa selalu saja kesal ketika harus melihat wajahnya yang dia akui memang cantik tapi selalu saja menggunakan kecantikannya itu untuk menggoda para pria.
Menggoda? dia tergoda kah? sedangkan selama ini Fara sendiri pun merasa biasa saja tidak ada niat untuk menggoda para pria dengan wajah serta fisiknya, ah Gumay itu memang salah satu makhluk aneh yang tercipta di muka bumi.
Pria itu mengusak rambutnya dengan cara yang kasar ketika melihat Fara memberikan tatapan yang tidak dia mengerti.
"Gue yang lapor polisi waktu itu."
Pengakuan Fara sontak saja membuat mata Gumay membelalak lebar bahkan mulutnya juga menganga tak kuasa menahan rasa terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Sialan! jadi ini gara-gara elo Far?!" sentak Gumay dengan tatapan menghunus tajam bagaikan belati yang akan mengoyak tubuh wanita di depannya itu.
Fara mengangguk lemah, "gue nggak sengaja lewat, waktu itu gue pikir ada apaan gitu pas gue deketin tahunya Raffan dan Marco lagi ribut, dari pada Raffan kenapa-kenapa kan ya udah mending gue lapor polisi," adu Fara dengan nada suara yang begitu menyesal sebab akhirnya karena dirinyalah Raffan sampai harus berada di dalam tahanan bahkan ini sudah hampir satu Minggu tidak ada tanda-tanda Raffan akan bebas.
"Lo salah Far, salah!" hardik Gumay, "si Raffan itu mendingan babak belur, bonyok mukanya nggak berbentuk kan cuma bakalan masuk rumah sakit."
"Iya kalau cuma masuk rumah sakit, kalau masuk kubur? Lo senang lihat istrinya jadi janda!" potong Fara dengan mata yang mendelik seram menggambarkan kekesalan dengan penuturan Gumay yang tidak masuk akal.
Mana ada seorang teman yang malah berharap temannya masuk rumah sakit? bukankah itu namanya teman yang sialan!
Gumay menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mulut yang berdecak, "Lo mantan pacarnya tapi nggak kenal siapa Raffan, dia itu nyawanya banyak, jatuh berkali-kali saat balapan, juga sering terlibat tawuran buktinya sampai sekarang masih nempel tuh nyawanya dia," tutur Gumay menjelaskan andai Fara itu lupa atau mungkin tidak tahu bagaimana seorang Raffan.
"Jangan takabur Lo, hari apes tuh nggak ada di kalender!" sungut Fara bersandar di tiang tangga, "lagian maksud gue kan baik, nolongin dia yang lagi di keroyok sama Marco," tambah Fara menjelaskan apa yang dia lihat pada malam kejadian.
"Jadi Lo lihat Raffan di keroyok?" Gumay tampak begitu bersemangat.
Fara mengangguk cepat memberi jawaban, "bukan cuma Marco aja, ada tiga apa empat orang," terang wanita yang sekarang sudah bisa lebih santai saat berbicara dengan Gumay.
Biasanya dia akan selalu nyolot, tidak tahu kenapa melihat wajah Gumay membuat darahnya langsung naik ke kepala menjadikannya emosi dan ingin sekali ribut dengan pria ngeselin temannya Raffan itu.
__ADS_1
"Di keroyok tapi yang babak belur malah si Marco," cerocos Gumay mengumbar senyum dengan gelengan kepalanya.
"Teman Lo itu setengah manusia setengah macan kali, ngamuk nggak kira-kira," sambar Fara mengingat apa yang Raffan lakukan saat di keroyok.
"Kayaknya Lo mesti ikut gue!" cetus Gumay yang langsung saja menyeret Fara membuat Fara menjengkit kaget dan hampir saja terjungkal karena perbuatannya.
"Mau kemana? 15 menit lagi gue ada kelas!" seru Fara kebingungan dan berusaha melepaskan tarikan Gumay pada pergelangan tangannya, menolak ajakan dari sang pria yang dia tidak tahu akan membawa dirinya kemana.
Gumay menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wanita yang juga tengah menatapnya sambil mengurut pergelangan tangannya yang mungkin sedikit terasa sakit akibat tarikan yang dia lakukan.
"Lo bantuin Raffan biar bisa keluar dari penjara," tutur Gumay membuat Fara mengernyit.
Fara baru saja akan membuka mulutnya tapi Gumay sudah kembali menariknya, mengikuti sang pria menuju motor yang ada di parkiran.
"Tapi gue ada kelas May, nanti sorean lah." masih memikirkan kuliahnya yang sebentar lagi akan di mulai.
"Ini kan gara-gara elo Far, ya mesti Lo yang tanggung jawab!" Gumay mulai kesal dengan wanita bernama Fara itu.
Jelas-jelas perbuatannya itu sudah membuat Raffan di tahan, tapi masih saja berkilah menggunakan kuliah untuk alasan.
"Atau jangan-jangan Lo emang sengaja ngelakuin ini?" Gumay menghentikan langkah lalu melihat Fara dengan mata terpicing.
"Sengaja gimana maksudnya?" tanya Fara tak mengerti.
Menurutnya dia tidak ada alasan untuk melakukan hal ini terhadap Raffan, dia bukan wanita kurang kerjaan yang akan membuat masalah dengan orang lain apalagi sampai membawa-bawa pihak berwajib, karena banyak hal yang lebih penting daripada melakukan hal konyol seperti itu.
"Gue sengaja apaan?" ulang Fara menggerakkan dagunya meminta penjelasan dari tuduhan tak masuk akal yang Gumay layangkan padanya.
"Lo dendam sama Raffan ya?!" Gumay bertanya ketus dengan sorot mata menyelidik.
"Hah? dendam?" Fara mengerutkan kening lalu menautkan kedua alisnya semakin tidak mengerti dengan lontaran kalimat tanya yang terus Gumay lontarkan.
"Raffan mutusin elo, terus Lo dendam dan ngelakuin ini buat ngasih Raffan pelajaran," desis Gumay mulai berasumsi sendiri.
"Lo tuh kayaknya mesti di ruqyah deh sama Ayahnya Raffan, atau kalau perlu sama Ayahnya Agam sekalian biar setan di dalam diri lo itu bisa keluar, heran gue otak Lo itu konslet banget kayaknya." Fara menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi wajah mencibir.
__ADS_1
"Lo itu terlalu banyak dugaan lalu menyimpulkan sendiri, aneh banget gue bisa-bisanya Lo bilang gue dendam yang benar aja! Lo pikir gue segila dan sejahat itu?" Fara kembali menggeleng pelan kepalanya, "hubungan yang udah putus, ya udah putus ngapain harus dendam-dendam segala Lo pikir gue sekurang kerjaan itu sampai harus ngelakuin hal konyol tak jelas!?" lanjut Fara melontarkan segala pembelaan diri atas tudingan gila yang sejak tadi Gumay tuduhkan padanya.
"Terus kenapa Lo nggak mau ikut gue ke kantor polisi?" Gumay kembali bersuara.
Fara menarik napas lalu mulutnya berdecak, "dari tadi gue udah bilang Gumay Saputrawan! gue ada kelas nanti sore aja ke kantor polisinya!" terang Fara menyebut nama lengkap pria di depannya yang jadi bingung bagaimana Fara bisa mengetahui nama panjangnya.
Gumay menyingkirkan kebingungannya dan lebih memilih untuk bagaimana caranya agar Fara mau ikut bersamanya sekarang juga.
"Harus sekarang, kasihan Raffan."
Fara memutar bola matanya, jengah dengan pria ngeselin bernama Gumay, seperti sangat bebal dan susah sekali diberitahu nya.
"Cuma nunggu beberapa jam lagi, temen Lo itu nggak bakal mati! lagian kan Lo yang bilang sendiri temen Lo itu nyawanya banyak jadi ya udah biar aja dulu, itung-itung biar dia kapok toh ini juga bukan yang pertama kali dia di tahan, gue rasa sih dia mah betah itu di sel," celetuk Fara dengan senyuman yang malah membuat Gumay tak bisa berkedip.
Tidak tahu kenapa Gumay malah seperti larut dalam senyuman dari wanita yang kerap kali bertengkar dengannya, wanita judes dan ketus mantan kekasihnya dari temannya.
Tidak mungkin kan dia suka? rasanya sulit di terima mengingat keduanya yang bagaikan kucing dan macan, tidak hari tanpa bertengkar jika sudah bertemu.
Gumay masih saja mematung hingga tidak menyadari kalau wanita yang membuatnya tak bergerak itu sudah pergi dari hadapannya.
Sampai akhirnya dia tersadar beberapa saat kemudian ketika Rio mengagetkannya.
"Woi!"
"Sialan!" maki Gumay pada sang teman yang malah memamerkan cengiran nya.
Kedua sahabat itu akhirnya berjalan menuju kelas mereka yang sudah dipenuhi oleh para mahasiswa serta mahasiswi yang menunggu kedatangan dosen.
"Memangnya dia doang yang ada kelas? gue juga ada!" gerutu Gumay seraya melempar tas nya ke atas meja.
"Lo kenapa?" tanya Agam yang memang sejak tadi sudah berada di dalam kelas bersama dengan Gerry.
Gumay menggeleng lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi.
"Nanti sore kita mesti ke kantor polisi, sekalian sama Ayah dan pengacaranya Raffan juga," tutur Gumay.
__ADS_1
Ketiga temannya terlihat tak mengerti hingga Gumay pun bergegas memberikan penjelasan yang akhirnya di angguki dengan kompak oleh teman-temannya.
*******