Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Mengurus Anak


__ADS_3

Raffan membawa Deefa dan juga Kinara ke taman bermain, taman kota yang biasanya akan ramai di kunjungi pada akhir pekan seperti ini dan benar saja begitu mereka tiba sudah banyak sekali para orang tua mengajak anaknya ke taman kota itu untuk sekedar mencari hiburan tanpa harus ke tempat yang jauh.


Di taman seperti ini saja anak-anak sudah terlihat sangat senang apalagi banyaknya permainan yang disediakan dan bisa mereka mainkan sesuka hati asalkan mau bergantian, ini adalah tempat yang menghibur tanpa harus mengeluarkan banyak uang.


Raffan menggandeng Deefa di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menggandeng Kinara tidak membiarkan gadis kecil itu berjalan sendirian.


Wajah Kinara begitu bersemangat melihat keramaian di taman itu kedua matanya juga berbinar kala melihat permainan trampolin dan membuatnya ingin segera bergabung dengan anak-anak yang lain untuk bermain trampolin.


"Om Nara mau main itu."


Nara begitu bersemangat menunjuk pada permainan yang sedang dimainkan beberapa anak-anak sekaligus.


"Tapi hati-hati, lompat nya pelan-pelan jangan ketinggian," pinta Raffan berbicara sangat lembut pada ponakan dari temannya, bocah kecil yang selalu dia juluki bocil songong itu mendadak membuatnya merasa bersalah karena kerap kali mengomel tak jelas dan beradu mulut dengannya.


Kinara pun mengangguk antusias lalu gegas berlari menuju tempat yang dia inginkan, bermain bersama anak-anak yang lainnya dengan begitu riang padahal itu hanya permainan lompatan saja tapi anak-anak sudah sangat merasa terhibur, memang kebahagiaan itu bisa datang meski hanya hal yang sederhana.


Deefa sejak tadi melihat interaksi antara suaminya dan Nara, tidak percaya tapi rasa syukur akhirnya dia panjatkan sebab Raffan sudah tidak lagi jadi Om galak menyebalkan untuk Kinara, malah terlihat sangat akrab dengannya seperti Ayah dan anak.


Kata Ayah dan anak membuat Deefa menghela napas panjang lalu melirik pada suaminya yang tengah tersenyum melihat Kinara sudah asik bermain, tangan Deefa pun refleks mengelus lengan sang suami membuat pria itu menoleh padanya.


"Kita duduk di sana sayang," ajak Raffan yang diangguki oleh istrinya, wanita tercintanya yang percaya kalau dirinyalah yang bermasalah.


"Maaf sudah bohong," berkata dalam hati ketika istrinya memamerkan senyum yang sangat tulus.


"Mas," panggil Deefa ketika suaminya yang mengajaknya duduk malah masih saja berdiri.


"Iya," jawab Raffan yang seolah baru kembali dari dunia lain, segera saja dia menyusul duduk di samping sang istri yang sekarang sedang memperhatikan Kinara.


Untunglah meski langit tampak mendung tapi air hujan tidak turun hingga mereka bisa menikmati udara terbuka tanpa takut kepanasan dengan hembusan angin yang makin menyejukkan.


"Deef," suara Raffan mengalihkan Deefa yang tengah menikmati sejuknya angin yang menerpa wajahnya.


"Iya Mas," melihat pada sang suami yang kedua matanya tetap fokus pada Kinara yang sedang tertawa riang sambil melompat.


"Aku ingin periksa ke dokter lain sama kamu juga, kita kan harus tetap berusaha tidak boleh menyerah apalagi putus asa," tutur Raffan yang sekarang menatap pada sang istri.


Tentu dia masih harus tetap bersandiwara, tetap berbohong dan akan terus melakukan cara apapun agar kebohongannya tidak terungkap.


Deefa mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang dilontarkan oleh suaminya.


"Iya, kita akan terus berikhtiar karena Deefa yakin Allah akan menunjukkan kuasanya untuk kita," ucap Deefa menatap dalam netra suaminya.


Pada netra itu Deefa bisa melihat ada sebuah rasa bersalah yang tampak sangat jelas, Deefa mengira bahwa itu adalah rasa bersalah karena vonis dokter terhadap suaminya, padahal kenyataannya itu adalah rasa bersalah Raffan karena sudah berbohong padanya.


Sudah cukup lama mereka berada di taman itu hingga akhirnya langit benar-benar menjadi gelap di tambah dengan rintikan gerimis yang mulai turun.


"Nara ayo pulang sudah hujan," kata Raffan seraya berlari menuju pada gadis kecil yang sedang senangnya bermain ayunan diikuti oleh Deefa yang juga berlarian kecil menyusul.


Raffan menggendong Kinara lalu tak lupa menggandeng Deefa menuju mobil yang di parkir tak jauh dari taman itu.


Mereka bertiga seperti keluarga bahagia dengan seorang anak dan itupun menjadi bayangan didalam hati Deefa membuatnya tersenyum seraya menatap suaminya dari samping yang tengah sangat fokus pada jalan setapak.


"Jangan senyum-senyum sayang, ini udah hujan harus cepat jalannya biar nggak kehujanan," katanya pada sang istri, rupanya dia menyadari ketika istrinya itu terus saja memperhatikan dirinya.


Mempererat genggamannya di tangan sang istri lalu mengajaknya berjalan cepat pada mobil, membukakan pintu mobil untuk istrinya dan juga Kinara yang malah meminta untuk duduk di pangkuan Deefa.


Raffan pun mendudukkan Kinara di atas pangkuan istrinya kembali menutup pintu lalu dia berjalan memutar menuju pintu sebelahnya.


"Nara mau minum," pinta gadis kecil yang ternyata kembali kehausan setelah bermain padahal tadi pun sudah habis satu botol air mineral tapi ternyata belum cukup untuk membasahi kerongkongan gadis kecil itu.

__ADS_1


Deefa mengambilkan air mineral miliknya lalu memberikan pada Kinara sedangkan Raffan sudah menyalakan mesin mobil dan memundurkan mobil itu keluar dari lahan parkir.


Mereka sudah berada di jalan raya dengan hujan yang semakin deras Raffan sesekali melirik pada Deefa yang tengah mengelus kepala Kinara, rupanya gadis itu sekarang malah tertidur pulas dalam pangkuan istrinya.


Raffan tidak mampu menyembunyikan rasa haru saat melihat istrinya seperti seorang ibu yang sedang mengurus anak membuat Raffan pun melantunkan doa penuh permohonan pada sang kuasa di dalam hati.


****


Sekarang pasangan suami istri itu hanya tinggal berdua saja di dalam mobil setelah mengantarkan Kinara pulang.


"Kita makan dulu ya yang, aku udah laper kalau harus pulang ke rumah terus nungguin kamu masak dulu kayaknya aku keburu pingsan nanti," cetus Raffan dengan ekspresi wajahnya yang dia buat semenyedihkan mungkin.


"Lebay sih," timpal Deefa lalu mengumbar tawa yang memamerkan deretan giginya yang tertata rapi dan berwarna putih.


Dalam lubuk hati Deefa dia bersyukur karena setelah kesedihan yang mereka lalui tadi pagi akhirnya sore menjelang malam ini suaminya sudah kembali bisa tersenyum bahkan menunjukkan sifat dan karakter pria itu yang sebenarnya, semoga saja akan selalu seperti itu, batinnya meminta.


"Beneran sayang, aku ini nggak kuat kalau harus nahan laper apa lagi nahan cintaku padamu," celoteh Raffan yang makin menjadi melontarkan gombalan luar biasa yang membuat Deefa spontan memukul pahanya dengan kedua pipi yang sudah sangat merah.


"Pukul nya nanggung coba geser sedikit," ujar Raffan seraya terkekeh.


Mata Deefa membeliak lalu dengan cepat menarik tangannya yang tadi dia gunakan untuk memukul paha sang suami ketika mendengar dan mendapati wajah suaminya yang terkekeh mesum.


Raffan ternyata serius dengan perkataannya terbukti ketika mobilnya sekarang sudah mengarah pada sebuah restoran apalagi kalau bukan untuk menuntaskan rasa laparnya setelah menjadi Ayah setengah hari bagi Kinara.


Pelayan dari restoran itu langsung menyambut kedatangan pasangan suami istri itu, mengarahkan mereka pada tempat kosong dan juga langsung memberikan buku menu lalu bersiap untuk mencatat apa yang akan disebutkan nantinya.


"Silahkan menunggu sebentar kami akan segera menyiapkan pesanan," kata sang pelayan yang sudah selesai mencatat semua pesanan dari Deefa dan Raffan dengan nada yang sangat sopan.


"Kayaknya di dekat sini ada hotel." ujar Raffan.


Deefa mengerut kening tak mengerti kenapa tiba-tiba suaminya malah membicarakan hotel di dekat restoran itu, padahal kan tadi pria itu mengatakan hanya lapar dan ingin segera makan lalu kenapa sekarang malah membahas hotel?


Deefa ini sedang terbengong dengan pikiran yang mulai kemana-mana ketika Raffan menyenggol kakinya lalu menggerakkan dagu seolah memberitahu bahwa makanan mereka sudah datang membuat Deefa gelagapan bahkan tangannya malah terlihat gemetar saat mengatur makanan pesanan mereka yang baru saja diletakkan oleh sang pelayan.


"Makan dulu setelah itu kita adu kekuatan," senyum menyeringai membuat Deefa bergidik.


Adu kekuatan apa maksudnya? Raffan ini mau ajak istrinya adu panco? atau adu yang lainnya? sungguh kalau sudah mode konyol seperti ini Deefa sangat sulit menebak apa yang ada di dalam pikiran Raffan dengan segala perkataannya yang kadang tak jelas karena tidak langsung pada intinya saja, selalu beristilah-istilah sesuka hatinya tanpa memikirkan apakah orang lain mengerti atau tidak.


Setelah membuat istrinya bingung Raffan malah dengan tenangnya menikmati makanan yang sudah di pesan, menyuap lalu mengunyahnya dengan raut wajah yang sangat menikmati sepertinya pria itu memang benar-benar sangat lapar, lihat saja makanan di piringnya yang sebentar lagi habis karena dia makan dengan cepat.


"Itu Raffan sama istrinya kan?" Fara yang tengah bermalam mingguan bersama Gumay malah tak sengaja melihat mantan kekasihnya di dalam restoran yang baru saja mereka masuki.


Gumay memastikan apa yang Fara katakan lalu mengangguk membenarkan penglihatan sang kekasih, "iya itu Raffan sama Deefa, mau ke sana?" tawar Gumay, bukankah mereka bisa bergabung kebetulan semua meja di restoran itu pun terlihat penuh rasanya malas kalau harus keluar lagi jadi menurutnya lebih baik bergabung dengan temannya itu toh sang teman juga sudah mengetahui bahwa dia dan Fara menjalin kasih.


"Nanti ganggu nggak?" tanya Fara ragu.


Gumay mengedikkan bahu tapi kemudian malah menarik sang kekasih untuk menghampiri Raffan dan Deefa yang sedang menikmati makanan.


"Raf."


Raffan mengangkat wajah mendengar namanya di panggil begitupun dengan Deefa yang langsung saja memberikan senyum kepada Fara.


"Ciee malam mingguan," dengan entengnya malah menggoda pasangan kekasih yang baru datang sambil memamerkan cengiran nya.


"Malam mingguan?" tanya Deefa yang tak tahu apa-apa, yang dia tahu hanya Fara adalah mantan kekasih suaminya selebihnya dia tidak mengerti hingga menampilkan wajah yang polos tapi kemudian mempersilahkan Fara untuk duduk di sampingnya.


"Mereka udah jadian, sayang," adu Raffan pada sang istri yang baru saja menggeser duduknya memberi Fara ruang untuk lewat.


"Jadian?" Deefa mengulang pertanyaan.

__ADS_1


"Ih Raffan udah tahu?" bisik Fara pada Gumay yang mengangguk semangat.


"Biasa aja Far, istri gue jauh lebih cantik dari pada elo," celetuk Raffan yang langsung dihadiahi cubitan oleh istrinya.


"Sakit sayang," katanya mengeluh sakit tapi tangan istrinya malah tidak dia biarkan lari dari pinggangnya.


Fara memutar bola mata, "iya deh gue akuin istri Lo emang cantik banget, Lo itu beruntung dapetin dia tapi musibah Deefa dapetin laki kayak elo, udah nya bawal ngeselin terus susah banget diaturnya, ampun deh gue sih," cerocos Fara menyebutkan semua hal jelek tentang Raffan seraya menepuk keningnya.


"Dih sialan, gini-gini Deefa cinta mati sama gue, iya nggak sayang?" memainkan kedua alisnya bertanya penuh godaan pada sang istri yang menunduk malu.


Deefa bingung mau menjawab apa karena dia tidak bisa mempertontonkan rasa cinta dan kagumnya terhadap sang suami di depan orang, itu bukanlah sifatnya yang terbiasa menyembunyikan semua yang dia rasa di hadapan orang lain, apalagi selama ini dia besar di lingkungan pesantren yang sangat kental akan ilmu agama.


"Sayang," Raffan mengelus pipi sang istri yang sedang menunduk dan menatapnya penuh cinta, dia dan Deefa berbeda, dia yang akan menunjukkan rasa cinta dan kagumnya kapanpun dia mau bahkan didepan orang lain sekalipun, menurutnya sah-sah saja dia melakukan itu terlebih lagi Deefa adalah istrinya.


"Yah kalau mau mesra-mesraan mending pulang sana Raf." dan sekarang Gumay malah dengan semangatnya mengusir Raffan padahal jelas-jelas sekarang merekalah yang sudah mengganggu acara makan Raffan dan istrinya.


"Lah lo ngusir gue?" tanya Raffan mendelik tajam pada temannya.


"Dari pada Lo mesra-mesraan di depan gue nanti gue mupeng gimana? Lo sih enak udah sah, lah gue? yang ada dosa malah nantinya," oceh Gumay.


"Lo pacaran aja udah dosa!" sentak Raffan sengit.


"Yah malah ngingetin dosa lagi nih bocah," rutuk Gumay menggaruk kepala.


"Mas," Deefa memberi peringatan untuk suaminya agar tidak lagi berdebat dengan Gumay karena malah memancing perhatian para tamu di restoran itu.


"Lo betah banget ya Deef punya suami macam Raffan," Fara nyengir tanpa dosa.


"Lah Lo sendiri ngapa betah pacaran sama Gumay, gue sama Gumay sebelas dua belas nggak ada bedanya malah," aku Raffan yang sontak membuat Deefa dan Fara tertawa mendengarnya.


Memang Raffan kalau datang bawelnya ya seperti itu selalu bisa menjawab apapun perkataan orang tentang dirinya.


Dan untuk sekian kalinya Deefa lega karena suaminya menjadi riang seperti biasa bahkan ceplas-ceplosnya sudah sangat lancar tanpa kendali.


"Di bengkel ada siapa?" tanya Raffan mengubah topik lain.



"Nggak ada siapa-siapa," sahut Gumay.



Raffan mengernyit, "kok nggak ada? nanti kalau ada yang mau service gimana?"



"Ya nggak bakal ada yang service Raf, orang bengkel tutup," cetus Gumay membolak-balik buku menu hendak memesan makanan.



"Siapa yang suruh tutup, nanti uang bulanan istri gue kurang!" seru Raffan mengabaikan senggolan dari sang istri yang memberi kode agar suaranya dikecilkan, tapi yang namanya Raffan tetap saja semaunya tidak peka pada kode-kode yang Deefa berikan.



"Tutup sehari doang Raf, Lo nyuruh temannya kerja rodi Mulu," protes Gumay.


Lalu seterusnya saling sahut dari kedua pria itu akan terus berlanjut sampai keduanya capek atau mungkin salah satu dari mereka beralih membicarakan hal yang lain, sedangkan dua wanitanya sibuk memijat kening pusing mendengarkan betapa bawelnya kedua pria yang masing-masing mengisi tempat kosong di dalam hati mereka.


Sesekali Fara menutup wajahnya karena ocehan diselingi dengan perdebatan dari dua pria itu yang tak kunjung selesai, mungkin malu pada tamu restoran yang lainnya.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2