Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Pesan Yang Tersampaikan


__ADS_3

Raffan duduk sendiri di sudut bengkel dengan handphone yang ada di tangannya, handphone yang dengan sengaja dia nonaktifkan sejak hari pertama dia pergi dari rumah, masih saja menimbang untuk mengaktifkannya atau tetap membiarkannya saja seperti itu tanpa memberi kabar pada istrinya.


Hingga akhirnya diapun mengaktifkan benda itu dengan segala pemikiran yang mengisi kepalanya, logo dari merk handphone sudah terlihat dan dia hanya tinggal menunggu sebentar lagi sampai benda itu benar-benar menyala.


Ting! Ting! Ting!


Bunyi pesan yang masuk ke dalam handphonenya sudah langsung terdengar dan kedua matanya juga menangkap rentetan pesan dari beberapa orang, tapi yang menjadi fokusnya saat ini hanyalah pesan yang dikirimkan oleh istrinya.


Deefa mengirim banyak sekali pesan padanya, menanyakan dia ada dimana dan kapan pulang, Raffan membaca satu persatu pesan yang istrinya kirim sampai kedua netranya membaca pesan terakhir yang dikirimkan istrinya beberapa jam lalu.


"Mas, ada ibu di rumah menanyakan Mas Raffan, Deefa bingung harus jawab apa." membaca pesan dari sang istri dengan jantungnya yang berdebaran tak terkendali.


"Mas, Deefa nggak bisa bohong sama ibu dan Ibu marah, tidak bisakah Mas pulang sekarang?"


"Kenapa handphone Mas tidak aktif?" pesan terakhir yang Raffan baca dan dalam sekejap langsung membuatnya menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari bengkel, pesan itu di kirim pada jam 5 sore dan sekarang sudah jam 8 malam itu artinya sudah lewat 3 jam dia membiarkan istrinya menghadapi ibunya yang dia tahu seperti apa jika sedang marah, lalu tadi pun Deefa juga mengatakan ibunya marah.


Raffan bergegas mengendarai mobilnya mengabaikan panggilan dari teman-temannya yang kebingungan melihat dia berlari dengan wajah yang cemas bercampur tegang.


Pasti ada sesuatu yang terjadi, begitu pikir mereka yang sekarang hanya dapat melihat saja kala Raffan membawa mobilnya dengan cepat.


Mobil yang dikendarai dengan cepat bagaikan angin yang melesat pun akhirnya sampai dengan suara decitan yang membuat telinga sakit mendengar rem yang diinjak dengan mendadak padahal laju mobil masih sangat kencang, dan pengemudi mobil pun langsung saja keluar dari mobil masuk melewati pagar membiarkan mobilnya terparkir di tepian jalan depan pagar rumahnya.


Raffan berlari kencang seolah dia tengah mengejar sesuatu dan takut tertinggal.


"Deefa!" langsung masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci, tidak memperdulikan keanehan karena biasanya pintu rumah akan di kunci oleh istrinya tapi kali ini dia bisa masuk dengan sangat mudah tanpa perlu memakai kunci cadangan yang selalu dia bawa.


Sneaker yang dia pakai dikedua kakinya berderap kala menginjak lantai rumah dengan kedua netra yang mencari keberadaan wanita yang pesannya tadi tersampaikan setelah beberapa jam tertahan karena handphone yang tidak dia aktifkan.


Suaranya yang kencang nyatanya tidak mampu untuk membuat wanita yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu menoleh padanya, tidak mampu membuat wanita yang pikirannya terbang entah kemana itu tersadar, hingga panggilannya bagaikan angin berhembus tanpa sosok yang terlihat.


Raffan menghentikan langkahnya dan kembali memanggil namun kali ini dengan suara yang tidak bertenaga, "Deefa." lalu kembali berjalan mendekati istrinya.


"Ibu sudah tahu." Deefa bersuara dengan susah payah meskipun suaranya sedikit tercekat namun dia berhasil mengatakan apa yang ingin dia katakan pada suaminya yang baru pulang setelah pergi empat hari.


Raffan mendekat lalu berjongkok tepat di depan wanita yang menunduk tak berani menatap padanya.

__ADS_1


"Aku sudah berbohong untuk kita, tapi kamu malah mengatakan yang sebenarnya," ucap Raffan terdengar kecewa tapi tetap saja dia tidak sanggup apabila harus melihat istrinya menangis lagi.


"Aku tidak bisa berbohong, aku sudah minta Mas Raffan untuk pulang tapi.." Deefa sungguh tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.


Sejak kedatangan ibu mertuanya dia sudah sadar tidak akan mungkin bisa menghadapi wanita itu, dia tidak akan bisa berbohong ketika diberikan pertanyaan sedangkan suami yang dia harapkan cepat pulang untuk membantunya tapi malah tidak bisa dia hubungi, lalu sekarang dia terlihat seperti orang yang sudah melakukan kesalahan karena berkata jujur.


"Ibu marah, dia juga berkata agar Deefa siap seandainya dalam waktu dekat ibu akan mengenalkan seorang wanita pada kita terutama Mas Raffan."


Suara Deefa terdengar sangat bergetar, Raffan tahu istrinya itu tentu tidak sanggup untuk mengulang kembali apa yang sudah ibunya katakan.


"Bukannya itu yang kamu inginkan? jadi sekarang tidak perlu bersedih apalagi sampai menangis seperti ini," tutur Raffan menyapu air mata di kedua pipi istrinya, pria itu juga menatap kelopak mata sang istri yang bengkak jelas karena mungkin selama dia pergi wanita itu terus menangis.


Bukannya diam Deefa malah makin terisak sampai suaranya pun begitu menyayat hati, sungguh melukai hati Raffan sebagai seorang suami seolah dia tidak berdaya untuk membuat istrinya menghentikan tangisan.


"Aku sudah berusaha untuk menjaga kamu, bahkan rela berbohong membohongi orang tuaku agar mereka tidak menggangu kamu tapi ternyata malah kamu yang membongkar kebohongan suamimu, malah kamu yang sengaja mendorong aku untuk menjauh, lalu sekarang kamu berharap apa dariku? melawan ibuku? akan aku lakukan andai kamu setuju, tapi aku tahu kamu tidak akan pernah setuju aku melakukan itu, tidak akan membiarkan aku durhaka pada wanita yang sudah melahirkan aku," papar Raffan panjang mengatakan perasaan hatinya, menyatakan semua yang ingin dia sampaikan.


Deefa memang menangis tapi telinganya tetap bisa mendengar dengan baik setiap kata yang terucap dari bibir suaminya, setiap kata yang makin membuat dadanya terasa sesak namun tak punya daya untuk melegakannya.


"Sekarang kita hanya perlu menunggu wanita itu datang kan? jadi, ayo kita tunggu dan persiapkan diri, kamu juga harus membantu aku agar tampil dengan sempurna di depan wanita itu nantinya, di depan calon madu mu," kata Raffan membuat tangis Deefa pecah tak terkira.


"Berhenti menangis Deefa, jangan seperti anak kecil, kamu yang berharap hal ini tapi kamu juga yang menangis tidak terima," cetus Raffan, sedangkan dia sendiri pun tengah berusaha untuk menahan kesedihan dan kegundahan hatinya memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menghentikan ibunya.


Sungguh dia tidak mau poligami atau bercerai dengan Deefa, wanita yang sekarang tengah menangis mendekapnya sudah menjadi belahan jiwanya tak sanggup dia membayangkan jika menduakan apalagi berpisah dengannya.


"Aku belum siap, ini terlalu cepat setidaknya beri aku waktu dulu sampai aku benar-benar siap," tutur Deefa suaranya pelan namun sarat akan emosi dan kekecewaan dengan wajahnya yang tenggelam pada dada bidang sang suami.


Raffan menghela napas mengetatkan rahang, "jadi harus menunggu kamu siap, begitu? berapa lama? satu Minggu? dua Minggu? tiga Minggu? atau.."


"Tidak dalam hitungan Minggu!" seru Deefa tak terima.


"Lalu sampai kapan? bukankah menunggu kamu siap sama saja aku menunggu untuk kamu campakkan? karena setelah kamu siap kamu akan meninggalkan aku, menjauh dariku."


Raffan memegang bahu Deefa lalu mengurai dekapan wanita dengan kerudungnya yang basah terkena air mata, "aku sudah cukup mengenal bagaimana kamu Deef, aku tahu kamu tidak akan pernah sanggup melihat aku bersama wanita lain, kesalahanmu karena kamu terlalu memikirkan orang lain, tidak memikirkan perasaanmu juga perasaan suamimu!" Raffan menatap tajam dan mencengkeram kedua bahu istrinya.


Deefa yang terlalu sering menangis akhirnya malah membuatnya pingsan, tubuhnya lunglai hampir saja jatuh andai Raffan tidak memeganginya.

__ADS_1


Raffan panik, "Deef, sayang," mencoba memanggil istrinya berharap wanita itu sadar tapi yang dia lakukan percuma tidak ada respon dari tubuh istrinya membuat dia sangat panik.



Raffan mengangkat tubuh Deefa membawanya ke dalam kamar dan menurunkannya dengan hati-hati ke atas tempat tidur lalu dia menuju lagi meja mencari minyak angin yang dia harap bisa membantu untuk menyadarkan sang istri.



Minyak angin sudah di dapat dan diapun segera duduk di samping Deefa membuka tutup botol minyak angin lalu mengarahkannya pada hidung wanita yang dia perhatikan menjadi kurus padahal baru empat hari dia tidak melihatnya tapi berat tubuh istrinya seolah berkurang dengan cepat dan sangat banyak.



Tubuh Deefa merespon dan mulai membuka mata dengan perlahan, kedua mata yang memang terlahir sendu kini makin menjadi lebih sendu lagi, terlihat sangat menyedihkan bagaikan orang yang tidak mempunyai semangat untuk tetap membiarkan jiwanya menghuni raga.



Raffan sudah tidak sanggup untuk berkata apapun lagi meski dia marah tapi dan masih ingin membuat istrinya itu sadar bahwa mereka tidak akan pernah bisa jauh, tapi dia tidak mungkin dengan tega berkata lagi ketika kondisi istrinya sudah sangat menyedihkan, memilih tetap melakukan apapun untuk membuat istrinya tenang namun mulutnya tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya tangan yang bergerak mengusap bahu bahkan menyapu air mata yang membasahi wajah istrinya.



Keduanya tetap terjaga tanpa saling bicara sampai hari semakin malam, saling diam seperti tengah larut dengan perasaan yang tengah mengusik seluruh pikiran mereka.



Berulang kali Deefa menatap wajah sang suami yang duduk di sampingnya, memperhatikan dengan dalam dan sangat lama seolah inilah saatnya dia memuaskan diri melihat wajah suaminya sebelum ada wanita lain yang membuatnya tersingkir, mungkin?



"Semuanya ada di tangan kamu Deef, aku harus bagaimana dan melakukan apa hanya bergantung padamu aku menurut dan tidak akan memaksa lagi andai kamu memang tidak ingin terus bersama denganku," ujar Raffan sadar ketika Deefa tengah memperhatikan dirinya.



Setelah berkata Raffan memejamkan kedua mata dengan posisi tetap duduk bersandar pada kepala tempat tidur, membiarkan istrinya melakukan apa yang wanita itu mau tanpa repot untuk melarang, dan sekarang pun Raffan bisa merasakan sentuhan dari tangan sang istri yang secara perlahan mulai menempelkan satu jarinya lalu disusul dengan jari lainnya di pipi sebelah kanan membuat Raffan makin larut memejamkan mata sekaligus menikmati sentuhan dari sang istri yang menatap dengan penuh kesedihan.


****

__ADS_1


__ADS_2