Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Usaha Yang Percuma?


__ADS_3

Suara ketukan dari pintu membuat Deefa yang tadi hendak membuka amplop berwarna putih itupun mengurungkan niatnya ketika setelah suara ketukan dia mendengar suara salam yang diucapkan.


"Wa'alaikumsalam," sahutnya dengan suara yang tidak tinggi tapi juga tidak rendah, sedang saja yang pastinya tidak akan terdengar oleh orang yang ada di depan pintu sana.


Wanita itupun segera menyimpan amplop ke atas tumpukan baju di atas kursi meja rias dekat lemari tentu saja dia masih berminat untuk membaca hasil pemeriksaan dengan rinci apalagi dia memang sama sekali belum melihatnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." kembali menjawab kala ucapan salam untuk kedua kalinya dia dengar seiring dengan langkah kaki yang dipercepat agar bisa segera menggapai pintu dan membukakan pintu guna mengetahui siapa yang datang, dari suaranya bisa di pastikan bahwa yang datang bertamu itu adalah seorang wanita.


Baru setelahnya Deefa sudah tidak lagi mendengar suara ucapan salam, mungkin orang di balik pintu mendengar jawaban salam darinya.


Tangan Deefa terulur untuk memutar kunci pintu lalu menurunkan gagang pintu menariknya ke dalam hingga kini bisa melihat siapakah orang yang datang bertamu saat dia masih sangat sibuk dengan urusan rumah tangga, tentu karena ini masih jam 9 pagi entah siapa orangnya yang datang bertamu pada jam seperti ini.


"Mbak Aliya," sapa Deefa ketika mendapati tetangga rumahnya yang menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu perumahan saat berbelanja sayuran tempo hari.


Wanita bernama Aliya itu tersenyum sangat ramah, ini pertama kalinya wanita itu datang bertamu ke rumahnya dan pertama kalinya juga Deefa melihat wanita itu dengan jarak yang sangat dekat, biasanya Deefa hanya melihat wanita itu melintas dengan mobilnya saja dan pernah satu kali bertegur sapa saat Deefa sedang membuang sampah dan wanita bernama Aliya itu hendak berangkat bekerja seorang diri dan sekarang entah ada angin apa wanita itu bertamu ke rumahnya, wanita yang memang berusia di atasnya itu menunjukkan wajah yang sangat ramah dan sopan, sungguh Deefa merasa kasihan kala mengingat wanita di depannya ini menjadi perbincangan karena belum memiliki anak.


"Aku lagi belajar masak dari YouTube terus nggak tahu harus minta siapa buat cobain soalnya kan kalau aku yang coba sendiri sudah pasti aku bilang enak," aku Aliya seraya menunjukkan mangkuk berisi masakan yang sepertinya itu adalah tongseng.


Deefa tersenyum lalu dengan sigap mengambil mangkuk yang Aliya berikan, "ayo masuk dulu Mbak," ajak Deefa pada tamunya yang mungkin akan menjadi teman barunya di perumahan ini setelah setengah tahun lamanya hanya bertegur sapa saja ketika saling bertatapan.


Aliya dengan senang hati menerima ajakan dari si pemilik rumah, tentu dia sejak kemarin memang sudah tidak lagi bekerja memutuskan untuk di rumah saja dan fokus untuk memiliki anak karena suami, mertua serta orang tuanya juga memang sudah memintanya untuk memiliki anak.


Dia yang bosan pun akhirnya memutuskan untuk belajar memasak sejak pagi ini dan Deefa lah yang menjadi tujuannya untuk bisa mencicipi masakan yang dia buat, tentunya tentang dia yang menjadi pembicaraan para wanita di perumahan itu dia sudah tahu hingga dia merasa hanya Deefa lah yang bisa dia jadikan teman karena diapun sedikit banyak sudah mencari tahu tentang salah satu tetangganya itu yang memiliki latar belakang seorang muslimah, tentunya dia tidak akan merasa dihakimi karena belum mempunyai keturunan apabila berteman dengan Deefa.


Kedua wanita itu ternyata sangat mudah akrab, baru beberapa menit duduk bersama dan berbincang saja sudah banyak sekali yang mereka bicarakan, dari yang awalnya mengenai masakan yang akhirnya mendapat koreksi dari Deefa sampai berakhir tentang Aliya yang menceritakan kehidupannya tanpa di minta.


Sepertinya wanita itu memang sangat membutuhkan seorang teman yang bisa berbagi cerita tentang semua yang dia rasakan termasuk tentang keinginannya untuk segera mempunyai anak.


Permasalahan kedua wanita itu tidak berbeda membuat keduanya bisa dengan mudah nyambung dalam berbicara.


"Tadinya aku masih ingin tetap bekerja, tapi suami sudah terus mendesak karena dia juga di tuntut oleh keluarganya, kalau tidak.."


Aliya menjeda perkataannya mungkin dia tidak sanggup untuk meneruskan apa yang ingin dia katakan atau memang dia sedang berusaha untuk menguatkan hatinya lebih dulu sebelum mengutarakan apa yang sejak beberapa bulan lalu menjadi kerisauan di dalam rumah tangganya yang sudah bertahun-tahun.


Deefa tidak berani menyuarakan pertanyaannya sekalipun hatinya terasa amat penasaran tapi dia tidak mungkin meminta wanita yang baru saja menjadi akrab dengannya untuk menyelesaikan perkataannya.


Deefa bisa melihat raut wajah yang begitu sedih dengan bola matanya yang tadi terlihat cerah kini malah terlihat sendu dan memerah, jelas wanita di depannya ini tengah menyimpan kesedihan.


Dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh teman barunya itu, karena kebetulan diapun juga tengah mengalami hal yang Aliya ceritakan bedanya dia baru menikah setengah tahun dan hanya mertuanya saja yang menuntut sedangkan suaminya tidak, tapi tetap saja yang namanya wanita ketika mengetahui kesedihan dari kaumnya akan turut serta merasakan sedihnya.


Deefa pun menggeser duduknya lalu mengelus bahu wanita yang mulai meneteskan air mata dengan bibirnya yang tidak mampu untuk mengeluarkan kata demi kata karena dia tidak mungkin meminta Aliya untuk bersabar sedangkan dirinya pun sejak mendapat tuntutan dari ibu mertuanya pun langsung meminta suaminya untuk melakukan pemeriksaan agar tahu apa dan kenapa dia belum juga hamil.


Dia memang masih cukup baru dalam hal itu tapi tentu rasanya akan sama apabila kita di tuntut untuk segera mempunyai anak sedangkan yang maha berkuasa pun belum mau memberikannya.


"Suamiku akan menikah lagi andai aku belum juga bisa memberikannya keturunan."

__ADS_1


Tangis Aliya pecah setelah melanjutkan apa yang menjadi beban pikirannya, sungguh dia sebenarnya sangat malu baru saja kenal dan akrab tapi malah sudah cerita mengenai rumah tangganya, apa tidak terdengar sangat menyedihkan? sampai-sampai diapun sekarang menangis tersedu dengan air mata yang menganak sungai di wajahnya.


Deefa pun memberikan pelukan ketenangan pada sang wanita berambut panjang tapi sekarang tengah di cepol, mengelusnya tanpa bisa berkata apapun karena mendengar hal itu membuat dia jadi berpikir bagaimana seandainya dirinyalah yang berada diposisi Aliya, apa yang akan dia lakukan ketika mendengar suaminya sendiri berkata akan menikah lagi? marah atau menangis seperti yang sedang Aliya lakukan sekarang?


Sekian menit menangis akhirnya Aliya sadar dengan sikapnya yang tidak seharusnya menangis saat baru saja menjadi dekat dengan tetangganya itu.


Aliya mengurai pelukan lalu mengusap air matanya.


"Ini Mbak," Deefa memberikan tissu yang dia ambil dari meja kecil di sampingnya.


"Terimakasih," ucap Aliya mengambil dua helai tissu lalu menyusut air mata dari kedua mata serta pipinya.


"Aku ini tidak tahu malu ya, baru kenal tapi sudah cerita panjang lebar masalah pribadi pakai acara nangis pula," tutur Aliya sambil mencoba untuk tersenyum yang sungguh amat dipaksakan, hatinya tentu sangat nelangsa setelah sekian tahun menikah tapi suaminya malah ingin menikah lagi karena keturunan yang tak kunjung hadir, memang salahnya yang dulu sempat menunda punya anak untuk mengejar karir tapi haruskah ditinggalkan oleh suami apabila belum juga memberikan anak?


"Tidak apa-apa Mbak, setiap manusia memiliki hak untuk bercerita mau baru kenal ataupun tidak, selama Mbak merasa nyaman dan aman menceritakannya itu tidak masalah," papar Deefa memberikan pendapatnya.


Aliya mengangguk samar lalu tangannya *******-***** tissu seperti tengah melampiaskan isi hatinya tentang kesedihan yang mendera.


"Apa Mbak sudah periksa?"


Aliya memberikan gelengan kepala, "suamiku tidak mau periksa, sejak sebelum berhenti bekerja aku sudah mendesaknya untuk periksa tapi dia selalu menolak dan malah menyuruh aku untuk melakukan pemeriksaan sendiri, dia sangat egois kan? padahal yang aku tahu masalah keturunan bukan hanya dari wanita saja tapi juga dari pria, dia dan keluarganya menuduhku tidak sehat tanpa tahu kondisinya sendiri," beber Aliya membuat Deefa menghela napas.


Sungguh saat mendengar semua itu membuat Deefa merasa sangat bersyukur Allah telah menganugerahkan dia seorang suami yang sangat pengertian, sangat menyayangi dirinya dan juga terlihat sangat dewasa meskipun usianya masih sangat muda.


Pembicaraan seperti itu memang akan sangat menguras perasaan serta air mata bahkan Deefa yang mendengarnya pun tak kuasa menahan air mata yang mengalir tanpa pemberitahuan membuat Aliya terkejut dan sontak meminta maaf.


"Maaf Deef, seharusnya aku tidak perlu curhat begini," kata Aliya merasa bersalah sudah membuat tetangganya itu menangis.


****


"Raffan kemana? tadi gue lihat dia sama elo Gam, sekarang udah ngilang lagi aja tuh anak," tanya Gumay pada Agam yang akan membereskan buku-bukunya ke dalam tas karena ini memang sudah waktunya untuk pulang.


"Ada urusan," sahut Agam tanpa menatap sang teman yang sudah berdiri di depan mejanya.


"Perasaan ada urusan Mulu tuh anak," sungut Gumay bawel.


"Dia udah nikah sedangkan kita belum, jadi jangan bandingkan atau menuntut agar Raffan sama kayak kita May, dia itu sudah punya tanggung jawab sudah seharusnya.."


"Iya iya iya gue paham, mending kita pulang yok sekarang," memotong penjelasan Agam dengan seenaknya tentu dia sedang tidak mau untuk mendengarkan ceramah Agam kali ini menyangkut menikah dan belum menikah, jelas jika dibiarkan akan panjang urusan dan tak akan selesai dengan cepat, bukankah Agam ini keturunan seorang ustadz? tentunya sudah terbiasa mendengarkan ceramah setiap harinya dan bisa saja sewaktu-waktu Agam menjadi penerus Ayahnya itu.


Agam menaikkan sudut alisnya melihat tingkah laku Gumay yang seperti kepanasan mendengarkan pembicaraannya.


"Mau di ruqyah nggak May?" tanya Agam.


"Kaga perlu, nanti gue kejang-kejang saking banyaknya setan yang ada di dalam tubuh gue," celetuk Gumay sadar diri mungkin di dalam tubuhnya itu banyak sekali setan yang mendiami.


Agam menggeleng-gelengkan kepalanya lantas memakai tas punggungnya lalu melenggang keluar dari dalam kelas.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju parkiran dan berhenti ketika mendapati Rio tengah berbicara dengan Pak Angga dosen mereka.


Mungkin sedang menanyakan salah satu tugas yang tadi diberikan, karena Rio ini memang agak lambat kalau sudah menyangkut pelajaran kadang lebih senang meminta catatan milik temannya ketimbang harus mencatatnya saat jam pelajaran berlangsung.


"Gue rasa nih bocah bakal ngulang terus," bisik Gumay meragukan kinerja otak dari temannya.


Agam mengabaikan perkataan Gumay tak peduli temannya itu mengoceh apa karena dia sekarang sedang membaca pesan yang Raffan kirimkan padanya.


Temannya itu sekarang sedang menuju salah satu rumah sakit untuk bertemu dengan dokter yang sudah direkomendasikan oleh Kakaknya, dokter yang dulu membantu sang Kakak selama kehamilan dan juga saat melahirkan.


Agam berharap dokter itu bisa membantu temannya karena sekarang hanya bantuan itulah yang bisa dia berikan untuk Raffan.


"Gue langsung ke bengkel Gam," lapor Gumay ketika Agam akan berjalan ke parkiran mobil.


"Ya udah, gue pulang dulu habis Maghrib baru gue ke bengkel."


"Sip!" Gumay mengacungkan jempol dengan cengiran yang lebar.


"May!" baru saja Gumay ingin naik ke atas motornya malah suara temannya membuat dia berhenti dan mematung menunggu temannya itu mendekat.


"Gue nebeng Lo, motor gue di pinjem adek gue," pinta Rio yang memang tidak membawa kendaraan tadi pagi saja dia datang ke kampus dengan naik ojek online.


"Ck, gue mau ke tempat Fara dulu nganterin pesenan dia," aku Gumay menunjukkan isi tasnya yang penuh dengan barang pesanan milik Fara.


"Nggak apa-apa udah, cuma nganter doang kan? nggak pake acara temu kangen ini," ujar Rio tetap ngotot ingin menumpang temannya.


Gumay pun mengedikkan bahu, "ya udah terserah asal jangan ribet aja mulut Lo kalau gue kelamaan."


"Nggak bakalan lama Lo, orang tadi gue denger Lo ngomong sama Agam mau langsung ke bengkel," Rio tertawa licik.


"Sialan," maki Gumay disertai dengan dengusan.


Raffan baru saja keluar dari rumah salah satu rumah sakit di Jakarta dengan wajah yang sedikit jauh lebih tenang ketimbang yang semalam, bukankah itu artinya apa yang dia inginkan bisa berjalan dengan baik setelah pembicaraannya dengan sang dokter.



Dia lantas bergegas untuk pergi ke bengkel karena memang tadi pagi dia sudah mengatakan pada istrinya akan langsung ke bengkel.


Mobil yang dia kendarai mulai melaju bersama dengan kendaraan lainnya yang ada di jalanan dengan matahari yang sejak tadi siang memang sudah bersembunyi di balik awan hitam, tapi yang mengherankan meski langit sudah sangat gelap namun hujan tak kunjung turun juga, hanya suasana dan udaranya saja yang berubah menjadi lebih dingin karena tidak ada matahari yang memberikan kehangatan.


Di rumah Deefa sedang duduk dengan kertas yang ada di tangannya.


Duduk di tepi tempat tidur dengan air mata yang sejak tiga puluh menit lalu membasahi seluruh wajahnya.


Tadi ketika Aliya sudah pulang dan dia kembali hanya sendiri saja di rumah berniat untuk melanjutkan apa yang tadi dia tengah kerjakan dan tertunda karena kedatangan Aliya.


Ingin merapikan lemari pakaian suaminya dan ketika kembali melihat amplop yang ada di atas tumpukan baju sang suami diapun kembali penasaran untuk melihat isinya, sampai dengan jantung yang mendadak tak karuan dia membuka amplop pertama yang berisi laporan pemeriksaan milik suaminya.

__ADS_1


Darahnya mengalir dengan sangat cepat ketika melihat hasilnya lalu dengan rasa penasaran yang sama dia juga membuka amplop satunya yang tentu saja berisi laporan pemeriksaan miliknya dan dalam sekejap dia seolah di sambar oleh petir membuat dunianya terasa berputar hingga dirinya pun tak kuasa menapakkan kaki yang mendadak lunglai di atas lantai, pandangannya sudah berkunang sampai dia harus menopang tubuhnya pada tepian meja bahkan dia harus bersusah payah menggapai tempat tidur agar bisa duduk di atasnya.


***


__ADS_2