Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Tidak Peduli


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh sopir sudah berada di parkiran pusat perbelanjaan di tengah kota, sang sopir pun begitu setia menunggu ketika sang majikan berada di dalam swalayan guna membeli kebutuhan rumah tangga.


Wanita berpakaian tertutup dan terlihat sangat santun itu berjalan lambat mendorong troli yang masih kosong, menuju rak-rak yang memajang barang yang dia perlukan.


Satu persatu rak dia tuju perlahan mengisi troli yang dia dorong seorang diri, dia punya menantu seharusnya dia bisa mengajak menantunya untuk berbelanja bersama namun dia malah membangun benteng untuk menantunya itu membuat jarak tak kasat mata.


Langkahnya tetap tenang seraya memilih apa saja yang harus dia beli lagi.


"Hayati?"


Teguran dari seseorang di balik tubuhnya membuat dia memutar melihat siapa yang telah memanggilnya.


Mata Hayati memicing berusaha untuk mengenali sang wanita yang tadi memanggilnya, namun dia seolah tidak ingat wajah yang ada di depannya itu, dia tidak mungkin pikun kan?


"Ternyata benar kamu ini Hayati."


Kata wanita yang seumuran dengan Hayati, wanita yang terlihat sangat mengenalnya namun dia sendiri malah tidak ingat siapa wanita itu.


Wanita itu menggeleng seraya mengumbar tawa lebar ketika wanita yang dia panggil malah tampak kebingungan.


"Apa aku sudah banyak berubah? sampai kamu pun tidak mengenali," katanya menyentuh wajahnya sendiri.


"Maaf kamu?"


"Rovia, Rovianasari teman sekolah mu dari SD sampai SMA!" seru wanita bernama Rovianasari itu dengan kedua mata yang membulat sempurna.


Hayati mengerutkan kening mencoba mengingat sampai akhirnya diapun memeluk wanita di depannya itu dengan senyum bahagia, "rupanya kamu Rovia, astagfirullah aku sama sekali tidak mengenali kamu," kata Hayati mengurai pelukan agar bisa melihat wajah teman lamanya itu.


"Apa aku sudah sangat berubah?" Rovia menepuk wajahnya sendiri.


Hayati mengangguk, "sangat kamu sangat banyak berubah, hidungmu.."


Mata Rovia membulat lalu mendekatkan mulutnya pada telinga temannya, "hidungku ini hasil operasi," bisik nya pelan yang lantas membuat Hayati menjengkit lalu menutup mulutnya yang menganga.


Tidak percaya bahwa temannya yang dulu sama-sama tinggal dan besar di Padang melakukan operasi, dia sangat ingat dulu hidung Rovia memang tidak mancung sangat berbeda dengan yang sekarang dan penampilannya pun juga tampak lebih berkilau dengan segala perhiasan yang dipakainya.


"Untuk saat ini jangan berikan aku ceramah ya, tentang hukumnya melakukan operasi perubahan bentuk wajah," cerocos Rovia yang tahu benar siapa Hayati.


Dulu saat masih SMP saja Hayati sudah menjadi guru ngaji mengajar anak-anak mengenal huruf Hijaiyah, tentu dari penampilannya sekarang tanpa perlu diberitahu pun dia sudah bisa menebak kalau temannya itu sudah lebih dari seorang guru ngaji anak-anak, terlebih lagi dia mendengar sang teman juga menikah dengan seorang pemuda lulusan pesantren dan kelahiran Bandung.


Hayati tertawa kecil lalu menepuk-nepuk lengan temannya, "sebenarnya mulutku ini gatal tapi berhubung kita baru bertemu setelah sekian lama aku membebaskan kamu," tutur Hayati membuat temannya tersenyum girang.


Rovia berdecih namun kemudian tertawa sambil menutupi mulutnya.


"Berapa lama ya kita tidak bertemu?" Hayati bertanya pada temannya yang langsung mengerutkan kening mengingat berapa lama.


"Aku rasa semenjak kamu menikah, mungkin?" ucap Rovia yang dia sendiri tidak yakin.


"Bukannya kamu yang menikah lebih dulu?" Hayati bertanya balik, karena seingatnya Rovia lah yang menikah duluan ketimbang dirinya.


"Iya kah?" Rovia malah lupa lalu setelah ingat dia justru tertawa, "hahaha iya aku duluan yang menikah lalu aku ikut mantan suamiku itu ke kotanya hingga akhirnya kita tidak pernah bertemu." aku Rovia.


"Mantan suami? kamu sudah bercerai?" tanya Hayati pada sang teman yang pakaiannya jauh berbeda dengannya, sepertinya Rovia masih belum siap untuk menutup auratnya.


Rovia mengangguk, "suami pertama."


"Kamu nikah berapa kali?" Hayati tampak terkejut mengetahui bahwa temannya ternyata sudah pernah bercerai.


"Tiga kali, suami yang sekarang ini yang ketiga dan aku harap suami terakhir jujur saja aku ini juga capek gonta-ganti suami terus sampai aku pun susah bertemu dengan dua anakku dari pernikahan pertama." Rovia berkeluh kesah tentang perpajakan hidupnya.


"Apa tidak sebaiknya kita mengobrol di tempat makan saja, rasanya pegal juga kaki ku harus ngobrol sambil berdiri begini," ajak wanita yang juga mendorong troli.

__ADS_1


Hayati mengangguk setuju memangnya siapa yang tidak suka bertemu dengan teman lama? tentu dia akan memanfaatkan itu untuk bercerita mengingat saat-saat mereka dulu juga saling menceritakan jalan hidup yang mereka jalani.


Kedua wanita itu sudah duduk saling berhadapan dan mulai bercerita.


"Jadi dua anakmu ikut dengan mantan suami?" tanya Hayati tak menyangka kalau temannya itu sudah tiga kali menikah dan memiliki tiga orang anak, dua dari mantan suaminya dan satu anak dari suaminya yang sekarang.


"Anakku yang ketiga ini sekarang sedang sibuk kuliah, mengambil jurusan hukum." cerita Rovia bersemangat membicarakan anak ketiganya.


"Kalau kamu bagaimana? anakmu berapa sekarang?" Rovia bertanya balik sebab dari tadi dia terus yang mendapatkan pertanyaan tentunya dia juga penasaran dengan kehidupan temannya itu.


Hayati terdiam dengan tangan yang mengaduk minuman dingin yang dia pesan agar dinginnya tercampur rata.


"Anakku hanya satu, Ro," aku Hayati dengan raut wajah yang sedikit sedih, pembicaraan tentang anak itu tentu membuatnya melankolis.


"Satu tidak masalah yang penting kan kamu punya keturunan," kata Rovia menghibur temannya.


Hayati mengangguk sambil tersenyum, dia setuju dengan perkataan dari sang teman, satu tidak masalah asalkan masih punya keturunan dan itu menjadikan dia seorang yang lupa akan prihatinnya pada wanita-wanita di luar sana yang sulit mendapatkan keturunan termasuk menantunya.


"Berapa usia anakmu?" tanya Rovia.


"Tahun ini 20."


"Hm, masih seumuran sama anakku yang ketiga rupanya."


"Anakmu yang ketiga ini perempuan?" Hayati mulai tertarik untuk membicarakan anak dari temannya.


Rovia memasang senyum lalu sebentar menyedot minumannya baru kemudian menjawab pertanyaan Hayati, "iya perempuan, tapi dia itu jauh lebih cantik dari aku Yati, kamu kan tahu sendiri seperti apa wajahku saat muda dulu, hihi." dengan suara pelan berkata memuji anaknya namun saat bersamaan menghina dirinya sendiri sambil terkikik seolah yang dia bicarakan itu sebuah lelucon lucu yang harus ditertawakan.


"Kamu itu cantik Ro, buktinya anak kamu terlahir cantik, lagian semua wanita itu cantik kalau ganteng itu pria," kelakar Hayati membuat temannya tertawa keras tidak peduli mereka sedang berada di keramaian.


"Tentu saja aku cantik kalau jelek mana mungkin Mas Farhan mau nikahin aku, hahaha." sekarang malah sangat percaya diri seperti lupa kalau tadi pun dia mengaku telah melakukan operasi pada hidungnya agar jadi mancung.


"Mami!"


"Nah itu anakku datang, tadi aku minta dia buat jemput kebetulan dia juga baru pulang kuliah," kata Rovia menunjuk gadis muda yang sedang berjalan ke arah mereka.


Hayati memperhatikan gadis yang diakui oleh Rovia sebagai anaknya, gadis cantik yang usianya masih muda dan kemungkinan tidak jauh beda dengan Raffan karena masih kuliah juga.


"Mami sudah selesai belanjanya?"


"Hei, sapa teman Mami dulu, kebiasaan kamu ini selalu saja begini," protes Rovia pada anaknya yang tersenyum manja.


"Iya sorry," jawab wanita yang berpakaian ketat menonjolkan lekuk tubuhnya.


"Hayati, kenalin ini anakku yang tadi aku ceritakan," kata Rovia pada Hayati yang langsung berdiri.


"Nah Raisya kenalin ini Tante Hayati teman kecil Mami," ucap Rovia memberitahu anaknya.


"Halo Tante, kenalin Raisya calon pengacara handal," beber Raisya begitu percaya diri menyebutkan gelar yang padahal belum dia dapatkan.


Hayati membalas uluran tangan dari wanita muda didepannya.


"Kalau salaman sama yang lebih tua itu dicium tangannya, jangan kayak sama teman!" omel Rovia melihat sikap anaknya.


Hayati tersenyum, "tidak apa-apa namanya anak muda kan mungkin sudah biasa dalam pergaulannya," ucap Hayati memaklumi.


"Tuh lihat Tante aja maklum."


Ketiganya pun akhirnya duduk bersama menikmati makanan yang sudah dipesan sambil berbincang sangat banyak, apa saja mereka ceritakan sampai pada akhirnya Raisya tahu bahwa wanita di depannya ini adalah ibunya Raffan, pria yang selalu dia kejar namun selalu saja mengabaikannya.


"Apa ini yang namanya takdir?" bertanya dalam hati dengan ekspresi girang yang tidak bisa disembunyikan, hatinya bersorak-sorai dengan sangat kencang bagaikan letupan kembang api yang penuh dengan warna.

__ADS_1


****


Deefa baru saja menyelesaikan doa setelah shalat isya ketika mendengar suara kendaraan yang masuk ke halaman rumah.


Wanita yang masih memakai mukena itu berjalan menuju jendela kamar guna melihat siapa yang datang.


"Mas Raffan," katanya saat melihat suaminya menuju teras rumah.


Deefa segera membuka mukenanya melipat lalu merapikan sajadah dan menyimpannya kembali dengan baik, dia ingin segera membukakan pintu untuk suaminya itu sebelum keduluan oleh suaminya yang memang selalu membawa kunci duplikat.


Raffan baru akan mengambil kunci dari sakunya ketika dia melihat gagang pintu bergerak akhirnya mengurungkan niat dan kembali mengeluarkan tangan dari dalam saku serta mengucap salam, "assalamu'alaikum," ucapnya terdengar sangat lembut sambil tidak lupa memasang senyum di bibir.


"Wa'alaikumsalam."


Suara Deefa terdengar merdu dan mendamaikan ketika masuk ke dalam telinga seraya dengan pintu yang perlahan terbuka.


Deefa mengambil tangan sang suami lalu mengecupnya menunjukkan tanda dia menghormati suaminya.



"Maaf baru pulang, tadi harus ke bengkel dulu," ucap Raffan sebelum istrinya bertanya.


Tadi, sebelum pergi ke rumah ibunya dia mengatakan akan langsung pulang tidak kuliah karena dosen yang tidak hadir tapi kenyatannya dia malah baru pulang sehabis isya, itu tentu sangat terlambat bukan? maka dari itu dia meminta maaf pada istrinya yang dengan sangat pengertiannya mengangguk memaafkan.


"Tidak apa-apa, tapi lain kali hubungi Deefa dulu agar Deefa tahu dan tidak cemas memikirkan Mas Raffan," pinta Deefa seraya menggandeng lengan suaminya masuk ke dalam rumah setelah menutup kembali pintu dan menguncinya.



Raffan mengelus puncak kepala istrinya yang dilapisi oleh kerudung instan yang menutupi sampai di bagian dada sang istri.



"Bagaiman dengan ibu? Mas Raffan tidak.."



"Aku mandi dulu ya, gerah banget soalnya." menyela padahal istrinya sedang bertanya.



Setelah yang dikatakan oleh ibunya apakah dia sanggup untuk memberitahu Deefa? tidak bisa hingga dia memutuskan untuk mengalihkan dan membuat Deefa tidak membahas tentang itu daripada dia harus berkata bohong lagi dengan mengatakan hal yang berlawanan dengan apa yang ibunya katakan tadi pagi.



Deefa yang tidak curiga dan merasa wajar kalau suaminya gerah karena memang seharian berada di luar rumah pun membiarkan suaminya naik ke lantai atas untuk mandi.



"Deefa siapin makan buat Mas Raffan ya," kata Deefa kencang agar suaminya yang sudah sampai di depan pintu kamar mendengar.



"Iya," jawab pria yang kembali memperlihatkan wajah tak penuh kekecewaan yang mendalam lalu gegas masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi dan mengunci pintunya.



Sangat berat rasanya menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan, terlebih lagi bersembunyi dari orang yang dia cintai dan sekarang merasa perjuangannya semakin terasa sulit, kemarin Deefa yang keras kepala lalu ketika dia sudah berhasil membujuk istrinya itu, sekarang dia malah dihadapkan dengan sang ibu.



Raffan mengusap wajahnya dengan kasar menatap cermin di yang memantulkan wajah penuh kepura-puraan.

__ADS_1


Ibunya benar-benar tidak peduli pada kebahagiaannya.


\*\*\*\*


__ADS_2