Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Menjadi Lebih Murka


__ADS_3

Deefa yang tengah menata masakannya ke atas meja menoleh saat telinganya mendengar derap langkah menuruni tangga.


Kedua netranya pun menangkap sosok suaminya yang sedang memakai jaket hitam yang sudah jarang di pakai tapi kini dia lihat pria yang semalam menidurinya dengan kasar kembali memakainya berpadu dengan celana jeans yang di bagian lututnya robek-robek, mungkin memang modelnya seperti itu akan tetapi Deefa tidak terbiasa.


Suaminya sudah jarang memakai celana itu saat mereka sudah menikah, akan tetapi sekarang kembali memakainya.


Suaminya ingin kembali seperti dulu lagi kah?


Apalagi semalam pun Deefa melihat ada anting yang tersemat di daun telinganya, dan sekarang pun pria itu masih memakai benda berwarna perak itu.


"Mas, sarapan dulu," ajak Deefa.


Pagi ini setelah semalam mungkin Raffan mau sedikit saja menghargai masakannya dan bersedia untuk memakan meski hanya sedikit saja.


Tentang kekasaran suaminya semalam dia tidak akan mempermasalahkan atau membahasnya, memilih melupakan karena menganggap suaminya tengah khilaf dan tak sadar karena dikuasai oleh amarah.


Raffan menghentikan langkah, melirik sekilas lalu terdiam seperti sedang berpikir.


Deefa menatap penuh harap, berharap kali ini suaminya mau mendengarkan dirinya makan sarapan yang sudah dia buat, lalu sesaat kemudian Deefa bernapas lega saat suaminya menggerakkan kaki menuju pada meja makan tempatnya berdiri sejak tadi.


Wanita itupun dengan sigapnya menarik kursi agar suaminya bisa segera duduk, dengan senyum yang menghiasi wajah dia dengan telatennya melayani pria yang bahkan tidak bersuara sama sekali.


Ditawari ini itu hanya melihat saja lalu kembali mengabaikan berfokus pada layar handphone yang dengan sengaja dia mainkan untuk terlihat sibuk di depan istrinya yang terus berbicara, menceritakan apa saja yang bahkan tidak dia timpali sampai akhirnya wanita yang berdiri di sampingnya itu kembali diam tanpa suara hanya tangannya saja yang bergerak untuk menuangkan air minum ke dalam gelas.


Selesai melayani suaminya Deefa pun menarik kursi lalu duduk tepat di samping pria yang masih belum mengalihkan pandangannya dari benda menyala di tangan.


Deefa mencoba untuk tidak lagi bersuara membiarkan suaminya, akan tetapi suaminya masih tidak bergerak juga belum menyentuh makanan yang sudah ada di atas piring.


"Mas, nanti makannya keburu dingin."


Akhirnya mengingatkan dengan suara yang lembut dan untungnya Raffan mengerti.


Pria itu segera menyimpan handphone ke atas meja tepat di dekat Deefa, mengambil sendok dan mulai menyuapkannya ke dalam mulut.


Ting

__ADS_1


Satu pesan yang masuk membuat layar yang tadi sudah mati kembali menyala, menampilkan sebaris notifikasi yang juga terbaca oleh Deefa yang duduk disampingnya, menyadari itu Raffan pun bergegas mengambil handphonenya.


"Mas Raffan mau balapan?" tanya Deefa dengan pandangan meredup.


Sedih saat suami yang sudah menghentikan hobi yang berbahaya itu malah kembali akan melakukannya.


Raffan tak menjawab hanya senyuman tak biasa yang dia tunjukkan seraya membalas pesan yang dia terima.


"Deefa nggak kasih ijin," kata Deefa kemudian.


Jelas dia tidak akan memberikan ijin pada suaminya untuk melakukan hal berbahaya itu, balapan liar yang bahkan suaminya pun pernah bercerita bahwa sudah sering kali celaka entah sudah berapa banyak bekas luka yang ada di badan suaminya itu ketika jatuh saat balapan.


Raffan meletakkan sendok dengan kasar hingga menimbulkan suara dentingan akibat beradu dengan piring keramik yang berisi makanan dan hanya berkurang dua sendok saja.


Pria itu memicing menatap penuh ketidaksukaan, "aku minta ijin darimu tidak?!" pertanyaan ketus pun dia lontarkan.


Deefa menggeleng, suaminya memang tidak meminta ijin tapi sebagai istri dia merasa punya hak untuk melarang.


"Tapi Deefa ini istri Mas Raffan, Deefa punya hak untuk melarang," suara Deefa tampak ragu dia tahu suaminya tidak akan senang ketika mendengar dia membicarakan hak, sedangkan sejak kemarin dia seolah melupakan hak suaminya untuk menolak dan menentang poligami, tidak ingin menikah lagi.


"Bukankah kamu juga telah merampas hak bicaraku? tidak mendengarkan apa yang aku katakan, lalu sekarang kamu dengan entengnya membicarakan hak? kamu bisa berpikir tidak?" Raffan mencerca dengan kejam, "ah, jangankan berpikir rasanya otakmu saja patut dipertanyakan." menambahkan dengan kalimat yang makin pedas.


Menurutnya setelah semua yang terjadi dia menganggap istrinya itu tidak memiliki otak membuatnya tidak bisa berpikir jernih hingga menurut saja dengan kemauan ibunya.


Wanita bodoh yang membuat Raffan tidak mengerti bagaimana bisa ada wanita seperti Istrinya ini.


Di saat wanita lain akan mempertahankan suaminya apalagi suaminya berada di pihaknya, bukankah itu suatu keuntungan?


Tapi seorang Deefa malah bertingkah seperti seorang peri baik hati tapi malah terkesan bodoh dengan menuruti permintaan yang bahkan tidak sama sekali disetujui oleh suaminya.


Deefa meremas sendok yang sejak tadi dia pegang, kedua bola matanya menatap dengan getaran yang seimbang menahan ledakan tangis, sedangkan telinganya mendengar kalimat demi kalimat yang baru kali ini dia dengar selama menikah.


Brak!


Raffan menggebrak meja dengan kedua lengannya lalu berdiri dari kursi yang mendadak terasa sangat panas.

__ADS_1


Pria itu sudah kembali tidak berselera untuk makan, dia mengira setelah meniduri istrinya semalam akan sedikit membantunya untuk lebih baik, membantunya agar tidak meledak-ledak saat bicara dengan wanita itu.


Tapi kenyataannya dia tetap tidak bisa mengontrol, emosinya tetap saja dengan mudah tersulut dan langsung terbakar.


Raffan sudah membawa tasnya dan mulai melangkah lebar.


"Aku ingin ke rumah ibu."


Ucapan Deefa membuat langkah Raffan terhenti, pria itu memutar tubuh lalu memberi tatapan tajam bermakna peringatan.


"Ingin melaksanakan tugasmu sebagai menantu yang baik?" menyindir dengan senyum miring yang terpajang.


Tentu saja Raffan berpikir istrinya akan mulai menyiapkan pernikahannya dengan Raisya.


Deefa membungkam mulut tidak menjawab bahkan bernapas pun terasa sulit.


"Kenyataannya kamu memang tidak punya otak!" memaki dengan wajahnya menjadi sangat kejam.


Jangan salahkan dia andai dia menjadi lebih murka, istrinya yang tidak mendengarkan peringatan darinya.


"Bahkan kamu seolah lupa dengan peringatan yang aku berikan," berkata dan menunjukkan wajah yang sangat tegang.


"Deefa akan selalu ingat," jawab Deefa lirih.


"Bagus!" Raffan mengangguk puas namun wajahnya tetap tidak berubah, masih galak kejam sadis dan penuh kemurkaan.


"Kamu bertemu ibu dan menyiapkan pernikahan.." Raffan berhenti sejenak, menarik napas dalam seperti menguatkan diri untuk mengeluarkan perkataan, "aku akan buktikan ucapan ku!"


Setelah mengatakan itu Raffan pun langsung pergi, tanpa mengucap salam tanpa melihat istrinya yang terdiam membeku dengan tangan yang bergetar dan lelehan air mata yang mulai turun dan membasahi kedua pipi dan terjatuh di kerudung yang dia pakai lalu membasahinya.


Deefa ingat benar apa yang Raffan maksud.


Talak, suaminya akan menalak dirinya andai masih saja berkeras mengikuti permintaan sang ibu mertua.


****

__ADS_1


__ADS_2