Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Suasana Tenang


__ADS_3

Baru saja melintas di jalan perkampungan yang menuju rumah Deefa, Raffan sudah merasa sangat damai tenang dan sejuk yang bercampur menjadi satu, udara yang datang langsung dia hirup sebanyak-banyaknya dengan sengaja membuka kaca mobil disebelahnya.


Ketika kendaraan melintasi satu jalan yang di pinggirnya ditumbuhi pohon-pohon membuat pria itu menghentikan laju kendaraan roda empat itu membuat wanita di sampingnya bertanya.


"Kok berhenti?" menatap pada sang suami yang menatap lurus ke depan dari posisi ini perlahan Deefa bisa melihat bibir suaminya tertarik kesamping menyunggingkan senyuman makin membuat dirinya bertanya-tanya, kenapa suaminya tiba-tiba tersenyum? padahal dia sedang bertanya bukannya mengajak bercanda.


"Ingat tidak awal pernikahan kita saat kita disidang oleh keluarga?" tanya Raffan tanpa menoleh pada sang istri yang mengangguk memberi jawaban.


Tentu saat-saat itu Deefa akan sangat ingat, karena itu adalah awal dimana akhirnya mereka bisa saling menyempurnakan pernikahan mereka, sebuah awal permasalahan yang apabila Raffan tidak mau berubah mereka akan berpisah, akan bercerai dengan kondisi tubuh yang sama-sama masih utuh karena mereka yang belum melakukan hubungan sebagaimana yang biasanya suami istri lakukan.


"Aku bawa kamu ke tempat ini kan?" tanya Raffan lagi kali ini melihat pada wanita yang juga sepasang netranya tengah menatap jalan di depan sana, menerawang dengan ingatannya kembali pada malam itu, malam dimana rumah tangga mereka terancam perpisahan.


"Kita berbicara banyak di tempat ini." tutur Deefa ingat jelas mereka hanya berdua saja di tempat yang ketika malam benar-benar sangat sepi sekalipun tempat itu adalah jalanan namun itu adalah jalanan kampung yang akan sepi apabila sudah malam, langit gelap akan membuat para warga kampung lebih senang di dalam rumah mereka ketimbang harus berkeliaran di jalan seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang kota.


"Terus setelah bicara apa lagi?" Raffan menunjukkan senyum mencurigakan, senyum yang menyembunyikan apa yang ada di dalam pikirannya, senyum dengan kedua mata yang memicing.


"Emm." Deefa memulir-mulir ujung kerudung yang melindungi rambutnya dari tatapan mata yang bukan mahramnya.


"Apa?" ulang Raffan kali ini makin memiringkan tubuhnya disertai dengan suara yang terdengar berat dan dalam.


"Habis itu kita pulang." Deefa mengangkat wajah yang tadi serentak menunduk lalu berkata cepat.


Raffan menjengitkan kepalanya yang tergerak mundur beberapa centi kecewa dan terkejut yang bersamaan karena jawaban istrinya tidak sesuai dengan yang dia harapkan.


"Sebelum pulang, pastinya kan setelah bicara kita tidak akan langsung pulang begitu saja, akan ada hal lain yang kita lakukan, mungkin?"


Apa ini? perkataan Raffan semakin membuat Deefa tak mengerti wajahnya juga sudah menjadi merah, sebenarnya Deefa tahu hal apa yang sedang dipertanyakan oleh suaminya itu sangat tahu karena apa yang terjadi pada malam itu adalah yang pertama untuknya sebagai seorang wanita tentu dia tidak akan bisa melupakan pengalaman pertamanya itu, tidak akan mudah terlupa sekalipun dia berusaha melupakannya.


"Haruskah dibicarakan?" tanya Deefa akhirnya ketika merasa sudah tidak bisa lagi berkata-kata untuk mengalihkan pembicaraan tentang malam itu pada topik lain, entahlah dia merasa otaknya buntu tidak bisa berpikir lain malah jadi kembali terbayang apa yang mereka lakukan.


Malam itu hanya sekedar ciuman namun membuat tubuh Deefa bergetar tak karuan dengan jantungnya yang seakan berlomba untuk menjadi pemenangnya ketika untuk pertama kalinya dia dan Raffan akhirnya saling bersentuhan dengan intim.


Ciuman pertama yang akan selalu teringat manjadi bagian dalam hidup seorang Adeefa Ranaya, terkesan lebay namun dia yang tinggal di pesantren tentu hal itu sangat mengesankan untuknya karena dia melakukannya dengan pria yang berstatus sebagai suami, pria yang berhak melihat bahkan menyentuh semua bagian dari tubuhnya, menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya karena hanya Raffan lah satu-satunya pria yang menyentuh dan mampu menggetarkan jiwa dan raganya.


"Aku tidak pernah melupakannya," cetus Raffan disertai dengan senyum yang mengukir di wajah.


Biar bagaimanapun awalnya dia menikah dengan Deefa karena perjodohan dan pada saat itu dia belum memiliki perasaan terhadap Deefa, entah belum memiliki atau memang dia yang belum mau mengakui kalau benih-benih cinta itu sudah hadir di dalam hatinya, yang jelas diapun akhirnya tahu bahwa dirinyalah orang pertama yang memberikan ciuman pada wanita di sampingnya dan akan menjadi satu-satunya, insya Allah karena semua yang dia harapkan tentu saja tetap akan bergantung pada sang pemilik semesta hanya saja dia akan lebih berusaha agar apa yang dia inginkan akhirnya disetujui dan direstui oleh Allah.


"Deefa juga tidak akan pernah bisa melupakan.."


"Karena aku yang pertama dan aku juga yang akan menjadi satu-satunya dalam hidupmu untuk selamanya," ucap Raffan menarik tangan sang istri lalu mengecupnya dengan penuh perasaan menyalurkan getaran yang membuat Deefa menelan saliva.


Raffan mengecup sangat lama seolah tidak akan ada kesempatan lain untuk dia bisa melakukannya, sungguh dia benar-benar sudah terpaut dan tidak akan pernah bergeser ke lain hati, cukup hanya Adeefa Ranaya yang menjadi wanita pengisi hidup sekaligus hatinya tidak ada yang lain, tidak boleh ada yang lain datang mengganggu apalagi sampai merusak kebahagiaan yang akhirnya membuat hidupnya terasa lebih sempurna dari sebelumnya.


"Deefa sangat mencintai Mas Raffan," kata Deefa dengan suara lirih sekaligus bermakna dan sangat berarti untuk pria yang masih larut dengan apa yang dia lakukan.


"Bahkan cintaku lebih besar darimu," sahut Raffan setelah menuntaskan kecupan pada punggung tangan istrinya dan sekarang hanya mengelus punggung tangan tempat dia mendaratkan bibirnya.


"Kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku, jadi apapun yang terjadi tetaplah berada di sampingku, berada di sisiku untuk.."

__ADS_1


Keduanya saling tatap dengan dalam dan lama, saling menyelami apa yang mereka rasakan dan berusaha untuk saling menguatkan serta melindungi ketika badai datang menerpa.


Mobil kembali melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal sebentar lagi, benar-benar sebentar sampai tidak perlu menunggu lama untuk mereka tiba ditujuan.


Tangan kanan Raffan tetap berada pada stir mobil lalu tangan kirinya berpegangan dengan tangan sang istri beberapa kali saling melihat beradu tatapan lalu sama-sama melempar senyum menandakan hati yang tadinya resah mulai menjadi tenang begitu melihat rumah sederhana yang akan mereka tinggali untuk beberapa hari ke depan.


Dari kejauhan Deefa sudah bisa melihat sang ibu yang berdiri di depan halaman begitu mengenali kendaraan milik menantunya membuat dia menghentikan apa yang tengah dia kerjakan.


Deefa menurunkan kaca mobil lalu tersenyum sumringah menatap orang tua yang hanya tinggal seorang, keduanya bahkan sama-sama menatap penuh kerinduan.


"Assalamualaikum," Deefa berjalan cepat menghampiri wanita yang biasa dia panggil Emak.


"Wa'alaikumsalam," jawab wanita tua yang dengan segera dan tanpa ragu gegas memeluk putri satu-satunya, putri kesayangan yang selalu berbakti padanya.


Disaat ini Raffan baru turun dari mobil yang dia parkirkan dengan baik di halaman rumah sang mertua yang masih berupa tanah merah, tentunya jika sudah hujan tanah itu akan menjadi masalah tersendiri untuk mobilnya.


Pria itu menyusul istrinya guna memberikan salam pada sang ibu mertua yang sudah memberikannya seorang istri cantik dan luar biasa berhati baik, "assalamu'alaikum," katanya seraya membungkuk mencium punggung tangan sang mertua.


"Wa'alaikumsalam," menjawab salam yang kali ini diucapkan oleh menantunya.


Sang ibu pun mengajak anak dan menantunya masuk ke dalam rumah.


"Raffan ambil tas dulu Mak," kata Raffan pada ibu mertuanya.


Wanita itupun mengangguk lalu menggandeng anaknya untuk masuk duluan.


Dia memang tidak punya benda bernama handphone untuk berkomunikasi dengan anaknya, tapi biasanya Deefa akan menghubungi Salimah anak dari Kiyai Burhan, menanyakan kabar dirinya pada Salimah.


"Mendadak Mak, kemarin tiba-tiba Mas Raffan ngajak ke sini."


"Raffan? bukannya suamimu itu harus kuliah?" heran sang ibu.


"Iya, tapi udah izin." Deefa mengulas senyum.


"Gimana kabar Emak? baik kan? emak sehat kan?" rentetan tanya dia lontarkan seraya mengelus lengan wanita yang duduk di sampingnya.


"Baik Deef, sehat banget malah kan kalau emak sakit juga biasanya Salimah kasih tahu kamu, lagian tiap sore Salimah datang buat lihat emak," jawab ibunya memberitahukan betapa rutinnya Salimah menengok dirinya setiap hari, kadang membawa makanan serta buah-buahan untuknya sungguh dia sangat beruntung bisa mengenal dan dekat dengan keluarga kiyai Burhan yang sudah menjadikan anaknya seorang anak yang berhati baik.


"Alhamdulillah, syukurlah," ucap Deefa senang mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Kamu bagaimana? bahagia kan? tidak ada masalah?" tanya balik sang ibu.



Deefa tersenyum seraya mengangguk tentu dia tidak akan mungkin bisa menceritakan apa yang sedang terjadi antara dia dan ibu mertuanya, tidak mungkin membuat ibunya itu malah jadi memikirkan dirinya, "baik Mak," sahutnya tenang.



"Alhamdulillah, emak tahu Raffan pasti bisa memberikan kamu kebahagiaan." tutur wanita yang menghela napas lega, baginya kebahagiaan sang anak juga kebahagiaan untuknya dan begitu pula dengan kesedihan sang anak akan jadi kesedihannya juga.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini perasaan emak tidak enak, cemas memikirkan kamu tapi begitu melihat kamu baik-baik saja emak merasa sangat bersyukur," katanya lagi.


Beberapa hari yang lalu sampai tadi pagi pun dia masih merasakan khawatir, perasaan khawatir yang mendadak muncul membuat dia gelisah setiap akan melakukan apapun, tiba-tiba memikirkan anak satu-satunya yang dia sendiri tidak tahu kenapa menjadi sangat khawatir, tapi setelah melihat anaknya baik rasa lega pun langsung menghampiri.



"Deefa kangen banget sama Emak." untuk kedua kalinya memberikan pelukan dan saat memeluk dia diam-diam mengeluarkan air mata lalu segera menghapusnya ketika menyadari suaminya sudah berdiri di depan pintu dan menatap padanya.



Raffan tercenung menatap istrinya yang baru saja mengeluarkan air mata dan tengah dengan cepat menghapus air mata itu, dia itu suaminya tentu dia menjadi sangat peka dengan apa yang dirasakan oleh istrinya.



Raffan menatap nanar wanita yang sudah mengurai pelukan dengan sang ibu, wanita yang kembali tersenyum seolah tidak pernah ada air mata yang wanita itu keluarkan, terus menatap pada istri yang sangat pandai menyembunyikan kesedihannya dari ibu kandungnya sekalipun.



"Mas Raffan." menyebut nama suaminya seolah baru sadar dengan kehadiran pria di ambang pintu itu.



Raffan tersenyum kaku dengan tangan yang mencengkeram erat tas berisi pakaian mereka.



"Deefa buatkan minum dulu," kata Deefa beranjak dari duduknya.



"Biar Emak saja, kalian baru sampai sebaiknya istirahat." sang ibu mencoba melarang akan tetapi dia tahu Deefa tidak akan mendengarkan larangannya yang seperti itu.


Hanya sekedar mengambil minum untuk suaminya tidak akan membuatnya jatuh pingsan kan?


"Hanya ambil minum saja Mak, lagian Mas Raffan itu nggak mau minum kalau bukan Deefa yang ambilkan," canda Deefa melempar senyum pada sang suami.



"Iya kan, Mas?" bertanya pada pria yang lagi-lagi memberikan ekspresi kaku namun kepalanya bergerak mengangguk.



"Tuh kan Emak lihat sendiri." cetus Deefa.


Sang ibu tertawa simpul lalu membiarkan anaknya mengambilkan minum untuk Raffan.


Membiarkan saja toh ini juga rumah mereka dan mereka bebas mau melakukan apa saja yang mereka inginkan, batin sang ibu.


****

__ADS_1


__ADS_2