
Raffan menatap lama pusara sang Ayah, menyentuh papan bertuliskan nama sang Ayah beserta dengan tanggal lahir serta tanggal kematian dan tahun kepergian sang Ayah kepangkuan ilahi.
Beruntung dia belum terlambat, dia masih sempat menyolatkan, mengangkatnya ke pembaringan terakhir lalu mengadzani nya serta melihat wajahnya untuk yang terakhir kali sebelum wajah serta seluruh tubuh pria yang akhirnya perlahan namun pasti semakin tak terlihat akibat timbunan tanah merah yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.
Pria selama bertahun-tahun begitu sangat menyayangi dirinya meski tidak mengatakannya secara langsung semenjak dia menjadi pria dewasa namun segala sikap yang pria itu tunjukkan sudah dengan jelas dapat dia mengerti sedalam apa pria itu memberinya kasih sayang sekaligus cinta pada sang anak yang hanya semata wayang.
Raffan sibuk menyelami kenangan demi kenangan tentang pria yang sudah terbujur di dalam tanah, mengingat bagaimana pria itu yang tak pernah bosan dan akan selalu memberinya nasihat sekalipun tidak dia dengarkan.
"Raffan."
Suara dari pintu masuk pemakaman umum itu membuat Raffan menoleh, tidak hanya Raffan tapi wanita yang sejak tadi dengan setia berada disampingnya pun ikut melihat pada wanita yang baru saja memanggil nama suaminya dengan suara kencang namun terdengar menusuk di telinga.
Sejak tiba tadi Deefa dan Raffan sudah melihat wanita itu terus berada di dekat ibu mereka, menempel bagaikan lem yang sulit untuk di lepas karena merekat dengan kuat.
Wanita itu adalah Raisya, wanita yang memakai pakaian tertutup serta kerudung yang menutupi rambut berwarna kecokelatan yang biasanya tergerai dengan sempurna tanpa ada yang menutupi ataupun menjadi penghalang.
Dalam hati sebenarnya Deefa sudah terus bertanya-tanya tentang bagaimana wanita bernama Raisya yang sempat mengaku sebagai kekasih suaminya itu menjadi sangat dekat dengan ibu mertuanya, berada di samping sang ibu mertua bahkan sesekali memberikan pelukan untuk memberi ketenangan atau sekedar mengusap tangan ibu mertuanya.
Sungguh Deefa merasa iri karena wanita lain yang bahkan dia tahu bukan siapa-siapa dari keluarga suaminya itu menjadi sangat dekat dengan ibu mertuanya entah sejak kapan, sedangkan dia yang menjadi menantu malah layaknya orang asing yang hanya datang bertakziah saja berbicara singkat pada keluarga yang sedang berduka lalu menyingkir duduk seorang diri, bahkan detik saat dia mencoba mendekati ibu mertuanya saat di pemakaman, wanita itu terlihat menggeser menjauh dari dirinya.
Sungguh hati Deefa teriris bukan hanya kehilangan Ayah mertua namun juga karena sikap sang ibu mertua, dia menangis menumpahkan air mata merasa sedih atas Ayah mertua juga dirinya yang mungkin akan menjadi semakin berat dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi sikap ibu dari pria yang sejak tadi sampai sekarang pun berusaha tetap tegar.
"Mas," tegur Deefa kala suaminya hanya melihat saja pada wanita yang memanggilnya lalu kembali menatap papan yang dengan sangat lembut dia elus dengan jari-jarinya menyingkirkan tanah merah yang menempel.
"Biarkan saja," jawab Raffan tak mau peduli pada Raisya yang mungkin sudah meracuni pikiran ibunya.
Meski hanya melihatnya saja Raffan sudah bisa membaca apa yang Raisya lakukan terhadap ibunya, dia tahu wanita macam apa Raisya itu, jelas akan meracuni mempengaruhi ibunya dengan sangat mudah saat ini.
"Ibu panggil kamu Raf, minta kamu buat ke rumah."
Tak disangka Raisya malah berjalan mendekat pada dua orang yang masih berada di pemakaman, di dekat umbukan tanah merah yang bertabur bunga.
Raffan tidak menjawab, dia menganggap tidak ada siapapun selain dirinya meskipun dia dapat mendengar apa yang dikatakan oleh wanita yang memakai pakaian serba hitam dari ujung kepala sampai kakinya.
Seperti benar-benar sedang menunjukkan bahwa hari ini adalah hari berkabung.
"Nanti kami akan ke rumah."
Akhirnya Deefa yang memutuskan untuk berbicara pada wanita yang berdiri di depannya, bersebrangan dengan makam sang Ayah mertua.
"Ibu hanya meminta Raffan untuk datang, jadi kamu tidak perlu datang langsung pulang saja," sahut Raisya dengan wajah ketus tak senang ketika Deefa lah yang menjawab perkataannya.
"Aku akan datang bersama Deefa, kamu tidak punya hak untuk melarang istriku datang ke rumah mertuanya!"
__ADS_1
Raffan yang sejak tadi diam nyatanya menyimpan amarah tidak senang ketika wanita yang tidak ada hubungan dengan keluarganya malah seenaknya melarang istrinya datang ke rumah milik orang tuanya, memangnya siapa Raisya itu? hanya seorang wanita yang mungkin sedang berusaha untuk menjadi duri dalam keluarganya.
"Bukan aku yang melarang, tapi ibu!" sentak Raisya dengan lirikan mata yang tidak bersahabat terhadap wanita yang sejak tadi setia mendampingi pria yang menjadi incarannya, pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya, setidaknya dia harus bermimpi yang baik-baik kan? agar apa yang dia cita-citakan dengan cepat menjadi kenyataan.
"Aku akan datang dengan istriku, jika ibu tidak suka aku juga tidak suka datang ke rumah!" Raffan berkata jelas dan tegas seolah itu adalah sebuah peringatan yang tidak boleh di ganggu gugat oleh siapapun termasuk ibu kandungnya sendiri.
Raisya mendengus membuang napas yang terasa menjadi sangat panas akibat mendengar apa yang Raffan katakan.
"Terserah kamu deh, yang jelas aku sudah memberitahumu untuk tidak membawa wanita ini," menunjuk pada Deefa dengan gaya yang sangat angkuh, sombong dan seperti orang yang tidak mengenal sopan santun sama sekali.
"Sejak semalam ibu histeris menyebut nama Ayah, memanggil kamu juga tapi kamu tidak bisa dihubungi kamu, kata ibu kamu di bawa pergi oleh wanita.." Raisya tidak melanjutkan kata-katanya tapi kedua matanya yang mengarah pada Deefa sudah sangat jelas bahwa perkataan itu tertuju untuk Deefa.
"Aku yang membawa istriku pergi!" Raffan menatap marah pada teman kampusnya yang sekarang menjelma seperti juru bicara ibunya.
"Kamu tidak berhak mengatakan apapun tentang Deefa, tidak memiliki hak untuk ikut campur, memangnya siapa kamu?!" ujar Raffan menjadi lebih sinis lagi.
"Dan satu lagi yang harus kamu ingat.." Raffan menatap tajam wanita di depannya, "jangan pernah memanggil ibu dan Ayah pada orang tuaku!" memberi peringatan, "ayo sayang," katanya menarik tangan sang istri untuk ikut bersamanya.
Jelas dia akan tetap membawa Deefa pulang ke rumah orang tuanya, menemui ibunya karena diapun bermaksud baik untuk menemani wanita itu agar tidak sendirian dan kesepian di rumah yang sekarang mungkin masih ada beberapa sanak saudara mereka yang menemani.
"Gue mau ke rumah ibu, kalian ikut?" tanya Raffan pada temannya yang memang masih berada di tepian jalan tempat pemakaman umum itu.
Teman-temannya itu jelas menemani Raffan, turut berduka cita karena mereka juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang Raffan alami, mereka cukup kenal dengan ustad Imran, meski kadang mereka memang kerap dipusingkan dengan ceramahan dari Ayah temannya itu namun itu tetap tidak mengurangi rasa hormat mereka dan mungkin akan menjadi kenangan tersendiri karena berkurang satu orang yang biasanya memberikan mereka ceramah saat tak sengaja berbuat kesalahan.
Raffan mengangguk lambat, "terimakasih ya kalian udah mau nemenin ibu gue saat gue nggak ada," kata Raffan tulus mengucap terimakasih karena saat dirinya belum tiba di Jakarta teman-temannya itulah yang sibuk berjalan ke sana-kemari mengurus semua keperluan untuk pemakaman Ayahnya, termasuk juga menemani ibunya ketika para saudara belum datang.
"Orang tua Lo orang tua kita juga, jadi nggak usah berterimakasih segala." Agam menepuk bahu Raffan yang untuk sekian kalinya menyesal karena sempat menganggap Agam sebagai saingan, setelah mendengar dan menyaksikan bagaimana sikap temannya itu sungguh makin membuatnya merasa tak enak hati.
"Cepat Raffan!" Raisya yang ternyata masih ada disekitaran pemakaman itu berseru meminta Raffan untuk lebih cepat, dia itu sudah tidak tahan berada di tempat yang kata orang-orang menyeramkan, tentu saja karena di bawah tanah sana banyak sekali jasad yang bersemayam.
"Gue nggak ngerti kenapa sejak kemarin tuh siluman ular terus menempel pada ibu Lo." Rio menatap tak suka pada Raisya yang sudah berdiri di depan mobil berwarna hitam miliknya.
Raffan mengedikkan bahu, dia juga masih belum mengerti sejak kapan ibunya itu dekat dengan Raisya, yang dia paham saat ini adalah Raisya sudah mulai meracuni ibunya.
"Sepertinya sudah bukan ular lagi, tapi lintah yang menghisap darah," dengus Gumay melirik tajam pada wanita yang balas melihatnya dengan tak kalah garang.
__ADS_1
Agam mengingatkan pada Gumay dan Rio untuk tidak lagi berbicara, agar tidak membuat Raffan makin panas nantinya.
"Kalau gitu kita pamit Raf, deef." Agam melihat pada Deefa yang sejak tadi berdiri di dekat suaminya tanpa mengeluarkan sepatah katapun hanya raut wajah dan matanya saja yang memperlihatkan kesedihan.
"Iya," sahut Raffan.
"Assalamualaikum," kata mereka berbarengan.
"Wa'alaikumsalam."
Raffan melihat temannya masuk ke dalam mobil yang sama, itu artinya mereka datang bersamaan.
"Kamu nggak bareng aku?" Raisya menghadang Raffan Raffan yang akan naik ke mobil.
"Gue sama istri gue," jawab Raffan dengan nada yang ketus sama sekali menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan wanita yang sejak tadi seolah sangat berkuasa atas dirinya.
Raisya mendengus lalu berdecak dan dengan berat hati serta dongkol yang melanda diapun berjalan cepat kembali pada mobilnya.
Bruk!
Membanting pintu melampiaskan ketidaksukaannya terhadap wanita yang sekarang duduk di samping Raffan.
\*\*\*\*
__ADS_1