
Deefa sudah duduk berhadapan dengan kedua mertuanya, wanita itu terus menunduk tanpa bisa berkata-kata melihat pindaian mata orang tua dari suaminya yang terus menatap dirinya.
Entahlah tatapan semacam apa yang sekarang Deefa dapatkan, yang jelas sejak tadi dia bisa mendengar tarikan napas yang begitu berat menelisik telinganya.
Sudah hampir 30 menit mereka melakukan itu, yang sesungguhnya Deefa tidak cukup mengerti kenapa tiba-tiba mertuanya itu datang berkunjung se sore ini, setelah kemarin mendapat telepon dari Umi di Jawa timur yang menanyakan kabar dirinya.
"Raffan masih sering pulang malam Deef?"
Akhirnya keheningan pun terhenti ketika ibu mertuanya bertanya.
Deefa mengangkat wajahnya guna melihat pada ibu mertua yang menatap teduh padanya, "tidak Bu, beberapa hari ini Mas Raffan pulang sore," sahutnya dengan tangan yang meremas ujung kerudung yang menjuntai di pangkuannya.
"Benarkah?" kali ini Ayah mertuanya angkat bicara, seperti tidak percaya dengan yang Deefa katakan karena memang dia tahu bagaimana anaknya itu.
Deefa mengangguk meski lambat namun yakin karena memang apa yang dia katakan benar, selama beberapa hari ini semenjak dia tidak lagi mengajar Raffan memang pulang sore, entah karena keinginan pria itu atau memang hanya untuk mengawasi dirinya.
"Raffa sudah sedikit lebih baik Yah, tapi ibu bingung kenapa Kiyai Burhan minta kita buat datang ke pesantren untuk membicarakan pernikahan Raffan dan Deefa," ucap ibu melihat ke arah suaminya yang tengah mengangguk menyetujui pernyataannya barusan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya barusan membuat Deefa bergantian menatap kedua mertuanya penuh tanda tanya.
Ke ke pesantren? Kiyai Burhan meminta mereka untuk ke pesantren, sedangkan kemarin Umi tidak mengatakan apapun hanya menanyakan apakah dia bahagia.
Deefa pun menahan napas saat mengerti maksud dari pertanyaan istri dari pemilik pesantren kemarin.
Pertanyaan itu tentu memiliki maksud tersendiri, pasti ada sesuatu yang mereka ketahui.
Pemikiran Deefa masih berkutat sekitar permintaan kiyai Burhan pada mereka untuk datang ke Jawa timur, saat suara mesin mobil berhenti di depan pagar yang tertutup, lalu kemudian dia juga mendengar suara pagar yang tengah di buka.
Tidak perlu di lihat pun Deefa sudah tahu kalau yang datang itu adalah suaminya.
Suaminya yang sejak tadi sudah di tanyakan oleh mertuanya.
Raffan memperhatikan mobil yang terparkir di garasi rumahnya membuat mobilnya tidak bisa masuk, itu karena garasi yang memang hanya bisa menampung satu mobil mungkin jika motor masih bisa masuk.
"Mobil Ayah," ucapnya.
"Ada mobilnya berarti ada orangnya tumben kesini," sambungnya seraya keluar dari mobil.
Dia melangkah dengan derap yang tenang bahkan sepatu kets yang membalut kakinya seperti tidak mengeluarkan suara kala menghentak lantai.
Deefa beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
"Tumben bukakan gue pintu, udah nggak ngambek?!" lontaran sindiran langsung sukses membuat Deefa mengucap maaf.
"Maaf."
Sebagai seorang istri tentu dia berdosa karena sudah mendiamkan suaminya itu, tapi mau bagaimana lagi meski seorang yang mengerti agama tapi nyatanya dirinya hanya manusia biasa yang akan sakit hati apabila di perlakukan seenaknya oleh pria yang harusnya memberikan contoh padanya.
Meski bagaimanapun pria labil berusia 19 tahun itu tetaplah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk membahagiakan serta memberi kenyamanan bagi istri yang bahkan fotonya bersampingan di buku nikah.
"Heh? minta maaf karena takut gue adukan sama mereka?" dengus Raffan yang malah seperti anak kecil mengancam akan mengadukan temannya karena sudah menjahati dirinya.
"Wa'alaikumsalam."
Suara dari sang Ayah membuat Raffan menggaruk tengkuknya, astaga dia belum mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum, Ayah dan ibu sudah lama?" katanya berjalan menuju orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa begitu pelan setara bisikan.
"Hampir satu jam," jawab sang ibu saat sang anak tengah mencium punggung tangannya.
"Duduk kamu!" pinta Ayahnya dengan tegas kala Raffan baru selesai mencium tangan.
__ADS_1
"Kamu juga duduk Deefa." sekarang berbicara pada menantunya tapi dengan suara yang lembut, berbeda sekali ketika berbicara dengan anaknya sendiri.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Raffan melihat Ayah dan ibunya bergantian, jelas dia menangkap ada sesuatu yang tak beres sekarang ini.
Melihat satu persatu raut wajah orang tuanya yang tiba-tiba berada di rumahnya tanpa memberi kabar dahulu padanya kalau mereka akan datang.
Meskipun sangat wajar jika orang tua mengunjungi anaknya, tapi rasanya agak sedikit lain karena diakan sekarang sudah tinggal di rumah yang berbeda dan bisa saja saat mereka datang dia dan istrinya sedang tidak berada di rumah apa itu tidak akan membuat mereka kecewa karena rumah yang kosong.
"Ayah yang seharusnya bertanya padamu Raffan," kata Pria yang rambut putihnya sudah mendominasi.
Ah, sepertinya pria itu terlalu banyak berpikir hingga uban tumbuh subur di kepalanya.
Raffan mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan sang Ayah.
"Kenapa sih Bu?" sekarang memilih bertanya pada ibunya yang setia duduk di samping sang suami.
Namun ibunya itu malah menggelengkan kepalanya, tidak menjawab malah menatap dirinya seperti tengah mencari sesuatu yang entah apa.
"Kalian, terutama kamu Raffan sebenarnya menjalani rumah tangga ini bagaimana?" tanya sang Ayah.
"Lah menurut Ayah gimana? Raffan sudah menjalani apa yang harus Raffan jalankan sebagai seorang suami, Raffan penuhi semua kebutuhan Deefa," sahut Raffan.
"Kebutuhan apa? kalau sekedar untuk makan Ayah rasa Deefa pun bisa memenuhinya sendiri, harusnya kamu ingat seorang istri bukan hanya perlu makan, tapi juga butuh kebahagiaan yang harusnya kamu penuhi, kebahagiaan istrimu juga menjadi tanggung jawab kamu Raf, asal kamu tahu!"
"Apa sih, kok tiba-tiba Ayah jadi ngomongin masalah kebahagiaan," dengus Raffan tak suka.
"Semalam Kiyai Burhan menghubungi Ayah, kamu tahu apa yang dia katakan pada Ayah?"
"Ya mana Raffan tahu, kan dia ngomongnya sama Ayah," sungut Raffan kesal dengan pertanyaan sang Ayah, entahlah kenapa dia menjadi sensitif begini.
"Kiyai Burhan berpikir kalau Deefa tidak bahagia," tutur ustad Imran.
"Lo ngomong apa sama mereka?" desis Raffan.
Tentu saja dia akan menuduh Deefa mengadu pada mereka tentang sikapnya selama ini, hanya mereka berdua yang tahu tentang rumah tangga ini.
Dan Deefa lah yang merasakan seperti apa dirinya.
"Deefa tidak bilang apa-apa Mas." suara Deefa terdengar lirih karena saat ini Raffan seakan menuduhnya.
"Meski Deefa tidak mengatakan apapun sebagai orang tua sedikit banyak mereka pasti merasakan apa yang Deefa rasakan," ujar ibunya yang sejak tadi mendengarkan.
"Lo ngadu, ya udah gue juga bakal ngadu soal kelakuan Lo!" ancam Raffan masih saja tidak percaya.
"Deefa sungguh tidak mengatakan apapun pada kiyai Burhan dan juga Umi Mas demi Allah," jelas Deefa bahkan sampai bersumpah agar Raffan percaya.
"Bodo amat! nggak peduli gue!" ketus Raffan.
__ADS_1
"Nih ya Ayah dan ibu mesti dengerin Raffan, dia nih." menunjuk Deefa, "tiap pulang ngajar di antar sama Agam, setiap hari bahkan marah sama Raffan sampai tidak menegur Raffan berhari-hari, menantu pilihan Ayah dan ibu nyatanya tidak sebaik penampilannya," kata Raffan menatap Deefa dengan sangat tajam.
"Nggak usah nangis!" sentak Raffan kala mendapati air mata di kedua mata Deefa sudah meluncur membasahi wajahnya.
"Maafkan Deefa jika Mas tidak ridho dengan apa yang Deefa lakukan, Deefa sudah berusaha untuk menolak tapi tidak bisa karena Agam memaksa, Ayah ibu sungguh Deefa minta maaf sama kalian karena sudah mengecewakan," lirih Deefa tak kuasa menahan sesak yang dia rasakan.
Hayati menghambur memeluk sang menantu berusaha menenangkan menantunya yang malah makin terisak.
"Ya Allah Raffan!" Hayati tentunya turut merasakan apa yang dirasakan oleh menantunya saat ini.
Raffan tersentak mendengar suara ibunya yang sedikit berteriak.
"Sudah Deefa, sudah," kata mertua yang sedari tadi memeluknya serta membiarkan kerudung besar yang dia pakai basah dengan air mata.
Sedangkan ustad Imran memejamkan kedua matanya lalu menghembuskan napas yang begitu berat.
Sepertinya menikahkan anaknya bukan pilihan yang tepat, nyatanya anaknya itu kini malah menyakiti wanita yang menjadi istrinya.
Wanita pilihannya yang dia tahu berakhlak baik ternyata juga tidak bisa merubah perilaku anaknya itu.
"Deefa," panggil ustad Imran.
Dengan suaranya yang serak Deefa menjawab.
"Kemasi semua pakaianmu, kita akan berangkat ke pesantren sekarang juga, maaf kalau Ayah dan ibu sudah membuatmu menikah dengan Raffan," ucap ustad Imran dengan rasa bersalah yang tersirat jelas dari matanya.
"Hah? maksud Ayah apaan?" Raffan sedikit tidak suka dengan permintaan Ayahnya itu.
Meminta Deefa mengemasi pakaian lalu ke pesantren, apa dia tidak salah dengar?
"Kiyai Burhan meminta kita ke pesantren," sahut sang Ayah.
"Iya ngapain? terus buat apa Deefa harus bawa baju?" tanya Raffan menatap sang Ayah dengan gurat cemas yang terpancar.
"Cepat Deefa." ustad Imran tak menjawab malah meminta Deefa yang masih belum beranjak untuk segera melakukan apa yang tadi dia katakan.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1