Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Merah Yang Sempurna


__ADS_3

Raffan yang tadinya sedang bersenandung mendengarkan musik langsung menghentikan apa yang dia lakukan ketika mendengar suara pintu akan di buka, dia memilih duduk menghadap jendela yang sengaja dia buka membiarkan angin malam masuk ke dalam kamar, membelakangi pintu yang perlahan terbuka.


Raffan masih menunggu dengan porsi marah yang dia atur sedemikian rupa, hanya drama jadi Raffan membiarkan bibirnya bergaris menunjukkan senyum kala suara langkah kaki yang begitu lambat mendekati dirinya.


"Mas."


Seperti biasa Raffan akan mendengar suara lembut dan mendayu milik sang istri seolah mengundang jiwa liarnya untuk menerkam, tapi dia masih harus menahan diri, tidak boleh gegabah atau drama marahnya akan langsung terbongkar.


"Tidur Deef," katanya dengan nada datar namun Deefa menangkap ada rasa kesal yang tersimpan karena dia yang tadi menolak permintaan sang suami, Deefa benar-benar sangat polos di usianya yang lebih tua dari suami berandal nya itu.


"Deefa mau nyenengin Mas Raffan."


Dan jawaban Deefa lantas membuat Raffan makin melengkungkan bibirnya, mangsa sudah masuk dalam kandang seekor buaya darat nan buas begitulah yang patut di gambarkan antara Deefa dan Raffan saat ini, Deefa mangsa yang termakan tipu daya muslihat dari Raffan yang seekor buaya darat.


"Nggak usah di paksa kalau nggak mau, segala sesuatu yang terpaksa itu tidak baik."


Lihatlah sekarang Raffan malah sok berkata bijak seolah dia manusia berbudi luhur yang tidak pernah suka dengan keterpaksaan, padahal dengan dramanya ini dia sudah memaksa anak orang.


Deefa menggeleng lalu menyentuh bahu pria yang sedari tadi tidak mau melihat padanya, menyentuh dengan sedikit gerakan meminta pria itu untuk melihat padanya dan Raffan pun menurut dia memutar kepala guna melihat pada sang istri yang langsung membuat mulut Raffan menganga dengan mata tak berkedip.


"Merah yang sempurna," racaunya kala Deefa mengenakan lingerie warna merah menyala dengan bahan tipis transparan dengan belahan dada yang sangat lebar dan panjang bawah yang hanya mampu menutupi sampai pertengah pahanya saja.


Deefa malu mendengar ucapan spontan yang suaminya lontarkan, sungguh dia jadi tidak bisa diam dengan kedua tangan yang bingung harus menutupi tubuh bagian mana, bawah dan atas sama-sama terbuka dan dia sangat tidak terbiasa.


"Jangan di tutup, kan cuma aku yang lihat," larang Raffan menahan kedua tangan istrinya agar tidak lagi berusaha menutupi seluruh aurat yang halal untuk dia lihat.


Raffan berdiri lalu memutar-mutar tubuh Deefa untuk melihat betapa sempurnanya semua yang istrinya itu miliki, kulit kuning Langsat khas wanita Asia sungguh terlihat berkilau saat mengenakan lingerie berwana merah menyala itu.


"Deefa pusing," kata Deefa yang akhirnya membuat Raffan berhenti lalu tersenyum dan memeluk tubuh sang istri.


"Aku suka kamu kayak gini, tiap malam kayak gini terus ya," bisik Raffan.

__ADS_1


Raffan makin melunjak saja rasanya, dituruti sekali malah minta berkali-kali membuat Deefa menggigit bibirnya membayangkan setiap malam dia harus berpakaian seperti ini, apa tidak akan masuk angin nantinya?


Melihat dan menyentuh istrinya seperti ini sudah membuat Raffan kehilangan kendali, tanpa izin lagi dia langsung melakukan penyerangan dengan sangat brutal, menyerang dari segala penjuru melumpuhkan lawan yang tidak berdaya dan hanya mampu mengeluarkan deru napas serta mata yang sulit terbuka.


"Maaas," Deefa mencoba untuk menghentikan pria yang sedang kalap dengan dirinya itu, menjauhkan kepala yang masih terus merangsek mengincar leher bagian bawahnya.


"Apa sayang, kamu bisa diam saja tidak? ini kesenangan aku, katanya mau nyenengin suami." cetus Raffan dengan suara yang berat namun wajahnya tetap menghadap pada bagian tubuh sang istri yang membuat bagian tubuh lainnya berdenyut tak tenang.


"Baca doa dulu," kata Deefa lirih dengan napas yang pendek-pendek karena ulah suaminya.


"Oh iya, aku lupa," ucap Raffan yang memang lupa, merah yang begitu sempurna membuat Raffan lupa akan doa yang harus dia panjatkan sebelum menggeluti istrinya, pria itupun segera membaca doa dan menyelesaikannya dengan cepat.


Lalu kembali menyerang layaknya banteng saat melihat kain berwarna merah, sungguh sangat bernafsu mengincar lawannya.


Deefa tak bisa menghindar dari banteng bernama Raffan yang sekarang mengangkatnya bagaikan memanggul karung beras seraya menepuk bagian belakangnya dengan pakaian dalam yang mengintip, jika bukan demi suaminya dia tidak akan pernah mau memakai pakaian tak sempurna ini.


Raffan mendudukkan Deefa di tepi tempat tidur sedangkan dia berjongkok di depan kedua kaki wanita yang wajahnya yang sudah bersemu merah.


"Jendelanya belum di tutup," kata Deefa merapatkan kedua kaki yang hendak di buka oleh Raffan.


Dengan kasar dan gerakan tak sabar Raffan mengunci jendela lalu menarik gorden melebihi batang penyangganya membuat gorden jadi rusak.


"Rusak Mas," kata Deefa yang melihat gorden rusak oleh suaminya.


"Besok aku benerin," cetus Raffan.


"Aku sudah siap gelut jadi jangan banyak omong lagi!" peringat Raffan pada sang istri yang pasahal tidak mengatakan apapun lagi hanya sedang duduk dengan kaki menyilang, berusaha menyembunyikan bagian tubuh yang akan jadi incaran suaminya.


Raffan pun menunduk lalu menarik kepala sang istri guna menghadiahi kecupan di seluruh wajah istrinya yang bimbang untuk melakukan perlawanan saat Raffan benar-benar tidak membiarkannya untuk melawan.


__ADS_1


Wanita itu kini hanya bisa membiarkan saja suaminya melakukan hal yang dia sukai, membiarkan tubuhnya menjadi obyek untuk menyenangkan sang suami yang sekarang sudah berlutut di depannya bersiap dengan pergelutan selanjutnya.



\*\*\*\*\*



"Gue nggak bakal biarin si Raffan!" Marco terlihat begitu marah mengingat apa yang Raffan perbuat padanya tadi sore.



Mempermalukan seorang Marco di depan umum akan membuat Raffan membayar apa yang sudah dia perbuat.



"Jadi mau kapan?" tanya Denis, dia akan sangat siap jika Marco membalas Raffan, tadi sebenarnya dia sudah sangat ingin memberi pelajaran pada Raffan tapi keamanan sudah keburu datang dan memisahkan mereka.



"Atur aja balapan sama dia," kata Marco seraya menenggak habis minuman kaleng miliknya lalu meremas kaleng itu hingga penyok tak berbentuk.



"Balapan doang?" tanya Arga tak percaya, bukankah Marco selalu kalah balapan dengan Raffan jadi kenapa malah memilih balapan untuk membalas perbuatan Raffan, bukankah itu hanya akan membuat Marco malu nantinya karena bisa dipastikan Marco akan kalah.



"Raffan emosian, kita pancing sedikit biar emosinya meluap," cetus Marco dengan senyum licik sebab di dalam kepalanya sudah ada rencana yang dia pikirkan dengan baik untuk membuat Raffan menyesal sudah memukuli dirinya.


__ADS_1


Denis dan Arga bisa mengerti dengan senyum yang Marco tunjukkan, mereka langsung saling melihat lalu tertawa bersama.


******


__ADS_2