Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Raffan Jadi Anak Baik


__ADS_3

Raffan baru saja membereskan satu motor milik pelanggan bengkelnya, sebenarnya pria yang service itu juga kerap kali menjadi lawannya dalam balapan.


"Lo udah nggak balapan lagi Raf?" tanya si pemilik motor yang sudah sangat kenal dengannya, yah karena mereka juga kerap bertemu di jalur balapan dan saat pria bernama Redi itu memperbaiki motornya.


"Raffan udah jadi anak baik baik sekarang," kelakar Rio menjawab pertanyaan yang bukan untuknya.


"Lah berarti Lo bukan anak baik dong?" Redi balik menanyakan tentang pria yang sudah menjawab pertanyaan yang dia ajukan untuk Raffan.


"Yeeuuh gue mah anak baik-baik setiap saatnya," aku Rio yang membuat Gumay menggerakan bibirnya mengejek.


"Anak baik dari kolong jembatan!" sungut Gumay yang sekarang mencari lawan baru.


Biasanya kan dia itu selalu saja berperang mulut saling sahut-menyahut dengan Raffan, tapi berhubung Raffan sudah tidak lagi seperti dulu membuat dia berubah haluan ke temannya yang lain, dan pilihannya pun jatuh pada Rio yang mulutnya tak kalah ceplas-ceplos seperti dirinya.


"Eh Lo kan jadian sama Fara, Lo nggak mau traktir kita-kita apa?" baru ingat bahwa ada tentang Gumay yang berpacaran dengan Fara belum diketahui oleh Raffan dan juga Agam.


"Bacot amat nih orang!" sungut Gumay melirik pada Raffan yang dia pikir akan memberikan tatapan permusuhan.


Yah biar bagaimanapun dia tahu bagaimana dulu Raffan yang mengejar Fara, mendekatinya begitu intens sampai akhirnya jadian, meskipun sudah kandas tapi dia merasa tidak enak juga karena memacari mantan dari temannya.


Tak di sangka Raffan malah tidak menghiraukan, pria itu malah asik berbicara dengan Redi yang juga tengah cerita mengenai motornya.


"Ngapain Lo malah ngelirik-lirik Raffan?!" Rio bertanya ketika menyadari ujung mata Gumay yang melirik pada teman mereka.


"Nggak enak sama si raja drama," papar Gumay berkata sangat pelan.


"Gue udah nggak banyak drama lagi!" tak disangka Raffan mendengar perkataan Gumay yang padahal sudah dikatakan sepelan mungkin agar tidak didengar temannya itu.


Mata Gumay membulat, jawaban Raffan seperti hembusan angin yang memberikan udara sejuk tak terkira, membuatnya sedikit tak percaya tapi kemudian merubah ekspresi wajah yang tadi agak tegang menjadi binaran penuh cahaya bintang.


"Lo nggak masalah gue jadian sama Fara?" tanya Gumay dengan intonasi yang sedikit tinggi, mungkin tidak kuasa untuk mencurahkan kebahagiaan karena akhirnya hubungannya dengan Fara tidak akan menjadi masalah antara dia dan Raffan.


"Lah emangnya kenapa? gue kan nggak ada urusan Lo mau pacaran sama siapa juga, sama anak monyet juga fine-fine aja gue mah, asal jangan sama istri gue, habis Lo gue hantam!" celoteh Raffan sudah bisa berbicara banyak lagi meskipun tidak sebanding dengan Raffan yang dulu.

__ADS_1


Agam menggeleng lalu sedikit mengulas senyum melihat Raffan berinteraksi dengan teman-temannya lagi, tidak seperti beberapa hari yang lalu, Agam pun jadi merasa senang melihatnya.


Gumay pun dengan lebay nya malah memeluk Raffan dengan sangat erat, pelukan yang terasa bagaikan siksaan bagi Raffan karena Gumay melakukannya dengan sangat gila, mendekapnya seolah bukan ingin meluapkan kebahagiaan tapi malah seperti orang yang ingin meremukkan tulang belulang temannya.


Raffan pun segera menyingkirkan kedua tangan Gumay yang membuatnya merasa geli, "jauh-jauh dari gue!" mendorong sang teman menjauh dari tubuhnya.


"Nah harus di jauhin emang Raf, gue ngeri Lo berdua malah jadi hombreng nantinya," kelakar Gerry lalu melayangkan tatapan sarat akan rasa jijik yang luar biasa terlebih lagi ketika Gumay malah cengengesan tanpa dosa.


"Dulu aja berantemnya nggak ketulungan sampai mulut pada maju berdua kalau udah ngoceh nggak ada yang mau ngalah, nah sekarang malah cinta-cintaan, hidup memang semembingungkan itu ternyata, ckckck," celoteh Rio berdecakan seraya menggelengkan kepala tentang apa yang sudah terjadi.


Rasanya tidak menyangka saja Gumay dan Fara malah jadian, sedangkan dulu tiap kali bertemu bagaikan kucing dan tikus bertempur bak musuh bebuyutan yang tidak akan bisa damai nyatanya sekarang bukan hanya damai melainkan berpacaran, bukankah itu sangat luar biasa yang benar-benar di luar perkiraan siapapun.


"Yang jomblo tolong diam, tidak usah berisik berceloteh tak jelas, protes pun tiada guna," sahut Gumay mengatai Rio jomblo, sepertinya dia itu lupa kalau saat dia mengatai Rio jomblo yang akan tersinggung bukan hanya Rio saja melainkan juga Gerry dan Agam yang sekarang pun mendengus kesal dengan ucapannya.


"Lo ngatain Rio tapi nyiprat juga ke gue sama Agam! Lo berdua berantem-berantem aja tapi jangan bawa-bawa orang!" semprot Gerry yang telinganya langsung gatal kala mendengar kata jomblo yang Gumay katakan.


Gumay mengacungkan kedua jarinya, "piiss, nggak sengaja, hehe." nyengir tanpa dosa dan begitu entengnya langsung berjalan keluar untuk mengambil helm motornya begitu melihat langit malam menurunkan air hujan.


"Gue mau balapan malah batal dah ini," tutur Redi yang memang akan melakukan balapan malam ini maka dari itu dia mengecek kondisi motornya agar tidak bermasalah.


"Balapan Mulu Lo tong, mendingan juga nguli," cerocos Gumay seraya membawa helm nya.


"Orang gila, nggak usah dengerin," timpal Rio pada Redi yang memamerkan deretan giginya saja, meski tidak dekat dengan teman-temannya Raffan tapi dia tahu sekonyol apa yang namanya Gumay itu, dia juga tidak ambil pusing dengan omongan Gumay barusan.


****


Deefa memayungi kepalanya dengan tas berisi pakaian miliknya ketika sampai di rumah.


Pagar yang masih di gembok membuat Deefa yakin kalau suaminya belum pulang ke rumah, "padahal sudah jam setengah 9, aku kira dia tidak ke bengkel," gumam Deefa seraya membuka gembok dengan kunci cadangan, beruntung dia membawa kunci-kunci cadangan di rumah itu jadi saat pulang tanpa pemberitahuan pada suaminya dia tetap bisa masuk ke rumah.


Niatnya itu memang memberi kejutan pada sang suami jadi wajar kalau suaminya tidak berada di rumah karena memang tidak tahu kalau istrinya itu akan pulang hari ini, toh Deefa juga tidak mengatakan apapun saat Raffan menghubunginya tadi subuh.


Hujan masih turun dengan deras membuat pakaian yang Deefa pakai sebagian sudah basah terkena air hujan saat dia berusaha membuka gembok pagar.

__ADS_1


Begitu pagar terbuka Deefa langsung bergegas lari menuju rumah, berdiri di teras mengibaskan pakaiannya yang terkena air hujan lalu memasukkan kunci ke tempatnya dan membuka pintu.


"Assalamualaikum." mengucap salam sekalipun tidak ada siapa-siapa di dalam rumah, hanya kegelapan yang menyambut sebab lampu yang belum dinyalakan.


Memangnya siapa yang akan menyalakan lampu kalau yang punya rumah saja selesai kuliah langsung pergi ke bengkel tanpa pulang lebih dulu ke rumahnya.


Tangan Deefa meraba-raba mencari stop kontak untuk menyalakan lampu, rumah itu benar-benar gelap hingga membuat kakinya tak sengaja menyenggol sofa padahal dia sudah berjalan sangat hati-hati, meraba-raba pada gelapnya ruangan agar tidak menyenggol benda apa saja di ruangan itu.


Cetrek!


Lampu sudah menyala dan ruangan pun menjadi begitu terang bahkan sekarang malah membuat mata Deefa mengecil karena silau, dia harus beradaptasi dulu dengan cahaya lampu itu padahal tadi gelap gulita dan sangat kontras pada saat dia masuk.


Deefa gegas naik ke tangga menuju kamar yang sudah sangat dia rindukan, membuka pintu dan tersenyum senang karena akhirnya dia bisa kembali tidur di tempat tidur yang sama dengan suaminya.


Wanita itupun harus segera mengganti bajunya takut malah akan masuk angin karena dia sempat terkena air hujan tadi.


Setelah mengganti baju diapun kembali turun lalu mengambil kantong berisi makanan yang sudah dia beli dan berniat untuk menghangatkannya agar nanti suaminya pulang makanan itu tidak dingin.


"Tapi Mas Raffan pulang jam berapa?" kebingungan sendiri karena tidak tahu kapan suaminya itu akan pulang.


"Kalau pulang tengah malam gimana? nanti malah nggak enak makanannya," berbicara seorang diri, "apa telepon aja?" bertanya-tanya lagi.


Deefa menimbang antara menelepon suaminya atau tidak dengan handphone yang berada di tangannya seolah sudah siap andaikata dia memang ingin menghubungi suaminya itu dan memintanya pulang.


Akhirnya setelah berpikir lama dia pun memtuskan untuk menghubungi sang suami, tidak mau kalau makanan yang sudah dia beli malah tidak termakan nantinya.


Menekan kontak suaminya lalu menempelkan benda yang tengah menjalankan tugasnya itu ke telinga, sesaat wajahnya menjadi sulit di tebak ketika nomor suaminya tidak kunjung bisa dihubungi, tidak tersambung bahkan nomor sang suami tidak aktif.


Raut wajah yang tadinya senang dan tak sabar untuk bertemu dengan Raffan malah berubah menjadi sedikit cemas dengan sangat cepat.


Saat seperti ini dia malah jadi ingat dengan apa yang dikatakan oleh Raisya tadi saat mereka bertemu di rumah makan.


***

__ADS_1


__ADS_2