
Deefa sudah mulai mengemasi beberapa pakaiannya yang memang dia bawa dari Jakarta memasukkannya ke dalam tas.
Sekarang ini sudah jam 7 pagi dan dia memutuskan untuk berangkat pada jam 10 nanti, berangkat ke Jakarta menggunakan kereta untuk bisa menemui yang tercinta, suami yang mulai mengganggu isi kepala dan hatinya karena dia yang betapa merindu.
"Beneran nggak mau telepon Raffan dulu?" sang ibu yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuat Deefa menghentikan gerakan tangannya yang akan melipat kerudung miliknya.
Deefa menggeleng lalu mengulas senyum kecil namun terlihat sangat sumringah, sepertinya dia sudah sangat bertekad untuk memberikan kejutan pada suaminya, bahkan saat tadi sebelum subuh Raffan menelepon pun dia tidak ada membahas tentang kepulangannya ke Jakarta.
"Deefa kan sudah beberapa kali bolak-balik Jakarta Jawa timur, Jawa timur Jakarta udah hafal juga alamat rumah yang di Jakarta," beber Deefa meyakinkan sang ibu yang masih sama seperti kemarin, yaitu sangat amat khawatir bahkan berulang kali bertanya dan mengatakan untuk menghubungi Raffan agar datang menjemput.
"Tapi kan selalu sama Raffan, naik mobil juga ini pertama kalinya loh kamu naik kereta ke Jakarta," tekan ibunya mengingatkan sang anak yang sekarang kembali bergerak menggeser tas yang sudah rapi dan akan menemaninya perjalanan menuju Jakarta.
Ibunya benar ini pertama kalinya dia melakukan perjalanan panjang dengan menggunakan kereta, meskipun dulu saat masih remaja dia dan Salimah pernah naik kereta tapi tidak sejauh ini.
"Insya Allah Deefa bisa Mak, ada Allah yang akan jaga Deefa, Emak enggak usah cemas ya," pinta Deefa kepada wanita yang mulai malam nanti akan tidur sendirian saja di rumah sedangkan dia akan kembali bertemu dengan pria tercinta.
Sang ibu menghela napas panjang, rasa cemas gelisah khawatir jelas masih dia rasakan mau bagaimana pun Deefa berusaha menenangkannya tetap saja rasa khawatir itu mengumpul di dalam hatinya mengingat ini pertama kalinya anaknya pergi keluar kota sendirian saja tanpa ada yang menemani, takut hal yang tidak diinginkan terjadi, tapi dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata anaknya itu sangat sulit untuk diberitahu, sangat sulit untuk menurut ketika dia sudah punya keinginan, sekarang ini yang dia bisa ya berdoa meminta kepada sang pengatur takdir untuk memberikan takdir yang baik bagi anaknya.
Akhirnya dengan berat hati wanita tua itu mengangguk tapi tidak lupa untuk memberikan pesan demi pesan kepada sang anak.
"Kalau misal ada apa-apa langsung hubungi Raffan," tekan sang ibu dengan suara yang tegas dan menuntut agar untuk hal yang barusan dia katakan anaknya itu mau menurut dan akan terus mengingatnya.
Deefa mengangguk cepat lalu memeluk wanita yang tubuhnya sudah semakin kurus, efek tidak nafsu makan beberapa hari setelah kepergian suaminya.
"Sebenarnya Deefa ingin Emak ikut sama Deefa, tinggal di Jakarta toh di rumah sana hanya ada Deefa dan Mas Raffan nanti kalau insya Allah Deefa hamil kan ada emak yang bantuin terus temenin Deefa biar nggak kesepian saat Mas Raffan pergi kampus dan ke bengkelnya," tutur Deefa mengenai keinginan serta hadapannya.
Sang ibu mengelus punggung sang anak, dia merasa sangat beruntung meskipun dia tidak membesarkan Deefa tapi anaknya itu masih tetap mengingatnya, masih tetap menyayanginya sebagaimana kasih sayang anak terhadap orang tua, masih menghormatinya dan tetap memikirkan bagaimana caranya dia harus berbakti hingga memiliki keinginan untuk mengajaknya serta tinggal bersama.
"Emak itu nggak mau tinggalin rumah ini, sayang kalau nggak ada yang tempati malah jadi rusak nantinya, ini kan rumah peninggalan Bapak Deef, disini juga banyak banget kenangannya bapak."
Sang ibu mulai merasa kembali sedih ketika harus menyebut-nyebut suaminya lagi, sebenarnya tidak mau terus larut dalam kesedihan tapi yang namanya manusia tentu akan senantiasa merasa sedih ketika orang yang selama bertahun-tahun menemani, bangun tidur ada saat mau tidur ada ya mau tidak mau ingat semua yang orang itu lakukan.
"Deefa ngerti Mak," tuturnya mengelus kedua tangan sang ibu guna memberinya kekuatan gara tetap bisa tegar menjalani hari-hari kedepannya tanpa orang yang dia cintai.
Deefa tahu orang tuanya itu sangat saling mencinta, selalu saling menghargai dan saling mengingatkan saat salah satu diantara mereka melakukan salah, dan Deefa ingin seperti mereka mencontoh rumah tangga mereka yang akhirnya dipisahkan oleh kematian.
"Emak ini cuma tinggal menunggu Allah panggil aja dan emak akan ketemu sama Bapakmu lagi," ujar sang ibu membuat Deefa segera meneteskan air mata.
Menangis haru dan juga sedih yang bercampur, haru karena ternyata emaknya itu tengah menantikan Allah mencabut nyawanya agar bisa bertemu dengan pria yang dia cintai, lalu sedih karena itu artinya dia akan kehilangan ibu yang sangat dia sayangi sangat dia kasihi, hanya anak durhaka yang mungkin akan senang kalau orang tuanya tiada.
Ya Allah sungguh Deefa belum siap andai emaknya itu harus pergi meninggalkannya, dia belum mampu memberikan kebahagiaan untuk mereka tapi yang satu sudah pergi sedangkan yang satunya lagi malah tengah menanti untuk bisa pergi juga.
Deefa menangis meneteskan air mata yang sangat banyak, berderai tak henti padahal ibunya yang tadi berkata malah sangat tenang bahkan berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Emak ikut sama Deefa aja ya Mak." di sela tangisnya kembali membujuk wanita yang malah tersenyum menatapnya lalu tangannya membantu menghapus tetesan-tetesan air mata yang membasahi wajah sang anak.
__ADS_1
Tapi wanita yang tengah dia bujuk untuk ikut itu lagi-lagi terlihat menggelengkan kepalanya, menolak ajakannya membuat Deefa akhirnya makin menangis tersedu.
"Jangan nangis, mau ketemu suami nanti kalau suami kamu lihat mata istrinya bengkak malah dikira istrinya emak galakin disini," melarang sang anak untuk terus-terusan menangis.
Deefa mencoba untuk menghentikan tangisannya tapi tetap saja tangis itu tak kunjung berhenti tapi malah makin menjadi, tak kuasa dia membendung air mata atas rasa sedih yang mendadak manjadi begitu besar memenuhi hati serta pikirannya, ketakutan akan kehilangan sosok ibu kandung membuat dia tidak berdaya menahan tangis.
****
Mata kuliah kedua baru saja selesai tepat saat adzan ashar berkumandang, Raffan pun bergegas memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu meninggalkan kelas setelah berpamitan pada teman-temannya.
"Bareng Raf, Lo mau ke mushola kan?" tanya Agam yang baru tuntas merapikan tasnya.
Raffan yang tengah melangkah pun menghentikannya lalu memberikan anggukan serta menunggu sampai Agam mendekat padanya baru kemudian mereka berjalan bersama menuju mushola yang ada di belakang kampus.
"Terimakasih."
Agam mengerutkan kening mendengar apa yang Raffan katakan, temannya itu mendadak mengucapkan terimakasih padanya padahal dia merasa tidak pernah melakukan apapun untuk sang teman.
"Setelah cerita sama elo pikiran gue jadi jauh lebih tenang," aku Raffan menjawab kebingungan Agam.
Agam menarik napas lalu berucap syukur, "Alhamdulillah kali begitu, banyak berdoa selain ikhlas Lo coba berikhtiar juga, cari opsi yang lain," ucap Agam mengatakan kembali apa yang sempat dia katakan mungkin takut Raffan lupa.
"Lo kaga shalat?" tanya Rio pada Gumay yang masih saja sibuk dengan buku-bukunya.
Gumay menggeleng lemah.
"Dasar manusia tidak beriman dan bertaqwa!" sentak Rio.
"Lah Lo sendiri ngapain disini? shalat sana!"
Gumay berkata sadis, aneh saja temannya itu menanyakan tentang shalat orang lain tapi yang bertanya juga tidak shalat.
"Lagi datang bulan kali dia," sambar Gerry santai.
__ADS_1
Rio mendecih lalu melotot, "sialan emang Lo!" omel Rio.
Gerry malah terkekeh seraya beranjak dari duduknya.
"Mau kemana Lo Ger?" tanya Gumay.
"Shalat lah, emangnya kayak Lo berdua Kafirun!" cerocos Gerry lalu berlari karena takut akan di keroyok oleh dua temannya itu.
Rio dan Gumay saling tatap, lalu keduanya serentak berdiri untuk menyusul ketiga temannya yang sudah duluan ke mushola, ingin mulai shalat karena tidak mau dikatakan kafir lagi oleh Gerry.
"Temenan sama anak ustad masa kita malah jadi kafir," celetuk Gumay saat perjalanan melewati gedung kampus untuk sampai ke mushola yang mereka tuju.
Rio mengangguk saja lantas mengekori sang teman yang duduk di tangga mushola untuk membuka sepatu lebih dulu baru kemudian mereka menuju tempat wudhu.
Setelah berwudhu keduanya pun masuk ke dalam mushola, Gerry yang melihat kedatangan dua temannya itupun melemparkan senyumannya lalu menyambut dua temannya itu untuk duduk di tempat kosong disampingnya.
"Nah gitu dong, orang Islam tuh harus shalat jangan cuma mamerin agama doang di KTP tapi nggak melaksanakan kewajibannya."
"Iya Pak ustad Gerry Mahesa."
Rio dan Gumay menjawab serempak dengan suara yang tidak terlalu kencang, di barisan depan mereka melihat Agam dan Raffan.
__ADS_1
Sampai akhirnya shalat ashar pun dilaksanakan dengan salah satu dosen di kampus itu yang menjadi imam.
****