
Nyatanya harapan hanya tinggal harapan sebab Raffan masih juga belum bisa dibebaskan meskipun pengacara sudah berusaha untuk memberikan jaminan tapi karena ini bukan yang pertama kali, Raffan sudah sangat sering bolak-balik masuk kantor polisi membuat polisi pun geleng-geleng kepala karena yang mereka tangkap dia lagi dia lagi saja, sungguh rasanya bosan tapi mau berbuat apa lagi sudah tugas mereka untuk mengamankan siapa saja yang berbuat keributan apalagi sampai berkelahi.
Pagi hari Deefa Kembali bersiap untuk menemui suaminya, memasak makanan untuk dia bawa nanti agar suaminya bisa makan makanan yang dia masak.
Deefa memasak makanan yang suaminya suka yaitu rendang dengan perkedel kentang dan juga sayur sop, wanita itu masak dengan wajah yang bersedih seolah kehilangan gairah sebab suaminya tidak lagi menemani tidurnya, dia bersedih harus tinggal sendiri di rumah tapi dia juga tidak ingin tinggal di rumah mertuanya meski kemarin Raffan pun sudah memintanya karena tidak mau Deefa sendirian di rumah.
Tapi Deefa merasa tidak enak, lebih lagi ketika teringat apa yang ibu mertuanya ucapkan meski tidak bermaksud untuk menyinggung perasaannya tapi sebagai manusia dia tetap saja merasa bersalah karena ibu mertuanya pernah berkata dan memintanya untuk membuat Raffan berubah tapi kenyataannya dia masih belum mampu untuk mewujudkan permintaan sang mertua.
Deefa hanya memasak untuk suaminya karena dia sungguh tidak bernafsu untuk makan bahkan sejak kemarin pagi perutnya belum diisi dengan nasi hanya air putih saja yang dia masukkan ke dalam perutnya.
Dia menyelesaikan masaknya lalu segera bersiap sebelum supir dari mertuanya datang menjemput untuk mengantarkan dia ke tempat suaminya berada saat ini.
Wanita itu bahkan tidak lupa untuk membawakan sajadah kain sarung juga baju Koko beserta dengan Alquran, karena kemarin pengacara bilang kemungkinan Raffan akan berada di dalam sel sekitar dua Minggu atau mungkin bisa lebih dari itu, Deefa tidak mau Raffan sampai melupakan kewajibannya sebagai muslim dia ingin suaminya juga membaca Alquran sekaligus menyesali apa yang dia perbuat dan agar lebih banyak belajar lagi agar bisa mengendalikan emosinya yang selalu saja tidak terkendali.
Sekarang wanita cantik dengan pakaian tertutup itu sudah berada di dalam mobil yang akan membawanya bertemu dengan sang suami.
"Ayah sama Ibu sudah di sana Pak?" tanya Deefa pada supir yang sudah dia kenal.
"Cuma Bapak saja Mbak, Ibu tidak ikut karena harus mengisi pengajian," jawab sang supir dengan suara yang sangat sopan.
Deefa hanya mengangguk lalu membuang pandangannya keluar jendela, melihat jalanan yang mereka lewati dengan hati yang sebenarnya selalu ingin menangis namun dia berusaha untuk kuat karena dia tidak mungkin menunjukkan kesedihannya lagi di depan orang lain terlebih lagi di depan suaminya yang nantinya malah akan kepikiran dirinya.
Deefa langsung menghampiri Ayah mertuanya yang sedang berbicara dengan pengacara dan juga dua orang polisi, terlihat sekali kalau mereka masih sangat berusaha untuk membebaskan Raffan.
"Deefa mau ketemu Mas Raffan Ayah," kata Deefa setelah mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim.
Sang Ayah mertuanya pun mengangguk lalu berbicara pada satu polisi yang kemudian membawa Deefa ke sebuah ruangan tidak terlalu besar dan memintanya untuk menunggu sedangkan pria berseragam itu meninggalkannya lalu tak berselang lama kembali lagi dengan suami yang sudah sangat dia rindukan.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mas," ucap Deefa lalu mengambil tangan sang suami untuk dia kecup berulang kali.
"Wa'alaikumsalam," jawab Raffan dengan suara yang sedikit lemah, tentu rasa bersalah masih akan merajai hatinya karena emosi yang akhirnya membuat dia dan istrinya berpisah, meski dia tahu hanya sementara tapi sekarang malah sangat sulit baginya.
"Deefa rindu sama Mas," kata Deefa yang langsung mendekap tubuh suaminya.
"Aku juga rindu, sangat rindu," katanya dengan kecupan berulang kali pada puncak kepala yang tertutup hijab.
"Cepat pulang ya Mas, Deefa nggak mau sendiri," tutur Deefa meski tidak menangis tapi Raffan tahu hati wanita itu sekarang sudah sangat dipenuhi dengan kesedihan.
Andai waktu bisa di putar kembali, ingin rasanya Raffan tidak melakukan kebodohan yang merugikan dirinya serta orang-orang yang dia kasihi, kenapa dia tidak berpikir bahwa sekarang ada seorang wanita yang menjadi tanggung jawabnya, bukankah saat seorang istri bersedih maka Allah akan marah pada suaminya.
Dan sepertinya sekarang ini Allah sedang marah padanya karena tidak membiarkan dia untuk segera bebas pengacara belum bisa membebaskan dirinya padahal dia tahu mereka sudah memberikan jaminan.
Deefa mengangguk mendengar jawaban suaminya, memang itulah yang harus Raffan katakan sebab mereka juga tidak tahu apakah Raffan akan segera dibebaskan atau malah harus berlama-lama di dalam sel.
"Makan dulu Mas, Deefa sudah masak makanan kesukaan Mas," pinta Deefa seraya membuka tempat makan yang dia bawa.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
"Kan gue bilang Lo ikutin terus Raffan May, kenapa Lo bisa kecolongan begini sih?!" keluh Agam pada Gumay.
Kemarin sebelum kejadian Agam memang sudah mewanti-wanti pada temannya untuk mengawasi Raffan, sebab dia tahu benar bagaimana seorang Raffan agar jangan sampai Raffan terpancing oleh Marco, dia sendiri tidak bisa ikut mengawasi Raffan agar karena harus mengajar di TPA.
"Dia bilangnya mau pulang Gam, ya masa gue larang," sahut Gumay, pada nyatanya Raffan yang terlalu pintar mengelabui mereka semua, emosi membuatnya tidak mau mendengarkan siapapun.
Agam menghela napas berat lalu memijit pangkal hidungnya, sebagai teman dia tidak mau hal seperti ini sampai terjadi mengingat Raffan sudah berulang kali berurusan dengan pihak berwajib dan Agam yakin kali ini Raffan tidak akan bisa dibebaskan begitu saja dengan jaminan.
Keempat sahabat itu kini juga bingung bagaimana caranya untuk bisa membantu, sedangkan Marco yang berkelahi dengan Raffan sudah dibebaskan tadi pagi.
Agam tampak sangat cemas meskipun dia memang kesal dengan Raffan tapi dia juga tidak mau temannya itu menjadi tahanan apalagi sekarang ada seorang istri yang pasti akan sangat terpukul dengan kejadian begini, untuk Raffan teman-teman serta orang tuanya mungkin biasa tapi bagaimana dengan Deefa? wanita itu pasti sangat syok.
Ah Agam sungguh tidak tega kalau harus melihat Deefa bersedih, sepertinya rasa yang pernah ada masih belum juga pergi dari dalam hati Agam, hingga dia kini memikirkan keadaan istri dari temannya.
******
__ADS_1