
"Sudahlah Bu tidak usah terlalu berlarut dalam kesedihan, semua yang terjadi memang sudah kehendak Allah, kita sebagai manusia hanya bisa menerima saja dan selayaknya kita sebagai orang tua harus menguatkan anak kita, jangan malah membuatnya semakin terpuruk," nasihat ustad Imran kepada istrinya yang sejak tadi malam sampai siang ini terus saja berdiam diri di dalam kamar.
Mengurung diri setelah mengetahui kalau dia tidak akan bisa menggendong satu orang cucu pun darah daging dari putra satu-satunya.
"Ibu masih tidak bisa percaya Yah, ibu tidak yakin kalau Raffan yang bermasalah Dokter pasti salah," jelas sang istri mengenai apa yang dia pikirkan.
Putranya masih sangat muda rasanya dan dia sangat tahu seperti apa sehatnya Raffan, rasanya sungguh tidak masuk akal kalau Dokter memvonisnya tidak bisa punya anak, teramat sulit untuk dia percaya.
"Jadi kamu menuduh Deefa yang bermasalah?" ustad Raffan menatap tak percaya.
"Bisa saja kan Yah, toh kita tahu usianya lebih tua daripada anak kita," cetus Hayati.
"Astaghfirullahaladzim, kesehatan tidak bisa di ukur tua atau mudanya usia seseorang semua sudah ada takdirnya masing-masing, kalau saat ini nyatanya Raffan lah yang bermasalah kita bisa apa? menuntut Allah? tidak mungkin Bu!" sentak ustad Raffan tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.
Tua atau muda kalau sang pemilik semesta sudah berkehendak sebagai umat manusia kita bisa berbuat apa? melawan takdir? mengutuk takdir? menyumpah serapah takdir itu? janganlah jadi manusia yang culas, tidak punya rasa syukur atas segala yang sudah tuhan berikan.
"Bukan seperti itu Ayah! bukan maksud ibu untuk menuntut Allah, hanya saja ibu tidak yakin dengan pengakuan Raffan!" ujar Hayati tidak mau mengalah.
Wanita itu masih dengan segala pemikirannya, tidak percaya bahkan tidak akal pikirannya itu menolak untuk percaya dan menilai bahwa Raffan hanya sedang berusaha untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
"Sebaiknya Ibu muhasabah diri, introspeksi diri ibu agar menghilangkan rasa curiga yang ibu rasakan terhadap orang lain terutama anak kandung Ibu sendiri," ustad Imran bergegas keluar dari kamar meninggalkan istrinya, memintanya untuk merenung dan memikirkan apa yang sudah dia katakan sejak tadi bahkan sejak tadi malam ketika bersama dengan Raffan.
Ustad Raffan beranjak meninggalkan istrinya yang jadi susah sekali dinasehati, hidup ini bukan hanya tentang memiliki keturunan atau tidak tapi tentang bagaimana manusia menjalankan kewajibannya, mungkin saja di dunia tidak punya anak tapi Allah akan memberikan keturunan saat diakhirat nanti asalkan manusia itu mau bertaqwa dan beriman.
****
Rio dan Gerry sedang berada di lorong tak jauh dari kelas mereka.
Mereka itu baru saja menyelesaikan kelas pertama dan sedang asik berbincang apa saja yang menurut mereka menarik untuk diperbincangkan.
"Wah si Seira sama siapa tuh?" mata Rio membulat lebar ketika melihat wanita berambut sebahu yang berjalan di samping Seira.
__ADS_1
Gerry menoleh guna melihat siapa yang temannya itu maksud, "lah itukan Maba di kelasnya Seira sama Fara, udah hampir satu bulan Lo baru lihat emang?" katanya heran karena pertanyaan Rio seperti orang yang baru melihat wajah si wanita.
"Akhirnya sumber penghasilan gue nongol lagi," berdecak senang dan wajah yang sumringah.
Mendengar penjelasan dari Gerry sontak mata Rio itu makin lebar dengan sendirinya, "baru lihat gue," akunya.
"Kebanyakan bolos sih Lo!" tuduh Gerry.
"Sembarangan! gue ini salah satu mahasiswa teladan di kampus ini," kata Rio membanggakan diri padahal pengakuannya itu hanya sekedar mengaku-ngaku semata.
Gerry berdecih mendengar mulut temannya itu berceloteh tak karuan.
"Gue deketin ah, mumpung nggak masih fresh," celetuk Rio.
Sekarang malah gantian mata Gerry lah yang melotot saat mendengar keinginan dari sang teman lalu dengan spontan dia menarik kaos yang Rio gunakan ketika temannya itu hendak mengejar Seira dan Ralen.
"Apaan sih Ger!?" Rio terkaget ketika kaosnya malah tertarik kebelakang saat dia akan maju ke depan.
"Sumber penghasilan gue itu, jangan macam-macam Lo!" mendelik tajam memberi peringatan pada sang teman yang membalas tatapannya dengan tidak percaya.
"Dari tadi Lo ngomong sumber penghasilan gue sumber penghasilan gue, nggak jelas banget apaan sih maksudnya?" bertanya penasaran sebab dua kali dia mendengar Gerry melantunkan perkataan yang sama.
"Pokoknya Lo jangan berani-beranian deketin tuh Maba ya, awas aja Lo!" ancam Gerry dengan ekspresi yang tidak main-main.
Ancamannya itu memang sebuah kenyataan dia tidak sedang bergurau atau bermain kata saja untuk menakuti temannya, tidak begitu! dia benar-benar memberi peringatan pada sang teman sebab kalau temannya itu sampai macam pada Ralen bakalan di buat bonyok oleh pria yang selama ini membayarnya, menugaskannya untuk menjadi mata-mata dan melaporkan siapa saja pria yang mendekati Ralen.
Mendengar itu Rio malah makin jadi mengerutkan kening lalu memicingkan kedua matanya menatap tajam menusuk pada sang teman yang sejak tadi memberinya peringatan.
"Lo kenapa sih?" tanyanya heran.
"Ooh jangan-jangan Lo suka lagi sama tuh Maba, ngaku Lo!" tuding Rio pada temannya yang malah menjadi membelalakkan bola matanya.
__ADS_1
"Takut kalah saing Lo ya sama gue?" kembali melayangkan tuduhannya pada sang Gerry.
"Gila! mau di hajar sama suaminya gue," oceh Gerry malah jadi keceplosan berbicara.
"Udah punya suami? yang benar aja Lo? jangan ngada-ngada cuma karena takut tuh cewek milih gue," cerocos Rio tak terima.
Gerry menggaruk kepalanya yang tak gatal karena mulutnya tidak mempunyai rem lagi, dia itu kesal pada temannya yang masih saja ngotot ingin mendekati Ralen, padahal dosen bernama Angga saja harus mati-matian dia awasi agar tidak mendekati Ralen, eh ini si Rio malah menantang maut.
"Si kunyuk malah nantangin banget," sungutnya kesal.
"Lo ngatain gue kunyuk?" semprot Rio nyolot.
"Ya abis susah banget Lo di bilanginnya, itu cewek udah punya laki, Yo jangan Lo deketin."
"Lah itu tadi bukannya udah masuk kelas ya sama Seira, kok sekarang malah jalan berduaan sama Pak Angga?" Rio tidak mendengarkan omongan Gerry sebab penglihatannya kini mengarah pada dua orang pria dan wanita yang berjalan beriringan di lorong tak jauh dari mereka.
"Tapi bajunya lain," tambah Rio lagi.
Mendengar itu Gerry pun melihat dan jadi kebingungan sendiri, padahal tadi pun dia memang melihat Ralen dengan Seira tapi sekarang malah bersama dengan dosen mereka.
"Lah ini gue mesti laporan nggak nih?" Gerry bertanya bingung entah dia bertanya pada siapa karena tidak mungkin dia bertanya Rio yang tidak tahu-menahu tentang urusannya.
"Rambut sama muka sama postur tubuh juga sama tapi kok cepat banget ganti bajunya?" mulut Rio tak bisa diam saat kedua orang itu melintas di depan mereka.
"Ger," memanggil temannya yang sudah tidak ada, entah pergi kemana Gerry sekarang.
"Cepat banget tuh bocah ngilang nya," mengoceh sendiri saat tidak ada siapa-siapa di sampingnya.
Sedangkan sang teman kini malah tengah mengikuti dua orang yang lewat tadi, sesekali mengambil gambar untuk dia kirimkan kepada pria yang membayarnya.
"Keren banget kan gue," memuji hasil jepretannya barusan dan bersiap mengirimkan gambar yang dia ambil barusan.
__ADS_1
"Bonus cair nih." senyum merekah dari bibir tipisnya membayangkan dia akan mendapatkan bonus.
*****