Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Talak


__ADS_3

Deefa menatap tak percaya pada ucapan pria yang menikahinya satu bulan lalu, pria yang bahkan belum sama sekali menyentuhnya itu melontarkan pernyataan yang tidak pernah dia bayangkan.


Sungguh apa ini artinya pria itu memang tidak berniat untuk mempertahankan pernikahan yang mereka lakukan dengan kesadaran, meskipun melalui perjodohan dan mungkin terpaksa, tapi kenyataannya pria itu sudah mengikrarkan ijab Kabul yang disaksikan oleh orang tua serta keluarga terdekat.


Raffan mengatupkan bibirnya setelah mengucapkan perkataan yang seenaknya keluar dari mulutnya itu, sungguh dia tidak sadar dengan yang baru saja dia ucapkan, sungguh diapun tidak menyangka akan mengeluarkan pernyataan itu.


Percaya atau tidak dia tidak sepenuh hati kala mengatakan hal yang pasti akan membuat Deefa terluka.


Deefa terluka? dia memikirkan perasaan Deefa? sejak kapan? bukankah ini memang yang dia mau, bebas tanpa ikatan pernikahan yang seakan mengekang dirinya.


"Raffan!" seru sang Ayah yang duduk tak jauh darinya.


"Sebelum berbicara sebaiknya kamu pikirkan lebih dulu, gunakan pikiranmu jangan selalu mengutamakan emosi, pernikahan bukan mainan, mana ada suami yang meminta istrinya untuk memilih antara suami dan pria lain!" ustad Imran terlihat marah dengan perilaku sang anak.


Sungguh semua rasa bercampur jadi satu, rasa kecewa dan juga malu melebur di dalam dirinya.


Raffan tidak lagi dapat mengeluarkan argumennya, jangankan berargumen untuk sekedar bersuara saja rasanya mulutnya sudah terkunci.


"Deefa sudah sering katakan pada kalian termasuk kamu Mas." menatap pria yang berjarak dengannya, "Deefa hanya ingin menikah sekali seumur hidup, meski semua bergantung pada ketetapan Allah tapi Deefa selalu berharap kalau harapan Deefa itu Allah kabulkan, Deefa sudah menikah dengan Mas Raffan Deefa seorang istri tapi saat suami Deefa sendiri malah meminta Deefa untuk memilih apa yang Deefa rasakan tentu kalian mengerti, di saat Deefa sudah mantap menjalani pernikahan ini tapi pria yang menjadi suami Deefa seakan sangat menyesali semua yang terjadi." Deefa berkata lirih, sangat lirih bahkan air mata sudah mulai menggenangi pelupuk matanya.


Deefa diam sesaat untuk menormalkan deru napasnya yang serasa tidak bekerja dengan baik, sesak begitu terasa hingga membuatnya tidak bisa bernapas dengan normal guna memasok oksigen untuk paru-parunya.


"Meski sebenarnya Deefa tidak mau tapi pernikahan yang coba di bangun hanya dari satu pihak saja tentu tidak akan baik untuk ke depannya, pondasi setiap sisinya tidak akan kuat dan mudah goyah jika ada badai yang menerpanya, bahkan mungkin angin pun mampu merobohkan pondasi itu hingga menghancurkan bangunan utama, Mas," panggil Deefa setelah merasa cukup mengeluarkan pernyataannya.

__ADS_1


Memanggil pria yang sekarang tengah mengangkat wajah untuk melihat dirinya.


Semua yang ada di ruangan itu menjadi pendengar yang baik di tengah masalah rumah tangga pasangan muda yang mungkinkah tidak akan bisa lagi bertahan?


"Deefa siap dan akan menerima talak dari kamu Mas."


Usai menyelesaikan kalimatnya Deefa pun memeluk dua wanita yang berada di samping kiri kanannya, ibu kandung yang sudah rela berbagi makanan dan napas dengannya saat berada di kandungan dulu, juga seorang ibu sambung pemilik pesantren yang senantiasa mengajari agar ikhlas pada ketetapan yang sudah Allah gariskan untuknya, dan mungkin ini adalah salah satu ketetapan yang sedang Allah berikan kepadanya.


Semua mata menatap pada wanita yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, Allah sudah mengajarkan untuk tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan terlebih lagi pada sesama makhluk yang dia ciptakan.


Tapi biarkanlah Deefa bersedih untuk hari ini saja, dia berjanji esok hari tidak akan lagi bersedih bahkan menangis.


Bahu Raffan meluruh mendengar bait demi bait yang Deefa ucapkan.


Talak? benarkah yang baru saja dia dengar, Deefa memintanya untuk mengucap talak? bukankah itu artinya wanita itu memilih Agam? memilih pria lain ketimbang suami yang menikahinya dan hidup satu atap satu bulan lamanya.


"Deefa, Abah sebenarnya tidak menginginkan kalian berpisah, perceraian meski tidak di larang tapi Allah tidak menyukainya, tapi Abah juga tidak bisa memaksa kamu untuk bertahan jika kamu memang tidak lagi mau bertahan, semua yang merasakannya kamu sendiri baik buruknya suami juga tergantung pada keridhoan kamu," tutur kiyai Burhan di sela suasana yang sedikit berbeda.


Keheningan lebih terasa sebab Raffan yang tidak lagi banyak bicara seperti tadi.


Pria itu kini hanya menatap pada wanita yang terus menunduk menyembunyikan wajahnya di antara dua orang wanita.


Raffan juga bisa mendengar suara Ibunya yang sedikit terisak, tidak menyangka pernikahan yang sudah dia sejatinya dia harap bisa merubah perangai anaknya agar bisa lebih dewasa karena harus mengemban tanggung jawab akan berkahir dengan perceraian.

__ADS_1


"Raffan mau bicara sama Deefa," kata Raffan entah pada siapa karena matanya kini tertuju pada wanita yang namanya dia sebut.


Dan disinilah mereka berdua sekarang, di dalam kamar yang dulu ditempati oleh Deefa saat mengajar di pesantren itu.


Deefa yang duduk di tepian tempat tidur dengan Raffan yang berdiri sambil terus menatapnya dengan lekat.


"Talak? serius Lo mau gue talak?" tanya Raffan memecah kebisuan yang beberapa menit tercipta sejak mereka memasuki kamar yang pintunya sudah tertutup rapat.


"Itu yang Mas inginkan."


"Bukan gue tapi elo! Lo yang ingin cerai sama gue, maksud gue kalau pun memang harus cerai ya jangan sekarang juga, kita baru sebulan nikah," kata Raffan mencari alasan sebab teringat dulu pun dia memang berniat untuk cerai.


"Mau sekarang atau nanti pun akan sama saja, bukankah tadi pun Mas yang meminta Deefa untuk memilih?" tutur Deefa membalas tatapan suaminya.


"Jadi Lo milih Agam gitu? milih pria lain ketimbang gue, suami Lo sendiri!" sentak pria yang berdiri semakin mendekat pada wanita yang berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Deefa bingung, Deefa nggak ngerti sebenarnya yang Mas Raffan mau itu apa? tadi minta Deefa untuk milih setelah Deefa menyatakan pilihan Mas malah seperti ini, Mas malah marah," beber Deefa mengatakan kebingungan nya atas sikap sang suami.


"Katakan sekarang, sebenarnya Deefa harus bagaimana?" tambah Deefa melayangkan tatapan teduhnya yang sudah dipenuhi oleh air mata yang mungkin sangat siap untuk meluncur bebas membasahi kedua pipinya.


"Tetap jadi istri gue, gue minta Lo buat bersabar karena jujur gue belum siap sama pernikahan ini tapi untuk berpisah dengan Lo yang selama satu bulan ini hadir dalam hidup gue, gue pun rasanya nggak bisa Deef, katakan lah gue egois karena itu kenyataannya, gue minta Lo buat bertahan sama gue," tutur Raffan meluruhkan tubuhnya di dekat kaki Deefa lalu meraih kedua tangan wanita itu yang sedari tadi saling bertaut.


Raffan menggenggam tangan Deefa dengan tatapan meminta, "please bertahan sama gue setidaknya bersabar, gue nggak ngerti kenapa gue kayak gini yang gue tahu gue nggak mau pisah sama elo Deef, gue minta maaf atas perlakuan gue."

__ADS_1


Tatapan Raffan yang tadi terlihat sangat galak saat berhadapan dengan keluarga pun berubah melunak, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang ini, dia yang meminta istrinya untuk memilih tapi dirinya jugalah yang tidak terima.


******


__ADS_2