
Deefa menatap lekat pria yang duduk di dekat kakinya, masih erat menggenggam tangannya menanti sebuah jawaban dari permintaannya barusan.
"Pernikahan bukan sebuah hal yang bisa di permainkan Mas." suara Deefa meski lembut namun terdengar ada getaran, terang saja karena sedari tadi dia terus saja di buat tidak mengerti dengan keinginan suaminya.
Tadi di depan keluarga telinganya dengan jelas mendengar perkataan suaminya, mendengar saat begitu lantang dan penuh keyakinan memintanya untuk memilih.
Lalu sekarang, apa yang dilakukan pria berusia 19 tahun ini?
Pria muda dengan jalan pikiran yang masih sangat labil dan kadang kerap salah dalam mengambil keputusan tengah bersimpuh di dekat kakinya, meminta padanya untuk bertahan dan sabar dalam menghadapai segala tingkah lakunya sekaligus labil dan keras kepala yang mendominasi.
Memintanya untuk tetap menjalani pernikahan hanya karena pria itu yang sudah terbiasa akan hadirnya selama satu bulan ini.
"Gue nggak sedang main-main Deef, gue akui salah dan gue minta maaf, tapi tolong please bertahan sama gue, jangan berharap gue bakal ucapin talak karena gue nggak bakal mau, gue nggak bakal talak Lo!" berkata tegas dengan keyakinan dari sorot matanya.
Deefa menghela napas panjang sekaligus berat, sungguh hatinya merasa bimbang untuk memutuskan antara memaafkan atau mengakhiri.
"Kasih gue kesempatan, gue janji nggak akan egois lagi gue juga nggak akan menyembunyikan pernikahan kita," tambah Raffan dengan intonasi yang belum berubah, tidak terkesan kasar namun tegas.
Toh Agam tentu sudah tahu tentang siapa lelaki yang menikah dengan Deefa, jadi buat apa lagi menutupi pernikahan kalau akhirnya nanti teman-temannya mengetahuinya dari mulut Agam.
Yang jadi masalah terbesar ini bukan tentang pernikahan yang disembunyikan atau sifat egois Raffan, Deefa hanya mau Raffan menghargainya sebagai seorang istri, setidaknya jika belum mau mengakuinya sebagai istri cukuplah diam saat ada yang bertanya tentang siapa dirinya, atau beri jawaban yang tidak menyakiti.
Dan lagi diapun mendengar dari Agam kalau suaminya itu tengah menjalin hubungan dengan wanita lain, bukankah itu sama saja dengan berselingkuh?
Mengkhianati pernikahan suci yang seharusnya di jaga oleh kedua pihak, bukan hanya satu pihak saja yang berusaha menjaganya agar tidak ternoda.
"Deef," panggil Raffan kala istrinya tidak juga bersuara.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hubungan kamu dengan wanita bernama Fara Mas?" tanya Deefa akhirnya.
Sungguh sangat terasa sakit kala harus menyebutkan nama wanita lain diantara rumah tangga mereka.
"Gue bakal putusin dia, kalau perlu sekarang juga," kata Raffan cepat lalu mengambil handphone yang sejak tadi tersimpan di dalam saku celananya.
Pria itu kemudian membuka aplikasi pesan dan jarinya dengan cepat mengetikkan beberapa kata lalu sebelum menekan tombol kirim dia lebih dulu menunjukkan layar itu pada wanita yang sejak tadi melihat apa yang dia lakukan.
Ternyata suami Deefa itu bukan hanya seorang berandal balapan tapi juga buaya darat, yang tanpa berpikir mengumbar cinta saat sudah memiliki status dengannya.
"Jangan permainkan perasaan wanita Mas, Mas seenaknya menjalin hubungan lalu seenaknya juga mengakhiri hubungan itu, apa Mas kira Fara tidak akan sakit hati? ingat Mas, wanita lebih sering menggunakan perasaannya dari pada logika, jalan pikir wanita dan pria itu berbeda bisa yang Mas anggap sepele malah jadi sangat bermasalah jika sudah wanita yang menghadapinya," tutur Deefa.
Raffan mengusap wajahnya dengan kasar lalu melemparkan handphone ke atas tempat tidur.
"Terus menurut Lo gue harus apa? gue cuma mau buktiin kalau gue ini serius buat mempertahankan pernikahan kita, gue sungguh-sungguh Deef!" sentak Raffan meremat tangan sang istri.
Benda yang terjerembab di atas tempat itu menyala dan berdering nyaring membuat dua insan yang sedari tadi saling tatap pun melihat padanya.
"Bersikaplah layaknya seorang laki-laki," ucap Deefa.
Raffan yang mengerti maksud Deefa pun mengangguk, "gue bakal temui dia dan ngomong langsung," kata Raffan secepat kilat.
Berbicara langsung dengan Fara tentu bukan hal yang sulit, dia hanya tinggal mengatakan putus dan semua akan selesai, semoga saja Fara bisa terima setidaknya itu yang Raffan harapkan.
Deefa mengangguk seraya mengerjapkan mata, menggoyang bulu mata lentik nan indah di kelopak matanya.
"Jadi gue di maafin? di kasih kesempatan?" tanya Raffan dengan bola mata yang membesar menanti jawaban dari wanita yang bahkan sejak pertama mereka saling menatap pun, dirinya sudah mengakui meski dalam hati kalau wanita yang dia nikahi itu memang cantik meski dengan warna kulit khas wanita Indonesia berpadu dengan kedua mata yang selalu teduh kala memandang.
__ADS_1
"Allah saja maha memaafkan dan akan memberi maaf untuk umatnya yang bersungguh-sungguh menyesal dan mau berubah, begitu pun Deefa, sebagai sesama manusia sudah sepantasnya memberi Mas maaf dan memberi kesempatan selama Mas berjanji tidak akan mengulanginya juga mau belajar memperbaiki diri meski perlahan, karena seperti yang sudah Deefa katakan Deefa ingin menikah sekali seumur hidup dan kelak ingin bersama dengan Mas Raffan di surga Allah."
Raffan segera memeluk istrinya, ini pelukan pertama yang dia berikan untuk istrinya selama menjalani pernikahan, pelukan hangat yang cukup menggetarkan hatinya.
Deefa sedikit terkejut tapi kemudian mengulas senyum tipis, senyum baru serta debaran jantung yang sulit dia kendalikan.
Ini pertama kalinya tubuhnya bersentuhan dengan tubuh sang suami tanpa jarak bahkan debaran jantung pria itu pun terasa keras sama seperti dirinya.
Ah, bukankah ini sebuah kemajuan? Raffan yang sejak menikah memberi jarak pada interaksi tubuh mereka malah tanpa izin memeluk sang istri.
Sekitar lima menit mereka saling menikmati pelukan yang hangat itu, sampai akhirnya Raffan mengurainya lalu memegangi kedua bahu wanita berkerudung dan memberikan sedikit jarak.
"Kita mulai dari awal lagi ya, ingetin gue kalau gue salah atau mulai bertingkah lagi, gue sering lupa soalnya," cetus Raffan.
Deefa mengangguk seraya mengulas senyum, "iya, asal tidak terlalu sering, karena itu bisa saja bukan lupa tapi mungkin kesengajaan," sahut Deefa.
Malam ini mereka sudah bersepakat untuk menata kembali rumah tangga yang satu bulan ini terasa begitu tidak berarti dengan penolakan Raffan yang sangat tidak siap atas pernikahan yang di atur oleh orang tuanya.
Entahlah Raffan merasa aneh karena di zaman moderen seperti sekarang ini kenapa orang tuanya itu masih saja menganut tradisi Siti Nurbaya, menjodohkan anak mereka.
Meski yang membedakan adalah perjodohan ini agar dirinya bisa menjadi lebih baik, bisa lebih bertanggung jawab dan tidak lagi bertindak sesuka hatinya terlebih meninggalkan hobi yang sangat membahayakan nyawa.
"Kita harus memberitahu mereka semua," kata Raffan pada sang istri yang mengangguk malu-malu.
Tentu di luar kamar sana para orang tua sudah menunggu mereka, menanti keputusan apa yang akan mereka ambil setelah meminta waktu untuk berbicara berdua.
****
__ADS_1