Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Meminta Izin


__ADS_3

Keesokan malam akhirnya Raffan dan Deefa tiba juga di Jakarta, langsung menghubungi Ayah dan Ibunya memberitahu kalau mereka sudah sampai dengan selamat tanpa kurang apapun.


Oh tidak, sepertinya sudah ada yang berkurang dalam diri mereka berdua karena Raffan yang tidak lagi perjaka dan juga Deefa yang tak lagi perawan, membuat Raffan senyum-senyum sendiri ketika memperhatikan jalan istrinya yang sedikit berbeda dari biasa.


Deefa berniat masuk ke dalam kamarnya tapi Raffan tergesa menghalangi sambil mengantongi handphone yang tadi dia gunakan untuk menghubungi sang ibu.


"Mau kemana?" tanyanya dengan mata terpicing ketika sang istri yang terjengkit kaget dengan dirinya yang tiba-tiba sudah berada di depannya, berdiri menghadang.


"Ke kamar," jawab Deefa polos sambil tangannya menunjuk arah kamar yang biasa dia tiduri.


"Kamar di atas, ngapain malah ke sini," ucap Raffan meski datar namun terkesan tidak suka, pada istrinya yang seolah lupa apa yang sudah mereka lakukan selam di hotel.


Di hotel mereka berbagi tempat tidur tanpa ada jarak sama sekali bahkan juga sudah saling memberi kesenangan, tapi kenapa saat sampai di rumah istrinya itu masih saja berpikir untuk tidur di kamar yang berbeda, tidak adakah sang istri berinisiatif untuk pindah ke kamarnya di lantai atas.


"Itu kan kamar kamu Mas, kamar aku disini," jawab Deefa membela diri.


Dia selalu ingat apa yang dulu di inginkan oleh Raffan, tidur di kamar yang berbeda meski saat itu sebenarnya dia sangat keberatan tapi seorang Raffan yang keras kepala tentu tidak mau di bantah.


"Kamar aku kamar kamu juga, jadi mulai sekarang pindah ke sana, pindah dengan sukarela atau aku seret?!" memberikan perintah disertai dengan ancaman yang menyeramkan.


Memangnya Raffan bisa sekejam itu pada istrinya? menyeret istrinya dalam kondisi emosi apa dia tidak takut nantinya akan mendapat ceramah satu bulan penuh oleh orang tuanya dan mungkin oleh Deefa juga?


"Mas berani seret Deefa?" tanya Deefa dengan wajah yang sulit sekali menampakkan kemarahan.


"Berani, memangnya kenapa harus takut?"


"Dalam keadaan emosi? keadaan marah?" Deefa memicingkan mata bertanya.


Raffan tampak berpikir, sepertinya dia sudah mulai membaca kemana arah pembicaraan Deefa sekarang, jika dia jawab berani pasti istrinya itu akan langsung menggaungkan ceramahnya panjang kali lebar.


"Nggak dong sayang, aku nggak bakal berani, itu namanya kasar dan menjurus pada tindakan kekerasan, akan tetapi kalau di seret buat di ajak senang-senang sih nggak akan masalah dong, hehehe," kata Raffan dengan suara kekehan yang terdengar sangat puas karena nyatanya dia sangat cerdik untuk memberi jawaban.

__ADS_1


"Aku bawa kopernya ke kamar ya," sambung Raffan lalu mengambil koper yang ada di dekat kaki istrinya, membawanya menaiki anak tangga membiarkan Deefa menggelengkan kepala karena kelakuannya.


Sungguh Deefa sangat bersyukur atas perubahan yang sudah Raffan tunjukkan, pria itu benar-benar membuktikan ucapannya saat mereka diambang perpisahan.


Akan berusaha menjadi lebih baik dan menghargai pernikahan terlebih lagi sekarang mereka pun sudah bersatu sebagai penyempurna pernikahan mereka.


Deefa tersenyum lagi mengingat apa yang sudah mereka lakukan selama di hotel.


Deefa terus mengucapkan rasa terimakasihnya pada sang maha kuasa atas segala mukjizat yang sudah diberikan.


Sekarang Raffan sedang membantu sang istrinya memindahkan semua barang-barang istrinya itu ke kamar miliknya, pria itu sangat sibuk naik turun tangga mengangkutnya.


"Barang kamu banyak juga ya ternyata, besok beli lemari lagi deh satu ini nggak cukup kayaknya," cetus Raffan menatap lemari miliknya yang hampir penuh oleh pakaian milik istrinya belum lagi kerudung-kerudungnya yang tidak bisa di bilang sedikit.


"Lemari yang di bawah aja pindah ke sini Mas," saran Deefa.


Menurutnya untuk apa membeli barang yang sudah ada, selama masih bisa di pakai kan itu jauh lebih baik, ketimbang harus pemborosan untuk hal yang tidak terlalu penting.


"Mau di pindah sekarang? ayo, mumpung Deefa belum capek banget," ajak Deefa yang sontak membuat mata Raffan mendelik seram.


"Kamu mau gotong-gotong lemari? yang benar aja! nggak usah aku bisa minta tolong sama teman aku nanti!" tolak Raffan.


Ucapan Deefa itu memang konyol dan tidak berguna, dia mana boleh mengangkat lemari yang ada di lantai bawah ke lantai atas, sungguh terasa sangat mudah jika mencari penyakit.


"Aku udah biasa kok," sahut Deefa membela diri.


"Jangan di biasain bisa jadi penyakit tahu nggak!" berkata tegas.


Raffan yang sedang mengomel harus terhenti ketika mendengar suara dering panggilan di handphonenya.


"Aku angkat telepon dulu," izin Raffan lalu beranjak keluar saat Deefa mengangguk.

__ADS_1


Wanita itu kembali menyusun peralatan pribadinya di meja rias berdampingan dengan parfum serta pembersih wajah milik suaminya.


"Pantesan mukanya lebih cerah dari pada aku, ininya lebih komplit dari yang aku punya," menyentuh satu persatu pembersih muka serta pelembab dan yang lainnya.


Dan nyatanya seorang berandal macam Raffan pun masih peduli pada wajahnya yang memang kerap kali terkena debu jalanan mengingat hobi balapan yang dulu hampir tiap malam dia lakukan.


Raffan yang sudah selesai menjawab telepon kembali ke kamar lalu berbicara pada Deefa, "aku keluar sebentar ya." izinnya.


"Mau kemana? ini kan sudah jam 8 malam Mas," ucap Deefa terlihat tidak setuju.


"Bengkel, ada urusan bentaran doang kok," katanya lagi meyakinkan wanita yang tangannya masih sibuk menatap meja rias.


Deefa diam terlihat sekali kalau dia sedang berpikir, memberi izin atau tidak, karena suaminya itu kalau sudah keluar rumah tidak akan cukup waktu sebentar, apalagi sudah beberapa hari ini tidak bertemu teman-temannya, tapi sebagai istri dia juga tidak mau membatasi pergaulan suaminya mengingat usia sang suami juga masih sangat muda masih gemar senang-senang melakukan kegiatan di luar rumah.



"Boleh ya," kata Raffan lagi dengan suara yang sangat rendah berharap istrinya berbaik hati padanya.



"Ya sudah tapi jangan lama," kata Deefa akhirnya.



"Iyaaa istriku," memeluk sang istri gemas.



"Ya udah aku jalan sekarang ya," katanya lagi lalu mengecup kening Deefa sebelum meninggalkannya.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2