
"Mulai hari ini kamu tinggal bersama ibu di rumah ini!"
Raffan tersentak tak percaya pada permintaan dari sang ibu yang langsung dilontarkan begitu saja dengan cepat bahkan ketika dia dan Deefa masih baru saja akan duduk.
"Tapi Bu.."
"Istrimu bisa tinggal disini juga, itupun kalau dia mau," potong wanita yang duduk di sofa ruang tamu rumah yang padahal di rumah itu masih ada sanak saudara mereka dan juga Raisya.
Tidak tahu kenapa Raisya masih berada di rumahnya itu dan melakukan hal yang sama sejak tadi, yaitu menempel duduk berdekatan dengan ibunya, wanita yang baru saja kehilangan sosok suami itu bahkan menyebut nama Deefa saja seperti tidak mau seolah nama Deefa sangat haram untuk dia ucapkan.
Raffan bisa mendengar nada yang begitu sinis dan tidak senang terlebih lagi ketika sorot mata ibunya yang masih memerah akibat menangis itu menatap enggan pada istrinya yang berada di sampingnya.
"Ibu apa tidak bisa membicarakan ini nanti saja," ucap Raffan ketika merasa mulai tidak enak dengan para kerabatnya yang ada yang pasti akan turut mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Tidak bisa, ibu ingin bicara sekarang kalau nanti-nanti kamu malah keburu pulang," cetus ibunya yang mempunyai firasat kalau anaknya itu akan pulang begitu para saudara pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Kalau begitu kita bicara di kamar saja," ajak Raffan masih tetap bersikap tenang agar tidak membuat ibunya emosi yang malah akan memancing keributan seperti yang pernah terjadi.
Berbicara seperti ini di depan keluarga tentu bukan hal yang bagus terlebih lagi ketika masing-masing diliputi emosi yang bercampur aduk dengan kesedihan, Raffan merasa urusan keluarganya tidak boleh diketahui oleh siapapun sekalipun itu adalah adik dari serta sanak saudara almarhum Ayahnya.
Meski tak berbicara namun Hayati beranjak dari duduknya hendak masuk ke dalam kamar.
"Raisya bukan keluarga kita!" terpaksa berkata tinggi ketika ibunya dengan enteng menggandeng tangan Raisya untuk ikut masuk ke dalam kamar bersamanya.
"Sebentar lagi akan jadi keluarga kita," menjawab dengan enteng tanpa perasaan bahkan saat di depannya berdiri sang menantu, istri dari anak satu-satunya yang tengah menatapnya dengan geram.
Raffan ingin sekali marah akan tetapi dia masih sangat menghargai ibunya, wanita yang melahirkannya itu sekalipun benar-benar sudah sangat keterlaluan sama sekali tidak menganggap kehadiran istrinya.
"Dia masuk, Raffan tidak akan masuk, terserah ibu!" tegas Raffan penuh pendirian, baginya orang lain tetaplah orang lain, sedangkan dia saja tidak ingin saudaranya mendengar dan tahu apa yang terjadi, lalu kenapa Raisya yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka sangat leluasa bergerak di rumah bahkan ibunya ingin mengikutsertakan wanita itu dalam pembicaraan pribadi mereka.
Raffan semakin tidak mengenali ibunya sendiri, merasa menjadi sangat asing dengan wanita yang membalas tatapannya sekarang ini.
Raisya masih menggandeng lengan wanita yang berhasil dia pengaruhi, wanita yang sejak semalam dia bisiki dengan kata-kata racun agar makin membenci menantunya dan dia bisa melihat hasilnya yang cukup memuaskan di sore ini.
"Bu." suara Raisya terdengar lirih, memasang perangkap agar siapapun yang mendengar dan melihat ekspresi sedihnya itu menjadi iba dan kasihan.
Hayati mengelus lembut lengan Raisya lalu memberikan senyum kasih sayang.
Ya Allah, jujur melihat apa yang ada di depannya membuat Deefa sangat iri, dia merindukan ibu mertuanya yang dulu.
Ibu mertua yang menyambut kedatangannya dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang, ibu mertua yang dulu membisikinya untuk membantunya merubah seorang Raffan Alawi.
Namun kini ibu mertuanya itu malah seperti tidak melihatnya, menganggapnya sebuah bayangan yang tidak perlu diperhatikan kehadirannya, dan yang makin miris dan menyesakkan hati adalah, ibu mertuanya itu berbuat sangat baik pada wanita yang memang sangat menyukai suaminya.
"Kamu tunggu sebentar ya, ibu bicara dengan Raffan dulu," kata Hayati pada sang calon menantu.
Menantu? setidaknya itulah yang dia harapkan saat ini.
"Tapi Bu.."
"Yakin sama ibu, setelah hari ini kamu akan menjadi bagian dari keluarga ibu."
Dahi Raffan mengerut, bagian dari keluarga? apa maksudnya? bagaimana bisa Raisya menjadi bagian dari keluarganya? memangnya siapa Raisya itu.
Raffan ingin marah tapi terpaksa menahannya dengan sekuat tenaga sekalipun kedua tangannya sudah terkepal menunjukkan darah yang sudah sangat mendidih.
__ADS_1
Andai Raisya itu laki-laki mungkin dia sudah menyeret dan menendangnya keluar dari dalam rumahnya.
Dengan berat hati Raisya pun menyingkir tak jadi masuk ke dalam hanya berdiri diambang pintu melihat Raffan yang masuk menyusul ibunya lalu kemudian Deefa mengikuti di belakang.
"Wanita mandul tidak tahu diri!" Raisya berkata sangat tajam tepat di telinga Deefa.
Perkataan Raisya sungguh sangat membuat Deefa tersentak, dia bagai di sambar petir yang langsung menghanguskan sekujur tubuh dan perasaannya, terluka tapi dia tidak bisa membantah karena yang dikatakan oleh Raisya adalah sebuah fakta.
Deefa memejamkan mata lalu melanjutkan langkah, mengabaikan rasa sakit yang datang menyerang bagai hantaman bom berkekuatan sangat besar.
Di dalam kamar Deefa duduk berdampingan dengan suaminya, sedangkan sang ibu duduk di tepi tempat tidur tepat di depan mereka.
"Ibu sudah menemukan calon istri untukmu Raffan," lalu menatap pada sang menantu, "calon madu untukku, tapi andai kamu tidak bersedia di madu kamu bisa bercerai dengan Raffan."
Di masa ini Deefa merasa untuk kedua kalinya dia tersambar petir yang makin meluluhlantahkan pertahanan dirinya, membuatnya hancur berkeping tak bersisa.
"Bu!" Raffan menghardik ibunya dengan wajah yang tegang dan marah.
Hayati melihat pada sang anak, "Raisya, secepatnya kalian akan menikah."
"Mas, bukankah.."
"Kamu belum beritahu istrimu?" sang ibu menjadi makin sinis bahkan tidak membiarkan memangnya menyelesaikan perkataannya.
"Bu sudah cukup, Raffan mohon jangan ikut campur dalam rumah tangga Raffan!"
"Tidak ada waktu dua tahun, kamu menikah secepatnya dengan Raisya, dan kamu silahkan pilih di madu atau bercerai." beralih menatap pada menantunya.
Sungguh kenyataan luar biasa yang makin menghancurkan diri Deefa, dia seolah sudah sangat tidak dihargai lagi, dan suaminya? suaminya bahkan tidak mengatakan apapun padanya tentang waktu dua tahun yang di tolak oleh ibunya.
"Mas Raffan tidak pernah mengatakan apapun sama Deefa Bu," kata Deefa pada sang mertua.
"Itu karena dia kasihan sama kamu!" Hayati berkata keras tidak peduli dengan kehancuran dari menantunya yang dia berikan.
__ADS_1
"Ibu keterlaluan!" bentak Raffan, "kita pulang Deefa!" Raffan menarik tangan istrinya agar berdiri namun sang istri malah menepis tangannya.
"Kenapa Mas Raffan tidak bilang?" Deefa mengangkat wajah menatap menuntut pada pria yang berdiri di depannya dengan mata yang berembun, genangan air mata sudah siap meluncur bebas membasahi kedua pipinya.
"Deefa." Raffan menyebut nama istrinya dengan sangat frustasi.
"Deefa akan bantu mempersiapkan pernikahan Mas Raffan," kata Deefa dengan bibir yang bergetar.
Hayati tersenyum lega mendengar apa yang di katakan oleh menantunya.
"Jangan gila kamu!" teriak Raffan keras bahkan orang yang ada di luar kamar pun mendengar dengan jelas suaranya.
Raisya tersenyum puas melihat Raffan yang membentak Deefa, makin lebar tersenyum ketika Raffan menarik paksa Deefa dengan kasar, sungguh tontonan yang membuatnya bahagia tak terkira.
Dengan wajah yang sangat marah dan tak bisa mengontrol lagi Raffan pun menarik tangan Deefa dengan sangat kasar, membawanya keluar dari kamar dengan rahang yang mengeras.
"Raffan, ada apa?" tanya salah seolah Tantenya dengan wajah cemas.
"Raffan pulang Tante, assalamu'alaikum." pria itu tidak memberikan jawaban malah memilih untuk pamit.
Dengan gerakan kasar dia terus menarik Deefa keluar dari rumah disaksikan para saudara yang mendadak berkumpul di pintu.
"Kenapa tidak beritahu Deefa?!" di dalam mobil Deefa terus bertanya, tidak terima ketika suaminya tidak mengatakan apapun padanya tentang ibu mertuanya yang tidak memberi mereka waktu dua tahun untuk berusaha memiliki keturunan.
"Kalau aku katakan apa yang akan kamu lakukan? menyetujui apa yang ibu inginkan seperti yang baru saja kamu lakukan, begitu?" ucap Raffan bernada ketus.
"Kamu ini terlalu baik atau memang BODOH!" teriak Raffan di dalam mobil yang sudah melaju.
Suaranya menjadi benar-benar sangat kencang dan tak terkendali akibat kemarahan yang menguasai.
__ADS_1
\*\*\*\*