
Raisya merentangkan tubuhnya penuh kedamaian serta kebahagiaan yang membuat tarikan napasnya menjadi sangat ringan, dia jauh lebih lega setelah mengingat apa yang ibunya Raffan katakan juga kepasrahan yang Deefa tunjukkan sungguh sangat menguntungkan baginya.
"Bukankah ini jauh lebih mudah sekarang?" Raisya berbicara pada dirinya sendiri lalu senyum lebar membingkai wajahnya.
Wanita itu berada di atas angin ketika tahu sebentar lagi dia akan mendapatkan apa yang dia mau.
Pria yang dia kejar sejak lama akan menjadi suaminya, dia tidak bermimpi semua yang terjadi adalah nyata tidak perlu lagi dia mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan bahwa ini bukan sekedar mimpi.
"I love you Raffan."
Dia memang wanita tak waras, lihat saja bagaimana dia yang terus meneriakkan kata cinta untuk pria yang bahkan melihatnya saja sudah merasa jijik dan ingin memuntahkan semua isi perutnya.
"Coba saja dari awal aku tahu kalau Mami itu kenal dengan ibunya Raffan, mungkin saat ini akulah yang menjadi istrinya Raffan bukan si wanita tidak bisa hamil itu."
Menggerutu menyesalkan dia yang terlambat mengetahui bahwa sang Mami dan ibunya Raffan saling mengenal.
Wanita itu terlihat sangat menyesal namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya sudah kembali berubah, sumringah dan penuh tawa yang akan terlihat menyebalkan bagi yang tak suka dengan dirinya.
"Tidak masalah terlambat yang penting sebentar lagi aku dan Raffan akan tidur satu kamar dan di atas ranjang yang sama, bukankah itu sangat luar biasa?" Raisya terkekeh seraya memeluk selimut lalu berguling kiri kanan di atas tempat tidur empuk berukuran besar di dalam kamarnya.
"Oh ini teramat luar biasa." menarik napas panjang lalu membuangnya dengan perlahan seperti tengah melatih sistem pernafasannya apakah masih baik atau perlu diperiksa.
Brak!
Raisya yang akan memejamkan mata dengan damai pun tersentak kaget bahkan sampai terlonjak setengah duduk mendengar suara pintu yang di buka dengan kasar.
"Mami!" menyetak dengan mata yang nyalang kesal.
Andai yang masuk bukan wanita yang sudah melahirkannya tentu dia tidak akan segan untuk mengamuk atau melemparkan barang apa saja untuk menyerang memberi peringatan pada sang pengganggu.
Berhubung yang muncul adalah wajah Maminya jadilah dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya mampu berikan tatapan yang mengisyaratkan kekesalan.
"Mami kenapa sih Mi?" tanya Raisya dengan nada ketus.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa Raisya!" sang Mami balik bertanya dengan mata yang mendelik tajam dan seperti tengah menuntut penjelasan.
Raisya duduk dengan tak acuh lalu menampilkan ekspresi tanpa dosa seakan dia memang tidak melakukan kesalahan.
"Loh memangnya Raisya kenapa?" tanyanya dengan bola mata yang teramat tenang karena bahagia yang tengah meliputi.
"Kenapa, kenapa!" Maminya mendengus sinis dan tak terima dengan sikap anaknya yang seenaknya saja.
"Kamu ini tidak punya otak kah?" tuding sang Mami menghempaskan tubuh bawahnya ke atas tempat tidur anaknya.
Matanya menjadi terlihat jauh tajam dari sebelumnya.
"Otak Raisya selalu bertengger dengan manis di tempatnya Mamiku tercinta yang penuh kasih dan sayang." Raisya berkata gombal dengan senyuman yang lebih terlihat bagaikan sebuah seringaian yang menyeramkan.
Sepertinya julukan rubah yang diberikan oleh sang Mami memang sangat pas dan tidak salah, lihat saja tingkah lakunya itu, di luar terlihat baik tenang namun didalamnya menyimpan ribuan jarum yang siap menusuk siapapun yang menghalangi keinginannya.
"Hei! seorang yang punya otak tentu akan berpikir lebih banyak sebelum merepotkan orang lain!" serang wanita yang tadi pagi sudah sangat di buat marah oleh anaknya.
Anaknya itu sungguh sangat keterlaluan, setelah dibukakan pintu malah dengan entengnya berkata bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat dan minta di Carikan desainer untuk membuatkan gaun pernikahan yang bagus untuk dipakai nantinya.
Dan pemberitahuan dari anaknya itu membuat sang Mami yang tadinya mengantuk langsung membuka mata dengan lebar, kantuk segera lenyap berganti dengan rasa syok dan terkejut yang tak terkira.
"Raisya ini anak kandung Mami, jadi sudah sewajarnya merepotkan Mami apalagi ini menyangkut hari yang sangat penting bagi Raisya," celoteh Raisya santai.
"Anak kandung kurang ajar kamu ini!" sentak wanita yang sejak kemarin itu ingin terus-terusan mengomel.
"Kamu ini hanya dijadikan istri kedua, tidak perlu memakai pakaian bagus toh tidak ada yang akan melihat pernikahanmu juga."
Raisya mendelik mendengar cercaan dari sang Mami, sejenak dia berpikir Maminya ini orang tua kandungnya atau bukan sih? kenapa sikapnya malah sangat galak seperti ibu tiri.
"Mami tuh mulutnya tajam banget ya kalau ngomong," protes Raisya dengan wajah yang cemberut.
Maminya menghela napas membuangnya dengan sangat cepat, "kenyataannya kan begitu," ucap Maminya tak mau kalah, "lagian kamu ini aneh, Mami saja yang tua tidak mau dijadikan istri kedua eh kamu yang muda malah mau-maunya dijadikan yang kedua, kesenangan banget lagi, kayak yang nggak laku aja kamu itu."
__ADS_1
Sungguh Rovia tak habis pikir dengan anaknya itu, sebenarnya apa yang ada didalam otak sang anak hingga begitu bodohnya menerima saja dijadikan istri kedua, sedangkan menurut Rovia anaknya itu juga tidak jelek bahkan masuk kategori cantik tapi cinta buta yang terbukti membuat mata sang anak menjadi buta dan tak waras.
"Mami tenang saja Mi, setelah Raisya dinikahi Raisya akan mendesak Raffan untuk menceraikan si wanita mandul itu," cetus Raisya yang ternyata memang sudah memiliki rencana, akan tetapi siapapun tidak tahu apakah rencana itu akan terlaksana, sedangkan Raffan saja tidak menyukainya sama sekali.
Rovia menghela napas, "Raffan saja tidak suka denganmu Raisya, jadi bagiamana caranya kamu meminta Raffan menceraikan istri pertamanya?" sang Mami bahkan terlihat ragu.
Cerita-cerita anaknya dulu tentang seperti apa Raffan terhadap sang anak, dia sudah tahu tidak akan ada cinta yang hadir di hati Raffan meski hanya secuil.
Dia bukan meremehkan anaknya atau tidak mau mendukung, hanya saja dia tidak suka karena apa yang dilakukan oleh anaknya itu seperti sang anak tidak laku saja, padahal banyak pria yang mengejarnya setiap saat dan Raisya bisa tunjuk yang mana dia suka lalu pria itu akan menjadi miliknya.
Ada yang mudah kenapa selalu mencari yang susah? dasar sifat manusia memang sulit ditebak.
"Mami kenapa sih tidak mendukung Raisya? malah gencar banget buat jatuhin mentalnya anak sendiri."
Raisya menyoroti wanita yang sedari tadi mengoceh, mengomel dan tak hentinya mengatai dia bodoh dan segala macam lainnya.
Sang Mami mendengus sinis dan sadis, "pusing Mami sama kamu, punya anak gadis kok ya begini amat!" dengusnya beranjak berdiri.
"Nggak usah pakai bikin undangan segala! toh nikah juga paling nggak bakal di pestain!" kata Maminya lagi seraya melenggang pergi.
"Iissshh, punya Mami ngeselin banget sih!" sungutnya meremas selimut yang sedari tadi ada di dalam dekapannya.
\*\*\*\*
__ADS_1