
Sudah sangat malam ketika Deefa mendapat telepon dari Agam, meski bingung namun Deefa akhirnya menjawab telepon itu dan dalam hitungan detik wajah Deefa langsung menunjukkan ke senduan dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Kantor polisi?" Deefa berkata getir mengulangi apa yang tadi Agam katakan padanya, suaminya berada di kantor polisi karena terlibat perkelahian dengan pria bernama Marco yang tidak Deefa kenal.
Sekarang harus bagaimana? ini sudah hampir tengah malam dan dia tidak mungkin seorang diri mendatangi kantor polisi untuk menemui suaminya itu.
"Ayah," gumamnya yang teringat pada Ayah mertua dan dengan tangan yang sangat bergetar dia menghubungi mertuanya untuk memberitahu apa yang terjadi.
Dengan suara yang begitu lirih menyiratkan ketakutan serta ke khawatiran Deefa langsung mengatakan pada sang mertua tentang suaminya.
"Kamu tenang saja biar Ayah yang ke kantor polisi sekarang," kata sang Ayah mertua pada menantunya.
Deefa bisa mendengar suara mertuanya yang jauh lebih tenang ketimbang dirinya, mungkin karena memang ini bukan yang pertama kali mereka menghadapi hal seperti ini jadi tanggapannya sangat berbeda dengan Deefa.
Sepanjang malam Deefa benar-benar tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun, pikirannya terus tertuju pada suaminya tentang kenapa suaminya bisa terlibat perkelahian dengan pria bernama Marco, memangnya apa yang membuat Raffan tidak bisa mengendalikan emosinya? segala terkaan terus menguap tanpa ada jawaban dan hanya menemui titik buntu.
Sampai subuh menjelang kedua mata Deefa bahkan tidak terasa ngantuk hanya sedikit bengkak karena dia menangis memikirkan keadaan suaminya yang sekarang mungkin masih berada di kantor polisi bahkan Ayah mertuanya pun belum juga menghubungi dirinya untuk mengabarkan apapun tentang semua yang menimpa suaminya.
__ADS_1
Dia yang tak bisa tidur akhirnya pun memilih untuk ke kamar mandi membersihkan diri lalu berwudhu begitu mendengar adzan subuh berkumandang, bersujud menjalankan kewajibannya lalu berdoa memohon dimudahkan segala kesulitan dalam hidup dan juga tentang masalah yang menimpa suaminya, air matanya bahkan menetes membayangkan andai suaminya akan di tahan dalam waktu lama karena perkelahian yang dia tidak tahu apa masalahnya.
Sekitar pukul 7 pagi Ibu mertuanya menghubungi memintanya untuk segera bersiap karena dia akan menjemputnya untuk bersama-sama datang ke kantor polisi guna bertemu dengan Raffan, pria yang semalam tidak pulang dan membuat mereka begitu gelisah memikirkan keadaan pria yang masih saja kesulitan dalam mengatur emosinya.
Tanpa pikir panjang Deefa pun langsung bersiap, dia juga sangat ingin bertemu dengan sang suami terbiasa melihat pria itu setiap hari membuatnya langsung sangat merindukan wajah serta ke bawelan dari mulut suaminya.
Tak berselang lama terdengar suara salam dari luar rumah yang lantas membuat Deefa berlari cepat.
"Assalamualaikum."
"Kita langsung berangkat saja, Ayah sudah berangkat duluan ke sana," kata ibu mertua kepada menantu yang membuka pintu.
Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan supir pun langsung mengendarai mobil menuju kantor polisi dimana Raffan berada sejak semalam.
"Hal seperti ini sudah biasa Deef, kamu tidak perlu cemas, berdoa saja agar suamimu yang nakal itu segera dibebaskan yah kalau pun sampai di tahan mungkin hanya beberapa hari saja," ujar Hayati menenangkan menantu yang wajahnya menunjukkan kegelisahan luar biasa.
"Apa Mas Raffan sudah sering seperti ini?" tanya Deefa, jelas dia merasa sedikit heran dengan sikap kedua mertuanya yang begitu tenang bahkan terkesan santai ketika mengetahui anak mereka di tangkap polisi.
__ADS_1
Ibu Hayati menarik napas panjang lalu menggenggam tangan Deefa yang bergetar tanda kalau wanita itu sangat memikirkan keadaan suaminya.
"Ayah dan Ibu bahkan rasanya sangat bosan setiap kali harus bolak-balik kantor polisi untuk membebaskan Raffan," tutur wanita paruh baya yang mengenakan gamis berpadu dengan bergo besar yang menutupi hampir sebagian tubuhnya.
"Ibu pikir setelah menikah dia bisa menahan emosinya, tapi nyatanya masih saja sama," tambah Hayati membuat Deefa menunduk.
Perkataannya itu seolah kecewa dengan Deefa karena masih belum bisa merubah Raffan, belum bisa membuat Raffan menekan emosinya yang memang selalu tidak terkendali jika sedang marah dengan hal yang tidak sesuai dirinya.
"Maafkan Deefa Bu," kata Deefa lirih merasa bersalah, sungguh dia merasa tak enak padahal dulu ibu mertuanya itu pernah berkata untuk membuat Raffan menjadi lebih baik, tapi nyatanya malah begini.
Hayati memaksakan senyum lalu mengelus lengan menantunya yang menundukkan wajah.
"Kamu tidak salah apapun Deefa, jangan salah paham dengan ucapan ibu," ujar Hayati bisa merasakan kalau Deefa agak tersinggung dengan ucapannya, yah mau bagaimana lagi sebab dia memang berkata hal yang sebenarnya, dia kira Raffan akan berubah setelah menikah tapi nyatanya malah sama saja.
Deefa tidak bisa lagi berkata-kata hanya menunduk meremas masing-masing jari-jemarinya dan berharap kalau mobil ini akan segera sampai di tempat yang mereka tuju, karena jujur dia merasa tidak nyaman dengan mertuanya sendiri, apalagi setelah mengetahui kalau mertuanya itu kecewa terhadap dirinya yang masih belum mampu untuk merubah Raffan.
******
__ADS_1