
Sebuah mobil hitam melintas di jalan raya di antara sinar matahari yang diam-diam mulai menampakkan sinarnya setelah beristirahat sejenak dan posisinya untuk memberi cahaya pada bumi di gantikan oleh sang bulan.
Kicauan burung-burung kecil yang berterbangan karena kembali sibuk untuk mencari makan atau mungkin sekedar mengepakkan sayapnya saja untuk bermain-main dengan dengan angin.
Di dalam mobil sejak semalam tidak ada siapapun yang membuka mulut dari keempat orang dewasa di tambah dengan bocah kecil yang kini masih terlelap.
Tentu saja bocah itu mengantuk dan kelelahan karena sejak kemarin siang berada di dalam mobil berjam-jam lamanya sampai akhirnya mereka tiba di tujuan, tapi juga mereka tidak lama berada di tempat yang dia lihat banyak sekali orang-orang berpakaian seperti Abah, Mama serta Papanya, lalu mereka harus kembali pergi setelah para orang dewasa itu terlibat pembicaraan yang tidak dia pahami hanya yang dia tahu berulang kali mereka menyebut nama Deefa, wanita yang dia puji cantik dan dirinya panggil Tante, dan sejak saat itulah dirinya mendapati wajah Om yang biasanya selalu tersenyum tampak sangat berbeda.
Om nya menjadi sosok pendiam dengan kesedihan yang terlihat jelas dari sorot matanya.
Ah adakah yang tidak dipahami oleh bocah bernama Kinara tengah menimpa sang Om terkasih?
Sampai matanya mengantuk pun Kinara tetap tidak bisa menjawab karena otaknya tentu belum cukup sampai untuk ikut mengerti dengan urusan para orang dewasa.
"Gam." Restu sang Kakak ipar mulai bersuara mencoba untuk memecah keheningan yang tercipta menyapa Adik iparnya yang duduk di samping menemaninya mengendalikan mobil.
Restu faham bahkan sangat faham dengan apa yang kini dirasakan oleh Adik iparnya, dia juga pernah merasa kecewa pernah merasa patah hati tapi itu dulu saat dia masih berusia belasan tahun lalu sampai akhirnya takdir mempertemukannya dengan wanita luar biasa bernama Dinar.
Helaan napas keluar dari bibir pemuda di sampingnya memberitahu bahwa apa yang akhirnya dia ketahui sangat berat dan sungguh luar biasa mengejutkan.
"Agam nggak apa-apa Bang," sahut Agam bohong.
Jelas sekali wajahnya menunjukkan kalau dia tidak sedang baik-baik saja, jelas sekali kalau ada perasaan kecewa yang tengah bergelut di dalam dirinya.
Ya, dirinya kecewa sekaligus marah pada kenyataan yang baru saja dia ketahui.
Kemarin Ayahnya mengajak mereka sekeluarga ke Jawa timur bertujuan untuk menanyakan tentang Deefa pada Kiyai Burhan sekaligus jika memungkinkan akan langsung mengkhitbah wanita yang sudah mencuri hatinya sejak pandangan pertama itu agar tidak menimbulkan dosa karena terus membayangkan sang wanita idaman setiap saatnya.
Tapi akhirnya yang dia dapatkan adalah sebuah kenyataan bahwa wanita itu sudah menjadi istri dari pria lain dan yang lebih menyakitkan lagi adalah temannya sendirilah yang menjadi suami dari wanita berwajah teduh itu.
Raffan, kecewa pun lantas memenuhi relung hatinya terlebih lagi ketika Raffan yang mengenalkan Deefa sebagai sepupunya.
__ADS_1
"Ya Allah," Agam berkata lirih seraya mengusap wajahnya mengingat apa yang Raffan ucapkan kala itu.
"Itulah gunanya mendengarkan omongan orang tua, jika saja kamu tidak menurut dan terus saja mendekati Deefa bisa dipastikan kamu akan di cap sebagai pengganggu istri orang," timpal ustad Sabar yang duduk di bangku belakang bersama Dinar yang mengelus kepala Kinara yang tadi sudah bangun dan sekarang duduk di pangkuannya.
Agam tidak menjawab, semua pikirannya terkuras memikirkan apa yang sebenarnya ada di kepala Raffan saat tidak mengakui Deefa sebagai istrinya, lalu Agam tahu benar sampai saat inipun Raffan masih mendekati Fara, bahkan terakhir dia dengar Raffan dan Fara sudah menjalin hubungan.
"Kasihan kamu Deef," gumamnya lirih memikirkan bahwa bukan hanya dia yang sakit dalam hal ini, tapi juga Deefa yang harus menikah dengan pria yang bahkan bukannya menyelesaikan hubungan dengan wanita lain malah semakin menjalin kedekatan.
"Yah," panggil Agam pada pria tua di belakangnya.
"Kenapa Gam?" sahut pria itu dengan begitu lembut, dia tahu benar saat ini anaknya tengah patah hati karena Allah ternyata tidak memberikan apa yang dia inginkan.
"Kalau Deefa dan Raffan cerai apa boleh Agam mendekati Deefa?"
"Astaghfirullah."
Ustad Sabar, restu dan Dinar beristighfar serempak mendengar pertanyaan dari Agam.
"Kamu tidak boleh seperti itu Gam, itu sama saja kamu menentang kehendak Allah," timpal Restu.
"Asal kamu tahu Gam, kami para wanita menginginkan pernikahan hanya sekali seumur hidup kalaupun ada yang bercerai lalu menikah lagi percayalah karena ada suatu hal yang tidak bisa diperbaiki," Dinar mengingatkan adiknya agar selalu berpikiran jernih.
"Bukan mendoakan, Agam hanya bertanya lagipula dengan Raffan yang tidak mengakui Deefa sebagai istrinya itu sudah menandakan kalau hubungan rumah tangga mereka itu tidak berjalan baik kan? ada masalah dalam hubungan keduanya," jelas Agam.
Sungguh dia tidak bermaksud mendoakan Deefa bercerai, dia pun sadar tidak ada wanita yang mau menjadi janda karena dimasyarakat pun seorang janda akan dipandang sebelah mata, sekalipun mereka adalah janda terhormat.
Tapi yang namanya janda tetap saja akan identik dengan hal yang berkonotasi buruk bagi orang lain.
"Istighfar Agam," pinta Dinar guna membantu sang adik untuk sadar dari apa yang sudah dia ucapkan.
__ADS_1
Agam menghela napasnya dengan sangat panjang baru setelahnya mulutnya mulai menyerukan istighfar seperti yang di minta oleh sang Kakak.
"Maafkan Agam," katanya kemudian seraya menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
"Om Agam, nanti besok kita ke rumah Tante Deefa lagi ya."
Agam makin mengeratkan pejaman matanya mendengar keponakannya bicara.
Tidak tahu kah bocah itu kalau saat ini Omnya sedang patah hati.
Ah, inikah yang dinamakan patah hati? sungguh rasanya baru kali ini dia mengalami patah hati yang benar-benar patah sepatah-patahnya seperti tidak ada lagi yang bisa menyambungnya agar kembali utuh.
Terasa konyol memang, dia yang baru mengenal Deefa sudah mengalami hal hatinya terasa hal yang mustahil, tapi inilah yang namanya kehendak sang pemilik semesta, jika dia sudah berkehendak maka semua akan terjadi.
Dinar mengelusi punggung sang anak memintanya untuk tidak lagi mengatakan apapun, juga pelan-pelan agar mengerti, meski akan cukup sulit karena Dinar tahu anaknya itu sangat menyukai wanita bernama Deefa yang padahal diapun belum pernah bertemu dengannya.
Tapi dari cerita sang anak, Dinar yakin benar bahwa Deefa adalah seorang wanita baik serta penyayang.
"Ya Allah, ya Allah, ya Allah," bisik Agam menyebut sang penciptanya berkali-kali seperti tengah meminta pertolongan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*