
Pagi hari Raffan sudah bersiap untuk pergi ke kampus, meskipun sebenarnya dia ini sangat dan kehilangan semangat untuk kuliah tapi dia memaksakan diri karena dia juga ingin segera jadi sarjana, yah setidaknya dia ini tidak mengecewakan orang tuanya terutama ibunya setelah kekecewaan yang mungkin akan wanita itu rasakan setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu siap, pria itu bergegas keluar rumah mengunci kembali pintunya yang memang tidak ada siapapun di dalamnya, dia hanya sendiri bahkan tadi malam pun dia benar-benar tidak bisa tidur dan seperti yang disarankan oleh istrinya diapun memilih untuk mengaji menenangkan pikiran sekaligus melancarkan juga meneruskan bacaan-bacaannya yang dulu sempat dia lupakan karena keasyikan dengan kehidupan di dunia dan melupakan bahwa ada akhirat yang nanti akan menjadi tempat yang kekal untuknya dan juga seluruh makhluk di dunia ini.
Pikirannya saat ini sedang tidak baik sampai-sampai dia berkendara dengan hanya mata saja yang fokus tapi pikirannya jauh dari itu, berulang kali harus mendengar klakson dari kendaraan di belakangnya yang terganggu dengan cara dia membawa mobil yang kadang cepat tapi juga bisa mendadak menjadi sangat lambat bahkan sampai menginjak rem karena hampir menabrak kendaraan di depannya.
Raffan benar-benar menjadi sangat kacau melebihi yang kemarin.
Tiiinn!
Lagi, suara klakson terdengar kencang meramaikan lampu yang sudah berganti hijau ketika Raffan tidak juga menjalankan mobilnya setelah sebelumnya terjebak lampu merah.
Tidak mau malah membuat macet Raffan pun segera melajukan mobilnya menuju kampus yang jaraknya sekitar 500an meter lagi.
Mobilnya bergerak masuk ke dalam kampus yang gerbangnya terbuka sangat lebar mempersilahkan siapapun yang memiliki kepentingan di tempat itu untuk masuk.
"Raffan!" seruan dari seseorang membuat langkah Raffan yang akan meniti tangga terhenti lalu dengan gerakan terpaksa menoleh pada orang yang yang berada di belakangnya dan yang baru saja memanggilnya.
Dia langsung melihat wajah Rio yang tengah melihatnya dengan tatapan sedikit bingung, temannya itu sepertinya menangkap gelagat tak biasa hanya dari raut wajah saja.
Tentu saja siapapun akan bisa melihat ada yang lain dengan pria bernama Raffan itu, pria itu yang biasanya terkenal berisik dan dengan segala tingkah lakunya yang tak jelas sekarang agak berbeda, kalau orang lain yang tidak terlalu akrab dengan Raffan sudah bisa menyadari perbedaan itu lalu bagaimana dengan teman-temannya yang kadang mereka menghabiskan berjam-jam lamanya untuk bersama tentu dengan jelas mereka akan sangat tahu.
Tak ada perkataan yang Raffan keluarkan dari mulutnya bahkan setelah mengetahui siapa yang memanggilnya diapun langsung kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas, setelah sebelumnya absen untuk menyatakan kehadirannya hari ini.
"Aneh? mungkinkah ada yang sedang kehilangan gairah hidup?" Rio yang tak tahu menahu mulai menerka sambil menautkan kedua alisnya menatap kepergian Raffan yang tanpa mengatakan sepatah katapun padanya.
*****
"Sebenarnya Emak tidak apa-apa Deefa kalau kamu mau pulang ke Jakarta, toh kasihan juga kan suamimu pasti tidak ada yang ngurusin makannya, pakaiannya juga semua yang dia butuhkan," ujar wanita yang selalu memakai pakaian sederhana untuk sehari-harinya.
__ADS_1
Deefa menggeleng, "Deefa sudah izin sama Mas Raffan, dan Mas Raffan mengijinkan Mak, lagian Deefa ingin menemani Emak disini pasti sangat kesepian setelah Bapak nggak ada," jelas Deefa seraya mengupas kentang yang akan dia jadikan bahan masakan sore ini.
Dari lubuk hati yang paling dalam sebenarnya diapun memikirkan suaminya tapi nyatanya dia lebih tidak tega untuk meninggalkan Emaknya dan membiarkan wanita yang sudah berusia senja itu hanya sendirian di rumah.
Sungguh dia benar-benar tidak tega dan mengabaikan wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkannya, dia merasa nantikan dia juga akan punya anak dan dia juga ingin anaknya berbakti padanya dan juga Raffan, tentunya taanpa melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Wanita yang sebagian rambutnya sudah memutih itupun menghela napas, "Alhamdulillah Deef, suami kamu itu sangat pengertian sama kamu dan juga bisa bersikap dewasa padahal usianya itu di bawah kamu," ucap Emak memuji sang menantu.
Deefa mengangguk dengan ulasan senyum yang sumringah, menyetujui apa yang Emaknya itu ucapkan tentang pribadi suaminya.
"Tadinya Emak itu sangat ragu, berpikir apa mungkin anak muda yang usianya lebih muda itu bisa menjadi suami yang baik dan bisa menjadi imam untukmu, benar-benar ragu apalagi saat tahu kamu dan Raffan sempat bermasalah bahkan suamimu itu juga meminta kamu untuk memilih, saat itu sebenarnya Emak sudah ingin meminta kamu untuk bercerai saja, takut kamu semakin sakit hati, tapi almarhum Bapak sama Kiyai Burhan terus mengingatkan dan meyakinkan Emak kalau Raffan pasti bisa berubah, dan akhirnya ya Emak membiarkan kamu untuk terus melanjutkan pernikahan kamu dengan Raffan," cerita Emak dengan tatapan mata yang begitu teduh.
Tidak dipungkiri kalau mata Deefa itu menurun dari Emaknya, warna kulitnya pun sama, sepertinya dia ini memang gambaran masa muda Emaknya.
"Tapi sekarang Mas Raffan sudah berubah Mak, dia jadi jauh bahkan sangat jauh lebih baik dari yang sebelumnya saat pertama kali Deefa menjadi istrinya," beber Deefa menghentikan gerakan tangan yang sedari tadi mengupas kentang lalu meletakkan pisau di bale bambu yang juga mereka duduki.
Sang Ibu mengangguk lalu mengelus kepala anak satu-satunya yang meskipun sejak kecil dia titipkan pada kiyai Burhan beserta istrinya di pondok pesantren tapi tidak membuat anaknya itu melupakan dia dan suaminya sebagai orang tua kandung, anaknya itu benar-benar menunjukkan baktinya sebagai seorang anak, tidak pernah menjadi lupa bahkan mengungkit kalau selama ini dia memang tidak memiliki andil untuk membesarkan serta membimbing anaknya itu.
"Emak selalu berdoa kalian akan terus bahagia seperti ini, mungkin akan ada cobaan tapi Emak sangat yakin kalian akan bisa melewatinya," jelas wanita yang tangan serta wajahnya sudah berkeriput.
"Doakan juga agar Deefa dan Mas Raffan cepat punya anak Mak," pinta Deefa dengan wajah yang mendadak murung, tentang anak akan selalu mengingatkan dia pada Ibu mertuanya yang mungkin sekarang tengah bertanya-tanya tentang hasil pemeriksaan dirinya dan juga Raffan.
__ADS_1
Emak menatap Deefa lalu menggenggam tangan sang anak, "selalu, setiap selesai sholat emak akan selalu mendoakan kamu dan juga Raffan, tapi ingatlah Deef kita harus tetap bersabar sebab Allah lah yang akan menentukan kapan kamu dan Raffan memiliki anak, kita tidak bisa memaksakan keinginan kita, semua tergantung pada bagaimana kamu berusaha dan berdoa pada Allah, pemilik seluruh alam, pandai-pandai lah kamu merayu Allah agar mau segera mengisi rahimmu dengan bayi kecil penerus kamu dan Raffan," saran sang Ibu yang diangguki oleh Deefa.
"Kalau belum di kasih juga anggaplah Allah masih ingin kamu dan Raffan menikmati masa pacaran halal kalian, tidak perlu terlalu dipusingkan," ujar wanita yang beranjak dari duduknya lalu turun dari bale bambu membawa baskom berisi sayuran yang akan dia cuci.
Deefa termenung menatap kepergian Ibunya ke belakang, perkataan terkahir ibunya membuat Deefa tercenung memikirkan hal itu, dia dan Raffan sebenarnya juga ingin menyikapi hal itu dengan santai terutama Raffan, suaminya itu bahkan harus dia bujuk dan paksa agar mau melakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada tidak masalah pada reproduksi mereka, tapi tuntutan dari Ibu mertuanya membuat dia tidak bisa lagi tenang dalam menyikapi dirinya yang tak kunjung hamil meskipun pernikahan mereka belum ada satu tahun.
Ibu mertuanya itu menuntut mereka terutama dirinya agar segera hamil memberikannya cucu bahkan sampai tega membandingkan dia dengan sepupu sang suami yang sudah hamil padahal baru menikah.
Sungguh rasanya kecewa tapi dia tidak bisa menceritakan hal itu pada siapapun, pada suaminya pun sebenarnya dia tidak ingin bercerita tapi karena pria itu terus mendesaknya membuat dia terpaksa bercerita bahkan suaminya itupun sempat mendengar langsung apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya yang akhirnya membuat pria itu menegur ibunya sendiri.
Hal itu membuat Deefa merasa makin tidak enak dan bersalah, karena kini Raffan dan ibunya jadi tidak dekat, bahkan bicara pun hanya sekedarnya saja, tidak seperti dulu saat dia baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Deefa menyusut air mata yang tanpa berkata turun dari kedua matanya, menghapusnya dengan ujung kerudungnya lalu mengatupkan bibir agar tangisnya tidak keluar, tidak mungkin dia menangis di saat dia ingin menghibur ibunya atas kepergian sang Ayah.
"Deef, kentangnya bawa sini!" seru Emak yang rupanya tadi melupakan kentang yang seharusnya dia bawa juga untuk di cuci.
"Iya Mak," jawab Deefa segera menghapus bulir-bulir air mata yang masih tersisa lalu gegas membawa kentang dan memberikannya kepada wanita yang tengah berjongkok di depan air yang memancur dari keran jadul di kamar mandi rumah sederhana yang mereka tempati harta satu-satunya peninggalan almarhum Bapak.
__ADS_1
\*\*\*\*\*