Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Tidak Percaya


__ADS_3

"Ayo Deef," ajak sang ibu mertua yang sudah berada di dalam mobil.


Wanita itu bersama suami serta sopirnya sudah menunggu di dalam mobil dan koper milik sang menantu pun sudah berada di bagian belakang mobil.


Deefa mengangguk, namun ketika dia akan masuk ke dalam mobil tangannya di pegang oleh Raffan yang sedari tadi memang berdiri di dekatnya.


"Lo ikut sama gue!" kata Raffan dengan rahang yang mengeras.


"Loh, kamu mau bawa mobil?" tanya sang ibu yang mendengar perkataan sang anak pada menantunya itu.


"Iya, Raffan bawa mobil sendiri, Ayah sama ibu jalan duluan aja nanti Raffan ikutin dari belakang," jawab Raffan dengan menekan emosi yang sejak tadi seolah mengusik dirinya.


"Tapi Deefa mau bareng sama Ayah dan ibu aja," sahut Deefa menatap pria yang tengah memegang tangannya.


Tangan itu sejak tadi seperti melekat bagaikan lem, menempel erat kala pria itu mengajak sang wanita untuk satu mobil dengannya.


"Gue suami Lo, Lo mau dengerin siapa kalau bukan gue!" tuntut Raffan yang sekarang seperti sangat ingin diakui sebagai suami padahal dulu dirinyalah yang meminta Deefa untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka pasangan suami istri, bahkan hanya mengakui istrinya sebagai sepupu.


"Nggak ada Raf, Deefa ikut di mobil Ayah."


Imran mengambil keputusan yang jelas tidak akan diterima oleh anaknya.


"Nggak bisa gitu Yah, pokoknya Deefa ikut di mobil Raffan!" jawab Raffan menolak permintaan sang Ayah.


"Memangnya kenapa sih kalau Deefa ikut Raffan? Raffan suaminya," tambah Raffan tetap memegang tangan wanita yang kini menjadi bingung.


Deefa, sebenarnya ingin bersama mertuanya saja ketimbang harus dengan Raffan, tapi suaminya itu sejak tadi memaksa dan selalu mengatakan bahwa dia adalah suaminya dan seperti menekankan kalau dia jugalah yang lebih berhak terhadapnya.


"Ayah tidak percaya sama kamu."


Pernyataan itu langsung membuat ekspresi wajah Raffan menggelap, bisa-bisanya Ayahnya itu tidak percaya pada dirinya memangnya apa yang bisa dia lakukan pada wanita yang sah menjadi istrinya?


Apa Ayahnya pikir dia segila itu sampai harus tidak dipercaya padahal dia hanya ingin mengajak istrinya dan berdua saja di dalam mobil karena mungkin dengan berdua saja dia bisa lebih leluasa berbicara dengan sang istri begitupun istrinya.


"Biar bagaimana pun Raffan suaminya Yah, Raffan yang lebih berhak atas Deefa! apa Ayah pikir Raffan segila itu hingga Ayah tidak percaya pada Raffan, Ayah yang membesarkan Raffan jelas Ayah tahu bagaimana sifat Raffan! apa selama ini Raffan pernah melukai orang?!"


Wajah Raffan sudah berubah sangat merah dengan matanya yang menyiratkan bahwa saat ini dia tidak terima, meski tanpa mengatakannya, Raffan pun tahu apa yang di maksud dengan kata 'Ayah tidak percaya dengan kamu'.

__ADS_1


Seluruh tubuh Raffan rasanya memanas seperti hutan yang di bakar dengan sengaja, sungguh dia ingin mengamuk tapi sadar diri siapa yang sedang dia hadapi saat ini, sangat tidak mungkin baginya bertengkar orang tuanya.


"Ayah."


Hayati memanggil suaminya lalu mengelus bahu pria yang duduk di samping sopir itu seolah memberi isyarat untuk membiarkan Deefa naik di mobil Raffan, toh keduanya memang suami istri dan yang dikatakan oleh Raffan barusan pun ada benarnya.


Mereka sangat mengenal anak laki-laki mereka, meski penampilan serta pergaulannya membuat mereka mengelus dada tapi tetap saja anaknya itu tidak pernah menyakiti fisik siapapun, terlibat perkelahian pun rasanya tak pernah, setahunya tidak pernah, semoga saja benar tidak.


"Ya sudah, tapi ingat jangan melakukan apapun pada Deefa!" kata ustad Imran tegas memberi peringatan seraya matanya membesar.


Raffan mengangguk lalu menarik Deefa menuju mobilnya dengan dirinya yang langsung masuk ke dalam mobil membiarkan Deefa berdiri di depan pintu.


"Masuk, ngapain masih berdiri disitu!" tegur Raffan kala Deefa belum juga masuk ke dalam mobil.


Sungguh Raffan ini terbuat dari apa? bagaimana bisa dia abai seperti itu, padahal tadi jika dia mau dia bisa membukakan pintu mobil dulu untuk istrinya, tapi tidak! nyatanya pria itu malah langsung nyelonong saja masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi berhadapan dengan setir yang akan dia nantinya akan berada di genggaman tangan berjam-jam lamanya.


Deefa pun masuk ke dalam mobil tanpa melihat pada pria yang sejak tadi menatapnya, sedari dia membuka pintu sampai dia duduk, mata pria itu tak berpaling sedikitpun malah seperti semakin tajam bagaikan seekor elang yang mengincar buruannya.


"Sabuk pengaman!" tegur Raffan membuat Deefa gegas memasang sabuk pengaman di tubuhnya.



"Kalau hanya untuk marah-marah sebaiknya Deefa ikut di mobil Ayah saja," kata Deefa tidak nyaman.



Sungguh baru duduk saja dan mobil belum bergerak, pria di sampingnya itu sudah menunjukkan betapa pria itu memang tidak bisa berkata biasa, selalu saja bernada tinggi.



"Lo ngancem Deef?" tanya Raffan konyol.


Astaga Raffan, tidak bisakah membedakan mana mengancam atau sekedar pernyataan biasa, bukankah Deefa berkata seperti itu semata-mata karena dirinya juga yang selalu tidak bisa tenang saat mengeluarkan perkataannya.


"Bukan mengancam, hanya saja memang sebaiknya kita tidak satu mobil," tutur Deefa bersiap untuk turun.


__ADS_1


"Lo turun gue bakal lebih ngamuk!" ancam Raffan.


Gila! apa Raffan ini gila, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu terhadap istrinya.


Mengamuk? memangnya kenapa dia harus ngamuk? bukankah seharusnya dia senang karena istri yang dia akui sebagai sepupu itu akan kembali ke pesantren dan dia akan bebas tanpa harus melihat wanita itu di rumah.



Tiiiinn!


Suara klakson dari mobil sang Ayah membuat keduanya menoleh, melihat mobil yang sudah mulai bergerak.


Dan tanpa mengatakan apapun lagi Raffan langsung saja memasangkan sabuk pengaman di tubuh wanita yang sekarang terdiam kaku seraya menahan napasnya.



Ini pertama kalinya setelah menikah mereka begitu dekat bahkan seperti tanpa jarak, hembusan napas Raffan terasa di kulit wajah wanita yang mematung dan hanya mengerjapkan matanya saja.



Entah maksudnya apa Raffan malah menatap matanya sedangkan tangannya bergerak memasang sabuk pengaman, ah bukankah seharusnya mata Raffan fokus pada sabuk pengaman itu saja?



Mobil yang di kendarai oleh Raffan sudah melaju di jalanan hanya berjarak beberapa meter dari mobil di depannya.



Setelah kejadian sabuk pengaman tadi Raffan kembali memasang mode galak di wajahnya membuat Deefa pun hanya bisa memalingkan wajah ke sisi sebelahnya, melihat pemandangan yang padahal hanya terdapat mobil-mobil yang turut meramaikan jalanan.



Entahlah tidak tahu kenapa dia merasa jantungnya sulit kembali normal setelah hembusan napas suaminya menerpa wajahnya, bahkan tadi Raffan sempat memajukan wajahnya tidak tahu mau melakukan apa.


Deefa menggelengkan kepalanya berulang kali berusaha untuk menepis bayangan beberapa menit yang lalu.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2