Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Suami Yang Ngambek


__ADS_3

Raisya duduk berhadapan dengan Marco yang bertampang sangat kusut, beberapa hari di dalam tahanan sudah membuatnya begitu kacau, ternyata dia yang bengal dan urakan itu masih bisa stres juga ketika kebebasannya terhalang jeruji besi.


"Papa gue beneran nggak mau bantu keluarin gue dari sini?" tanya Marco memastikan, sebab tadi sepupunya itu mengatakan padanya kalau orang tua terutama sang Papa sudah angkat tangan dengan kelakuannya, tidak mau menyewakan pengacara untuk membantunya agar bebas dari tahanan.


Raisya menggeleng lambat dengan wajah yang tetap cantik seperti biasa namun sekarang ada gurat kasihan melihat nasib sepupunya.


"Minta tolong sama Papa Lo deh Saya," kata Marco kemudian mencoba opsi lain meski akhirnya pasti akan sama saja.


"Heh, Papa gue itu Adiknya Papa Lo, saat Papa Lo aja nggak mau bantu apalagi Papa gue yang cuma Adiknya! belum lagi Papa Lo pasti udah ngehubungin Papa gue buat jangan bantu Lo Co!" cerocos Raisya mengingatkan kalau saja Marco lupa bahwa Papa mereka itu Adik Kakak yang sejak muda selalu kompak dalam segala urusan, jadi kalau ada masalah seperti ini kalau salah satunya saja sudah tidak mau membantu jadi jangan harap satunya lagi akan memberikan bantuan.


Dua pria itu selalu kompak dalam mengambil tindakan, terlebih lagi Marco sudah sering membuat ulah, belum lama juga kan dia di tahan karena berkelahi dengan Raffan, tapi saat itu Papanya masih mau turun tangan, di pikirnya tidak akan membuat ulah lagi eh yang belum juga lama tapi sudah ada lagi saja yang dia perbuat dan sekarang malah melanggar dua pasal sekaligus pula penculikan dan pengeroyokan, habislah sudah Marco dan kawan-kawannya sekarang.


Marco mengusak rambutnya dengan kasar sampai rambut berwarna hitam ikal itu berantakan tak jelas seperti hidupnya saat ini, kerap kali menantang orang dan kini dia mendapatkan hasil atas perbuatannya yang sok seperti jagoan.


Kalah dalam suatu pertandingan seharusnya itu adalah hal yang wajar dan orang yang waras tidak akan dendam pada yang memenangkan pertandingan, tapi Marco ini memang sangat aneh, sudah kalah tapi masih saja penasaran lalu kalah lagi dan lagi malah membuatnya jadi dendam tidak terima karena kalah, jadi keputusan Papanya untuk tidak membantunya agar bebas rasanya cukup bagus agar dia bisa belajar bahwa perbuatan salah memang harus dipertanggung jawabkan apalagi sampai membuat orang masuk rumah sakit di tambah penculikan, jelas ini bukanlah kenakalan remaja tapi tindakan kriminal.


"Lagian kenapa sih Lo cari masalah terus." oceh Raisya yang juga kesal dengan tindakan Marco apalagi ketika tahu orang yang sebenarnya diincar oleh Marco itu adalah Raffan, pria yang dia sukai bahkan dia dengan gilanya sudah mendatangi rumah Raffan dan bertemu dengan istrinya lalu mengaku sebagai kekasih sang pria.


"Gara-gara Raffan sialan!" umpat Marco dengan tatapan marah.


"Lo udah kayak gini masih aja nyalahin Raffan!" bentak Raisya tak terima.


"Pokoknya gue nggak bakal bantuin Lo bebas! rasain aja situ sendiri hasil perbuatan Lo!" oceh Raisya lalu menenteng tasnya dan pergi meninggalkan Marco yang menatapnya dengan tatapan malang.


*****


"Lo ngaca mulu Far," protes Devi saat melihat Fara sejak 10 menit lalu berkaca tapi tak kunjung selesai.


"Rese aja Lo!" ketus Fara mendengar Devi mengganggu.


"Hai." Fara melambaikan tangan ketika mendengar Seira sedang mengenalkan dirinya pada anak baru di kelas dan duduk dekat dengan mereka.


Lalu Fara melirik sebal ketika teman prianya yang bernama Abryal berjalan mendekat lalu dengan sok gantengnya tebar pesona pada anak baru yang Fara dengar bernama Ralen, nama yang terdengar unik tapi sepadan dengan wajahnya yang cantik dengan hiasan tahi lalat di bibir kiri sebelah atas.

__ADS_1


Hingga tak lama dosen yang di puja-puja oleh mahasiswi di kampus itu memasuki kelas tentu saja untuk memberikan pelajaran bagi mereka.


Sore hari saat pelajaran sudah selesai..


"Lo mau kemana Fara?!" seru Devi saat melihat Fara berlari cepat menuju mobil di parkiran.


"Gue ada urusan," sahut Fara seraya membuka pintu mobil berwarna hitam metalik yang tampak basah oleh tetesan air hujan yang mulai turun.


"Sejak kapan dia punya urusan?" Seira berbisik pada Devi yang langsung mencebikkan bibirnya.


Menurut mereka Fara salah satu mahasiswi cantik namun tidak memiliki kegiatan penting, urusannya paling ke salon ataupun shoping menghabiskan uang orang tuanya, yah terlahir kaya apalagi yang bisa dia lakukan kecuali menghamburkan harta orang tuanya, tapi untungnya Fara ini bukan termasuk orang kaya sombong dia mau berteman dengan siapa saja asalkan dia nyaman itu sudah cukup.


Lihat saja bagaimana Fara sangat betah berteman dengan Devi dan Seira yang kondisi keuangan keluarganya berbeda lumayan dengannya, tapi sampai sekarang mereka tetap berteman dengan baik.


Jadi jangan selalu menilai apapun dan siapapun dari luarnya saja, yang luarnya baik belum tentu dalamnya baik lalu yang luarnya buruk belum tentu dalamnya juga buruk.


*****


"Udah malam Raffan, Lo nggak mau pulang?" tanya Gerry kepada sang teman yang sedang tiduran di sofa bengkel.


Raffan tidak menjawab malahan membalik tubuhnya membelakangi Gerry.


"Lagi hujan Raf, banyak lagi tuh hujannya," timpal Rio mulai memancing dengan lirikan mata yang sudah langsung di mengerti oleh Agam dan Gerry.



Tidak ada tanggapan dari Raffan membuat mulut Rio kembali berkicau layaknya burung peliharaan yang sudah sangat terlatih.



"Biasanya kalau hujan-hujan gini paling enak kelon, dingin-dingin anget.."


__ADS_1


"Kunci mobil gue mana?" Raffan yang tadi tiduran seolah manusia tanpa tulang itu bangun dengan sangat cepat lalu mencari kunci mobilnya yang tadi dia geletakkan di atas meja.



"Tuh." tunjuk Gerry dengan dagunya ke arah kunci yang teronggok tanpa daya di meja dekat botol minuman yang tinggal setengah.



Langsung saja Raffan merambetnya dan berlari menembus air hujan yang turun dengan sangat deras sejak tadi sore.



"Kalau soal gituan mah nggak ada kata nggak mau dia," ejek Rio yang disambut gelak tawa Gerry sedangkan Agam menahan senyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakukan teman-temannya.



Raffan mengendarai mobilnya dengan cepat dan terburu-buru menerobos hujan yang disertai Sambaran petir berkilauan di langit malam yang gelap tanpa bulan dan bintang, sebab bulan dan bintang tengah disembunyikan entah dimana karena hujan sedang berkuasa untuk membasahi bumi dan menjadikannya basah dengan udara yang dingin menusuk.



Di dalam rumah Deefa begitu mencemaskan suaminya yang tak kunjung pulang, dia sudah berusaha untuk menghubungi sang suami tapi handphone pria itu tidak aktif karena Raffan memang sengaja mematikan handphonenya.



Deefa sadar kalau saat ini suaminya itu sedang ngambek dengannya karena dia yang terus menuntut untuk mereka segera pergi ke dokter melakukan pemeriksaan, bukan dia yang ingin tapi ibu mertuanya yang membuat dia begini, membuat dia menekan suaminya yang dia tahu usia pria itu masih sangat muda jalan pikirannya pun kadang sering tidak bisa di tebak.



Deefa menyingkap gorden berharap suaminya pulang tapi yang dia dapatkan hanya cahaya dari petir yang menyambar membuat dia langsung menutup kembali gorden berbahan blackout.



Hingga akhirnya Deefa memutuskan untuk duduk di sofa dengan raut wajah yang cemas menantikan sang suami.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2