
Raffan sedang menikmati makan siang di rumah orang tuanya, ini hari libur dan semalam dia memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya itu, tentu untuk makan masakan sang ibu yang sudah sangat dia rindukan, terlebih tidak ada Deefa membuatnya selalu membeli makanan.
Pria itu begitu lahap membuat Ayah dan Ibunya hanya bisa melongo menontonnya makan.
"Kamu nggak makan-makan?" tanya sang ibu.
"Lah ini kan lagi Makan Bu," celetuk Raffan menyelesaikan kunyahan terakhir dan nasi di dalam piringnya habis sudah.
Ibunya menggeleng gemas dengan jawaban sang anak, "maksud ibu selama Deefa nggak ada kamu nggak makan?" memperjelas pertanyaan.
Raffan menenggak minumnya menghabiskannya tanpa sisa setetes pun, "makan di luar Bu, tapi nggak makan nasi paling spageti burger atau kentang goreng, ya gitu-gitu aja," sahutnya meletakkan gelas.
Mata sang ibu membeliak tak percaya, sebab selama ini dia sangat tahu makanan apa yang anaknya itu sukai semuanya masakan Indonesia terutama masakan Padang, tapi kenapa sekarang mah jadi makanan luar yang dia makan.
"Terpaksa nggak ada Deefa nggak ada juga yang masakin Raffan, mau beli tapi Raffan takut rasanya beda sama masakan Deefa dan juga ibu."
Tanpa sengaja perkataannya itu sudah menunjukkan kalau dia memang sudah bergantung pada wanita bernama Deefa, bahkan masakan wanita itu sangat cocok di lidahnya meskipun kadang Deefa sendirilah yang merasa kurang puas dengan hasil masakannya, tapi nyatanya suaminya malah selalu ketagihan dengan masakannya itu tanpa mau mengatakannya langsung.
"Baru sekarang kan terasa kalau Deefa itu penting dalam hidupmu?!" sindir sang Ayah yang baru saja menyelesaikan makannya.
Sejak tadi dia mendengarkan bagaimana anak satu-satunya itu terus menyebut nama sang menantu yang baru bisa di ajak pulang dua hari lagi.
Raffan melirik pada sang Ayah lalu mendesah berat, "Ayah nggak bisa minta keringanan apa sama Abah Burhan, biar Raffan bisa jemput Deefa sekarang," cetus Raffan.
Sepertinya menunggu dua hari lagi terasa sangat lama, dia ingin istrinya itu pulang sekarang juga dan menemani dirinya di rumah yang mereka tempati.
Rumah yang beberapa hari ini terasa begitu sepi karena tidak ada lagi suara mengaji Deefa saat selesai sholat, tidak ada harum masakan di saat dia bangun pagi, dan yang terpenting tidak ada yang membukakannya pintu dan menyambutnya dengan wajah lugu dan tatapan sendu.
"Terima konsekuensi atas perbuatan yang kamu lakukan," ucap Ayahnya.
Jika sudah begini sangat jelas jika ustad Imran tidak akan membantu anaknya itu, toh langkah ini di ambil setelah mereka berdiskusi agar Raffan lebih menghargai wanita yang menjadi istrinya juga bertanggung jawab atas kebahagiaan sang istri.
Setelah di ruang makan tampaknya kedua pria itu masih belum puas untuk berbicara, keduanya sekarang berada di ruang keluarga sedangkan sang ibu sibuk merapikan bekas makan siang mereka.
"Bagaimana Agam?" tanya sang Ayah.
"Kenapa menanyakan Agam?" ucap Raffan seperti sangat anti membicarakan Agam yang sudah berteman lama dengannya.
"Loh ya harus di bicarakan, memangnya kamu tidak merasa aneh pertemanan kamu yang dulu sangat akrab dengannya malah menjadi renggang," papar Imran.
Dirinya tentu mengerti kalau semenjak kejadian beberapa hari lalu hubungan pertemanan Raffan dan Agam menjadi tak baik.
__ADS_1
"Dia salah loh Yah, bisa-bisanya dia suka sama Deefa bahkan mau melamarnya, apa dia tidak berpikir dulu sebelum melakukannya," dengus Raffan.
Dia seolah lupa kalau bukan karena dirinya sendiri yang ceroboh sudah pasti Agam tidak akan sampai menyukai Deefa bahkan ingin menikahinya.
"Semua itu kan berawal dari kamu Raffan, kamu yang mengatakan pada teman-temanmu kalau Deefa itu hanya sepupu, dan sekarang kamu juga menyalahkan temanmu karena sudah menyukai Deefa, astaghfirullah Raffan, Ayah tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu," geram pria tua mendengar jawaban sang anak.
"Kamu ini sudah menjadi suami dan kamu bertanggung jawab atas diri Deefa, istrimu itu sudah jadi bagian dirimu, tidak ada yang salah dengan mengakuinya sebagai istri, karena memang itu kenyatannya," tambah ustad Imran.
Pria tua itu terus memberikan nasihatnya kepada sang anak yang memang selalu keras kepala dan merasa benar dengan segala pemikiran tak masuk akalnya.
"Seorang suami harusnya melindungi istrinya dari tatapan pria lain, bukan malah seolah menyodorkannya, bukan begitu caranya jadi suami Raffan."
"Iya Ayah Raffan ngerti, itukan yang kemarin juga Raffan udah ngaku salah sama Deefa, udah minta maaf juga," aku Raffan menggaruk ujung alisnya mendengar sang Ayah masih terus berbicara.
"Ayah harap setelah Deefa kembali, bersikaplah selayaknya seorang suami layaknya kepala keluarga karena meskipun usiamu lebih muda dari Deefa tapi tetap saja kamu adalah imam baginya, kamu kepala keluarga yang harus melindungi keluargamu," jelas Ayahnya memberikan pengertian tentang tanggung jawab yang harus Raffan emban.
Raffan mengangguk, sedikit demi sedikit dia harus mulai belajar menjadi suami yang baik, suami bertanggung jawab bukan hanya tentang nafkah batin tapi juga nafkah batin yang belum juga dia berikan pada sang istri meski sudah lebih satu bulan mereka menikah.
\*\*\*\*
"Lebih tepatnya gue diputusin," desis Fara pada temannya.
Alin melongo tak percaya dengan pengakuan temannya itu, wanita cantik yang bahkan penampilannya selalu terlihat sempurna dengan lekuk tubuh yang mempesona, tidak ada pakaian yang gagal jika sudah di pakai oleh sang teman.
"Raffan mutusin Lo Far? yang benar saja," cetus Alin meragukan pengakuan Fara.
"Lo nggak percaya?" tanya Fara dengan begitu sinis.
"Enggak." menggeleng tenang karena nyatanya memang dia tidak percaya.
"Yang gue lihat Raffan tuh bucin banget sama elo Far, dan teman-teman kampus juga tahu kok segigih apa dia ngejar-ngejar elo," jelas Alin.
__ADS_1
"Alah bucin-bucin, buktinya aja dia putusin gue kok, makan tuh bucin!" sentak Fara masih saja kesal jika ingat Raffan yang memutuskannya, terlebih lagi kalau pria itu sudah mempunyai istri.
"Raffan tuh udah nikah tahu nggak," lanjut Fara.
Dan Alin pun melebarkan kelopak matanya, melotot tak percaya.
"Lo ngawur ya Far, mana mungkin Raffan udah nikah, lagian umurnya juga baru 19 tahun kan sama kayak kita," balas Alin yang tetap tidak percaya.
"Lo pikir gue kurang kerjaan apa, kalau bukan dia sendiri yang ngaku ya mana mungkin gue bilang kayak gini!" Fara mendecih kepada sang teman yang meragukan perkataannya.
"Siapa tahu aja itu cuma alasan dia doang kan, bisa jadi cuma biar.."
"Biar apa?" sambar Fara emosi.
"Ya biar bisa putus sama elo."
"Tadi Lo sendiri yang bilang kalau dia tuh bucin sama gue, tapi sekarang Lo juga yang bilang kalau itu cuma alasan dia aja biar putus sama gue, jadi yang kata Lo bucin tuh kayak gimana? masa bucin malah minta putus, gila!" menyentak meja meluapkan darah tinggi yang dengan cepat naik kembali setelah sempat mereda.
Alin menggaruk kepala yang tak gatal, benar juga apa yang dikatakan oleh Fara, kalau bucin mana mungkin minta putus setelah penuh perjuangan mendapatkan Fara, kalau pun menikah rasanya sulit di percaya mengingat Raffan itu masih sangat muda dan masih senang menghabiskan waktu dengan hobinya, pria seperti Raffan pasti tidak suka di kekang sungguh sukar di percaya kalau Raffan benar-benar sudah menikah.
*****
__ADS_1