
Hari sudah beranjak sore ketika Raffan baru saja keluar dari Mushola kampus yang sejak ashar tadi dia datangi, berniat untuk sholat dan diakhiri dengan tadarus dengan dua orang mahasiswa yang satunya adalah Agam.
"Lo langsung pulang?" tanya Agam duduk di samping Raffan yang sedang mengikat tali sepatu.
"Ke rumah Ayah dulu, tadi ibu telepon soalnya," jawab Raffan menoleh sekilas lalu kemudian melanjutkan apa yang dia lakukan.
Agam mengangguk lalu kembali berbicara, "kalau ada masalah Lo boleh cerita sama gue," ujar Agam.
Kemungkinan besar kalau Agam mengetahui ada sesuatu yang tengah mengganjal hati dan perasaan temannya itu, raut wajah Raffan menandakan ada yang tengah temannya itu alami tapi Agam tidak tahu sebab Raffan tidak mengatakan apapun sampai akhirnya dia berinisiatif untuk bertanya lebih dulu.
Tadi sepanjang pelajaran dia memperhatikan Raffan yang sangat-sangat lain dari Raffan yang biasanya dia kenal, Raffan yang akan sangat berisik dan berbicara apa saja tidak terdengar suaranya saat di dalam kelas, apalagi Rio juga menyatakan hal yang sama saat dia bertemu dengan Raffan di dekat tangga masuk.
Mereka itu teman lama sedikit banyak pasti tahu tentang sifat mereka masing-masing, akan terlihat dengan jelas perubahan yang ditunjukkan pada mereka yang tengah memiliki masalah.
Siapa tahu begitu di tanya Raffan mau bercerita, karena biar bagaimanapun mereka ini adalah teman yang sudah seharusnya saling berbagi baik suka ataupun duka.
Patut diingat setiap salah satu dari mereka terkena masalah mereka akan saling membantu, seperti yang sudah terbukti selama ini, Raffan yang masuk penjara lalu Gumay yang masuk rumah sakit karena di pukuli oleh Marco, mereka kadang bergantian untuk menjaga atau mengunjungi.
Raffan menghentikan gerakan tangannya lalu tak bergerak selama lima detik namun setelah itu terdengar tarikan napasnya yang begitu panjang dan lama, dia itu sangat ingin bercerita pada teman-temannya, ingin berbagi apa kesedihan seperti apa yang sekarang tengah menghimpit hatinya tapi dia juga tidak mau teman-temannya malah jadi kekurangan istrinya.
Sungguh dia tidak ingin memperlihatkan kekurangan istrinya kepada orang lain siapapun itu terutama keluarganya sendiri, mungkin memang lebih baik tidak mengatakan apapun dan pada siapapun.
"Gue pulang duluan Gam," katanya yang akhirnya memilih untuk tidak menyuarakan isi hatinya.
Agam mengangguk tapi dengan hati yang makin penasaran, seumur hidup dia mengenal seorang Raffan Alawi rasanya tidak pernah dia mendapati temannya begini, bahkan saat bertengkar dengan kedua orang tuanya saja masih tetap bersikap santai seakan tidak terjadi masalah apapun.
Raffan berdiri menaikan tas kepunggungnya, "assalamu'alaikum," mengucap salam sebelum melangkah pergi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Agam seraya menatap penuh tanya kepergian sang teman yang seperti Rio bilang tadi pagi, sangat aneh dan tidak biasa seolah mereka itu bukan berhadapan dengan Raffan.
"Dia itu sebenarnya kenapa?" gumam Agam masih dengan begitu lekat memandangi Raffan dari jarak yang jauh bahkan perlahan mulai tak terlihat.
Saat hendak masuk ke dalam mobil Raffan malah berpapasan dengan Raisya yang langsung begitu histeris layaknya orang yang bertemu dengan idola yang begitu dia kagumi.
"Raffan!" Raisya berseru sambil berlari dengan gerakan yang terkesan di buat-buat mungkin akan terlihat sangat menyebalkan bagi siapapun yang tidak menyukai acap kali berpakaian kekurangan bahan, baik bagian atas maupun bawah serba kurang semua.
Raffan menulikan telinga bersikap seakan tidak mendengar dan melihat siapapun, tangannya sudah membuka pintu mobil guna menghindari wanita yang sudah semakin dekat, pria itu sudah duduk di dalam mobil dan akan menutup pintu tapi kemudian pintu mobilnya itu malah di tahan oleh tangan putih milik sang wanita yang napasnya kembang-kempis, salah sendiri dia berlarian tak jelas.
"Aku panggilin kamu loh Raf, malah nggak dengar," protes Raisya.
__ADS_1
Di saat ini Raffan sangat enggan untuk menimpali si wanita centil itu hingga dia tidak mengeluarkan suara apapun hanya tangannya saja yang bergerak berusaha untuk menutup pintu yang di tahan dengan kuat oleh sang wanita.
"Kamu kenapa sih?" tanya Raisya yang tak mau tahu padahal pria di depannya itu benar-benar menunjukkan sikap tidak senang dengan kemunculannya.
Pikiran lagi suntuk dan pusing malah seorang wanita yang sangat menyebalkan muncul dihadapannya, membuat Raffan menghela napas yang begitu berat.
"Aku nebeng kamu ya, nggak bawa mobil terus nggak ada yang jemput juga soalnya," cerocos Raisya lalu dengan seenaknya masuk ke dalam mobil Raffan padahal pria yang dia ajak bicara dan dimintai tumpangan belum menjawab apapun menyetujui permintaannya.
Raisya berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu samping sebelah kiri dan duduk dengan mengumbar senyum manis ke arah Raffan yang memberikan tatapan kesal dan tak suka.
"Gue nggak bisa kasih tebengan!" Raffan sudah berkata tegas agar si wanita turun dari mobilnya.
"Aku nggak minta jawaban kamu."
Raisya dengan entengnya menjawab, tadi dia memang tidak berniat meminta persetujuan dari Raffan dan dia juga tidak mengajukan pertanyaan apakah boleh menumpang atau tidak, dia ini memaksa untuk di antar pulang dengan perbendaharaan kata yang menyebalkan.
Raffan mendengus lalu berkata, "turun!" memberikan perintah agar si wanita itu segera turun dari mobilnya.
Raisya malah menyunggingkan senyum lalu dengan gaya sok cantiknya malah menggeleng menolak menuruti permintaan pria yang tengah menahan emosinya agar tidak meluap.
Sangat tidak mungkin kalau Raffan berbuat kasar pada seorang wanita sekalipun wanita itu sudah memancing emosinya sejak tadi, bahkan saat wanita itu belum berbicara apa-apa dan hanya melihat wajahnya saja Raffan sudah menjadi sangat dongkol, terlebih lagi ketika dia mengingat bahwa wanita inilah yang pernah datang ke rumahnya dan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya kepada Deefa.
"Kalau aku nggak mau?" Raisya seperti menantang kesabaran seorang Raffan Alawi.
Raffan menarik napas lalu tanpa banyak bicara turun dari dalam mobilnya dan berjalan mengitari kendaraan roda empat itu diiringi oleh tatapan dari si wanita lalu membuka pintu tempat Raisya duduk dengan tenangnya.
Pria yang sejak tadi tidak menunjukkan senyum itu bahkan terkesan sangat tidak ramah pada wanita yang tidak peka padahal pria yang dia dekati itu sudah sangat risih dengan kelakuannya bahkan tidak ingin berlama-lama berdekatan dengannya.
Raffan membuka pintu mobilnya, "cepat turun!" kata Raffan lagi dengan suara yang tega dan berat.
Dia ini sedang bersungguh-sungguh tidak bercanda sama sekali karena wanita yang ada di dalam mobilnya ini memang sangat tidak layak untuk di ajak bercanda atau diajak bicara dengan sopan.
"Aku nggak mau," lagi-lagi wanita yang sedang memamerkan paha mulusnya itu menolak dan malah dengan sengaja sedikit mengangkat kakinya untuk memancing jiwa lelaki dari Raffan.
__ADS_1
"Mau turun sendiri atau gue paksa!?" Raffan sudah memberi ancaman yang mungkin akan dia buktikan seandainya Raisya tidak juga mendengarkan perkataannya.
"Ya udah paksa aja," dengan sangat menyebalkan malah menantang, wanita ini seperti tidak ada takutnya atau justru tidak tahu malu?
Raffan mendengus, "jangan paksa gue buat berbuat kasar sama Lo!" suara Raffan sudah benar-benar tidak lagi bisa menahan amarah.
Pikirannya sudah sangat kusut jadi tolong jangan menambah lagi dengan hal yang tidak berguna seperti ini, meladeni wanita yang tidak tahu malu seperti Raisya sungguh menguras emosi yang dengan cepat memuncak.
Raisya masih saja menggeleng yang akhirnya membuat Raffan tak lagi tahan.
"Lo yang paksa gue kasar!" seru Raffan lalu tangannya dengan cepat menarik Raisya keluar dari dalam mobilnya membuat wanita itu terpekik tak percaya.
"Raffan, gila kamu ya! sakit tahu," marah Raisya ketika Raffan menghempaskan nya keluar dari mobil dengan gerakan yang menyakitkan.
Brugh!
Raffan menutup kembali pintu dengan sangat kencang lalu dia segera berlari menuju pintu sebelah kanan tidak peduli Raisya yang terus mengatai dirinya kejam gila tega atau apapun itu, dia sangat tidak peduli, hingga langsung saja menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran kampus.
"Sialan! awas aja Lo ya Raf, gue bakal bikin perhitungan sama elo!" ancam wanita yang tengah memegangi pangkal lengannya yang terasa sakit akibat cengkeraman serta tarikan yang Raffan lakukan tadi.
\*\*\*\*\*
__ADS_1