Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jalan-Jalan Di Taman


__ADS_3

"Mau jalan-jalan dulu nggak?" Raffan menawarkan, rupanya dia mulai mempunyai inisiatif sendiri untuk menghibur istrinya yang pasti saat ini perasaannya sedang tidak karuan.


Seorang menantu wanita memang sudah tidak aneh jika suatu saat bersinggungan dengan mertuanya, terlebih mertua wanita sebaik-baiknya para wanita itu pasti ada saja masalah baik di sengaja ataupun tidak.


"Terserah Mas saja," sahut Deefa dengan suara yang masih terdengar sendu, pastilah karena masalah yang terjadi dengan Ibunya, apalagi tadi ibunya bahkan tidak mau melihatnya sama sekali saat mereka berpamitan pulang.


"Kalau terserah sama aku ya ngapain aku harus tanya sama kamu, langsung saja aku bawa kamu kabur buat jalan-jalan," celoteh Raffan, "maksudnya kan aku tanya kamu dulu, kan aku nggak tahu kamu lagi mau jalan-jalan atau nggak nanti kalau langsung aku bawa jalan tanpa ngomong kamu malah marah terus ceramah panjang-panjang tanpa jeda sampai buaya punya rambut terus kambing hilang huruf K nya," cerocos Raffan malah ngelantur.


"Apaan sih Mas," Deefa malah tersenyum mendengar perkataan tak masuk akal dari suaminya, dari buaya punya sambut kambing hilang huruf K nya, astagfirullah sesungguhnya Deefa ini menikahi seorang pria yang luar biasa ajaib ada saja perkataan tak jelas yang keluar dari mulutnya itu yang membuat orang lain bingung dan tak jarang malah jadi tertawa karena ulahnya itu.


Seperti yang sekarang terjadi dengan Deefa, dia yang tadinya begitu resah gelisah memikirkan tentang ibu mertuanya malah jadi tersenyum dengan perkataan suaminya barusan, wanita itu bahkan sekarang tengah mengelus-elus dada sang suami yang sedang menyetir mobil.


"Jangan dielus sayang karena bukan jin yang keluar akan tetapi teman bermain mu di tempat tidur yang akan menunjukkan eksistensinya," kelakar Raffan dengan sudut bibir yang terangkat sedangkan Deefa membeliakkan mata lalu menjauhi suaminya itu.


"Hahaha." dengan kencangnya Raffan malah tertawa terbahak melihat bagaimana raut wajah Deefa yang berubah menjadi begitu panik mendengar penuturannya.


Tidak tahu kenapa rasanya Raffan merasa sangat bahagia, sungguh baru kali ini dia bisa tertawa dengan sangat puasnya, biasanya dia hanya akan bisa tertawa seperti ini ketika sedang bersama dengan teman-temannya lalu sekarang dia menunjukkan bagaimana rupa dia yang semakin sempurna saat sedang tertawa dengan rahangnya yang terbuka lebar, membuat Deefa terpesona melihatnya.


"Jangan tertawa dan senyum berlebihan di depan wanita lain ya Mas," suara Deefa menghentikan tawa Raffan yang sebenarnya masih tersisa.


Raffan menoleh sekilas lalu kembali menatap jalanan di depannya, dia masih membawa mobil dan dia harus tetap fokus pada kendaraan itu karena dia tentu tidak mau istrinya terluka karena kelalaian yang dia perbuat akibat tidak memperhatikan jalanan yang mereka lintasi.


"Kenapa memang?" tanya Raffan tanpa menoleh.


"Deefa takut akan ada banyak wanita yang terpesona dan jatuh hati ketika melihat Mas Raffan tertawa atau senyum," tutur Deefa menatap lekat wajah sang suami dari samping, sungguh saat dari samping begini pun wajah suaminya itu malah makin indah untuk di lihat dia suka rahang sang suami yang tegas serta hidung mancung dan alis mata yang tebal bagaikan semut yang berbaris teratur.


"Kamu cemburu?" tebak Raffan.


Deefa pun mengatupkan bibirnya lalu menundukkan wajah, haruskah dia mengakui kalau dia cemburu? rasanya setelah Raffan mengungkapkan perasaan cintanya tapi kenapa selalu Deefa yang merasakan cemburu terhadap suaminya itu?


Raffan pun tersenyum lalu mengelus kepala istrinya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang serta rasa cinta yang sudah semakin membesar itu, sepertinya dalam dirinya itu sudah sangat penuh dengan cinta untuk sang istri.


"Hanya kamu wanita yang akan melihatku tertawa seperti tadi, tidak akan ada wanita lainnya ya Zaujati," ucap Raffan membuat Deefa merasakan udara yang begitu sejuk menerpa wajahnya.

__ADS_1


Wanita itupun mengambil tangan suaminya lalu mengecupnya berulang kali mengisyaratkan betapa dia sangat menghormati pria yang menjadi suaminya itu, rasa hormat syukur cinta dan sayang semuanya bercampur menjadi satu di dalam diri wanita dengan sorot mata yang selalu teduh dan menyejukkan.


Akhirnya Raffan mengajak istrinya untuk pergi ke taman dengan pohon-pohon besar, jadi meskipun ini siang hari namun mereka tidak akan terkena langsung sinar matahari karena terhalang oleh rimbunnya dedaunan dari pohon-pohon di taman dengan danau yang sangat luas di depannya.


"Semenjak nikah aku baru hari ini aku ajak kamu jalan-jalan di taman kayak gini, maaf ya," kata Raffan terdengar sangat tulus.


Mereka berdua berjalan di dalam taman kota itu dengan bergandengan tangan mencari tempat duduk di bawah pohon agar tidak terkena terik matahari, tapi sekian lama mencari tidak ada bangku yang kosong semuanya terisi oleh orang-orang yang datang ke tempat itu.


"Tapi sekarang Mas sudah ajak Deefa jalan-jalan," ucap Deefa.


Raffan mempererat genggamannya pada sang istri seperti menyalurkan rasa cintanya agar Deefa tahu bahwa dia benar-benar sangat mencintainya.


"Tidak ada tempat duduk yang kosong sayang," ujar Raffan karena tidak juga melihat bangku kosong yang bisa mereka duduki.


"Tidak apa-apa kita bisa duduk di situ," Deefa menunjuk bawah pohon berumput di sebelah kanan suaminya.


Raffan melihat tempat yang Deefa tunjuk melihatnya sekilas lalu beralih menatap pada wanita di sampingnya, "memangnya tidak apa? nanti kotor," kata Raffan seperti tidak setuju dengan ide Deefa untuk duduk di rumput tanpa alas.


Raffan pun mendekat dan turut duduk di samping istrinya yang tengah tersenyum sambil menatap danau yang berkilau terkena sinar matahari.


Deefa sejenak melupakan masalah yang baru saja dia hadapi, merasakan untuk pertama kalinya duduk di taman dengan melihat danau pada siang hari seperti anak-anak muda yang sedang pacaran.


Sedangkan Raffan tak pernah memalingkan matanya dari wajah sang istri yang begitu mengagumkan, pada kenyatannya kedua insan manusia itu sudah saling mengagumi satu sama lain.


******


Menjelang sore Raffan dan Deefa baru pulang ke rumah, tadi setelah dari taman mereka berdua pergi ke mall berbelanja sekaligus makan, karena mereka berdua pun tidak sadar kalau sejak pagi tidak sempat makan apapun.


Beruntung mereka sudah sempat sholat ashar dulu di mushola mall, jadi Raffan bisa membawa mobil dengan tenang meski kemacetan menghadang akibat jam pulang kantor.


Deefa yang sedang mencari pakaian di dalam lemari di kejutkan dengan suara dering dari handphone milik suaminya yang ada di meja rias, tidak tahu kenapa deringan handphone itu begitu nyaring membuat Deefa terjengkit kaget.


Wanita itupun meraih benda yang masih bersuara itu lalu membawanya kepada sang suami yang sedang berada di ruang baca.

__ADS_1


Ruang baca yang pintunya tidak di tutup langsung memperlihatkan Raffan yang sedang duduk sambil membaca buku yang ada di tangannya, "mas ada telepon," kata Deefa menghampiri pria yang tadi nampak sangat serius dengan bacaannya.


"Siapa?"


"Tidak tahu, belum Deefa angkat," sahut Deefa.


"Kenapa tidak diangkat?"


"Tidak sopan Mas," ucap Deefa memberikan handphone milik suaminya yang masih setia berdering.


Raffan pun menerima benda yang diberikan oleh istrinya itu lalu melihat nama si penelepon.


"Rio," celetuk Raffan.


"Yang waktu itu bantuin angkat lemari?" Deefa bertanya memastikan.


"Iya," sahut Raffan mengiyakan pertanyaan sang istri.


"Tapi kenapa nama kontaknya Pak Budi?" bingung Deefa.


"Itu nama Bapaknya sayang, hehe," jelas Raffan sambil terkekeh.


"Sialan Lo Raffan!" maki Rio yang ternyata teleponnya sudah di angkat oleh Raffan.


Deefa menggeleng dengan tingkah suaminya yang malah menyimpan nomor temannya dengan nama orang tua mereka.



Wanita itupun pergi meninggalkan suaminya yang mungkin sedang terkena makian dari Rio karena kelakuan random nya yang memang luar biasa tak bisa di mengerti oleh manusia manapun.



\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2