
Selepas pertemuannya dengan Fara, Raffan langsung pergi ke bengkelnya tanpa pulang lebih dulu ke rumah untuk mengganti baju atau mencuci rambutnya yang mungkin menarik perhatian para semut untuk singgah seandainya saja kepala itu tergeletak di lantai.
Di bengkel juga ada toilet dia bisa membersihkan dirinya di sana nanti.
Di dalam mobil pria itu terus saja berkaca pada spion guna melihat penampilannya juga sedikit membenahi rambutnya yang tampak sedikit berwarna kuning akibat jus buah mangga yang Fara siramkan.
"Untung muka gue ganteng jadi nggak malu-malu amat di siram jus," katanya seraya merapikan rambutnya yang terasa lengket.
Pria itu masih sempat-sempatnya memuji dirinya sendiri di saat seperti ini, sungguh jiwa narsisnya selalu muncul tidak pandang waktu.
Raffan melajukan mobilnya mengikuti jalanan yang sudah sangat dia hafal, dan kumandang adzan isya terdengar ketika dia melewati masjid nalurinya sebagai berandal ingin melewati masjid itu tapi kemudian handphone di dashboard malah bergetar satu kali menandakan ada pesan yang masuk.
Pria itu pun mengambil benda yang tengah menyala itu lalu membaca nama sang pengirim pesan.
"Kayaknya dia bisa baca pikiran orang lewat jarak jauh dah, bisa-bisanya dia ngingetin sholat saat gue berpikiran buat bolos," katanya saat membaca isi pesan dari Deefa yang mengingatkannya untuk sholat.
Raffan pun dengan gesitnya mengetikan pesan guna memberi jawaban atas perintah istrinya itu.
Menjawab singkat hanya dengan kata 'oke' saja lalu kembali menyimpan handphonenya ke tempat semula dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"Oke, nanti sholat kalau sudah di bengkel, sekarang mana bisa sholat badan lengket sama jus begini," ucapnya memutar setir mobil.
"Raffan tuh," kata Rio begitu melihat mobil sang teman yang baru saja tiba.
Gumay serta Gerry pun hanya menoleh saja laku sibuk bermain game yang ada di handphone mereka.
"Bentar, kayaknya mesti foto dulu nih, biar Deefa tahu bagaimana pengorbanan gue," kata Raffan lalu berpose di depan kamera handphone, memamerkan rambut, wajah serta kaos yang di lapisi kemeja panel dan kini sudah terlihat bercak-bercak orange yang nampak jelas di kaos putihnya.
"Ngapain tuh si Raja drama?" tanya Gumay bingung kala melihat temannya malah asik ber-selfie di dalam mobil.
"Frustasi kali abis di amuk Fara," timpal Gerry yang akan selalu menjadi orang yang paling update ketimbang temannya yang lain.
"Oh iya tadi dia ketemuan sama Fara kan?" sambar Gumay lagi mengingat tadi selepas kuliah dia melihat temannya itu tengah berbicara dengan Fara yang tampak sekali sedang emosi.
"Putus beneran apa?" kali ini Rio teringat kala Fara mendatangi mereka mencari-cari Raffan, juga wanita itu sempat mengatakan kalau dia di putuskan.
Raffan turun dari mobil setelah selesai mengirimkan hasil selfienya kepada sang istri, dia patut berbangga hati karena sebagai seorang pria dia sudah memenuhi apa yang dia janjikan, nyatanya dia tidak sekedar omong kosong atau memberi bujukan semata hanya agar Deefa tetap mau menjadi istrinya.
Memang sangat pantas jika dia dijuluki raja drama oleh Gumay, karena tingkahnya memang selalu dipenuhi drama.
Katanya tidak suka di jodohkan bahkan terpaksa menerima pernikahan tapi begitu ada kesempatan untuk bebas dari pernikahan yang dia jalani dengan terpaksa itu eh malah tidak mau, malah membujuk istrinya untuk memberikan kesempatan, drama mu mengalahkan Drakor Raffan.
Raffan melenggang gagah seperti biasanya, tidak ada yang berubah hanya tampilannya yang saja yang membuat ketiga temannya mengalihkan kegiatannya dan fokus pada dirinya.
"Assalamu'alaikum," salamnya seraya memamerkan senyum tak biasa.
Terlihat aneh bagi teman-temannya itu bahkan ketika Raffan yang meskipun anak seorang ustad jarang sekali mengucapkan salam dan hari ini mereka mendengar salam dari mulut pria itu.
"Ada yang ngucap salam alangkah baiknya di jawab," cetus Raffan menyindir ketiga temannya yang langsung saja kompak menjawab salamnya.
"Wa'alaikumsalam."
"Nah begitu," katanya puas.
Gumay yang penciumannya bagaikan anjing pelacak malah selanjutnya mengendus-endus sekitar tempat Raffan berdiri membuat yang lain kebingungan.
"Lo ngapain sih?" tanya Raffan kesal.
"Lo bawa mangga ya."
__ADS_1
"Mangga apaan?" tanya Raffan sedangkan Gerry dan Rio saling memandang.
Mereka berdua pun akhirnya mengikuti tingkah Gumay, mempertajam penciuman mereka guna mencium bau mangga yang mendadak menyeruak saat kedatangan temannya itu.
Raffan mendesis lalu mendorong Gumay menjauh dari dekatnya, "gue di siram jus mangga sama Fara!" sentak Raffan lalu berjalan ke dalam meninggalkan temannya yang terbengong mendengar pengakuannya itu.
"Di siram?"
"Jus mangga?
"Sama Fara?"
Ketiganya berbicara bergantian seolah sambung menyambung, sedangkan Raffan sudah beralih ke dalam ruangan yang memang sudah mereka siapkan di dalam bengkel jika ada yang mau beristirahat.
Pergi ke dalam toilet guna membersihkan dirinya, lalu setelah itu mengganti baju dengan pakaian bersih yang memang selalu tersedia berjaga-jaga kalau pakaian mereka kotor setelah memperbaiki kendaraan yang mau service, namanya juga bengkel akan selalu berkaitan dengan oli serta yang lainnya yang bisa membuat pakaian ternoda.
"Si Bandung blasteran Padang ini kadang tingkahnya sulit dimengerti," seloroh Rio.
Di kota lain Deefa tengah menatap layar handphonenya yang menampilkan wajah sang suami dengan hastag 'demi istri sampai rela di guyur jus oleh mantan pacar'
Meski khawatir tapi tidak di pungkiri kalau hati Deefa saat ini merasa sangat senang, taman bunga sepertinya mulai tumbuh subur di dalam dirinya, mengetahui fakta bahwa suaminya tak sekedar omong belaka, pria yang menikahinya lebih dari sebulan yang lalu nyatanya membuktikan apa yang di janjikan.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih ini semua berkat bantuan mu," kata Deefa lirih, menahan haru yang meresapi dirinya tak terasa air matanya menetes melampiaskan rasa haru dengan yang sudah dilakukan oleh suaminya.
Setelah hari ini sepertinya Deefa akan semakin tak sabar menghitung waktu serta hari demi hari agar bisa bertemu dengan suaminya kembali, ini sudah hari keempat itu artinya dia masih harus menunggu tiga hari lagi untuk bisa melihat wajah tampan milik sang berandalan.
Tak hentinya dia melantunkan syukur atas semua yang Allah berikan, sesungguhnya hanya Allah lah yang maha membolak-balikkan hati manusia dan itulah yang tengah di lakukan oleh sang pemilik semesta, hati Raffan yang sebulan lalu seperti anti terhadapnya dengan mudahnya bisa berubah.
Yah meski Deefa tahu hati suaminya itu masih belum sepenuhnya menjadi miliknya, tapi setidaknya pria itu mau mencoba dan berusaha untuk lebih menghargai dia yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
*****
"Jadi beneran Lo putus sama Fara?" baru saja keluar sudah di todong pertanyaan oleh Rio yang sejak kemarin begitu penasaran dengan hubungan percintaan temannya itu.
"Menurut Lo?" kata Raffan mencebikkan bibirnya lalu mengambil tempat antara gunya dan Gerry, menyelak di antara dua temannya itu padahal masih ada kursi lain yang bisa dia tempati.
"Agam mana?" tanya Raffan saat tidak mendapati satu temannya itu.
"Jawa timur," sahut Gerry dengan sengaja.
Sepertinya dia ini memang senang sekali memancing seorang Raffan yang sontak langsung membelalak mendengar jawaban darinya.
Wajah Raffan langsung tegang seketika membuat Gerry mendengus sedangkan Gumay berceloteh.
"Lo kenapa sih tiap dengar Jawa timur muka Lo langsung kayak kemasukan setan," sungut Gumay heran.
"Gimana nggak tegang May, orang di Jawa timur ada istrinya," celetuk Gerry.
Pernyataannya tidak membuat Raffan kaget, karena dia tahu Gerry sangat dekat dengan Agam, jelas Agam akan senang hati berbagi cerita dengannya.
Celetukan Gerry pun sukses membuat Gumay serta Rio menjengkit dari duduknya.
"Istri? maksudnya apaan?" tanya keduanya seperti anak kembar yang selalu kompak.
"Lo mau kemana?" tanya Gerry saat Raffan malah sudah berdiri.
"Ada urusan," sahut Raffan hendak pergi tapi kemudian ujung bajunya malah di tarik oleh Gerry dan di hentakkan hingga jatuh terduduk kembali di tempat semula.
"Nggak bisa, si Gumay sama Rio kayaknya butuh jawaban," kata Gerry melarang Raffan pergi.
__ADS_1
"Tapi Agam.."
"Agam lagi ada pengajian di rumahnya," jawab Gerry datar.
"Lo ngerjain gue?!" dengus Raffan sadar kalau Gerry sedang mempermainkan dirinya.
"Apaan sih ini?" Rio dan Gumay yang memang tidak tahu menahu apapun malah seperti orang bodoh mendengar pembicaraan dua temannya.
"Sialan!" maki Raffan saat Gerry malah cengengesan tanpa rasa bersalah.
Raffan pun akhirnya mau tidak mau mulai memberitahukan kedua temannya tentang status dirinya sekarang ini.
"Menikah!" seru keduanya kompak.
"Jadi waktu yang ke Jawa timur dulu itu Lo nikah?" tambah Rio mengingat saat Raffan yang mendadak pergi ke Jawa timur.
Raffan mengangguk mengiyakan.
"Terus Fara?" kali ini perhatian Gumay berganti pada wanita yang sejak lama di sukai oleh Raffan.
"Ya di putusin lah, kan udah punya istri," kata Gerry menekan kata istri dengan sangat jelas.
Gumay dan Rio pun terus saja mencecar Raffan dengan segala pertanyaan juga tak habis pikir kalau wanita yang dulu di akui sebagai sepupunya itu ternyata adalah istrinya.
"Gila emang Lo Raf," dengus Gumay.
Raffan tak acuh dengan segala ocehan temannya itu yang jelas sekarang dia mulai tenang karena janjinya pada sang istri sudah dia tuntaskan semua.
Dua janji yang menjadi bukti kalau dirinya bersungguh-sungguh menerima Deefa sebagai istrinya.
__ADS_1
********