Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Deketin Sepupunya


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Agam tak pernah terlihat mendatangi bengkel yang susah payah dia bangun bersama Raffan dengan uang tabungan yang mereka miliki, membuat teman-temannya bertanya ada apa dengannya? kenapa pria yang terkenal paling rajin dan paling Sholeh diantara temannya yang lain itu terlihat mulai melupakan bengkel yang sekarang benar-benar semakin ramai karena sudah banyak para pemuda-pemuda yang mengetahuinya bahkan tak jarang bengkel itu menjadi tempat berkumpul kawanan anak muda selain teman-temannya Raffan.


Dan ketidak hadiran Agam jelas mengundang pertanyaan dari temannya terutama Gumay dan Rio.


"Agam kemana sih? udah lima hari loh dia nggak muncul nih bengkel kan juga punyanya." Gumay berbicara pada Rio serta Raffan yang sedari pulang kampus sudah berada di bengkel guna memeriksa semua barang yang kosong dan harus segera di beli.


Raffan yang juga tak tahu apa yang tengah dikerjakan Agam menutup mulutnya rapat, sebab yang dia tahu hanyalah temannya itu mulai rutin mengajar di TPA yang sama dengan Deefa, Raffan tak menyambut pertanyaan dari kedua temannya yang seperti anak ayam kehilangan induknya, terus berkotek sejak hari kedua Agam tidak muncul di bengkel, sedang di kampus pun mereka seperti tidak mempunyai kesempatan untuk berkumpul dengannya itu.


Bayangkan saja, Agam datang saat sudah mendekati jam pelajaran lalu setelah pelajaran selesai pria itu sudah menghilang tanpa mereka tahu kapan perginya, seolah tanpa ada jejak atas kepergian sang teman.


"Raf," panggil Rio menginterupsi kegiatan Raffan pada rak-rak penyimpanan dengan buku catatan di tangannya.


Memangnya apalagi yang akan dia lakukan? jelas mencatat semua kebutuhan bengkelnya.


"Hem," sahut Raffan mendehem tanpa minta.


"Agam itu lagi deketin sepupunya si Raffan."


Suara dari Gerry yang baru saja datang membuat Rio dan Gumay sontak melihat padanya, sedangkan Raffan tampak tidak peduli tapi sesungguhnya ada rasa yang sulit untuk diartikan terbukti dari tangannya yang langsung meremas pulpen yang sedari tadi membantunya mencatat pada buku putih yang lumayan tebal.


"Hah? sepupu mana? emang Lo punya sepupu?" tanya Gumay mengalihkan atensinya pada Raffan, sepertinya Gumay lupa pada kejadian yang lalu ketika seorang wanita datang ke bengkel menyusul Raffan yang kemudian Raffan akui sebagai sepupunya.


"Yang waktu itu kesini bukan?" tanya Rio sebab selama kenal dengan Raffan baru wanita itulah yang dia ketahui sebagai sepupu Raffan, karena yang dia tahu semua saudara Raffan tinggal di luar kota, Bandung dan juga Padang.


Entahlah bagaimana ceritanya sampai Ayah dan Ibunya Raffan itu bertemu mengingat kota mereka yang berbeda hingga menjadikan Raffan pria campuran Bandung dan Padang yang menyempurnakan semua fisiknya.


"Nah itu Lo inget," jawab Gerry seraya mengumbar cengiran.

__ADS_1


"Nah kan benar yang waktu malam-malam kesini nyusulin Raffan, bego!" Rio dengan sesuka hatinya memaki sang teman yang memang agak kurang dalam mengingat sesuatu, tapi tak tahu kenapa malah di jadikan montir di bengkel.


"Beneran Raf?" tanya Gumay penasaran, dia sekarang menjadi sangat kepo dengan urusan temannya apalagi menyangkut tentang wanita.


Bukankah hal ini terasa sangat luar biasa mengingat seorang Agam yang Gumay kenal jarang sekali membicarakan tentang wanita di kampus pun temannya itu terlihat menjaga jarak pada makhluk yang satu itu, lalu sekarang? sungguh kejutan yang luar biasa menutur Gumay.


Raffan mencoba bersikap biasa lalu mengedikkan bahunya seraya menjawab, "mana gue tahu," katanya dengan nada yang dia buat sebiasa mungkin meski gerak tubuhnya menunjukkan hal yang lain.


"Lo tahu darimana?" tanya Rio pada Gerry yang sudah mengambil tempat di duduk di sebelah Gumay.


"Tiga kali gue ketemu sama Agam, dua kali gue lihat sama Deefa dan juga Kinara." mereka tentu sudah tahu siapa Kinara, "dan terakhir gue ketemu dia cuma berdua aja sama ponakannya itu," lanjut Gerry.


"Lo beneran emang nggak tahu Raf?" tanya Gumay pada temannya yang sok tenang padahal dengusan napasnya terdengar lebih cepat dari yang tadi.


"Gue bilang enggak ya enggak lah! lagian Lo kata siapa Agam lagi deketin Deefa?!" tanya Raffan mulai menunjukkan kalau dia terganggu dengan pemberitahuan dari Gerry, meskipun beberapa hari lalu Agam sempat menanyakan tentang Deefa padanya tapi dia enggan memikirkannya karena menurutnya Agam hanya sekedar ingin tahu saja.


Menyembunyikan rasa dongkol karena kenyataannya bukan hanya satu kali saja Agam mengantar Deefa pulang, atau jangan-jangan malah lebih dari yang Gerry katakan? bisa saja seperti itu bukan?


"Hah? si Agam gila?!" sentak Raffan yang menjadi emosi mendengar penuturan temannya itu.


"Gila kenapa? Agam belum menikah dan kayaknya Deefa juga, sama-sama singel kok, oke-oke aja kalau menurut gue sih, lagian si Agam itu juga kelihatan seriusan anaknya," celoteh Rio.


"Ya iyalah nggak mungkin juga dia maenin anak pesantren, apalagi kita juga tahu benar Ustad Sabar itu kayak apa, jelas dia nggak marah banget kalau si Agam cuma main-main."


Gumay yang sekarang berkata cukup bijak mengenai temannya.


"Nggak lah nggak bisa dia deketin.."

__ADS_1


Raffan terlihat gugup dan cemas kali ini bahkan perkataannya seolah tertahan di tenggorokan.


"Lo kenapa sih Raf, harusnya Lo tuh senang karena sepupu Lo di deketin sama Agam bahkan mau diseriusin, nah kalau Gumay yang deketin baru deh Lo kelabakan karena si Gumay ini kan Lo tahu sendiri gimana kelakuannya," kata Gerry.


"Lah kok jadi gue!" Gumay yang namanya di sebut tampak tidak terima, memangnya kelakuannya sangat buruk? hingga temannya sendiri berkata demikian.


"Ya contoh yang paling rusak disini cuma elo doang May," kata Rio menimpali.


"Sialan!" seru Gumay mengangkat kepalan tangannya pada Rio.


"Lah Lo mau kemana Raf?" tanya Gerry ketika mendapati Raffan yang malah memakai sepatunya.



"Gue mau pulang, lupa kalau tadi Ayah gue nyuruh pulang cepat," katanya langsung melenggang begitu selesai mengikat tali sepatu terakhir.



"Dih!" ketiga orang temannya pun berseru bingung.



"Bengkel tutup aja!" teriak Raffan dari dalam mobil yang sudah menyala.



Tidak perlu menunggu jawaban Raffa sudah langsung melajukan mobilnya meninggalkan bengkel yang padahal masih akan didatangi oleh anak-anak yang selesai balapan di lintasan yang biasanya Raffan taklukan, tapi sekarang karena Agam yang jarang sekali datang ke bengkel membuatnya lebih fokus pada bengkel ketimbang tantangan balapan dari musuhnya yang masih penasaran karena belum pernah menang melawannya.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2