
Sekarang mereka sudah ada di kamar hotel, belum juga setengah perjalanan tapi mereka mobil yang Raffan bawa malah sudah melipir ke hotel pertama yang pria itu lihat.
Tadi Raffan mengatakan akan singgah dulu di hotel ketika sudah setengah perjalanan tapi lihatlah sekarang belum setengah perjalanan bahkan mereka baru berkendara sekitar dua jam kurang.
"Kita nginep disini semalam," kata Raffan membawa turun koper milik Deefa dengan tas ransel berisi bajunya yang sudah nangkring di punggungnya.
"Nginep?" tanya Deefa.
"Iya, besok siang atau sore baru kita berangkat lagi ke Jakarta," katanya melangkah menuju resepsionis memesan kamar.
"Tapi kan Mas harus kuliah," ucap Deefa mengikuti sang suami.
"Ck, ngapain sih malah mikirin gituan," decak Raffan menganggap kuliahnya saat ini tidak penting.
"Kan Mas Raffan sudah beberapa hari tidak masuk."
"Baru dua hari!" ketus Raffan.
"Tiga Mas."
"Kok tiga?" bingung Raffan karena seingatnya dia memang baru dua hari tidak masuk kuliah, kemarin dan hari ini.
"Malam ini kan kita nginap, baru pulang besok kan?" terang Deefa mengingatkan rencana sang suami.
"Kita bisa pulang pagi-pagi, memangnya kamu mau pulang sore?" malah menggoda istrinya seakan wanita itulah yang ingin menghabiskan waktu di hotel.
Perdebatan keduanya malah di dengarkan oleh resepsionis yang sedari tadi sudah memegang kartu kunci untuk kamar mereka, terlihat senyum mengukir seakan mendapat tontonan gratis.
Deefa mencubit suaminya membuat pria itu menjengkit kaget, beruntung karena setelah itu mereka jadi sadar kalau sedari tadi seorang resepsionis tengah menjadi penonton atas apa yang mereka lakukan.
Sekarang keduanya sudah berada di dalam kamar hotel bernuansa putih dengan tempat tidur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan pastinya akan menyamankan siapa saja yang ada di atasnya.
"Kamu mandi duluan atau aku?" tanya Raffan kepada sang istri yang sedang membuka jendela.
Ini baru pukul setengah sepuluh kurang dan dia ingin ada udara serta sinar matahari yang masuk ke dalam kamar mereka.
"Mas saja yang duluan, Deefa mau menikmati pemandangan dulu," sahut Deefa.
"Oke kalau begitu, nanti gantian aku yang nikmatin kamu ya."
"Astaghfirullahaladzim," kata Deefa terkejut dengan perkataan suaminya yang tidak kenal kata saring, selalu ceplas-ceplos sesuka hatinya, bahkan setelah mengatakan itu Raffan langsung melenggang tanpa bersalah menuju kamar mandi.
Selesai mandi Raffan langsung segera meminta Deefa untuk mandi juga, "sekalian ambil wudhu," katanya yang membuat Deefa mengernyit tapi kemudian mengangguk.
Ini belum masuk sholat Dzuhur dan suaminya meminta untuk mengambil wudhu, sebagai wanita dewasa tentu dia tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya.
Raffan menuju ransel yang tadi dia simpan di dekat tempat tidur, mengambil kaos bersih serta kain sarung dan juga sajadah, meski terkenal berandalan tapi tetap saja dia anak seorang ustad yang akan selalu mengajarkannya untuk taat beribadah, yah meskipun terkadang sering lalai atau ketinggalan sholat, tapi ketika bepergian jauh seperti ini dia akan selalu membawa kain sarung serta sajadahnya. berjaga-jaga jika sewaktu-waktu otaknya sedang waras.
Setelah menggelar sajadah miliknya diapun segera beralih pada koper milik sang istri yang sudah terbuka, tadi istrinya pasti sudah membawa pakaian ganti.
Raffan mengeluarkan sajadah dan juga mukena milik Deefa lalu meletakkannya di atas tempat tidur, tak lupa juga dia menutup semua jendela serta gorden yang tadi sempat Deefa buka, menjadikan kamar itu sedikit gelap karena sinar matahari hanya mampu melewati celah-celah jendela saja.
"Kata Ayah kalau mau berhubungan sholat sunnah dulu, apalagi ini yang pertama buat kita," tutur Raffan saat Deefa melangkah pelan menuju ke arahnya.
"Tenang aja, barusan aku udah hafalin bacaannya kok," tambah Raffan lagi meyakinkan istrinya yang sekarang mengangguk.
Sebagai seorang istri memangnya apa lagi yang mau dia lakukan selain menurut, terlebih lagi ini juga termasuk ibadah dan dia akan mendapatkan pahala bila menjalankan kewajibannya, memberikan hak yang seharusnya dia berikan sejak awal mereka menikah, untungnya dia sedang tidak datang bulan, seandainya saja dia datang bulan bisa di pastikan mulut suaminya yang ceriwis itu tidak akan bisa diam, berceloteh mungkin sepanjang hari.
Selesai sholat tibalah kini mereka duduk berhadapan di atas tempat tidur, Raffan menatap pada sang istri meskipun wanita itu malah menundukkan kepalanya, menatap tempat tidur yang mereka duduki dengan jari-jemari yang tidak bisa diam, terus bergerak seperti sedang membantunya mengobati kegugupan.
__ADS_1
"Deefa, istriku," suara Raffan terdengar begitu lembut bahkan di tambah dengan kata 'istriku' ah rasanya Deefa ingin pingsan sekarang juga, tak kuat mendengar semua yang akan di katakan oleh suaminya.
Rasanya ada desiran aneh yang membuat bulu kuduk Deefa merinding.
"Boleh aku meminta hak ku sekarang?" tanya Raffan dengan suara bergetar.
Tidak dipungkiri bahwa saat inipun bukan hanya Deefa yang merasakan gugup, dia juga terserang rasa itu namun dia mencoba mengendalikan dirinya, sebagai seorang lelaki tentu dia ingin menunjukkan pada istrinya kalau bahwa dia juga mempunyai ketenangan dan tidak selalu bertingkah aneh serta tak jelas.
Terlebih lagi ini adalah saat yang sangat penting baginya, bagi mereka berdua malam pertama yang sudah terlewati akhirnya akan mereka lalui hari ini.
Deefa mengangguk samar sambil merasakan wajahnya memanas, terlebih lagi ketika Raffan sekarang menyentuk puncak kepalanya seraya mulai membaca doa, tapi sebentar kemudian tidak ada lagi suara dari suaminya itu membuat Deefa bertanya-tanya dalam hatinya.
"Aku lupa," kata Raffan dengan malu.
Di saat seperti ini dia malah lupa pada doa yang seharusnya dia ucapkan.
"Tunggu sebentar," katanya lagi seraya mengambil handphone yang sudah terletak di meja.
Deefa menahan senyum, melipat bibirnya melirik pada suaminya yang mulutnya tampak tengah menghapal, terlihat sangat lucu.
Padahal Raffan bisa bertanya pada Deefa, tapi pria itu memilih untuk bertanya pada google yang kata orang-orang akan sangat membantu.
"Ayo sekarang." suara Raffan terdengar kembali bersemangat dengan tangan yang sudah berada di kepala sang istri.
Bibir Raffan kini mulai melantunkan doa meski perlahan namun akhirnya selesai juga dia ucapkan.
Tahu suaminya sudah selesai membaca doa, jantung Deefa langsung berdebar tak terkendali, aliran darahnya pun mengalir seperti derasnya arus sungai kala dilanda hujan.
Deefa terus berdoa dalam hati meyakinkan dirinya kalau semua akan berjalan dengan baik, sungguh dia sangat takut karena ini adalah yang pertama buatnya.
Sampai akhirnya Deefa benar-benar merasakan kembali bibir suaminya setelah subuh tadi, benda yang terasa empuk itu mulai bergerak di atas bibirnya.
Wanita itu akhirnya menurut, pasrah pada permintaan suaminya bahkan ketika Raffan menidurkannya lalu pria itu berada di atasnya.
Semuanya berlalu dengan cepat hingga Deefa bahkan tidak menyadari tubuhnya sudah tidak mengenakan apapun dengan Raffan yang menatapnya tanpa berkedip.
Bagi Raffan ini adalah pemandangan yang sangat indah sungguh sangat-sangat indah.
Menurut Raffan, Deefa adalah salah satu ciptaan Allah yang sempurna di matanya, lalu untuk sejenak menyelami penyesalan karena baru sekarang dia menikmati keindahan yang selama dua bulan ini bersamanya.
Deefa memalingkan wajahnya ketika Raffan tengah membuka kaos serta pakaian bagian bawahnya, tapi Raffan malah seperti orang yang sengaja meminta Deefa melihat padanya.
semua tubuh Deefa sudah habis oleh Raffan, hingga memasuki babak puncak Raffan kembali meminta izin.
__ADS_1
"Sekarang ya?" tanyanya.
Untuk sekian kalinya Deefa mengangguk tanpa suara hanya deru napasnya saja yang sulit dia kendalikan.
Raffan pun mengecup kening Deefa lalu bergerak turun ke bawah, menarik napas saat kedua matanya terpaku pada pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Lalu detik berikutnya..
Terdengar suara lirih Deefa yang merasakan sakit pada bagian bawah sana, sedangkan Raffan memejamkan mata dengan tangan yang mengelus kepala Deefa, seperti membantunya untuk meringankan sakit yang Deefa tengah rasakan.
"Jadi begini rasanya melepas keperjakaan," batin Raffan, sungguh merasa bahagia apalagi istrinya pun masih perawan, mereka sama-sama baru melakukan hubungan intim dan dengan pasangan yang sah.
Alhamdulillah keduanya sama-sama menjaga diri mereka dari zina.
Raffan tersenyum melihat wajah Deefa yang memerah, seorang istri yang awal menikah tidak ingin dia sentuh bahkan dia mengatakan akan tetap menjadikan Deefa perawan ketika mereka bercerai.
Ah sekarang Raffan benar-benar menyesali mulut sialannya itu yang selalu saja berkata tanpa berpikir lebih dulu.
Lalu sekarang masih bisa kah dia mengatakan perceraian setelah merasakan kenikmatan yang istrinya berikan?
Raffan memejamkan matanya ketika mendapatkan pelepasan, lalu tubuhnya terjatuh menimpa sang istri dan mengecupi keningnya berkali-kali.
"Terimakasih, sayang," katanya lembut.
Deefa pun memeluk erat tubuh Raffan ketika mendengar panggilan sayang yang Raffan sematkan.
Menyadari tubuhnya menindih Deefa, Raffan pun bergeser ke samping lalu memasang selimut menutupi tubuh mereka.
Setelahnya senyum Raffan terus terukir sempurna di wajahnya membuat Deefa yang malu segera menyembunyikan wajah di dadanya dan Raffan mengelusi rambutnya yang tergerai di atas bantal.
"Sepertinya aku akan ketagihan." bisik Raffan di telinga sang istri yang makin mengeratkan pelukan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*