Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Tamu Kecil


__ADS_3

"Om."


Agam yang baru saja selesai mandi setelah pulang kuliah malah didatangi oleh keponakannya yang seharusnya jam segini itu sudah pergi mengaji tapi malah masih berada di rumah.


"Loh Nara kok nggak nggak pergi ngaji?" tanya Agam mendekat pada sang keponakan yang tengah memainkan buku catatan miliknya di atas meja.


"Nara libur tadi sudah bilang sama Abah dan Mama juga, katanya nggak apa-apa," jelas Kinara dengan rinci tentang dia yang sudah mendapatkan izin untuk tidak pergi mengaji.


Agam mengerutkan keningnya lalu menatap penuh curiga pada sang keponakan, pasti ada yang keponakannya itu inginkan darinya, melihat dari senyum polos yang ditunjukkan oleh Kinara sudah bisa Agam tebak ada yang akan bocah itu pinta darinya.


"Pasti ada yang kamu inginkan," tebak Agam seraya menarik buku yang sedari tadi dimainkan oleh bocah kecil yang rambutnya di kuncir kiri kanan.


"Hehehehe," Kinara dengan polosnya memamerkan deretan giginya yang kecil yang tak utuh karena ada dua buah giginya yang hilang, ompong di bagian depan membuatnya tampak seperti jendela yang terbuka.


Agam pura-pura mendengus sambil mencubit gemas kedua pipi sang ponakan yang mengaduh kesakitan karena perbuatannya.


"Cepat katakan kamu mau minta apa?" Agam bertanya agar keponakannya itu bisa segera pergi dari kamarnya sebab dia ingin harus mengerjakan tugas kuliah yang dua hari lalu diberikan oleh dosen, agak terlambat tapi untungnya si dosen bernama Angga itu mau memberikan waktu lagi untuknya.


"Nara kangen sama Tante Deefa," celoteh Kinara terus terang.


Agam sedikit memundurkan tubuhnya sedikit terkejut dengan perkataan sang keponakan, maksudnya apa tiba-tiba berkata kangen dengan Deefa? kangen dengan istri dari temannya, semua keluarganya memang sudah tahu tentang siapa Deefa itu tapi untuk Kinara bocah itu masih tidak tahu apa-apa meskipun dulu dia juga ikut ke pesantren milik Kiyai Burhan, tapi yang namanya anak kecil umur lima tahun tentu masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Terus kamu mau apa? kalau kamu kangen sama Tante Deefa Om mesti ngapain?" tanya Agam tak mengerti.


Kinara merengut membuat pipinya terlihat semakin bulat, "anterin Nara ke rumahnya Tante Deefa, Om," cetus Kinara yang ternyata sudah berencana untuk diantar ke rumah Deefa, bertemu dengan wanita yang sejak pertama bertemu membuat dia menyukainya.

__ADS_1


"Mau ngapain?" Agam bertanya cepat kepada sang keponakan yang menampilkan wajah penuh harap.


"Mau main sama Tante Deefa, kenapa sih Om banyak tanya," Kinara malah jadi kesal dengan Adil dari Mamanya itu.


"Loh di tanya kok malah kayak gitu, wajar lah kalau Om tanya kan kamu itu minta antar sama Om, kalau tujuannya nggak jelas Om nggak akan mau antar kamu," putus Agam memberikan ultimatum pada sang keponakan yang sekarang menampilkan wajah merajuk tidak terima kalau hari ini keinginannya untuk bertemu dengan Deefa tidak tercapai.


"Kan tadi Nara bilang, Nara kangen sama Tante Deefa lagian kenapa sih Tante Deefa nggak ngajar lagi di TPA nya Abah, terus kenapa nggak Om larang waktu Tante Deefa berhenti ngajar," cerocos mulut kecil Kinara yang selalu saja sangat pintar dalam mengeluarkan pendapat serta keinginan.


"Setiap manusia itu punya alasan dan hak mereka sendiri untuk memilih jalan yang mereka inginkan, kita tidak punya hak untuk melarang apalagi menahan mereka dan meminta mereka untuk mengikuti maunya kita, nggak bisa kayak gitu," papar Agam memberikan sedikit penjelasan pada Kinara, agar bocah itu bisa mengerti dan tidak lagi menanyakan hal yang seharusnya tidak ditanyakan, toh Deefa berhenti mengajar juga ada alasannya bukan yang tahu-tahu berhenti begitu saja.


Kinara menatap wajah Agam yang memberikan penjelasan kepadanya, dia yang masih berusia lima tahun memang kerap kali banyak bertanya tentang apa saja yang ingin dia ketahui, untungnya dia dikelilingi oleh orang-orang yang mampu memberikan penjelasan dengan sangat baik tanpa harus memarahi.


"Tapi Nara mau ketemu sama Tante Deefa, Om," tutur Kinara dengan wajah yang penuh harap kalau Om nya itu akan mau mengalah dan mengantarkan dia bertemu dengan wanita yang dia panggil Tante, itupun karena dulu Omnya yang meminta dia memanggil Deefa seperti itu karena awalnya dia memanggil Deefa dengan panggilan Kakak sama seperti guru-guru ngaji yang lainnya.


"Ya sudah Om antar, tapi hanya sebentar saja ya, dan jangan mengatakan hal yang macam-macam karena nanti di rumah Tante Deefa juga ada Om Raffan," Agam memberikan peringatan pada sang keponakan.


Agam mengangguk, "iya Om Raffan yang sering kamu ajak berantem," jelas Agam membenarkan pertanyaan dari Kinara.


"Kok Om Raffan di rumah Tante Deefa? memangnya ngapain?" akhirnya muncullah pertanyaan tentang kenapa Raffan ada di rumah Deefa dari mulut kecil Kinara.


"Kamu siap-siap dulu, nanti sambil jalan Om jelasin," putus Agam akhirnya, jika tidak sekarang takutnya Kinara malah makin banyak bertanya dan nanti malah keburu Maghrib.


"Yeey, ke rumah Tante Deefa." Kinara berseru girang sambil berlari keluar dari kamar sang Om dan mencari Mamanya yang sedang membersihkan sayuran untuk dia masak nanti.


*****

__ADS_1


"Siapa yang datang sayang?" tanya Raffan ketika Deefa sedang membuka pintu.


Deefa pun menyingkir menunjukkan pada suaminya dua orang yang datang bertamu di sore hari ini.


"Ngapain Lo Gam? pake ngajak bocil songong lagi," oceh Raffan melihat Agam bersama bocah kecil yang selalu mengajaknya ribut ketika bertemu.


"Tante Deefa kenapa sih harus nikah sama Om Raffan, Om Raffan itu kan pacarnya banyak," kata Kinara membuat mata Raffan mendelik mendengar keterangan ngelantur yang sangat tidak berperikeraffanan.


"Heh bocil, sembarangan Lo kalau ngomong sejak kapan pacar gue banyak!?" protes Raffan tak terima dengan tuduhan semena-mena yang dilontarkan oleh keponakan dari temannya itu.


"Nara nggak sembarang ngomong kok, kan dulu tiap datang ke rumah Nara Om bawa pacar terus, mana ganti-ganti lagi pacarnya," kata Kinara semakin menjadi.


Sepertinya dia benar-benar tidak rela begitu mengetahui kalau Tante yang dia inginkan menjadi istri dari Omnya malah menikah dengan teman dari Omnya, dan yang lebih luar biasanya lagi teman Omnya itu malah yang sering bertengkar dengannya.


"Jangan percaya Deef, ngaco tuh bocah!" Raffan terlihat panik ketika mendapat lirikan dari istrinya.


Sedangkan Kinara malah tersenyum penuh kemenangan serta dengan sengaja mengejek dirinya.


"Kita cerita di tempat lain aja yuk Tante, disini nggak asik," kata Kinara menarik tangan Deefa minta pergi ke ruangan lain.


"Awas Lo ya ngomong macem-macem sama Deefa," ancam Raffan pada bocah kecil yang malah membuang wajah dan tidak mendengarkan perkataannya.


"Lo lagi! ngapain bawa keponakan Lo yang comel itu kesini!?" sekarang jelas Agam yang akan kena semprot oleh Raffan.


"Kewajiban seorang Om untuk mengantar kemana saja ponakannya mau," ucap Agam tenang sambil beranjak ke bangku di teras rumah lalu duduk memandang jalanan di depan sana yang terhalang pagar besi.

__ADS_1


Raffan mendengus tapi ikut duduk di bangku kosong sebelah Agam, "tamu kecil membuat rusuh," gerutu Raffan yang membuat Agam tersenyum tipis mendengarnya.


*******


__ADS_2