
Sekarang Deefa sudah duduk berdua dengan suaminya yang bahkan hanya menunduk tak berani menatap wajahnya, sedangkan mertua serta teman-teman suaminya beserta pengacara sedang berusaha untuk menjamin agar Raffan bisa bebas.
"Ayah dan ibu sudah biasa menghadapi ini Deef," ucap Raffan tetap menunduk, ada rasa takut ketika istrinya itu datang dengan tatapan mata yang sedih dan terluka ketika harus menemui suaminya di dalam penjara.
Istri mana yang tidak akan bersedih melihat suaminya yang wajahnya pun sudah babak belur akibat perkelahiannya dengan pria bernama Marco yang juga sama-sama di tahan.
"Ini bukan tentang biasa atau tidak Mas, ini tentang kenyataan bahwa Mas belum juga bisa berubah bahkan setelah pernikahan kita menginjak lima bulan, itu artinya sudah hampir setengah tahun," tutur Deefa dengan suara yang bergetar tanda dia mulai menangis menunjukkan rasa kecewa yang teramat dengan perbuatan suaminya.
"Tidak bisakah menahan emosi atau mengendalikannya?" Deefa menarik tangan Raffan yang sejak tadi berada di atas meja lalu menggenggamnya.
Raffan mengangkat wajah menatap wajah sendu yang sedikit pucat di depannya, "sudah dua bulan ini aku berusaha untuk menahan emosi Deef, aku berusaha untuk tidak terpancing oleh apapun yang Marco perbuat bahkan saat dia terus saja menantang aku untuk balapan aku mengabaikannya sedangkan kamu tahu sendiri betapa gilanya aku dengan hobi ku yang satu itu," tutur Raffan membalas genggaman tangan dari sang istri yang terasa semakin kuat.
"Tapi ketika dia sudah mulai membawa-bawa istriku apa aku masih harus diam? apa aku harus mengabaikannya begitu saja sedangkan dia tertawa bahagia dengan segala penghinaan nya," Raffan menggeleng dengan gurat emosi yang kini kembali terlihat ketika mengingat apa yang Marco lakukan hingga membuat dia begitu marah dan tersulut emosi, "aku nggak bisa diam saja, sebagai suami aku tidak terima," lanjut Raffan menjelaskan apa yang dia rasakan.
"Hanya sekedar kata bukan menyentuh atau melukai fisikku, seharusnya itu tidak menjadi masalah dan aku tidak apa-apa," jawab Deefa tidak sependapat dengan suaminya.
__ADS_1
Menurutnya selama Marco tidak menyentuh atau menyakiti tubuhnya itu tidak menjadi masalah, toh dia juga tidak tahu apa yang Marco katakan, biarkan orang berkata apa yang mereka mau tidak perlu membalas karena ada Allah yang akan selalu memberikan keadilan bagi umatnya yang tersakiti.
"Kamu mungkin tidak apa-apa, tapi aku bukan kamu! aku bukan orang yang akan diam saja saat orang yang aku cintai di hina sedekimian rupa, aku seorang suami yang harus melindungi istriku dari apapun dan siapapun!" tegas Raffan menatap sang istri dengan rasa tidak suka kala wanita itu malah tidak menunjukkan kemarahan saat tahu ada yang menghinanya.
Disisi lain Deefa tengah mengerjap dengan sorot mata tidak percaya, setelah lima bulan menikah akhirnya dia mendengar suaminya mengatakan cinta, apa dia tidak salah dengar? oh atau ini yang dinamakan hikmah di balik musibah? dengan musibah yang terjadi akhirnya dia tahu kalau suaminya itu sudah mencintai dirinya.
"Aku cinta sama kamu, aku nggak suka saat ada orang yang menjelekkan kamu Deef, tolong mengerti kenapa aku seperti ini," ucap Raffan dengan helaan napas yang terdengar berat.
Mendengar itu Deefa hanya mampu menangis, entahlah yang dia rasakan ini masih sedih karena suaminya di tahan atau terharu dengan pengakuan suaminya yang selama ini dia kira belum juga mencintainya.
Deefa menepis air mata yang tidak mau berhenti, debaran jantungnya sungguh tidak terkendali mengetahui bahwa sang suami sudah mencintai dirinya.
Raffan benar-benar membuktikan ucapannya saat pria itu meminta Deefa untuk bersabar saat dulu mereka hampir saja berpisah, dan sekarang Deefa bisa mendapatkan cinta serta kasih sayang dari suaminya.
"Jangan nangis terus aku ini baik-baik saja, aku sudah biasa tidur di dalam sel lebih dari satu hari bahkan pernah sampai satu Minggu lebih," kata Raffan mengulurkan tangan untuk menghapus air mata yang tumpah dari kelopak mata wanita di depannya.
__ADS_1
"Sekarang kan beda Mas, sekarang ada Deefa yang akan sendirian di rumah kalau Mas Raffan tidak bisa bebas hari ini juga, semalam saja Deefa tidak bisa tidur lalu bagaimana dengan malam ini dan malam-malam berikutnya? Mas tega biarin Deefa sendirian di rumah?" Deefa menatap sendu pada pria yang sekarang mematung memikirkan ucapannya.
Iya, dulu dan sekarang berbeda, dulu dia masih bujangan yang hanya akan membuat orang tuanya bersedih dengan kelakuannya, tapi sekarang ada seorang wanita yang menjadi tanggung jawabnya, wanita yang harus kesepian dan bersedih karena dia yang tidak pernah memikirkan lebih dulu resiko yang akan dia dapatkan dengan semua tindakannya yang berlandaskan emosi.
"Maafin aku sayang," katanya yang akhirnya sadar bahwa apa yang dia lakukan hanya merugikan dirinya dan juga orang terkasihnya.
Deefa mengambil tangan Raffan lalu menempelkannya di pipi, "jangan ulangi lagi, jangan ulangi apapun yang akan membuat kerugian, Deefa tidak ingin sendirian tanpa Mas Raffan, sehari saja rasanya sudah sangat menyakitkan Mas," lirih Deefa memohon pada pria yang tatapannya menjadi sendu melihat betapa istrinya lah yang malah menjadi korban atas sifat emosi yang tidak sanggup dia kendalikan.
Raffan berdiri lalu memeluk tubuh sang istri yang tengah bergetar, melarutkannya dalam pelukan dengan berulang kali memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya berusaha untuk memberikan ketenangan, meski sekarang dirinyalah yang menjadi tidak tenang jika melihat istrinya masih harus menangis dan tinggal di rumah sendiri tanpa dirinya.
Rasa bersalah pun sukses mengakar di dalam hatinya menyumpahi kebodohan atas nama emosi yang selalu lebih dulu dia kedepankan ketimbang logika yang rasanya tidak pernah bisa menang melawan sifat emosinya yang selalu dominan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*