Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Langit Yang Ikut Bersedih


__ADS_3

Suami istri itu masih berada dalam posisi yang sama, saling memeluk juga saling menguatkan tanpa kata hanya ada tarikan napas yang terdengar sesak menandakan rasa sedih yang meningkat seiring kenyataan yang tak pernah terkira akan seperti ini.


Deefa yang dibohongi larut dalam kesedihan sedang Raffan yang berbohong larut akan rasa bersalah tapi ada rasa tenang karena dengan kebohongan dia utarakan membuat dia tidak akan berpisah dengan istrinya.


Perasaan yang bercampur aduk sudah sekuat tenaga berusaha untuk masing-masing mereka sembunyikan agar tidak menambah penderitaan yang tengah mereka rasakan.


Deefa mencoba menghentikan air mata yang terus merembes dari kedua matanya menepis bahkan menghapusnya dengan punggung tangannya sendiri lalu mengelus kepala sang suami merapikan rambut hitam suaminya yang tampak berantakan karena memang baru bangun tidur terus di tambah dengan pembicaraan mereka yang berakhir memilukan.


"Mas Raffan mandi ya, Deefa mau buat sarapan dulu terus nanti setelah sarapan Deefa minta di antar untuk belanja, kulkas sudah kosong mau buat stok masak kita," Deefa berbicara dengan suara yang terdengar begitu lembut berusaha untuk bersikap biasa seolah tidak pernah ada pembicaraan menyedihkan yang baru saja mereka lalui, netra nya menatap lekat pada pria yang terlihat begitu rapuh seraya berusaha untuk menenangkannya meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja dan dia tidak akan pernah meninggalkannya.


"Aku takut kamu pergi," kata Raffan begitu lirih sarat akan ketakutan yang mendalam.


Sekarang yang dia pikirkan adalah dia harus benar-benar menyimpan semua kenyataannya dengan baik, menutup rapat agar kebohongannya tidak sampai terbuka dan diketahui oleh istrinya itu, karena dia yakin saat kebohongannya terbongkar Deefa jelas akan marah dan benci padanya dan yang lebih buruknya lagi adalah meninggalkan dirinya.


Deefa menggelengkan kepala lalu tersenyum dan dengan gerakan yang anggun serta penuh makna dia merangkul bahu lebar suaminya mengelusnya dengan jari-jari lentiknya.


"Deefa tidak akan meninggalkan Mas Raffan," berbisik tepat di depan telinga sang suami.


"Kamu harus berjanji apapun yang terjadi nantinya jangan pernah meninggalkan aku," pinta Raffan dengan suara yang berat.


"Insya Allah."


"Aku maunya kamu janji karena dengan berjanji kamu sudah tidak boleh lagi mengingkarinya," desak Raffan penuh paksaan dan penekanan di setiap kalimat yang dia lontarkan.


Deefa tercenung untuk sesaat rasa ragu jelas timbul dengan mendadak tapi ketika dia sudah meyakinkan diri sudah seharusnya dia tentu sanggup untuk berjanji terlebih lagi rasa cintanya yang jelas sudah teramat besar pada suaminya itu hingga akhirnya diapun menganggukkan kepalanya dan mengucapkan janji seperti yang suaminya inginkan.


"Deefa janji tidak akan pernah meninggalkan Mas Raffan," katanya yang kemudian disambut dengan pelukan yang kembali terasa sangat kuat dari seorang pria yang jelas memiliki kekuatan jauh besar darinya.


"Sudah lega?" tanya Deefa seraya menepuk-nepuk punggung sang suami.


Raffan mengangguk meski Deefa tidak bisa melihat tapi wanita itu tentu bisa merasakan gerakan yang dia lakukan.


Deefa pikir memang dirinyalah yang harus menenangkan diri suaminya itu, membuat pria yang dia cintai itu bisa tetap semangat meski mereka tahu dalam rumah tangga mereka mungkin akan jauh dari suara tangis bayi, jauh dari repotnya mengurus bayi.


Wanita itu menghela napas mengingat perkataan ibu-ibu di tukang sayur tadi, mungkin nanti dia akan jadi giliran dan menjadi topik pembicaraan seperti yang tadi dia dengar tentang tetangga bernama Aliya yang mungkin saja telinganya berdengung terus setiap pagi karena menjadi bahan gosip wanita-wanita di perumahan itu.


"Aku mau mandi," kata Raffan yang akhirnya menenangkan dirinya dari ketakutan yang mendera.


Deefa mengulas senyum sambil menganggukkan kepalanya lalu mengambil kantong plastik berisi sayuran yang sejak tadi terbengkalai di lantai, harusnya saat ini dia sudah selesai masak dan mereka sedang sarapan tapi apa yang baru saja terjadi membuat sarapan mereka mungkin malah akan menjadi makan siang nantinya.


Raffan pun bergegas untuk mandi, membersihkan tubuhnya padahal saat subuh tadi dia sudah mandi tapi karena kembali tidur dia merasa tubuhnya jadi kembali terasa tidak nyaman apalagi Deefa mengatakan ingin mengajaknya untuk berbelanja.


Pria itu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar, menutup pintu lalu menguncinya menghindari agar istrinya tidak masuk tentu saja dia tidak ingin istrinya itu melihat kesedihan dari wajahnya yang sarat akan penyesalan.


Penyesalan karena dia sudah berbohong tentang hasil pemeriksaan yang sebenarnya, penyesalan yang membuat sejak tadi dadanya terasa amat sesak dan kedua bola mata yang merah menahan tangis bersalah.


"Maafin aku Deef, maaf karena sudah bohong karena hanya ini yang bisa aku lakukan agar aku tetap bisa bersama kamu, aku tahu ini salah dan kamu pasti tidak suka tapi aku benar-benar tidak punya pilihan," tutur Raffan mengepalkan tangannya berdiri menunduk di depan cermin, bahkan dia sendiripun tidak sanggup untuk melihat wajahnya sendiri, karena menurutnya wajah itu penuh sekali dengan dusta.


Dia sendiripun tidak menyangka kalau sampai saat ini dia bisa berbohong dengan sangat baik, tidak menyangka kebohongannya itu terlihat sangat sempurna karena memang kesedihan yang nyata dia rasakan.


Sedangkan di dapur Deefa berusaha untuk tidak menangis menahan air matanya yang malah tak tertahan lagi membuat dia terduduk di lantai dekat kulkas dengan tangannya yang gemetar, sejak tadi dia berusaha untuk tabah dan kuat agar tidak membuat suaminya merasa bersalah tapi akhirnya dia malah jadi tersiksa sendiri, ketakutannya sekarang bukan lagi tentang tuntutan ibu mertuanya tapi bagaimana caranya agar dia bisa membuat suaminya tidak lagi merasa takut kalau dia akan pergi.


Wanita itu harus memuaskan diri untuk menangis tapi rasanya tidak mungkin karena dia harus segera memasak sebelum suaminya turun.


Deefa berdiri lalu mengambil tissu di atas meja makan untuk digunakan menghapus air mata menghilangkan jejak kesedihan agar tidak dilihat oleh suaminya, meskipun rasanya itu sangat tidak mungkin sebab dari mata dan hidungnya yang terlihat merah saja siapapun akan menyadari kalau dia baru saja menangis.


Kedua manusia itu sepertinya tengah sama-sama merasakan sedih yang mendalam bahkan alam pun turut larut dalam kesedihan mereka karena matahari yang tadi sudah muncul malah kembali tertutupi oleh awan gelap, disaat ini seperti langit pun ikut bersedih.


*****


Setelah menyelesaikan makan pagi mereka di jam 10 pasangan suami istri itu kini sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke pusat perbelanjaan di tengah kota Jakarta, ini akhir pekan sehingga jalanan tidak terlalu ramai oleh kendaraan karena mereka yang biasa bekerja ataupun berkegiatan dari hati Senin hingga Jumat mungkin sekarang tengah menikmati waktu istirahat dengan keluarga atau mungkin saja tengah berliburan.


Raffan melirik istrinya yang sedang sibuk mencatat apa saja yang akan mereka beli nanti, mencatat di note handphone sang istri, wanitanya itu terlihat sangat serius sehingga Raffan dengan refleks mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi sang istri lalu menangkupnya dengan sebelah tangan yang tetap pada kemudi mobil.


Sentuhan tangan suaminya membuat Deefa menghentikan apa yang tengah dia lakukan, menatap sang suami lalu memberikan senyum dan menyentuh tangan Raffan yang berada di pipinya, kemesraan yang makin membuat Raffan tidak rela berpisah dengan istrinya.


Mobil terus melaju berpayungkan dengan langit mendung serta hembusan angin yang menerbangkan debu serta sampah dedaunan yang ada di tepi jalan, terus membawa mereka sampai akhirnya mobil memasuki parkiran sebuah pusat perbelanjaan yang tampak ramai, seperti hari libur di manfaatkan oleh orang-orang untuk berbelanja menyetok kebutuhan sehari-hari mereka.

__ADS_1


"Ramai banget sayang," keluh Raffan saat mereka tengah mengantri untuk masuk.


"Mas mau pulang? biar Deefa sendiri aja nanti kalau sudah selesai Deefa telepon minta jemput," Deefa menawarkan, memberi pilihan pada suaminya karena dia tahu seorang pria tidak akan senang apabila harus membuang waktu untuk belanja, daripada suaminya bosan akan lebih baik kalau suaminya itu memang pulang saja.


Tapi dengan percaya dirinya Raffan malah menggeleng sangat yakin dia tidak akan membiarkan istrinya itu berbelanja sendiri di tengah banyaknya orang yang datang ke tempat belanja itu.


"Yakin? beneran nggak akan bete?" tanya Deefa memastikan, dari raut wajah suaminya dia itu sangat ragu kalau suaminya tidak akan bosan atau jenuh nantinya.


"Yakin lah, apaan sih nanyanya kayak gitu nggak percayaan banget sama suami sendiri, aku ini orangnya mudah menyesuaikan diri dimana pun berada, ayo belanja sekarang nanti malah keburu kehabisan sama mereka tuh," cakapnya seraya melirik pada orang-orang yang tengah berlomba memilih apa saja yang mereka ingin beli.


Deefa menggeleng lalu tersenyum tidak mengerti kenapa suaminya takut mereka tidak kebagian barang yang ingin mereka beli, lalu mengikuti suaminya sudah lebih dulu melenggang dengan mendorong troli yang nantinya akan mereka isi dengan berbagai kebutuhan yang mereka beli.


Dia mengikuti suaminya yang begitu semangat tapi lihat saja nanti mungkin semangat itu akan luntur dan berganti dengan keluhan demi keluhan dan meminta istrinya untuk segera menyelesaikan acara belanja mereka.


"Kita ke tempat sabun dulu Mas," ajak Deefa mensejajari langkah suaminya yang mengangguk lantas segera membelokkan trolinya menuju tempat sabun berada.


Raffan mendorong troli sedangkan istrinya itu yang sibuk mengambil apa saja yang mereka butuhkan di rumah.


Rak demi rak mereka lewati sehingga perlahan troli mulai terisi dan disini terlihat wajah Raffan sudah mulai berubah, tadi sangat semangat sekarang sudah mulai kendur dan mulutnya kadang di buat manyun tapi tidak berani mengatakan apapun kepada istrinya yang malah masih sangat sibuk melihat catatan di handphonenya memastikan apa saja yang sudah ada di troli dan apa saja yang belum ada dan harus mereka beli.


"Masih lama sayang?" akhirnya sudah tidak tahan untuk bertanya.


Raffan sudah mulai bosan dan ingin segera menyelesaikan acara belanja mereka dan pergi dari tempat yang makin siang malah makin ramai.


Sekarang mereka sudah berada di tempat buah-buahan pertanyaan Raffan lantas menghentikan tangan Deefa yang sedang memasukkan apel ke dalam kantong yang nantinya akan di timbang, wanita itu menatap pada suaminya yang menunjukkan wajah bosan.


"Sudah bosan? tadi Deefa bilang apa?"


Kaki Raffan bergerak tak bisa diam kala istrinya mengungkit apa yang tadi sudah wanita itu katakan dan tekankan padanya.


"Nggak kok, yaudah terusin belanjanya," cakap Raffan dengan ekspresi panik, takut kalau istrinya akan memintanya pulang duluan.


"Tante Deefa."


Suara panggilan dari sosok mungil membuat Deefa dan Raffan sontak menoleh kebelakang guna melihat siapa yang memanggil.


"Mas!" mata Deefa mendelik memberi peringatan agar suaminya itu tidak berbicara sembarangan apalagi sekarang dia melihat Kinara bersama Mamanya.


Raffan merengut lalu mencoba memasang senyum kepada wanita yang dia tahu adalah Kakak dari temannya, Agam.


"Assalamualaikum," Dinar mengucap salam pada pasangan suami istri.



"Wa'alaikumsalam," sahut Raffan dan Deefa bersamaan sedangkan Kinara sekarang sudah bergelayut manja pada tangan Deefa.


"Gimana keadaan kalian? baik?" tanya Dinar dengan bibir yang melengkung, meski Deefa tidak lama mengajar di TPA milik Ayahnya tapi Dinar sudah pernah bertemu dengan wanita yang memang sudah sangat akrab dengan anaknya.


"Baik Mbak, Mbak sendiri dan keluarga bagiamana? semoga sehat selalu," kata Deefa dengan suaranya yang selalu saja terdengar sangat sopan ketika masuk ke dalam indera pendengaran.



"Alhamdulillah sehat semuanya, oh iya Raffan semenjak nikah sudah nggak pernah main ke rumah ya, seneng ya punya istri," goda Dinar dengan senyuman yang merekah.


Dia tahu wanita yang menjadi istri dari Raffan adalah wanita yang dulu sempat ingin mereka lamar untuk Agam, tapi tidak membuatnya harus kecewa dengan Raffan kan? toh Agam nya pun juga biasa saja dan mungkin sekarang Agam sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Deefa, seharusnya memang seperti itu karena tidak baik menyukai istri orang lain apalagi istri temannya sendiri.


Raffan menggaruk salah tingkah dan tak tahu harus menjawab apa yang jelas pertanyaan dari Dinar itu memang sebuah kenyataan sebab setelah menikah dengan Deefa dia memang sudah tidak pernah lagi berkunjung ke rumah temannya itu.



"Kapan-kapan ajak Deefa main ke rumah," pinta wanita yang memakai pakaian syar'i itu.



"Insya Allah Mbak," sahut Raffan.


__ADS_1


"Tante lagi beli apa?" Kinara dengan keponya melongok pada troli yang ada di depan Raffan.



Melihat wajah Kinara membuat Raffan teringat dengan perkataannya dulu, membuat rasa menyesal pun langsung datang menghampiri, apa yang dia katakan malah jadi kenyataan.



Dulu dia dengan tanpa berpikir pernah berkata lebih baik tidak punya anak daripada memiliki anak yang mirip dengan Kinara, hati Raffan pun merasa tercubit sakit dan nyeri mengingat apa yang pernah seenaknya dia ucapkan.



Rasanya dia ingin kembali mengulang waktu itu menarik kembali perkataannya dulu.


"Sayuran untuk masak," jawab Deefa seraya mengelus kepala sang anak yang tengah berdiri di depan troli.


Kedua mata Raffan perlahan malah menjadi merah terus memperhatikan setiap yang dilakukan oleh gadis kecil yang berpakaian muslimah.


"Nara," panggil Raffan pada Kinara yang langsung melihat padanya.



"Kenapa Om?" tidak di sangka Kinara yang biasa ketus dan judes terhadap Raffan kini menjawab dengan suara yang sangat ramah serta dengan tatapan mata yang polos dan tanpa dosa.



"Mau jalan-jalan sama Om dan Tante Deefa nggak?"


Pertanyaan Raffan membuat Deefa terdiam dengan ekspresi tak percaya, dia ingat bagaimana suaminya itu terhadap Kinara bahkan tadi pun masih juga menunjukkan sikap ketusnya tapi kenapa sekarang malah mengajak Kinara untuk jalan-jalan?


"Mau-mau," Kinara sangat semangat memberi jawaban.



Raffan tersenyum lalu berbicara pada Dinar meminta ijin untuk membawa Kinara jalan-jalan dengannya dan juga Deefa.



"Mbak, Raffan boleh ajak Nara jalan-jalan?" tanya Raffan, "nanti Raffan anterin pulang nggak lama kok," tambahnya lagi meminta ijin pada Mamanya Kinara yang langsung saja mengangguk memberi ijin.



"Iya bawa aja, Nara itu juga udah lama sebenarnya mau main ke rumah kalian tapi ya Agam sibuk Mbak juga sibuk jadi nggak ada yang anterin," aku Dinar dengan wajah yang sumringah ketika mendapati anaknya berlonjak kegirangan.



"Nara jangan nakal ya, harus nurut sama Om Raffan dan Tante Deefa." memberi peringatan pada sang anak yang mengangguk cepat.



Deefa masih saja tidak mengerti dengan perubahan sikap dari suaminya bahkan ketika Dinar berpamitan untuk pulang karena sudah selesai membeli apa yang mau dia beli pun Deefa masih mengerutkan keningnya, terlebih lagi ketika melihat Raffan yang sekarang menggandeng Nara sambil mendorong troli.



"Cepat Deefa." pinta Raffan ketika istrinya berjalan sangat lambat.


Deefa pun lantas mempercepat langkahnya untuk bersejajar dengan suaminya dan Kinara yang sedari tadi begitu riang, berlari kecil padahal tangannya tengah di gandeng oleh Raffan membuat Raffan kewalahan.


Deefa makin terperangah kala Raffan yang biasanya akan mengomel kini malah tersenyum dan berusaha untuk mengimbangi pergerakan Kinara.


Di tengah rasa bingung muncul juga perasaan bersyukur karena akhirnya Raffan tidak lagi ketus dan galak terhadap gadis kecil yang bahkan menurut Deefa sangatlah lucu dan menggemaskan.



"Alhamdulillah." Deefa mengucap syukur lalu berjalan cepat untuk mengejar suaminya dan Nara karena lagi-lagi dia tertinggal karena begitu takjub dengan pemandangan yang tengah dia lihat.


****

__ADS_1


__ADS_2