Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Kenapa Harus Seperti Ini


__ADS_3

Raffan yang memang tidak mempunyai firasat apapun masih bersikap tenang dia bahkan berada di bengkel dan mencatat semua keperluan bengkel yang sudah habis dan harus di beli.


Pria itu tidak pernah menduga bahwa setelah ini mungkin ada sesuatu yang menciptakan kondisi tidak mengenakkan ketika dia sudah memilih untuk memulai kebohongan terhadap istrinya.


"Lo nggak pulang?" tanya Gerry pada Raffan yang memang sedang menyibukkan diri dengan catatan sambil berdiri di dekat meja, mencatat sambil berdiri entah kenapa justru membuat dia nyaman ketimbang harus duduk.


Raffan melihat pada jam tangannya, "sebentar lagi, gue selesaikan ini dulu," katanya ketika jam digitalnya sudah menunjukkan angka 21:39 artinya waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam lewat sembilan menit.


"Padahal kalau cuma nyatet gituan mah gue juga bisa Raf," cetus Gerry melirik pada buku catatan yang sudah dipenuhi oleh coretan tinta membentuk huruf-huruf yang tersusun menjadi kalimat.


Raffan berdecih, "dari dulu Lo itu selalu gue minta buat catat semau barang-barang yang habis biar Rio bisa langsung belanja dan nih bengkel nggak kosong, eh Lo malah banyak alasan, yang lupa lah yang pulpennya abis lah yang inilah yang itulah, sampai gue dan Agam juga bosen denger apa aja Lo jadiin alasan, terus sekarang mulut Lo itu sesumbar kalau cuma nyatet aja Lo bisa? wow terkejut gue mendengarnya," celoteh Raffan menunjukkan ekspresi yang dibuat terkejut lalu kemudian kembali berubah datar seperti yang tadi.


Gerry menggaruk kepalanya lalu melempar tawa kaku, "gue cuma nawarin doang eh Lo malah panjang lebar berceloteh layaknya burung beo yang baru belajar bicara dan sedang senang-senangnya mengoceh, ckck." Gerry memprotes temannya yang malah mengungkit kelakuannya yang memang selalu saja banyak alasan ketika diminta untuk memeriksa barang keperluan bengkel yang habis dan memang harus segera dibeli karena tidak mungkin ketika ada pelanggan mereka yang datang untuk mengganti onderdil tapi onderdil yang mereka perlukan malah kosong, tidak mungkin kan kalau mereka akhirnya sibuk kelabakan membeli pada saat itu.


Raffan menutup buku catatan lalu mengemasnya masuk ke dalam tas dengan pulpen yang dia capit dengan bibirnya.


"Gue pulang sekarang kalau gitu," ucap Raffan melemparkan pulpen yang langsung dengan tanggap di tangkap oleh Gerry.


"Oke!" Gerry mengantongi pulpen yang tadi Raffan lempar.


"Jangan dikantongin nanti Lo bawa pulang lagi, giliran gue mau nyatat barang malah nggak ada!" cerocos Raffan menghentikan gerak kakinya.


"Sialan, pulpen kayak gini mah gue bisa beli seratus," celetuk Gerry dongkol dengan perkataan dari temannya yang tanpa bersalah langsung melenggang pergi begitu saja setelah berpamitan pada temannya yang lain.


Pria yang Gerry maki nyatanya tak peduli mendengar ocehannya seolah hanya angin laut yang hanya membuat masuk angin kalau terlalu lama dihadapi.


Mobil yang Raffan kendarai pun sudah mulai berpacu menjauhi tempat dimana bengkelnya berdiri, bengkel yang sangat bersejarah menurutnya karena bermula dari hobi hingga akhirnya menghasilkan keuntungan yang akan di bagi dengan teman-temannya dengan rata, tentu meskipun sudah melalui pembagian nyatanya dia sangat sanggup untuk membiayai rumah tangganya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang tuanya, bukankah orang tuanya harus bangga dengannya? di usia muda dan masih kuliah sudah harus mengambil tanggung jawab anak orang yang dijadikan istri olehnya, yah pernikahan hasil perjodohan yang ternyata membuatnya malah tidak rela untuk berpisah dengan istri hasil perjodohan itu sendiri.


Saat melewati gerobak penjual martabak membuat Raffan ingat akan istrinya hingga diapun lantas menepikan mobilnya bermaksud untuk membawakan istrinya martabak cokelat kesukaan sang istri.


"Cokelat satu ya Mas," katanya pada sang penjual martabak yang masih muda.


"Sebentar ya Mas," ucap sang penjual seraya memberikan bangku plastik agar pembelinya bisa duduk saat dia membuatkan pesanan.

__ADS_1


Raffan mengangguk lalu menjatuhkan bagian tubuhnya untuk duduk di bangku yang diberikan, dia sepertinya masih harus menunggu sebab banyak juga turut mengantri untuk mendapatkan martabak yang mereka inginkan.


Sambil menunggu Raffan memainkan handphonenya mencoba untuk mengirim pesan pada sang istri namun pesannya malah hanya ceklis satu lalu diapun mencoba untuk menghubungi tapi tidak tersambung juga.


"Nggak punya kuota apa, kok nggak nyambung?" herannya kala panggilan hanya menghubungi saja tidak tampak berdering seperti yang seharusnya.


Sampai akhir masih tetap sama membuat dia mengernyitkan keningnya tapi jarinya kembali menekan untuk mengulangi panggilan, sambil menunggu pesanannya selesai dibuat Raffan terus mencoba menghubungi.


"Ini sih bukannya habis kuota tapi emang handphonenya nggak aktif, udah tidur mungkin," gumamnya yang lalu menyerah tak lagi menghubungi Istrinya menganggap wanita itu memang sudah tidur meski dia tahu rasanya tidak mungkin Deefa tidur saat dia belum pulang karena biasanya istrinya itu tetap akan mengaktifkan handphone dan akan langsung menjawab panggilan darinya dengan cepat bahkan sebelum nada dering ketiga berbunyi.


Raffan merasa sedikit agak aneh dan tak biasa tapi kemudian melupakan keanehan itu kala martabak yang dia pesan sudah jadi dan siap untuk dibawa pulang.


Di dalam rumah yang sekarang tampak sangat hening dengan lampu yang tidak menyala entah Deefa lupa atau karena dia yang terlalu larut dalam kesedihan hingga tidak mampu untuk sekedar menyalakan lampu agar rumah itu menjadi terang tidak gelap seperti sekarang bagaikan tidak ada penghuni.


Deefa masih duduk terpaku dengan kepala yang menunduk merasakan betapa nestapa hatinya setelah tahu suaminya sudah berbohong padanya, kebohongan yang tidak pernah dia sangka akan terjadi dan kebohongan itu nyatanya mampu membuat hatinya sangat hancur ketika tahu tentang kebohongan yang dilakukan untuk menutupi kekurangannya sebagai seorang wanita.


Kebohongan seperti ini apa harus dia maafkan? sekalipun alasan kebohongan itu untuk melindunginya? apa dia masih bisa terima? sungguh dia merasa dadanya terhimpit hingga dia tak berdaya untuk bernapas dengan baik benar-benar teramat sesak sampai air mata pun menenggelamkan dirinya dalam kubangan nestapa.


Tentunya dia memang tidak boleh seperti ini berlarut dalam kesedihan yang Allah pun melarang umatnya terlalu berlarut-larut tapi dalam prakteknya dia tidak bisa untuk tetap tegar saat ingatannya kembali berputar pada perkataan Aliya padanya tadi siang.


Tentang suami wanita itu yang meminta untuk menikah lagi andai istrinya masih juga belum bisa memberinya keturunan, dan sekarang Deefa membayangkan dirinya berada pada posisi Aliya.


Tidak, saat ini pun Deefa memang sudah berada diposisi Aliya, dia yang tadi membaca hasil pemeriksaan sudah menjadi mimpi buruk yang menjadi nyata, apa dia sanggup melihat suaminya menikah lagi agar bisa mendapatkan keturunan yang bisa menjadi penerus dari keluarganya.


Mengingat Raffan adalah anak satu-satunya tentu dia sudah membayangkan kalau keputusan menikah kembali mungkin akan dilakukan, saat ini Deefa lupa pada permintaan Raffan yang memintanya untuk tidak pernah meninggalkannya, otaknya sudah buntu dan tidak bisa mengingat hal apapun selain vonis dokter untuknya.


Raffan memarkirkan mobilnya di dalam garasi yang memang belum di tutup.


"Ini rumah gelap banget, Deefa lupa nyalain lampu, memangnya dia tidur dari jam berapa sampai lampu belum di nyalain?" tanyanya seraya turun dari mobil tak lupa membawa kantong berisi martabak yang dia beli.


Kakinya berderap cepat menuju ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang dia miliki, masuk ke dalam rumah yang gelap langsung mengarah pada stop kontak untuk menyalakan lampu yang dalam sekejap menerangi ruangan yang tadi sangat gelap.


Pria itu kembali mengunci pintu melepas sepatu lalu gegas menuju dapur dan sibuk mengeluarkan martabak dari dalam kotaknya dan meletakkan di dalam piring, dia menyusun irisan martabak cokelat dengan sangat rapi, sepertinya dia sangat berniat untuk memberikan martabak itu pada istrinya sampai-sampai harus menyusunnya di piring.

__ADS_1


Raffan tersenyum puas dengan hasil kerjanya, pria itupun menurunkan tas dari punggungnya dan meninggalkan tas itu di atas kursi meja makan sedangkan dia membawa piring berisi martabak menuju kamar.


"Sayang," suaranya sangat pelan saat sudah berada di depan pintu kamar yang tertutup sangat rapat.


Pria itu masih mengira bahwa istrinya sudah tidur bahkan ketika membuka pintu kamar pun dia begitu hati-hati dan dengan gerakan yang lambat melongokkan kepala.


"Loh aku kira kamu udah tidur," ucap Raffan saat sepasang matanya menangkap sosok yang dia kenali tengah duduk di tepian tempat tidur dengan hanya lampu meja saja yang dibiarkan menyala.


"Sayang." kembali memanggil manakala istrinya tidak merespon perkataannya.


Heran, Raffan pun melangkah melewati pintu mendekat pada wanita yang tidak juga mengangkat wajah untuk melihat dirinya.


"Aku bawain martabak cokelat kesukaan kamu nih," lontar Raffan yang sudah semakin dekat.


Namun yang dia ajak bicara tetap diam membisu, dikatakan tidak bernyawa tapi dada wanita itu naik turun tanda masih ada kehidupan, dikatakan hidup namun tidak juga bersuara merespon apa yang dia ucapkan sejak tadi.


"Taraa!" Raffan berseru seraya menunjukkan piring dengan martabak cokelat ke depan sang istri seolah memberi kejutan pada wanita yang sekarang mengangkat wajah memberikan tatapan yang mengekspresikan tentang kesedihan.


"Kamu kenapa?" Raffan jadi panik mendapati keadaan istrinya yang meski dalam ruangan berlampu redup Raffan masih bisa melihat dengan jelas sepasang mata istrinya sudah sangat basah oleh air mata.


Pria itu berlari ke meja untuk menyimpan piring yang dia bawa sambil menyalakan lampu utama hingga diapun bisa melihat seperti apa wajah istrinya saat ini, melihat dengan sangat jelas wajah yang sudah dipenuhi oleh air mata dengan pandangan yang Raffan tahu itu adalah pandangan menyimpan nestapa yang menggunung.


Raffan menangkup kedua pipi istrinya dengan ke khawatiran yang langsung menyergap dirinya, mengitari pikirannya yang masih belum tahu apa yang sudah terjadi pada sang istri hingga wanita itu menjadi begini.



"Kamu sakit? kita ke dokter sekarang ya!" kata Raffan cemas hendak membantu istrinya berdiri untuk dia bawa ke rumah sakit tapi terhenti kala Deefa tetap mempertahankan tubuhnya agar tidak bergerak membuat Raffan makin cemas diiringi dengan kebingungan.



"Kenapa harus seperti ini."


***

__ADS_1


__ADS_2