Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Teman Yang Peduli


__ADS_3

"Kalian ngapain sih datangnya cepat banget!" Raisya langsung menyemprot dua orang montir yang tengah memeriksa mobilnya.


Keduanya saling tatap kebingungan mendengar wanita pemilik mobil malah marah-marah karena mereka datang cepat, biasanya kan orang akan sangat senang apabila montir yang mereka panggil segera datang, tapi wanita ini malah kebalikannya.


Aneh, membuat dua pria itu mengerutkan kening mereka masing-masing, hingga salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri bersuara.


"Tadi Pak Rahman, minta kami untuk segera datang makanya kami buru-buru datang ke sini Mbak," jelas si pria yang memakai topi, dia tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini, wanita itu adalah majikan dari pria yang menghubungi tadi, pria yang memang rutin datang ke bengkel tempatnya bekerja untuk mengecek kendaraan roda empat yang sekarang ada di hadapannya ini, jadi sedikit banyak dia tentu sudah tahu bagaimana kondisi kendaraan itu.


Raisya mendengus lalu berkacak pinggang dengan memamerkan wajah yang luar biasa sombong dan ketus saat mengeluarkan kalimat demi kalimat dari mulutnya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Ya tapi nggak usah cepat juga, Lo berdua itu bikin gue gagal berduaan sama Raffan tahu nggak!?" cecar Raisya tak mau kalah.


Pembicaraan Raisya makin tidak dimengerti oleh kedua pria di depannya itu, perkataan menyebalkan dan tak masuk akal sungguh membuat kedua pria itu menarik napas menahan kesal tapi mereka harus tetap melakukan pekerjaan mereka dengan baik, karena jika tidak tipe-tipe seperti Raisya ini akan mengadukan mereka pada atasan yang bisa mengancam pekerjaan mereka.


Sabar saja, wanita itu mau mengoceh apa biarkan saja, batin mereka lalu mengerjakan tugas yang seharusnya mereka kerjakan sambil sesekali menggelengkan kepala mendengar celotehan Raisya yang seperti tidak puas mengomel sejak tadi.


"Udah malam banget Raf, Lo nggak pulang?" Agam menghampiri Raffan yang sedang berdiri di teras bengkel yang sejak satu jam lalu memang sudah sepi tidak ada lagi orang yang datang untuk memperbaiki motornya, pemuda-pemuda yang biasanya balapan pun sudah pulang semua dari 15 menit yang lalu, Rio Gerry dan Gumay juga baru saja pulang sekitar 5 menitan lalu sekarang hanya ada mereka berdua di tempat itu.


Raffan menggeleng lalu menghela napas panjang, "gue masih mau disini, pulang ke rumah juga percuma nggak ada Deefa," katanya menoleh sekilas pada sang teman lalu kembali mengalihkan tatapannya pada langit gelap yang dihiasi bintang bertaburan serta tak ketinggalan sang penerang malam, yaitu bulan yang sekarang hanya terlihat setengahnya saja, bulan sabit namanya.


"Lo kalau mau pulang duluan pulang aja," ucapnya tanpa melihat pada Agam yang tengah membenahi kursi plastik yang tadi berantakan menghalangi jalan.


"Tadi sore pun gue udah bilang kalau Lo mau cerita Lo boleh cerita sama gue Raf, walau seandainya gue nggak bisa bantu tapi setidaknya gue bisa menjadi pendengar yang baik agar Lo sedikit lega nggak nyimpan masalah Lo sendiri," papar Agam perhatian.


Seorang Agam hanya ingin membantu temannya tanpa mau ikut campur dengan urusan pribadi temannya apalagi dia tahu temannya itu sudah menikah, sudah punya istri jadi jelas permasalahannya mungkin tidak lagi sama dengan yang dulu pada saat masih belum menikah.


Masalah yang mungkin menyangkut tentang rumah tangga dia paham benar orang luar tidak boleh turut serta mencampuri tapi sebagai teman setidaknya dia mampu menjadi seorang pendengar yang baik dan tulus barangkali bisa memberi sedikit masukan nantinya.


Raffan menghela napas lalu berkata, "gue sadar tentang rumah tangga itu tidak baik untuk dibicarakan dengan orang luar yang tidak ada kaitannya, tapi gue benar-benar nggak tahu harus cerita sama siapa, sama Ayah gue rasanya nggak mungkin gue cerita karena takut dia bakalan ngomong sama ibu gue, cerita sama ibu gue lebih nggak mungkin lagi sebab awal masalah ini terjadi ya dari ibu gue," tutur Raffan.


Agam menatap sang teman setelah ini dia yakin Raffan pasti akan mulai bercerita tentang apa yang sedang temannya itu hadapi, jelas bukan masalah yang sepele karena seorang Raffan yang biasanya tak masuk akal sudah terlihat sangat jauh berbeda, lebih pendiam bahkan tidak bicara di saat teman-temannya banyak mengoceh.


"Lo percaya sama gue, kita kenal ini nggak cuma hitungan bulan aja, tapi tahun baik buruknya sifat kita udah sama-sama tahu, bahkan berdebat sampai tak saling tegur berhari-hari pun kita pernah, tapi yang namanya teman kalau pertemanan itu tulus akan tetap kembali baik seperti awal, gue nggak bakal ngomong sama siapa-siapa Raf," Agam meyakinkan sang teman yang masih mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan apa yang dia rasakan, "gue cuma ingin pikiran Lo tuh sedikit plong, lega, mengenai gue bisa bantu atau nggak itu urusan nanti asalkan pikiran Lo jadi tenang aja," jelas pria yang biasanya memang sudah serius sekarang malah jadi makin serius setelah mengetahui bahwa masalah yang tengah temannya itu pikirkan menyangkut rumah tangga, seperti yang dia duga sebelumnya.


Raffan yang sejak tadi berdiri pun akhirnya bergerak, pria itu berpindah menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat lelah, ternyata lelah karena pikiran juga berpengaruh pada fisik.


Agam pun turut serta duduk di sofa kosong berdampingan dengan temannya, "mau gue ambilin minum dulu?" tawar Agam.


Pria itu berpikiran mungkin Raffan akan haus nantinya setelah menyelesaikan apa yang ingin dia bicarakan, akan tetapi yang Agam dapatkan hanyalah gelengan kepala dari temannya tanda menolak tawaran yang dia katakan.


"Gue bingung harus mulai dari mana," ujar Raffan seraya mengurut sebagian wajahnya.


"Relaks dulu, tarik napas panjang lalu keluarkan perlahan," saran Agam dengan mimik khawatir.

__ADS_1


Raffan menurut, dia melakukan apa yang temannya itu katakan, mengambil napas mengisi paru-paru lalu menghembuskan nya secara perlahan, menenangkan dirinya terlebih dulu lalu terdiam untuk sesaat mungkin mencari kata yang tepat.


Untuk masalah yang satu ini tentu dia tidak bisa lagi bersikap sesuka hati, tidak bisa asal bicara karena diapun sebenarnya tidak ingin membuka dan membicarakan kekurangan istrinya kepada orang lain, tapi mau bagaimana lagi ketika otak dan pikirannya sudah semakin kalut tak karuan apabila harus memendamnya sendirian.


"Gue udah bohong sama orang tua gue dan sekarang gue sedang berniat untuk membohongi Deefa juga," tutur Raffan dengan suara berat.


"Maksudnya? bohong soal apa, dan kenapa Lo harus bohong?" tanya Agam ingin tahu lebih jelas cerita apa yang sedang Raffan bicarakan itu.


"Deefa nggak bisa punya anak," papar Raffan dengan suara yang sangat pelan bahkan Agam sempat mengira kalau temannya itu sedang berbisik.


Raut wajah Agam berubah sangat cepat menjadi sangat pias seperti tidak ada darah yang mengaliri, dia tidak sedang salah dengar kan? Agam bahkan sampai harus mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat pada temannya.


"Raf." Agam mencoba menegur dan berisyarat agar Raffan mau mengulang kembali apa yang dia katakan barusan, dia hanya takut telinganya salah dalam mendengar.


"Beberapa hari lalu gue dan Deefa melakukan pemeriksaan, itupun karena bermula dari ibu gue yang menanyakan kenapa Deefa belum juga hamil sampai akhirnya ibu meminta Deefa dan gue untuk periksa, gue sebenernya nggak mau, gue nolak karena gue pikir nikah juga belum ada satu tahun gue merasa masih ingin puas-puasin dulu pacaran halal sama Deefa tapi ternyata Deefa maksa buat periksa karena dia merasakan tuntutan dari ibu gue, Deefa tertekan sampai akhirnya gue iyain, gue setuju buat periksa," Raffan berhenti untuk mengambil napas panjang melonggarkan hatinya yang mungkin terasa ada himpitan yang membuatnya sesak.


Agam terlihat begitu setia menunggu temannya itu melanjutkan ceritanya, menjadi pendengar yang baik tanpa menjeda kala temannya sedang berbicara.


"Gue udah dapat hasilnya," Raffan kembali berhenti dengan mata yang sudah mulai memerah, sungguh di saat seperti ini Agam makin jadi tidak tega dengan temannya itu.


Sebelumnya bahkan dia tidak pernah melihat Raffan begini, terlihat begitu rapuh dan lemah sebagai seorang laki-laki.


"Gue udah ambil hasil pemeriksaan tapi gue bohongin Ibu sama Ayah, gue bohong sama mereka tentang hasilnya, tentang Deefa yang nggak bisa kasih gue anak nggak mungkin gue beritahu mereka terutama Ibu gue karena gue tahu apa yang akan dia lakukan kalau sampai mengetahui Deefa bermasalah."


"Gue bilang sama Ayah dan Ibu kalau gue yang bermasalah, gue nggak mau Deefa semakin disudutkan sama Ibu, gue nggak mau Gam! gue sayang gue cinta sama Deefa," Raffan menutup wajahnya, saat ini dia tidak lagi bisa membendung kesedihan yang dia simpan sejak kemarin, kesedihan yang jika dia buka malah akan membuat dia terpisah dengan wanita yang dia cintai.


Wanita yang sudah berhasil membuat dia jauh lebih baik, wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta padahal di awal pernikahan dia sangat tidak suka dan kadang kesal jika melihat wajah wanita dengan tatapan sendu itu.


"Gue mau selamanya sama Deefa, Gam," Aku Raffan suaranya sudah terdengar sangat bergetar.


Agam menarik napas, ternyata seperti inilah orang yang benar-benar tulus mencintai, rela melakukan apa saja untuk wanita tercintanya sekalipun harus membohongi orang tuanya sendiri.


"Sekarang gue harus apa?" Raffan mengangkat wajahnya dengan tetesan air mata yang sudah dia hapus.


"Mengadu sama Allah Raf, bicara dengannya karena dialah sebaik-baiknya tempat untuk meratap membicarakan apa yang kita rasakan, dokter hanya bisa memvonis tapi Allah lah yang maha memberi takdir, alat buatan manusia bisa saja salah tapi garis takdir hanya Allah yang tahu, Lo bisa cari opsi lain ke dokter lain, kalau memang hasilnya tetap sama, janganlah berputus asa Allah akan senantiasa menunjukkan kuasanya pada hambanya yang bersungguh-sungguh mau berusaha, dekatkan diri pada Allah," nasihat Agam membuat hati Raffan sedikit tenang.



"Tapi gue jelas nggak mungkin jujur sama orang tua gue soal hasil pemeriksaan," terang Raffan.



"Gue ngerti, berbohong demi kebaikan tidak apa-apa asalkan jangan terlalu sering melakukannya dengan dalih demi kebaikan, sebab yang namanya bohong tetap saja bohong," papar Agam menepuk punggung sang teman yang matanya masih memerah.

__ADS_1



\*\*\*\*



Di atas tempat tidur Deefa bergerak tak bisa diam, wanita itu tampak sangat resah tidak bisa tidur karena ada yang dia pikirkan.



"Mas Raffan sudah ambil hasil pemeriksaan belum ya?"


Rupanya wanita itu memikirkan tentang pemeriksaan mereka, menunggu suaminya menelepon untuk memberitahu tapi sampai malam pun pria itu tidak juga menghubunginya, membuatnya tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun.


Deefa mengambil handphonenya di atas meja lalu menjadi semakin lesu ketika suaminya benar-benar tidak menghubungi seharian ini.



"Mungkin sibuk sama kuliah." berpikir positif agar keresahannya tidak bertambah.



Cukuplah dia resah memikirkan hasil pemeriksaan jangan lagi menambahkannya dengan pikiran-pikiran tak jelas tentang suaminya yang jauh darinya.



Wanita itu lalu menurunkan kedua kakinya menggantung di atas lantai dan mengayunkannya perlahan persis seperti anak kecil yang sedang bermain ayunan.



"Semoga hasil pemeriksaannya bagus, tidak ada masalah apapun baik aku ataupun Mas Raffan, aku tidak mau berpisah dengannya, aku sudah sangat menggantungkan hatiku padanya," gumam Deefa.


Hatinya menjadi resah lagi sehingga diapun akhirnya memutuskan untuk shalat malam berdoa dan meminta pada sang maha kuasa agar mau memudahkan segala apa yang dia harapkan.


Deefa turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi di belakang rumah dengan diiringi suara jangkrik dan binatang malam lainnya.


Di kampungnya itu memang masih banyak binatang malam seperti jangkrik ini, berbeda dengan di Jakarta, mungkin karena sudah menjadi kota metropolitan sehingga binatang-binatang itu perlahan punah karena tempat tinggal mereka pun digantikan dengan gedung-gedung tinggi ataupun perumahan-perumahan elit.


Deefa mengambil air wudhu lalu kembali ke dalam kamar memakai mukena dan menggelar sajadah lalu mulai melakukan shalat malam selain untuk memohon apa yang dia inginkan sekaligus juga untuk menenangkan hatinya yang sedang sangat resah.



\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2