
Sampai di rumah Raffan langsung menarik istrinya masuk ke dalam menendang pintu hingga suaranya berdebum menyakiti telinga.
"Aku lelah, lelah menghadapi ibu menghadapi kamu yang terlalu naif." sampai di dalam rumah langsung berdiri memegangi kepalanya yang sungguh dia rasa mau pecah.
"Kamu naif Deefa, naif!" Raffan berteriak kencang melampiaskan amarah yang sudah memuncak.
"Aku hanya mengijinkan suamiku untuk menikah lagi apa itu salah?" Deefa bertanya dengan suara serak dan berat siapapun bisa mengetahui dari suaranya yang seperti itu jelas menyimpan kesedihan, kesedihan yang dia buat sendiri.
"Salaaahhhh!" untuk sekian kalinya di hari ini Raffan mengeluarkan suara yang sangat tinggi, begitu tinggi seolah akan meruntuhkan rumah.
"Kamu seperti dengan sangat sengaja ingin mendorongku masuk neraka!?" memegang kedua bahu istrinya lalu mencengkeram dengan sekuat tenaga seolah lupa bahwa yang dia hadapi adalah seorang wanita.
Deefa mengerti dengan maksud dari perkataan suaminya, dalam poligami tentu seorang suami harus berlaku adil mungkin jika hanya memberikan nafkah lahir saja Raffan sudah cukup mampu tapi mengenai nafkah batin jelas pria itu tidak akan bisa berlaku adil karena perasaan kasih sayang juga cinta seorang Raffan Alawi hanya untuk dirinya seorang, dan itu jelas akan menyulitkan suaminya di akhirat kelak.
"Aku tidak akan pernah bisa! berulang kali aku katakan aku tidak akan bisa!!" sekarang suaranya sudah semakin tinggi, bagaikan sangkakala yang siap meluluhlantahkan dunia dan seisinya.
Setelah begitu menggelegar sesaat kemudian Raffan berubah menampilkan wajah yang begitu sendu, teramat sendu hingga bola mata pria itupun bergetar dengan air yang sudah menggenang dipelupuk matanya.
Dia menjadi orang yang paling tertekan diantara dua wanita, satu wanita yang dia sayangi sekaligus dia hormati dan yang satu lagi adalah wanita yang sudah menguasai hatinya bahkan dia bermimpi, berharap dengan sepenuh hati dan doa ingin menggapai surga bersama, jika sudah seperti ini apa dia masih bisa mewujudkan mimpinya itu? harapan doa semua umat manusia di dunia apabila memiliki pasangan.
"Maafkan Deefa Mas."
__ADS_1
"Arti maaf mu itu untuk apa? saat bersamaan kamu terus membuatku kecewa dan putus asa, terasa tidak berguna dan hanya menambah luka," berbicara dengan suara yang terdengar begitu menderita, dia seorang pria dewasa meski pada usia sepertinya masih sering bersikap labil tapi untuk hal perasaan dia terlihat menjadi sangat konsisten dengan yang dia katakan.
Di bibir maupun hatinya akan tetap sama, satu wanita sudah mengisi dan memenuhi, itu artinya tidak akan ada tempat untuk wanita lain lagi.
Raffan beralih duduk di sofa menundukkan kepala dengan kedua tangannya yang seakan meremas kepalanya itu, andai bisa mungkin dia sudah akan menghancurkan kepalanya sendiri karena begitu lelahnya harus memikirkan dua wanita yang seperti sekongkol untuk menyerang dirinya.
Menyerang dengan dalih agar dia bahagia dan memiliki keluarga sempurna dengan anak-anak yang lucu.
Apa pernikahan memang harus memiliki keturunan baru dianggap sempurna?
"Apa sebaiknya aku benar-benar pergi? kemarin aku pergi beberapa hari sepertinya belum cukup untuk membuat kamu sadar dan mengerti bahwa kamu membutuhkan aku di hati serta di samping dan juga hidupmu." bicara Raffan sudah makin memperlihatkannya bahwa dia frustasi dan kehidupannya teramat memprihatikan.
Pria itu berbicara tanpa mengangkat wajah guna mengetahui ekspresi istrinya yang menjadi tak karuan mendengar apa yang dia utarakan.
Deefa menggeleng serta meluruhkan air mata meski tanpa ada Isak tangis yang terdengar menyapa telinga, menangis dengan menggigit bibirnya untuk menahan sesak yang seketika seolah menghantam relung terdalam.
"Aku tidak ingin kamu pergi M.."
"Tapi sikapmu seakan memang mengusir aku untuk pergi!" Raffan menyalak marah memotong perkataan sang istri, segala perkataan yang terasa tidak masuk akal, tidak mau dirinya pergi tapi menginginkan dia menikah lagi, bukankah itu sama saja mereka harus berpisah sewaktu-waktu karena dia yang harus berkewajiban bersama dengan istri mudanya?
Raffan menjadi tak habis pikir dan sekarang malah timbul rasa penyesalan kenapa dia harus menikah dengan wanita seperti istrinya ini, terlalu naif memikirkan orang lain tapi mengabaikan perasaannya sendiri dan juga orang yang mencintainya.
__ADS_1
"Tidak salah menjadi orang baik, tapi tidak harus menjadi buta dengan kesakitan kamu dan juga aku!" kali ini menatap pada wanita yang masih berdiri tak jauh darinya.
Berdiri dengan kepala yang tertunduk entah menatap apa dan mencari apa di dekat kakinya itu.
Raffan menatap wanita yang mungkin tidak sanggup untuk menatap padanya, lalu berdiri seraya menarik napas sangat panjang dan berat, kesesakan itu sudah sangat merajai dirinya, paru-parunya menjadi terhimpit hingga membuatnya susah bernapas.
Dia memijit pangkal hidung menatap tak tega tapi dia juga lelah jika harus terus bertengkar untuk masalah yang sama, ini bukan pertengkaran mereka yang pertama sudah sering kali semenjak ibunya menanyakan tentang kehamilan, membuatnya tak tahan menahan gejolak amarah yang kian memuncak.
Perlahan Raffan berdiri setelah berulang kalinya mengambil napas dengan berat, berdiri tak jauh namun garis lurus mempertemukannya dengan sosok wanita yang hanya memiliki tinggi sebatas bahunya saja.
"Jika kamu masih terus meminta aku untuk menikah.." Raffan menjeda ucapannya menghela napas berkali-kali menunjukkan dia sangat berat untuk mengucapkannya, "aku akan talak kamu."
Deg!
Begitu terkejut dengan jantungnya yang berdebar Deefa mengangkat wajah menatap pria yang baru saja mengucapkan ancaman padanya, pria yang sekarang dengan tak acuhnya melangkah pergi meninggalkan dirinya dengan segala ketidakpercayaan.
Deefa meremas semua jari-jemarinya dengan tak karuan gelisah melanda, dia sudah sekuat tenaga untuk memilih satu diantara dua pilihan yang ibu mertuanya ajukan, sekuat tenaga menahan rasa sakit tapi sekarang suaminya mengancam akan menjatuhkan talak andai dia tetap bersikeras memintanya menikah lagi.
Tidak bertemu beberapa hari saja dia sudah menangis sepanjang hari, lalu bagaimana jika dia benar-benar berpisah dengan suaminya itu?
Wanita itu masih tetap berdiri di posisinya itu sejak tadi, berdiri namun tubuhnya mulai bergetar bertanda dia memang sudah menangis tak lagi kuasa menahan isak tangisnya..
__ADS_1
****