Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Bolos Lagi


__ADS_3

Di kampus Gumay berlarian mencari Rio, Gerry serta Agam yang tengah berada di dalam kelas meski tidak ada dosen di dalamnya.


Mereka sepertinya tengah sangat sibuk membahas tentang bengkel yang sudah dua hari tidak Raffan datangi, sampai suara dari pintu masuk membuat perhatian mereka pun teralih.


"Berita penting berita penting!" seru Gumay dengan raut wajah yang.. memang lebih serius ketimbang biasanya.


Memang sepenting apa berita yang Gumay bawa kali ini? hingga membuat dia yang biasanya selalu dipenuhi dengan perkataan serta kekonyolan tingkahnya menjadi sangat berbeda.


"Berita apaan sih May?!" sambar Gerry berteriak penasaran ketika Gumay masih berlari menuju tempat mereka duduk sekarang.


"Bentar, gue tarik napas dulu," matanya lalu sedikit membungkuk guna mengambil napas yang terbuang banyak ketika berlarian dari parkiran sampai ke ruang kelas.


Ketiga temannya pun membiarkannya mengambil napas rela menunggu untuk berita yang katanya Gumay penting.


"Raffan mana?" tanyanya saat keadaan napasnya sudah kembali teratur dan normal.


"Kan hari ini dia baru jalan balik, paling juga besok dia baru masuk," sahut Rio menjawab pertanyaan Gumay yang sekarang sudah duduk di tepian meja.


"Bolos mulu tuh raja drama," celetuk Gumay menaikkan sebelah kakinya tak peduli di depannya ada Gerry yang sejak tadi melayangkan tatapan tajam penuh peringatan.


"Turunin kaki Lo!" desak Gerry yang diabaikan oleh manusia bebal bernama Gumay.


"Sialan," umpat Gumay kala Gerry secara kasar menepis kakinya hingga menenai kaki meja di sebelahnya.


"Tadi berita penting apaan?" tanya Rio yang sedari tadi penasaran.


Si Gumay ini terkadang memang sangat-sangat menyebalkan, mungkin dalam pertemanan mereka Gumay dan Raffan lah yang selalu menguras kesabaran mereka, ada saja yang dua orang itu lakukan salah satu tidak ada saja suasana tetap di buat heboh dan rusuh, apalagi ketika dua-duanya muncul yang ada telinga mereka terus di perdengarkan oleh debatan-debatan tidak berguna yang mereka lontarkan.


Ada saja yang Raffan dan Gumay perdebatkan hingga kadang membuang-buang waktu mereka hanya untuk menyiapkan telinga mereka yang akan berdengung panas.


"Marco ngajak balapan lagi, dan kalian pasti tahu dong siapa yang dia tantang?" katanya seraya beralih duduk di bangku di depan Agam lalu memutarnya hingga kini berhadapan pada ketiga temannya itu.


"Nggak ada nyerahnya tuh orang," cibir Gerry meremehkan Marco yang memang sering sekali menantang Raffan dan akhirnya akan selalu kalah.


"Dari zaman Majapahit juga tuh orang emang nggak kenal nyerah, yang gue heran tuh orang udah kalah tapi masih tetap bisa songong, Gedeg gue!" timpal Rio dengan ekspresi kesal yang tidak di buat-buat.


Sedangkan Agam sejak tadi tidak mengeluarkan suara juga pendapat apapun tentang apa yang menjadi pembicaraan ketiga temannya, pikirannya masih tetap pada satu wanita meski sudah mencoba untuk berdamai dengan perasaannya berusaha untuk melupakan wanita yang menjadi istri dari temannya.


"Nggak usah di tanggapin, Raffan nya juga nggak ada," kata Gerry akhirnya.


"Ya mana bisa begitu, si Marco ini ngancam kalau Raffan tolak tantangannya, dia bakal bikin pengumuman kalau Raffan itu cuma pecundang, Lo tahu sendiri kan si Raffan itu gimana? menjunjung tinggi harkat dan martabat dirinya setinggi langit!" celoteh Gumay dengan mata yang membulat lebar memberitahu apa yang dia dengar dari anak buah Marco.


"Terus gimana? Raffan nya aja nggak ada, memangnya dia minta kapan balapan?" Gerry angkat bicara lagi setelah tadi sibuk menatap ekspresi Agam kala mereka membicarakan Raffan.

__ADS_1



"Besok, Minggu malam," terang Gumay.



"Besok juga Raffan sampai, hari ini dia lagi di jalan sama Deefa," Agam yang sejak tadi diam pun mulai bersuara.



"Bagus lah kalau begitu!" ujar Gumay seraya memamerkan cengiran nya.


Rio berdecak kesal dengan tingkah Gumay yang terlalu melebih-lebihkan, Raffan memang ngeselin tapi dia tahu benar sengeselin-ngeselinnya Raffan akan lebih ngeselin si Marco itu.


Udah sering kalah tapi tak pantang menyerah, terus bernafsu menantang guna memuaskan ambisinya untuk mengalahkan si berandal Raffan Alawi yang sekarang bahkan sudah tiga kali mandi dalam sehari.


*****


Deefa tengah menyisiri rambutnya yang masih sedikit basah, ini mandinya yang ketiga kali di hari ini.


Yang pertama saat mandi di pagi hari, yang kedua saat akan sholat Dzuhur dan mandi lagi ketika waktu menunjukkan sebentar lagi akan adzan ashar.


Sungguh Raffan membuktikan ucapannya, pria itu benar-benar ketagihan dan terus menyerangnya seharian ini, tapi masih cukup tahu diri dengan berhenti ketika sudah mendekati waktu sholat.


Raffan yang baru keluar dari kamar mandi pun dengan ganjennya menepuk belakang sang istri hingga istrinya itu terkejut.


Tapi sang pelaku malah melenggang tanpa bersalah menuju jendela yang tadi dia tutup lalu membukanya membiarkan udara sore masuk.


Keduanya menunaikan sholat ashar dengan berjamaah, Raffan kembali mengimami sang istri yang hatinya melantunkan rasa syukur yang teramat kepada Allah.


"Lapar nggak?" tanya Raffan.


Pertanyaan dari raja drama menunjukkan kalau dia tidak peka, setelah membuat istrinya kelelahan bukankah seharusnya dia sadar kalau istrinya itu sudah tentu lapar, seharusnya tidak perlu bertanya lagi pesankan makanan dan makan berdua itu jauh lebih baik.


"Lapar Mas," jawab Deefa seraya memakai kerudungnya.



"Ya udah aku pesan makan, kita harus isi tenaga dulu karena nanti.." Raffan tidak melanjutkan perkataannya malah mengerling nakal pada sang istri yang senyum malu-malu.



"Nggak usah pakai kerudung kan bisa," kata Raffan menarik kerudung yang sudah menutupi rambut sang istri, "rambut masih basah jangan di tutup, lagian yang lihat kan cuma aku saja," katanya lagi tak membiarkan Deefa menjawab ucapannya.

__ADS_1



Kemudian Raffan kembali sibuk memesan makanan yang tak lama pelayan pun datang mengantarkan makanan mereka.



Keduanya makan dengan nikmat sambil sesekali kaki Raffan dengan sengaja menendang-nendang kaki Deefa, memberi kode-kode nakal pada wanita itu dengan senyuman yang mencurigakan.



Di dalam kepalanya saat ini sudah merencanakan berbagai macam gaya untuk mengerjai istrinya yang sejak tadi hanya pasrah pada apa yang dia lakukan.



"Nanti kamu di atas ya," ucapan Raffan sontak membuat Deefa tersedak.



Air putih yang seharusnya dia telan malah naik ke hidung membuatnya pedih.



"Uhuk uhuk." terbatuk tanpa henti sampai membuat wajahnya merah.



"Makanya kalau minum pelan-pelan," omel Raffan mengelus punggung sang istri.



Astaga, tidak sadarkan Raffan kalau istrinya tersedak karena ulahnya, tapi malah dengan tenang menyalahkan sang istri.



Sedang Deefa mulai hanya melirik tanpa bisa menjawab guna membela diri, seharusnya dia yang marah sekarang tapi malah suami berandal nya itu yang mengomeli dirinya.



Hingga akhirnya batuk Deefa mereda dan Raffan kembali melanjutkan makannya dengan tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun.



\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2