Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Unboxing Dimana?


__ADS_3

Kiyai Burhan mengernyitkan keningnya begitu melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil, pria yang sedari tadi ditangisi oleh Deefa bergerak sangat tenang layaknya hembusan angin malam tak terlihat karena tiba-tiba kini sudah berdiri di hadapan Kiyai Burhan.


"Assalamu'alaikum, Abah," ucapnya seraya menggapai tangan keriput sang Kiyai yang juga menjawab salamnya.


"Wa'alaikumsalam," suara tuanya terdengar jelas di telinga Raffan.


"Abah kenapa? sakit?" tanya Raffan menatap pria yang seperti tidak berkedip kala melihatnya.


Astaga Raffan malah mengajukan pertanyaan dengan tampang biasa saja seperti orang yang tidak melakukan apapun, tidak berpikir kah dia kalau istrinya di dalam kamar sana tengah pingsan karena apa yang dia lakukan.


"Tumben udah tengah malem gini rumah Abah masih ramai saja," katanya lagi karena saat turun dari mobil tadi dia melihat ada beberapa orang yang tengah berdiri di teras dengan raut wajah yang seperti memikirkan sesuatu.


Kiyai Burhan menghela napas, "kamu dari mana saja, kenapa baru sampai?" tanya kiyai Burhan akhirnya.


Yang di tanya malah melempar senyuman diiringi dengan menggaruk kepalanya, sungguh membuat seorang kiyai Burhan menjadi sangat gemas sekali pada satu-satunya keturunan temannya itu.


Bagaimana bisa seorang Imran yang dia kenal sangat teliti dan selalu mengambil keputusan dengan baik malah memiliki anak yang sifatnya selalu menguji kesabaran, sudah usia 19 tahun tapi kelakuannya mencerminkan anak kecil yang sulit sekali di beritahu.


"Tadi Raffan tidur di hotel Abah," sahutnya polos.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Kiyai Burhan menghela napas panjang.


Raffan mengernyitkan keningnya merasa heran, dia hanya tidur di hotel lalu kenapa pria di depannya ini malah beristighfar seakan dia baru saja melakukan kesalahan, Raffan membatin bingung.


"Temui istrimu sekarang, Abah pusing dengan tingkah mu Raffan," tutur sang kiyai menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sungguh dia yang bahkan tidak tinggal satu rumah dengan Raffan saja sudah merasakan betapa pusingnya menghadapi pemuda usia belasan tahun itu, lalu bagaimana dengan Deefa? wajar saja jika suatu saat wanita itu akan sering sakit kepala menghadapi pria yang menjadi suaminya.


Raffan menggaruk kepalanya, lagi-lagi dia tidak mengerti, bahkan ketika kiyai Burhan sekarang berbicara pada para lelaki yang sedari tadi melihat mereka berbicara.


"Assalamu'alaikum," ucapnya kala sampai di depan pintu kamar yang terbuka.


Mendengar suara salam sontak dua orang wanita yang ada di dalam langsung menjawab sambil melihat ke sumber suara.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Umi dan Salimah menjawab kompak.


"Raffan," kata Umi dengan ekspresi terkejut.


Sedangkan Deefa yang sedari tadi menunduk pun jadi ikut mengangkat kepalanya.


"Mas Raffan," katanya lirih dengan deraian air mata yang mengalir.


"Ini apa yang terjadi sih sebenarnya?" batin Raffan bertanya-tanya heran tadi di luar Abah dan yang lainnya menunjukkan tatapan aneh lalu sekarang Umi dan Salimah juga terkejut dengan kedatangannya lalu Deefa.. kenapa istrinya itu menangis?


"Kamu kenapa?" tanyanya seraya berangsur masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Umi dan Salimah memilih untuk segera keluar dengan perasaan tenang sebab orang yang sudah membuat mereka khawatir sudah muncul meski dengan tampang tanpa berdosa seakan tidak melakukan apapun, padahal karena dirinyalah wanita yang menjadi istrinya itu menangis bahkan jatuh pingsan di buatnya.


Deefa gegas menghapus air matanya, sungguh saat ini hatinya yang sedari tadi khawatir sedih cemas gelisah semua perasaan berbaur menjadi satu akhirnya melebur seiring dengan langkah suaminya yang makin mendekat.


"Mas dari mana saja?" tanya Deefa dengan suara lirih seraya mencoba menahan getar di kedua bibirnya akibat berusaha untuk menahan tangis yang entah kenapa malah semakin tidak tertahan, mungkinkah ini yang dinamakan tangis bahagia? tangis lega karena suami yang sejak dari sore dia nantikan akhirnya datang dalam keadaan baik tanpa ada goresan apapun, itu merupakan tanda kalau suaminya memang tidak mengalami hal yang sejak tadi dia khawatirkan, bukan?


"Deefa khawatir, Deefa takut," sahut Deefa.


"Boleh Deefa peluk?" bertanya dengan tatapan yang jauh lebih sendu lagi, ada sebuah harapan yang terpancar jelas dari kedua matanya.


"Sini," ucap Raffan merentangkan kedua tangannya, meski masih dalam taraf bingung apa yang di khawatirkan dan di takutkan oleh istrinya itu tapi setidaknya biarkan dulu istrinya memeluk tubuhnya mungkin bisa meredakan tangisnya.


Deefa pun menghambur cepat memeluk serta melabuhkan kepalanya di bahu sang suami dengan tubuhnya yang kembali bergetar, mungkin Deefa terlalu berlebihan tapi memang inilah yang dia rasakan sekarang mencoba mencari kedamaian serta ketenangan dari dekapan sang suami.


"Kenapa malah lanjut nangis sih," protes Raffan, pria dengan pikiran normal mungkin akan langsung mengelus punggung istrinya atau malah mengecup penuh kasih sayang puncak kepala wanita yang dia nikahi, tapi jangan harapkan itu dari seorang Raffan Alawi, mau di peluk saja sudah cukup bagus.


Deefa menenangkan dirinya, mencoba menormalkan napas yang sesak akibat memuaskan diri menangis sebelum melerai pelukannya pada tubuh hangat sang suami, sangat hangat membuatnya begitu nyaman.


"Kenapa Mas baru sampai sekarang, Mas berangkat dari pagi harusnya sebelum magrib Mas sudah sampai, Deefa sangat cemas dan makin panik saat nomor Mas tidak bisa dihubungi."


Akhirnya memberi penjelasan tentang kenapa dia menangis seperti ini membuat Raffan malah salah tingkah mendengarnya, ternyata dialah tersangkanya yang sudah membuat istrinya itu menangis.

__ADS_1


"Di tengah jalan aku ngantuk jadi aku memutuskan untuk mencari hotel, niatnya tidur sebentar tapi malah bar-bar, hehe," dengan tanpa bersalah memamerkan cengiran di wajah yang untungnya tampan.


"Kenapa tidak memberitahu Deefa dulu?" kata Deefa dengan mata yang membulat, tidak marah hanya saja dia sedikit kecewa karena suaminya itu seperti melupakan dirinya.


"Nggak kepikiran, benar-benar ngantuk jadi yang aku pikirin ya gimana caranya biar bisa cepat tidur, daripada ngotot bawa mobil kan malah bahaya."


Deefa menghela napas menetralkan sistem pernapasannya yang terganggu karena menangis lebih dari satu jam, bahkan saat ini hidungnya menjadi merah dan pilek.


Raffan melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh sang istri, dia tidak bodoh-bodoh amat untuk bisa memahami kalau wanita di depannya ini tengah kecewa dengan jawabannya.


"Maaf, lain kali gue eh aku akan usahain buat kasih kabar sama kamu biar kamu nggak kepikiran," kata Raffan akhirnya.


Deefa mengangguk pelan dengan bibir yang melengkung, "Mas sudah makan belum?"


"Belum, kelamaan tidur," celetuk pria yang masih memakai jaketnya itu, padahal sedari tadi dia merasa gerah di rumah itu tidak ada AC, meskipun sejak tadi kipas angin menghembuskan anginnya namun tetap saja gerah yang dia rasakan tak kunjung terobati.


Akhirnya diapun membuka jaket dan melemparkannya dengan asal tidak hanya itu kaos yang dia kenakan pun turut serta dia buka.


"Mas mau ngapain?" tanya Deefa menutup kedua matanya terkejut dengan dada bidang yang sudah tidak mengenakan apapun.


"Kenapa memangnya? kita suami istri mau buka-bukaan lebih dari ini juga bebas," celoteh Raffan dengan cueknya memajukan tubuh yang terlihat begitu mempesona kepada sang istri.


Deefa tidak menjawab, kedua matanya tetap dia tutup rapat malah menambah dengan kedua tangannya.


"Beneran nggak mau lihat Deef?" bertanya dengan songongnya.



Wanita yang di tanya pun hanya menggeleng merasakan degub jantungnya yang mulai tidak bisa di kendalikan, ini pertama kalinya bagi Deefa.


Raffan mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri lalu berbisik dengan suara yang luar biasa di buat-buat, "nanti mau di unboxing dimana?"


*******

__ADS_1


__ADS_2