
Jam 3 sore lewat Deefa sudah sampai di pelataran sebuah bangunan di jadikan tempat untuk anak-anak belajar mengaji dengan di sebelahnya terdapat satu Mushola yang lumayan luas.
Lengkungan di bibir wanita berkerudung itu terlihat jelas menggambarkan suasana hatinya yang sedang senang karena bisa kembali mengajar meski di tempat yang berbeda, namun ia bisa membagikan ilmunya pada anak-anak di kita besar ini.
Terdengar adzan tanda sudah masuk shalat ashar, mengingatkan manusia untuk sejenak meninggalkan pekerjaannya dan menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam.
Adeefa begitu larut dalam merdunya suara adzan yang tengah di kumandangkan, sebelum memulai hari pertamanya sebagai guru mengaji Deefa memilih untuk berdoa pada penciptanya.
Wanita itu mengatur langkah untuk menuju Mushola, menuju tempat berwudhu yang ada di samping mushola, tempat wudhu yang dipisahkan antara pria dan wanita membuat Deefa leluasa untuk membuka kerudung besarnya untuk memudahkannya membasuh wajah serta bagian kepalanya yang lain.
Hanya butuh waktu lima menit untuk seorang muslim menjalankan kewajibannya dan setelahnya ketenangan akan langsung merasuk ke dalam jiwa yang sedang gelisah.
Saat berangkat tadi Deefa memang di buat gelisah oleh suaminya, Raffan tidak membalas pesan yang Deefa kirimkan padahal pria itu sudah membacanya, Deefa sebenarnya hanya berpamitan pada suaminya itu berharap Raffan memberi balasan meski hanya sekedar IYA saja, tapi nyatanya pria itu memang sangat menyebalkan mengabaikan pesan dari seorang istri yang benar-benar menjunjung tinggi martabatnya sebagai seorang suami.
Tampaknya Raffan memang tidak pernah bersyukur memiliki seorang istri seperti Adeefa, pria itu masih sangat labil dengan segala tingkah lakunya.
Deefa keluar dari mushola dan sepasang matanya langsung bisa melihat gerombolan anak-anak kecil berpakaian muslim tengah saling bercanda, untuk kedua kalinya Deefa melengkungkan bibirnya mengukir senyuman indah pada anak-anak berwajah menggemaskan dengan usia yang mungkin beragam karena tinggi mereka juga berbeda-beda.
"Assalamu'alaikum."
Suara lembut dari seorang wanita menyadarkan Deefa dari keterpukauan nya pada makhluk-makhluk kecil nan menggemaskan yang akan menjadi muridnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Deefa seraya tersenyum melihat pada wanita yang mengenakan gamis serta kerudung dengan warna senada merah muda.
__ADS_1
"Adeefa kan?" tanya wanita itu yang di angguki oleh Deefa.
"Perkenalkan saya Sinta, guru mengaji juga disini."
Wanita bernama Sinta itu memperkenalkan dirinya dengan tangan yang terulur dan Deefa pun segera membalas uluran tangan wanita di depannya tidak membiarkan Sinta menunggu lama.
"Tadi pagi Ustad Sabar sudah memberitahu bahwa akan ada guru baru yang akan menggantikan Kak Iin," kata Sinta menjelaskan seraya menyebut nama satu guru yang tak lagi mengajar karena harus ikut suaminya yang di pindahkan keluar kota oleh tempatnya bekerja.
Deefa mengangguk mengerti karena sebelumnya Ayah mertuanya pun sudah menjelaskan bahwa di TPA ini ia menggantikan seorang guru yang baru saja menikah, ah ternyata guru-guru di TPA ini masih sangat muda.
"Oh iya disini juga kita membiasakan mereka memanggil Kakak, bukan ustad atau ustadzah, jadi jangan kaget kalau mereka memanggil kamu Kakak," ucap Sinta menerangkan kebiasaan di TPA ini.
Semua guru masih berusia terbilang muda dan mereka juga masih harus banyak belajar, sama halnya dengan anak-anak yang mengaji di TPA ini, setiap satu Minggu sekali pun akan diadakan pengajian rutin mingguan khusus mereka yang mengajar.
"Kak Sinta sudah lama mengajar disini?" Deefa mengajukan pertanyaan sambil mereka masuk ke dalam bangunan dengan warna yang meneduhkan.
"Usia kita sepertinya sama," Sinta mengajak Deefa masuk ke setiap ruangan di dalam TPA.
"Usia saya 25 tahun," jawab Deefa lugas.
"Hah? wajahmu terlihat lebih muda dari usiamu tapi ternyata kamu malah lebih tua dari aku Kak Deefa, aku pikir tadi kamu masih 19tahun," Sinta mengukir senyum karena mengira Deefa lebih muda darinya, "aku 21," sambung Sinta beralih pada lemari yang berisi Al-Quran serta kitab-kitab suci lainnya.
Deefa tersenyum malu lalu mengangguk meski Sinta lebih muda darinya tapi saat berada di lingkungan TPA Deefa harus tetap memanggilnya Kakak untuk memberi contoh pada anak-anak muridnya.
__ADS_1
Di masa sekarang ini tentu kita harus berhati-hati dalam berbicara atau pun memanggil seseorang di depan anak kecil yang mudah sekali mencontoh apa yang mereka lihat dan dengar.
"Ini untuk murid lelaki dan di sana untuk murid perempuan, kita akan mengajar di sana," kita Sinta menunjuk satu ruangan yang di beri sekat sebagai pembatas agar murid tidak bercampur.
"Tadi yang adzan anak kedua dari ustad sabar," kata Sinta yang sepertinya tahu kalau Deefa kagum dengan suara merdu dari pria yang mengumandangkan adzan tadi.
"Aku melihat wajahmu menyiratkan kekaguman, nanti aku kenalkan dengan Kak Agam dia juga mengajar disini hanya saja cuma 2kali dalam seminggu yah karena Kak Agam masih harus kuliah serta mengurus bengkel yang dia punya," sambung Sinta seraya menggelar karpet di lantai untuk mereka duduk.
Mendengar penuturan Sinta membuat Deefa senantiasa beristighfar, benarkah tadi ia mengagumi pria lain? dia wanita bersuami akan salah jika mengagumi pria lain meski dalam konteks kagum dengan suara yang mengumandangkan adzan.
"Di TPA ini ada tiga jadwal mengaji, pagi untuk anak-anak yang harus sekolah siang dan sore untuk anak-anak yang sekolah pagi, sedangkan malam untuk anak-anak yang terlalu banyak main di pagi dan siang hari," Sinta tertawa memaklumi tingkah anak-anak yang kadang masih sangat senang bermain hingga lupa untuk pergi mengaji.
Deefa ikut tertawa mendengar setiap celotehan Sinta yang ternyata mudah bersosialisasi dengan orang baru sepertinya.
"Assalamu'alaikum."
Suara yang datang dari arah pintu membuat Sinta dan Deefa menoleh bersamaan seraya menjawab salam yang pria itu ucapkan sambil masih tersenyum.
"Wa'alaikumsalam."
Senyum Deefa perlahan berkurang melihat seraut wajah yang tampaknya juga sedikit terkejut melihatnya.
*****
__ADS_1